
*Tertidur di meja belajar
" Katamu ingin menjadi teman dekatku, ayo melompat kau akan bisa terbang sepertiku " ucap egi mengajakku terbang
Kuangkat kakiku menaiki kursi dipinggir pembatas tangga, aku bersiap untuk melompat dan saat aku sudah berdiri di atas kursi
" Sendanu.. " suara ajeng terdengar dari kejauhan
Sambil mengayunkan tangan
" Ajeng? ", aku bergegas turun dari kursi untuk mengejar ajeng
Namun selangkah setelah aku turun, kakiku tertahan, sontak aku memejamkan mataku. Seperti ada yang memegang erat kakiku dan memeluk seluruh tubuhku.
"BANGUN!!!" suara ajeng dari kejauhan membentakku
Aku langsung membuka mataku, sekejap aku melihat kain putih yang membungkus hampir seluruh tubuhku dengan sedikit bercak darah di bawahnya, namun hanya beberapa detik
"SENDANU ANGGASTA, Terima kasih yaaa", suara yang berasal dari belakangku membuatku menoleh kearahnya, sambil melambaikan tangan ajeng perlahan menjauh lalu menghilang.
Setelah menoleh ke ajeng, akupun terbangun dari tidurku dengan berkeringat.
Waktu menunjukkan pukul 02.00 wib, aku pun bangun dari tempat tidurku untuk minum, namun kakiku tergerak untuk membuka jendela, aku teringat dengan mimpiku tentang ajeng.
Perlahan aku membuka gorden jendela kamarku, pandanganku langsung tertuju pada pohon tua besar yang ada di sebrangnya. aku tak melihat ajeng lagi malam ini.
Namun angin bertiup begitu kencang tetapi hanya pada pohon tersebut. Tanpa aku sadari Air mataku jatuh menetes sendiri.
Aku pun menggigil padahal jendelaku tertutup rapat, bulu kuduk ku merinding, aku pun langsung menutup kembali gorden jendela kamarku.
Perlahan aku turun ke bawah melewati kamar adikku, aku mendengar dia sedang mengobrol dengan seseorang.
Tetapi aku terlalu haus, jadi aku meneruskan langkahku ke bawah untuk minum, namun makin jauh aku kebawah, makin besar suara bisikan mereka, aku memutuskan untuk membawa sebotol air keatas, setelah mengambil sebotol air, aku mencoba untuk melihat sedang berbicara dengan siapa adikku.
"Alden..?" perlahan aku membuka pintu kamar adikku
namun yang kudapati alden sedang tertidur lelap, aku pun tidak mendengar suara obrolan itu lagi.
Sesaat setelah aku hampir menutup seluruh sisi pintu, aku kembali mendengar bisikan obrolan.
"Jangan, kau bisa terjatuh dan mati", Jelas aku mendengar suara alden sedang berbicara dengan seseorang
Dengan buru - buru aku mendorong kembali pintu kamar adikku, sontak aku melihat bibirnya berbicara namun badannya tetap tertidur. entah pada siapa dia berbicara.
Aku berjalan mendekati adikku yang terus meracau
" Jangan, itu sangat tinggi.. "
"Alden.." aku memegang pipi adikku, menamparnya dengan pelan.
" Kau bisa terjatuh dan mati " lanjut adikku yang sedang bermimpi
"Alden, bangun.. kamu bermimpi", aku berusaha membangunkan adikku
Kuangkat tubuhnya dari kasur, tapi saat aku memegang punggungnya, baju bagian belakangnya sangat basah, hingga pada posisi duduk pun adikku tetap belum terbangun
" hah, ini darah?" aku memegang darah yang membasahi pakaian adikku, baunya amis, dan anyir yang sangat pekat.
aku pun panik, perlahan merebahkan tubuh adikku
"ALDEN !! KAMU BERDARAAAAH. BANGUUUN !!!"
aku buru - buru menghidupkan lampu kamarnya dengan membelakangi alden.
Namun ketika aku menoleh kebelakang, aku melihat alden sedang mengobrol santai dengan seseorang dan membelakangiku.
Aku hanya melihat adikku membelakangiku, dan aku mendengar jelas suara alden berbicara dengan seseorang yang tidak kulihat wujudnya, hanya suaranya saja.
Suara samar yang kudengar, tidak terdengar jelas obrolan apa yang sedang mereka bahas. Karena penasaran aku mematikan kembali lampu kamarnya dengan membelakangi alden, dan saat aku berbalik aku melihat adikku tertidur
Sontak cepat - cepat aku menghidupkan kembali lampu kamar adikku, dan kali ini aku melihat dia tertidur
dan saat aku mendekati alden, jelas aku tidak melihan darah sedikitpun, saat ku pegang pakaiannya tidak ada sedikitpun yang membasahi pakaian adikku.
aku sangat shock dengan kejadian itu
dan alden terbangun dari tidurnya
" Mas danu, ngapain d kamar alden? ", tanya alden kebingungan sambil mengucek matanya
"kamu tadi ngigo, mungkin mimpi, jadi mas danu kesini" Jelasku perlahan agar tidak membuat alden takut
Perlahan aku memberikan air yang kupegang, yaudah alden minum dulu ya.. tadi mas danu turun ambil air minum.
"tapi kan punya mas danu? nanti alden ambil sendiri aja" sahut alden yang ingin menurunkan kakinya ke bawah kasur
" Ga apa - apa, nanti mas danu ambil lagi, minum aja " aku menyodorkan botol air yang kubawa, lalu alden meminumnya
Setelah itu aku menyelimuti alden dan berjalan pelan ke arah saklar lampu, tapi seiring aku berjalan, aku mendengar suara langkah kaki yang senada dengan langkah kakiku
aku menoleh ke belakang, namun yang kudapati hanya alden yang sedang tertidur
aku mematikan lampu kamarnya dan keluar dengan menutup pintu dengan pelan.
saat aku melangkah menjauhi kamar alden
*suara langkah kaki jelas terdengat berlari dengan cepat
aku menoleh langsung ke arah pintu kamar alden
" Aku yang menyelamatkanmu "
*suara anak kecil tertawa
suara itu berasal dari balik pintu alden, dan aku langsung berlari ke kamar alden untuk mengecek keadaan alden
Alden terbangun karena mendengar suara pintu terbuka begitu keras
" Mas danu, alden ngantuk, mau tidur.. besok alden mau sekolah, mas danu kenapa ngga pergi - pergi ah " alden marah kepadaku dan langsung membalikkan badannya membelakangiku
dari balik jendela aku melihat egi yang sedang menatap alden sambil tersenyum
aku berlari langsung buru - buru kekamarku, dan memakai selimut sebadan.
Keesokan harinya, aku terbangun dengan sangat lelah dan saat ingin sarapan ..
" Sendanu Anggasta, kamu kalo mau begadang jangan ngajak - ngajak adik kamu "
pagi itu mama dan papa marah lagi kepadaku
" ma.. pa.. danu semalem lihat.. ", belum selesai aku berbicara,
" Kamu memang harus di hukum kayaknya, kenapa bikin takut adik kamu terus " papa tersenyum sinis kepadaku
" Danu takut pa.. " jawabku menangis
aku turun dari meja makan, kali ini kakek tidak terlihat lagi, aku mencari tanteku
"tante udah pulang mas" jelas alden
"kenapa? mau cari pembelaan tante lagi? kamu terlalu di turutin manjanya sama tante kamu"
jawab papa
akupun langsung bergegas mengambil bekal makanku lalu pergi ke mobil
"emang anak itu susah banget di aturnya", mama.
*di mobil
Aku menangis, sambil menatap bekalku
lalu kakek datang memelukku
"kakek, kakek kemana aja? danu nyariin kakek semaleman" aku menangis sejadi - jadinya
"danu takut kek.. danu udah bilang sama mama papa tapi ngga ada yang mau percaya sama danu"
kakek mengusap kepalaku dan memelukku
"mas, mas, mas danu, udah sampai mas.. nanti keburu telat", pak odi membangunkanku, aku tertidur selama perjalanan ke sekolahku.
Aku tidak mendapati kakek d mobilku, dan hanya ada aku dan pak odi di mobil.
saat aku mau berpamitan dengan pak odi, aku selalu mencium tangan pak odi, dan tangan itu benar - benar tangan kakekku
aku menoleh ke atas melihat wajah pak odi untuk memastikan itu tangan kakekku, dan ternyata itu tangan pak odi.
aku memeluk pak odi sebelum aku masuk ke gerbang sekolahku...