System: Disintegration Project

System: Disintegration Project
[Chapter 2] Point (Part 2)



MENELUSURI semak belukar tinggi, dengan aku yang mengikuti Iry dalam diam di belakang.


"Ah, mengenai pertanyaan tadi kemungkinan benar. Sama seperti saat mengalami koma, tidak dapat di tebak." Iry tiba-tiba membuka pembicaraan di sela-sela menebas rerumputan tinggi—guna menciptakan jalan.


Aku mendengarnya sembari fokus memperhatikan sekelilingku. Jika tubuh tetap berfungsi normal, maka racun dari binatang liar dapat mempengaruhi.


Aku tidak tahu apakah System juga dapat menetralkan racun, mengingat Iry tidak menggunakan kemampuan [Create], ketika aku menderita sakit perut. Ingin sekali kutanyakan pada Iry, namun mengingat kejadian sebelumnya. Aku cukup segan untuk melakukan apapun.


"Kalau mengenai penyebabnya, aku kurang tahu ..." Ucapnya tetap berbicara sendiri.


Ingin aku setidaknya memberikan jawaban mengerti, atau malah mengajukan pertanyaan. Namun untuk sekedar mengangkat wajahku, melihatnya yang terkadang menoleh ke belakang saja, aku tidak dapat melakukannya.


 "Aku sama sekali belum pernah mengalami keadaan itu."


Iry berbalik ke arahku secara tiba-tiba. Membuatku menabrak dadanya, karena tidak mengetahui ia akan berhenti mendadak. Mendongak, aku mencoba melihat wajahnya, karena tinggi yang cukup jauh berbeda. Wajah bingung-ku disambut dengan tatapan kesal oleh Iry.


"Sudah kubilang, kau tidak perlu khawatir, bersikaplah seperti biasanya." Iry yang mungkin mulai geram, mencoba meyakinkanku sekali lagi.


Aku mengerti rasa kesalnya, ketika menjelaskan sesuatu namun tidak mendapatkan respon apapun. Tapi disini aku bukan tidak Ingin, aku hanya tidak dapat.


  


"Aku mengerti, aku hanya butuh sedikit waktu," jawabku pelan.


Ia menghela nafas panjang mendengar jawabanku. Berbalik lalu kembali dalam kegiatannya, membersihkan jalan.


"Juga mengenai saranku sebelumnya, itu bukan candaan..."


"Salahkan saja System, jika kau merasa tidak adil di dunia gila ini." Tuturnya, sambil mengayunkan telapak tangan.


Iry mengucapkan kalimat itu, seakan-akan hal yang disampaikannya. Merupakan hal yang wajar. Jika benar Iry merupakan manusia yang dihidupkan kembali oleh System, seharusnya ia sadar akan siapa sosok yang baru diolok-olok olehnya.


Tetapi untuk orang sepertiku, yang bahkan berulang kali meledek bahkan mencaci System. Aku tidak dapat memberikan argumen apapun, dan dengan senang hati menyetujuinya.


"Tentu saja."



"JADI, selama kita belum menghancurkan (Krystal point), tubuh makhluk itu tidak akan menghilang?"


Saat ini aku tengah memperhatikan dengan seksama, Iry yang tengah membersihkan tubuh angsa berkepala dua (Geminae Cygnini).


Sudah dua (3) hari berlalu semenjak aku tinggal bersama Iry. Meski aku katakan tinggal, kami hanya memiliki hubungan guru dan murid, di sebuah perkemahan yang sama.


Hari-hari sebelumnya cukup berat, karena aku yang menghabiskan waktu dalam suasana canggung, agar kembali terbuka berbicara dengan Iry. Namun, tidak menjadi masalah bagiku sekarang.


"Ya, jika kau ingin memakan binatang, jangan hancurkan dulu kristal itu." Iry menjawab di sela-sela mencabuti bulu Cygnini.


Aku mengangguk mengerti, lalu terpikir sebuah pemikiran yang sangat kejam.


"Melalui penjelasan sebelumnya, itu artinya hewan yang sedang kau cabut paksa bulunya saat ini, masih hidup?!" Ujarku menyadari peristiwa yang kulihat saat ini.


Meski kemungkinan Cygnini itu sedang tidak sadar saat ini, tidak menutup kemungkinan ia tidak merasakan sakit. Dalam kasusku, aku tetap dapat merasakan sakit ketika proses operasi usus buntu di dunia lama, meski tidak terlalu.


Iry memberikan respon tawa jahat, mendengar keluhanku. Ia lalu dengan sengaja menarik tiga (3) helai bulu dengan kasar, yang membuatku memekik kecil.


"Konsepnya seperti itu."


Aku langsung membayangkan peristiwa jika suatu saat aku dikuliti, di bakar, dan dimakan hidup-hidup. Aku menelan saliva berat memikirkannya.


System mengatakan waktu sadar berbeda-beda, jadi tetap ada kemungkinan untuk sadar ditengah proses itu. Jika aku kembali sadar di tengah proses itu, maka tidak butuh 1 menit, aku akan pingsan lagi.


"Tidak, dua (2) detik." Ucapku saat melihat Iry, merobek bagian perut Cygnini.


Iry dengan puasnya tertawa melihat respon dariku, setiap kali ia melakukan aksi-aksi tertentu.


"Tetapi kau tetap butuh makan di dunia ini, jadi mau bagaimana lagi." Sambung penjelasan Iry, setelah berhenti dari tawanya.


Perkataan Iry membuat ku tertohok, aku harus melihat realitas. Nyawaku jauh lebih penting daripada segala hal di dunia.


"Apa kita tidak dapat menciptakan kembali tubuhnya dengan [Create]?" Tanyaku pelan, tetap berusaha untuk menyelamatkan binatang malang itu.


Iry terdiam beberapa saat, lalu menusukkan kuat pisau yang ia gunakan pada tanah. Hal itu ia lakukan sebagai pertanda, telah selesai membersihkan tubuh Cygnini.


"Kau bisa, selama masih punya kristal itu..." Jawaban Iry memberiku harapan.


"Juga asal kau memiliki 1000 poin yang akan kau gunakan, untuk menyelamatkan binatang ini." Aku kembali menelan Saliva berat.


1000 poin?, Itu artinya aku harus membunuh 167 Tenebis Cervidae, untuk menyelamatkan seekor Cygnini


Aku menghela nafas panjang, memikirkan hal itu hanya akan membuat perasaanku semakin bersalah.


"Tidak berguna ya." Tuturku halus, yang dibalas oleh senyuman kecil oleh Iry.


Aku dan Iry berjalan mendekati perapian, bersiap memasak binatang malang itu.


"Iry, waktu kau menyelamatkanku, berapa poin yang kau gunakan?" Ucapku mengingat Iry pernah melakukan hal yang hampir sama, meski tidak keseluruhan tubuh.


Jika dipikir-pikir lagi, saat itu aku beruntung, Urvidae tidak menghancurkan kristal ku.


Iry lalu menutup matanya, tetap dengan senyuman manis yang terukir di wajahnya. Ia menepuk puncak kepalaku, kali ini tanpa mengacak rambutku.


"Tidak terlalu banyak, jangan khawatir." Aku tahu akan respon itu, pasti membutuhkan poin yang sangat banyak, namun Iry tidak ingin membebaniku.


Aku menggenggam tangannya yang berada di atas kepalaku. "Terima kasih, ya."


Akhirnya setelah sekian lama, aku dapat menjawab dengan senyuman tulus. Selama ini aku hanya memberikan senyuman palsu, sebagai balasan atas senyuman yang ia berikan.


Mengangguk kecil, aku membulatkan tekad untuk tetap hidup. Kukepalkan tangan kananku, dan kuacungkan ke depan.


"Yosh, kita akan cepat memakannya, dan cepat menghancurkan kristal itu!" Seruku penuh semangat, yang dibalas acungan jempol kanan oleh Iry.



MELIHAT kearah Iry yang baru saja menghancurkan kristal dari Geminae Cygnini. Aku saat ini merasa sangat tertipu.


Meskipun telah makan dengan sangat cepat, hingga hampir membuatku mati tersedak. Fakta terakhir yang tidak diberitahukan oleh Iry, tetap membuatku merasa sangat bersalah.


Kristal harus dihancurkan, paling cepat selama 3 jam. Hal ini dimaksudkan agar binatang yang dimakan, dapat diproses menjadi energi bagi tubuh. Jika langsung dihancurkan, maka binatang yang dimakan akan menghilang menjadi partikel, tanpa memiliki pengaruh apapun pada tubuh.


Berulang kali aku menghela nafas panjang, yang dibalas dengan senyuman tipis sembari mengangkat kedua bahunya dengan kesan bersalah oleh Iry.


Ya biarlah, sudah berlalu


Aku sedikit menjauh dari tempat perkemahan, duduk di sebuah batu besar, menghadap pada Solis yang akan terbenam. Langit jingga pada sore itu, sedikit menenangkan hati yang tengah berkecamuk.


Beberapa saat berlalu, Iry menghampiriku dengan 2 gelas coklat panas dalam genggamannya. Ia duduk di sebelahku, dan memberikan salah satu gelasnya padaku. Menerima gelas yang disodorkan-nya padaku, lalu mengucapkan terima kasih.


"Iry, bagaimana sikap manusia di dunia ini, merespon semua kejadian?" Tanyaku memecah keheningan.


Dia sedikit termenung, mencoba memikirkan jawaban yang cocok. Matanya terpejam, dengan rambut putihnya yang tertiup angin.


"Tidak ada yang berubah, tetap sampah seperti biasanya." Jawab Iry dengan anggukan yakin.


Jawaban itu membuatku tertawa kecil, aku sangat setuju dengan frasa itu.


Dari sejak aku lahir, tidak, bahkan jika menilik sejarah. Tidak ada satupun manusia yang dapat dikatakan manusia secara sempurna, jika menurut pengartian katanya.


Manusia tidak lain hanyalah binatang yang bersembunyi dibalik pengetahuan, untuk menunjukkan dominasinya. Menggunakan kata Mutualisme untuk saling menginjak, satu sama lain. Tidak ada satupun pihak yang salah dalam kalimat “yang kuat hanya merundung yang lemah”. Kedua belah pihak hanya menunjukkan, contoh sifat egoisme dan lemahnya manusia.


Dapat diringkas. Manusia hanyalah makhluk lemah nan kotor dengan harga diri bodohnya yang tinggi. Tidak mau disalahkan, namun tidak ingin merubah kesalahannya.


"Jadi memang sifat bawaan lahir, ya." Tuturku setelah puas tertawa. Iry mengangguk setuju, sembari meniupkan udara pada coklat yang masih sangat panas.


"Jika begitu, pasti banyak pihak yang memanfaatkan kemampuan ini untuk kepentingannya bukan?"


Ia mengecap beberapa kali lidahnya, mungkin minumannya masih terlalu panas.


"Sama seperti binatang sebelumnya. Manusia dapat mencuri poin milik manusia lain, dengan membunuhnya." Sambung Iry, dengan penjelasan yang sebenarnya telah kuduga.


Jika memang harus bertarung, untuk mempertahankan hidupku. Bahkan jika hanya menyisakan (1) poin, aku akan tetap hidup. Tetapi sebelum itu, ada sesuatu yang ku-butuhkan. Sesuatu yang akan meningkatkan presentase hidupku.


"Iry, bisa kau sedikit mengajarkanku cara bertarung di dunia ini ...?" ucapku ragu.


"Bukan dengan binatang, tapi dengan manusia lainnya."


Meski sudah beberapa hari kami bersama, bukan berarti Iry dapat mempercayaiku sepenuhnya. Mengajarkan orang lain, cara yang mungkin dapat membunuh dirimu sendiri?


Hanya orang bodoh yang akan melakukannya.


Namun Iry tampaknya tidak terlalu memikirkannya. Setelah aku mengatakan itu, Iry meletakkan gelas coklat yang masih tersisa setengah. Bangkit dari duduknya, dan berjalan menjauh.


"Apa yang kau tunggu, berdirilah!" Perintah Iry, sambil memasang kuda-kuda untuk bertarung.


Aku lalu meletakkan gelasku di samping gelas milik Iry, dan berlari kecil menghampirinya dengan semangat.


Kami berdua sedikit memasang jarak, guna memaksimalkan kemampuan masing-masing. Aku telah memegang kedua belati-ku, sedang Iry tidak menggunakan apapun.


"Mungkin kau telah cukup terbiasa dengan melancarkan serangan, namun belum pernah sama sekali menerima serangan dari kemampuan bukan?" Tanya Iry yang kujawab dengan anggukan.


Iry mengangkat kepalan kedua tangannya di depan dada. "Sekarang, lihat!"


Sebuah peringatan muncul pada pojok kanan penglihatanku.


[Seseorang tengah meng-cast kemampuan [Skill] ke arahmu.]


"Apa kau melihat pemberitahuannya?" Tanya Iry lagi.


Aku kembali memfokuskan diriku padanya setelah ia mengatakan itu.


"Ya, mungkin." Aku menjawabnya, tetap dengan posisi-ku yang bersiap.


"Jika seseorang tengah bersiap melakukan kemampuan padamu, maka program dari System akan memperingati."


Penjelasan singkat dari Iry diberikannya tetap dengan posisi bersiap menyerang. Hal itu membuatku harus tetap siaga, memperhatikan gerakannya.


"Meski tidak sempurna, karena tidak menjelaskan pemberitahuan arah dan jenis serangan secara rinci. Hal ini jauh lebih baik daripada tanpa peringatan sama sekali."


Efek kejutan, ya?


Kemampuan bisa sangat berbahaya, dengan hal-hal yang mengejutkan dapat terjadi. Bagaimana rasanya jika kau berjalan di tengah hutan, dan tiba-tiba sebuah ledakan muncul entah darimana.


Kau akan hangus dalam sekejap, dengan rasa kesal karena tidak mendapatkan pemberitahuan.


"Tugasmu adalah mengantisipasi segala jenis serangan, hanya berdasarkan penjelasan singkat dari kemampuan yang digunakan."


Iry menarik nafas panjang, dan menatap lekat ke arahku. "Baiklah, aku mulai ya?"


Iry mengambil posisi siap untuk berlari. Meletakkan kedua belati-ku didepan dada, hanya ini cara yang terpikirkan untuk berlindung.


Hitungan detik berikutnya, Iry telah berada di sampingku. tangannya membentuk pistol dengan jari telunjuk sebagai laras-nya. ia mengarahkan telunjuk itu, tepat pada pipiku.


"Ya, kau mati~!" ujar Iry dengan nada bercanda.


Aku cukup terkejut dengan gerakan yang hampir tidak dapat dilihat oleh mata. Namun keterkejutanku berhasil kututupi, dengan bertindak santai seperti biasanya.


"Sekali lagi, kumohon!" seruku meminta tanding ulang.


"Baiklah~!" Tuturnya dan kini telah berada pada posisi dengan jarak yang sebelumnya dalam sekejap.


Apa dia baru saja menggunakan kemampuan untuk bergerak? Berapa banyak poin yang dimilikinya.


Iry lalu merentangkan kedua tangannya ke arahku.


[Seseorang tengah meng-cast kemampuan [Create] ke arahmu]


Pemberitahuan dari System berbeda, menandakan kemampuan yang digunakan juga berbeda.


Aku bersiap untuk melompat menghindar dengan menggunakan [Dash].


Meski aku memiliki Skill Pasif [Double dagger], refleks bertarungku belum terasah. Aku tidak yakin dapat menangkis serangannya.


Maksudku mustahil untuk menangkis sebuah gerakan, yang bahkan aku saja tidak bisa melihatnya. Aku perlu membiasakan penglihatanku dengan gerakan cepat, agar dapat memaksimalkan Skill [Double dagger].


Tiga (3) detik kemudian, air dingin mengguyur tubuhku. Bukan dari tangan yang diulurkan Iry, air itu tiba-tiba saja jatuh dari atas.


Terbatuk sekali akibat air yang tiba-tiba masuk ke tenggorokan, aku melihat Iry dengan pandangan malas.


"Bahkan jika aku mengulurkan tanganku, bukan berarti aku mengeluarkan kemampuan dari sana. Kemampuan [Create] bisa di casting dari mana saja."


Aku menurunkan belati-ku, mengaku kalah telak pada latih tanding ini. Ku lirik Iry yang begitu puas tertawa, sedang aku basah kuyup di tengah hembusan angin sore.


"Apa sebegitu senangnya kau membuat perempuan basah?" Tanyaku tidak berpikir sama sekali.


Iry langsung terdiam dari tawanya, dan menatapku tidak percaya. Mulutnya terbuka, namun tidak mengatakan apapun.


"Oi, oi cara mu menyusun kalimat bisa bikin salah paham." ucapnya setelah terdiam beberapa saat.


Aku berpikir cukup lama, apa mungkin ada yang salah dari perkataanku. Sebelum aku mengerti yang dimaksudkan oleh Iry.


Ya, tentu ini salahku dalam menggunakan kata. Tetapi normalnya, kata yang ku-gunakan tidak salah sama sekali.


"Kau bajingan mesum!" Teriakku sambil melemparkan belati pada tanganku, kearahnya.


Ia menghindar panik. "Oi, Itu bahaya!"


Kami bertatapan dalam diam, tetap dalam jarak sebelumnya. Aku menatapnya sengit, sedang ia berulang kali mencoba mengalihkan pandangannya dari, tubuhku?


Aku yang sadar akan arah pandangannya, melihat sendiri pada tubuhku. Tetesan air jatuh dari pakaian yang telah basah kuyup.


T-shirt hitam yang diberikan oleh Iry, basah dan membentuk lekukan tubuhku. Semua terukir jelas, bahkan hingga dadaku yang tidak menggunakan bra.


Aku menutup dadaku dengan lengan tangan kanan. Lalu bersiap menggunakan [Dash]. Menerjang ke arah Iry dengan sekali lompatan, kucoba menebas telak lehernya. Ya, matilah!


Dengan mudah Iry menghindar dengan menundukkan tubuhnya. Ia lalu berbalik dan melihatku, yang sedang bersiap melakukan serangan selanjutnya.


"Hoi, Sudah kubilang itu berbahaya!" Seru Iry dengan wajah paniknya.


Aku bersiap meng-cast kemampuan lainnya. "Diam, dan matilah~."


Kugunakan dua (2) poin untuk menggunakan skill aktif [Quick throw]. Melemparkan belati-ku lurus menuju kepalanya.


[Quick throw] adalah salah satu skill aktif yang dapat dibuka setelah mendapatkan [Double dagger]. Aku mempelajarinya semalam dengan bayaran (18) poin.


 Skill ini memungkinkanku untuk melempar sebuah belati secara akurat. Belati akan meluncur lurus pada jarak lima (5) meter.


Meski dengan kemampuan skill aktif, Iry dengan mudah lari dari kematian. Ia menangkap gagang belati yang kulempar, sebelum mengenai wajahnya.


Iry lalu memberikan senyum kemenangan, dengan dua jari yang membentuk huruf (V).


"Hampir~." Ucapnya, meski sama sekali tidak menyulitkannya.


Mulutku terbuka, perasaanku tercengang tidak percaya. Bahkan setelah aku mengorbankan (2) poin-ku, aku tidak dapat melukainya.


Terduduk, aku memeluk lututku. Mataku memanas dengan wajah yang memerah. Aku tidak pernah merasa kesal dan malu separah ini.


"Maaf-tidak, terima kasih banyak!" Serunya sama seperti sebelumnya, dengan membungkukkan badan.


"Aku tidak akan bisa menikah lagi!" Rengekku di sela-sela tangisan.