SIR

SIR
Part 6 - Pengorbanan Sendanu



kakek sandi terjatuh tepat di bawah pohon bunga kemuning


"Jangan Memetik Bunga Yang Ada Di Sekitar Sini" baca kakek sandi dalam hati


arah matanya melihat ke arah papan tulisan kecil yang ada di depan matanya tepat di bawah pohon bunga kemuning tersebut


sontak ia memegang kakinya yang sakit karena tersandung batu tadi, kemudian tak jauh dari kaki, kakek sandi melihat batu yang tadi ia sandung bukanlah sebuah batu besar melainakan sebuah batu nisan dari makam yang terdapat di bawah pohon kemuning tersebut


mengetahui hal tersebut kakek sandi makin yakin arah pikirannya tadi, kakek sandi bergegas bangun dan berlari menuju pohon tua yang ada di depan taman tadi tempat dimana seorang ibu dan anak berdiri memanggil sendanu untuk mendekat


dan benar saja ketika sampai di lokasi, kakek sandi melihat sendanu sedang berada dalam rangkulan ibu dan anak laki - laki yang tadi memanggilnya


sementara alden memanggil sendanu dari jarak yang lumayan dekat, hanya berjarak 6 langkah dari pohon


" Mas Danu sini " alden mengayuhkan tangan memanggil sendanu berharap sendanu meninggalkan keluarga itu dan kembali ke dekat alden


alden menangis sejadi - jadinya, hal tersebut berlangsung cukup lama hingga kakek sandi datang menemukan mereka


"Alden jangan mendekat ke pohon itu" kakek sandi menarik tangan alden dengan cepat


"kakek.. mas danu ngga mau ikut alden pulang" alden menangis kencang


kakek menenangkan alden untuk tidak menangis lagi tapi tangisan itu terdengar oleh vio dan orang tuanya


mereka menghampiri kakek sandi dan alden yang sedang menangis


Gea memeluk alden dengan erat


"Alden dari mana? mama khawatir" gea memeluk erat alden dengan tangisan


"mama, papa, kakak, mas danu ngga mau ikut alden pulang" alden menangis


"mas danu dimana nak?" tanya hen pada alden


alden menunjuk ke arah pohon dimana tempat danu berdiri namun tidak satupun dari mereka yang dapat melihat sendanu selain alden dan kakek sandi


hen berjalan mendekati pohon tersebut, menyentuh pohon tersebut dan mengelilinginya


namun dia tidak mendapati sendanu disana


"alden bisa ceritakan pada kakek apa yang terjadi?"


kakek menenangkan alden sambil melihat ke arah sendanu yang berdiri sembari tersenyum meneteskan air mata


hen berhenti, lalu membawa alden menjauh dari pohon tersebut


"t.. tapi pa.. mas danu disana" alden berteriak histeris


kakek sandi menarik alden dan tidak meninggalkan sendanu disana sendiri, alden melepaskan tarikan tangan hen mendekati kakek sandi


"Yah, ayah harusnya tau kita habis kehilangan alden, ayah kenapa ngga khawatir hal itu terulang lagi?"


hen mulai menegur ayahnya gea dengan nada tinggi


"ayah tidak akan meninggalkan sendanu sampai ayah membawa sendanu keluar dari sana" jawab kakek sandi sedikit marah


hen yang marah mendekati gea dan vio


"liat kan ayah kamu? bener - bener ngga sayang sama anak kita. aku sudah capek bertemu hal aneh disini"


hen marah pada istrinya


"sabar pa, kita juga belum nemuin danu, kamu ga mau cari danu?" gea mencoba menjelaskan kepada suaminya


"Ah aku ngga peduli lagi, keluarga kamu memang ngga pernah lepas dari hal Gaib, ayah kamu udah kayak orang gila tau ngga" marah hen pada istrinya


"aku berharap kamu cepat mati aja kakek tua" ucap hen dalam hati


hen saat itu diselimuti aura hitam yang besar


disisi lain vio mendekati alden yang sedang bercerita pada kakek sandi


"tadi alden di sana kek, tangan alden d tarik sama anak itu, alden kira dia teman alden tapi ibunya melarang alden pulang"


alden menjelaskan pada kakek sandi keadaan yang ia alami


lalu hen menarik tangan vio, dan menatap tajam gea


"kalo kamu masih mau hidup bareng aku, kamu ikut aku pulang sekarang!!" hen mengancam gea


"tapi mas, alden gimana? danu belum pulang" gea menjawab dengan perasaan serba salah


"terserah itu urusan kamu dengan ayah kamu" hen membawa vio menjauhi mereka menuju mobil mereka


--**--


"terus kenapa danu bisa disana?" tanya kakek sandi pelan pada alden tanpa menghiraukan anaknya


"alden kesakitan, terus alden liat mas danu berlari kesini kek.. mas danu bilang dia bukan teman" alden menjelaskan sambil menunjuk ke arah anak laki - laki di bawah pohon tersebut


--**--


"Ayah, sudah jangan terlalu percaya omongan anak kecil" gea mengajak ayahnya dan alden untuk pulang


Namun ayahnya menolak


"bener - bener udah gila" gea meninggalkan ayahnya dan anaknya disana mengikuti suaminya


-**-


"dia (anak laki - laki) itu juga mengambil bunga alden kek, mas danu tarik bunga alden tapi mas danu ngga bilang apa - apa, tiba - tiba mas danu udah disana alden disini" alden menjelaskan pada kakek sandi kejadian yang ia alami


sendanu sadar bahwa adiknya tidak mengetahui apapun tentang hal yang di alaminya selama ini, jadi dia mengorbankan dirinya untuk menggantikan posisi alden


sendanu sangat khawatir adiknya akan terluka oleh anak laki - laki dan ibunya tersebut


"anak sekecil ini sudah bisa menjaga adiknya dari bahaya gaib" ucap kakek sandi dalam hati


kakek sandi kemudian membacakan do'a agar sendanu dapat kembali pulang


"lepaskan bunga itu nak, " perintah kakek sandi pada sendanu


Namun sendanu tidak bisa mendengarkan ucapan kakek sandi


belum selesai kakek sandi menjelaskan..


mendadak kedua makhluk itu memusatkan pandangannya ke sebrang pohon tidak lama kemudian biru datang mendekati mereka dari balik taman bunga di sebrang mereka


Biru berjalan mendekati pohon tua yang terdapat kakek sandi, alden dan sendanu tersebut dengan perlahan


kakek sandi menoleh ke arah biru lalu biru mendekati sendanu dengan menyentuh udara di sekitar pohon yang melingkupi sendanu tersebut


anak laki - laki dan ibunya tersebut tidak bergerak, mereka begitu yakin sendanu tidak bisa diselamatkan namun biru merampas bunga dari genggaman sendanu


sendanu pun mengambil ilalang yang ada di dekat kakinya namun di tahan oleh biru


biru mengambil ilalang tersebut lalu meletakkannya di tanah tempat sendanu berdiri


kakek sandi menarik tangan sendanu dan bunga beserta ilalang terikat tadi tertelan oleh tanah bersamaan dengan danu yang keluar dari udara yang melingkupi pohon tersebut


anak laki - laki dan ibunya tadi terbang ke atas pohon dan biru berjalan kembali menuju semak taman di sebrang pohon tersebut


sambil menoleh ke kakek sandi dan tersenyum kecil


biru yang mungil berjalan menjauh


setelah semakin mendekati semak taman tersebut


sosok biru yang berbadan kecil menggunakan pakaian putih selutut dengan pita di kepalanya mendadak sosoknya menjadi tinggi dan menghilang


"trimakasih biru" ucap kakek dalam hati


namun sendanu melihat sinar biru di balik baju biru selama berjalan


"kakek, itu siapa?" setelah biru pergi, sendanu anggasta menanyakan sosok biru yang datang tadi dan sekarang


"dia biru, dia yang dulu mengikuti tante kamu" jawab kakek tersenyum