SIR

SIR
Part 8 - Penghuni Kamar



Sendanu menaiki tangga dan mendengar ada suara bisik bisik dari arah balik pintu kamarnya


Mengetahui hal itu sendanu mengurungkan niatnya untuk masuk kamar lalu turun ke bawah dan menonton televisi


"Kita rapihkan lagi saja"


"Jangan, biarkan saja"


"Tidak, sendanu bisa marah"


"Tenang, dia tidak akan mengenali kita"


Suara - suara itu terdengar sangat berisik di telinga sendanu sehingga sendanu berencana untuk mencari tahu siapa mereka..


Namun sendanu belum berencana untuk naik keatas menuju kamarnya


*sendanu berjalan santai ke arah dapur, membuka lemari pendingin, mengambil sebotol air dan sebuah gelas dan membawanya menuju ruang tengah


*sendanu duduk didepan televisi kembali sambil meletakkan sebotol air dan gelas yang tadi diambilnya dari dapur lalu meletakkannya di meja


"Sudah biar aku sajayang bereskan"


"Tidak, sendanu akan mengetahui ini adalah ulah kita"


*sendanu meminum segelas air lalu merebahkan tubuhnya di sofa kembali


*sambil memainkan handphone


"Jangan, ..." suara itu menjadi samar terdengar


*sendanu meletakkan kedua tangannya kebelakang kepala, matanya yang melihat kearah televisi membuatnya seolah sedang menonton namun telinganya fokus pada apa yang didengarnya


*terdengar suara derapan kaki namun sendanu tidak menyadarinya


"Mas, kenapa tadi ngga sekolah?", suara alden mengagetkan sendanu


*sendanu terkejut, dan reflek bangun dari sofanya


Semakin sendanu penasaran suara - suara tersebut semakin samar


"Ah dek, mamas tadi sekolah kok" jawab sendanu terbata bata


"Tadi alden liat mas danu di kamar siang siang" bisik alden pelan pada sendanu sambil tersenyum jahil


"Ah, alden salah liat kali, mas danu aja hari ini ada ujian, jadi mana mungkin mas danu ngga sekolah. Ada - ada aja kamu dek". Jawab sendanu tertawa


"Tidak rapihkan saja itu, kita akan ketahuan" suara itu kembali terdengar dari kamar sendanu


"Mamas, tadi alden liat mamas buka pintu kamar, mana kamar mamas berantakan lagi, jadi alden beresin" alden kembali mengajak sendanu berbicara


*sendanu merasa bingung harus fokus kemana


"Ah emang alden yang paling the best lah, yaudah kamu istirahat ya" sendanu mencium kening adiknya lalu bergegas membawa gelas dan botol yang tadi diambilnya dari dapur


Alden pun pergi menuju kamarnya


Sendanu berniat membawa air minum kekamarnya namun


*Terdengar suara Nafas yang sangat berat yang terdengar sangat - sangat kencang


"A a a a a a !!! ..." suara teriakan dimana-mana


*sendanu terkejut sehingga menjatuhkan gelas kaca yang ia pegang dan pecah


*alden menoleh dari atas anak tangga yang ia naiki


"Mamas!! Kenapa?" Alden buru-buru mendekati sendanu


Lalu suara - suara itupun kembali hening


"Dek awas, nanti luka. Biar mamas aja yang beresin" sendanu tersadar lalu membereskan semua pecahan gelasnya


Vio keluar dari kamar karena mendengar pecahan gelas tersebut


*membuka pintu


"Danu, kenapa" sendanu yang menoleh ke arah vio pun terkaku


"Kak itu, " sendanu berusaha menjelaskan


"Iya kamu kenapa" vio bergegas membantu sendanu


"Alden naik, kamu bukannya harus belajar" vio menyuruh alden untuk masuk kekamarnya


"Mas danu hati-hati ya" alden meninggalkan sendanu dan vio di bawah sambil bernyanyi


"Kak, kakak ngga apa apa?" Sendanu menanyakan kabar vio


"Kamu yang kenapa? Harusnya kakak yang nanya gitu" vio membantu membereskan semuanya


Setelah selesai vio kembali berjalan masuk kekamar


"Kamu langsung istirahat" lanjut vio


Namun sendanu melihat sosok tersebut berdiri di balik kamar vio, lalu vio menutup pintu kamarnya


Sendanu bergegas mengetuk pintu kamar vio namun sedikit agak lama vio membuka pintu tersebut


"Kaaak" sendanu mengetuk dengan keras pintu kamar vio tersebut


*vio membuka pintu


"Kenapa?" Vio mengejutkan sendanu karena asap tersebut baru saja hilang tepat didepan wajah vio


Sendanu masuk kekamar vio untuk mengecek semuanya namun semua terlihat baik-baik saja


"Kamu kenapa dek? Kok tiba-tiba begitu" vio sedikit merasa aneh dan terkejut melihat kelakuan sendanu


"Ah nggak kak" sendanu buru-buru keluar dari kamar vio menuju kamarnya


Sesampainya di kamar, sendanu mendapati kamarnya yang brantakan dengan buku yang berserakan di lantai


Karena lelah dengan semua kejadian aneh itu sendanu tidak berusaha membereskan semuanya


Ia hanya berjalan menuru tempat tidurnya lalu merebahkan tubuhnya dan sendanu tertidur sangat pulas


-------- •••• ---------


Seorang anak laki-laki berpakaian piyama stelan berwarna hijau tua sedang berdiri di tengah asap tanpa alas kaki, dengan banyak pepohonan di sekitarnya berbicara kepada sendanu


"Maafkan kami sendanu, kami belum bisa membuatmu mengerti, namun akan ada waktunya kamu akan mengerti semua yang terjadi" ucap anak laki-laki itu kepada sendanu dengan suara yang bergema halus


"Kamu siapa?" Sendanu bertanya kepada anak itu dengan memutarkan badannya untuk melihat sekitar


Di tengah jalanan gelap dengan sedikit cahaya di belakangnya dan pepohonan disisi kanan dan kiri jalan, seorang anak laki-laki berpakaian kemeja kotak-kotak putih lusuh bercelana pendek dengan gulungan di setiap ujung celananya, berkaus kaki panjang selutut dan sepatu kulit coklat, lengkap dengan topi bulu di atas kepalanya


Anak laki-laki itu hanya berdiri melihat sendanu dari kejauhan lalu sendanu memutarkan badannya kembali dan terlihatlah seorang anak perempuan mengenakan pakaian putih selutut, berkaus kaki panjang dengan sepatu hitamnya yang hanya ada sebelah kiri dan kaus kaki sobek disebelah kanan


Ia berada di pinggir sebuah gundukan tanah, yang hanya ada satu satunya didepan pintu gerbang pemakaman


Sesaat setelah sendanu memutarkan badan tiga ratus enam puluh (360) derajat, sendanu terdiam dan berusaha memahami situasi yang dihadapinya sekarang


"Kalian siapa?" Kembali sendanu bertanya kepada mereka namun di saat yang bersamaan terdengar suara ramai dari perkataan mereka sehingga tidak terdengar jelas apa yang mereka katakan


Sendanu menutup telinganya menggunakan kedua tangannya lalu duduk berjongkok dan di saat itu pula suara nafas yang begitu berat terdengar kembali, seperti suara harimau yang sedang mengeram.


Tidak lama kemudian suasananya menjadi sepi kembali dan tidak ada anak-anak yang sedari tadi berdiri disekelilingnya, dan sendanu berdiri tepat di tengah rumput yang lapang di malam hari tanpa suara hewan ataupun angin


Sendanu mencoba mencari arah jalan pulang dengan berjalan pelan, namun ketika dia mencoba melangkah, dia merasakan ada yang berdiri tepat di belakangnya


Ketika sendanu mencoba menoleh kebelakang, semuanya kosong dan ketika sendanu mencoba melanjutkan langkahnya, tepat di hadapannya berdiri seorang kakek sandi dengan tatapan kosong


"Astaga, kakek.. kakek ngagetin danu aja" sendanu terkejut melihat wajah kakeknya tepat berada dihadapannya


"Kakek, sendanu takut. Sendanu tadi liat ada.. "


Belum selesai sendanu bercerita, kakek sandi menarik tangannya sendanu lalu menariknya ke arah lain menuju satu cahaya di atas, dengan sebuah anak tangga yang sangat tinggi


Kakek sandi menunjuk ke arah sumber cahaya tersebut, dengan tidak basa basi sendanu pun langsung menaiki anak tangga tersebut satu persatu, sendanu yang biasanya banyak tanya menjadi pendiam dan hanya menaiki tangga tersebut dan belum sampai ke atas sumber cahaya tersebut, sendanu terbangun dari tidurnya


--- *sendanu membuka mata* ---