
*membuka laptop
Hai
Aku Sendanu Anggasta, sekarang aku duduk di bangku Sekolah Menengah tingkat pertama.
Ya.. sekarang aku kelas tiga Sekolah Menengah Pertama di salah satu sekolah unggulan di daerahku.
Aku mungkin tergolong anak yang setengah beruntung setengah tidak beruntung, ya mungkin saja semua orang merasakan hal itu namun yang aku maksud adalah ketika mataku tidak sama halnya dengan mata kebanyakan orang.
Setelah keluar dari rumah sakit, saat aku berusia 3 tahun aku mulai merasa dunia ini benar - benar bersahabat denganku, semua ingin bermain bersamaku kecuali mama, papa, dan saudaraku
Aku yang sedari kecil sering melihat anak sebayaku bermain dengan hanya sebuah ranting kecil di bawah pohon saat hujan dan panas.
Aku yang sering melihat ibu - ibu tua dengan sebelah tangan menggendong sesuatu yang kosong di tangannya
Aku yang sering melihat laki - laki paruh baya dengan celana pendek yang selalu berdiri di gudang sekolahku
Aku yang sering di ajak bermain, berlari oleh anak sebayaku bahkan hingga aku sering di ajak untuk melompat dari tangga rumahku.
dan masih banyak hal lain yang sering kutemukan
Dulu aku tidak mengetahui persis mereka itu apa, banyak dari mereka yang perlahan meninggalkanku setelah aku mulai menginjak kelas 4 sekolah dasar.
Aku mulai di daftarkan untuk mengaji di dekat rumahku, aku mulai di ajarkan bagaimana cara mengirimkan do'a - do'a untuk seseorang yang sudah tiada.
Suatu waktu aku diminta oleh ajeng, anak sebayaku yang sering menemaniku bermain di halaman belakang rumahku.
"Sendanu, kamu mau tidak membantuku belajar berdo'a?" pinta ajeng kepadaku
"Tentu saja ajeng, bagaimana caraku membantumu?, jawabku yang saat itu ingin sekali membantu ajeng, temanku yang selalu bermain dengan ranting di bawah pohon besar di halaman rumahku.
Memang sedari dulu aku sering menghafal pelajaranku di teras depan rumahku yang bersebrangan langsung dengan pohon besar tempat ajeng sering bermain ranting setiap hari.
Kebetulan semenjak aku belajar mengaji, akupun sering menghafal apa saja yang aku pelajari ketika belajar mengaji, dan aku terus mengulangnya tepat di teras depan rumahku tempat aku sering menghafal pelajaran sekolahku.
" Sendanu, maukah kamu membacakanku do'a yang kamu pelajari bersama kakek tua berpakaian putih itu? aku sangat tenang mendengarnya", pinta ajeng kembali kepadaku
" Tentu ajeng, aku akan sangat senang jika kamu mendengarkan hafalanku", jawabku kegirangan
Baru saja sepatah aku mengucapkan bissmillah ajeng menghilang
"Ajeng.. kamu kemana??", aku kaget sambil mencari ajeng mengelilingi pohon besar tua itu
Sesaat saat aku hampir sampai melingkari pohon tersebut sontak saja aku lebih terkejut lagi mendapati guru mengajiku berdiri tepat di hadapanku.
" Asstagfirullah Pak ustad.. danu kagett ", sambil memegang dada dengan kedua tanganku
" Sendanu, sedari tadi pak ustad melihat kamu berbicara, kepada siapa?" tanya pak ustad pelan kepadaku sambil perlahan berjongkok memegang wajahku.
"Danu cari Ajeng pak ustad", jawabku dengan raut wajah yang kecewa
" Ajeng?, ajeng siapa" tanya pak ustad padaku kembali dengan perlahan berdiri menarik tanganku untuk mendekatinya
"Ajeng itu temen danu ustad, dia sering dengerin danu menghafal pelajaran, nah tadi ajeng pengen danu membacakan hafalan do'a yang danu pelajari sama pak ustad"
Pak ustad pun mengangguk dengan sedikit tersenyum seolah beliau mengerti akan apa yang aku bicarakan
"Kata ajeng, ajeng pgn danu membacakan do'a untuk ajeng pak ustad karena kata ajeng dia sangat tenang mendengarkan ayat - ayat yang danu sering hafalkan", jelasku kembali kepada pak ustad yang sedari tadi aku berbicara, beliau hanya melihat sekeliling pohon.
" Oh jadi begitu, kalo gitu artinya ajeng minta bantu sendanu " jawab pak ustad yang menengok ke arah atas pohon
kala itu aku masih berusia 3 tahun dimana semua yang aku lihat itu aku anggap sebagai temanku dan aku tidak memikirkan hal negatif pun yang mereka lakukan
"Iya pak ustad mengerti maksud sendanu, sekarang pak ustad ajarkan bagaimana cara membantu teman - teman sendanu agar bisa senang mendengarkan sendanu menghafal ayat lagi ya", jelas pak ustad mencoba memberikan penjelasan kepadaku
" Iya pak ustad danu mau " jawabku kegirangan
Diajarkannya lah aku cara mengirimkan do'a untuk seseorang yang sudah berpulang. Dan sejak saat itu pula aku tidak melihat ajeng kembali, dia pergi tanpa berpamitan.
________________ -- next -- _________________
" kakek.. kakek sudah tidur ya? danu boleh masuk? danu bawain cemilan " aku perlahan membuka pintu kamar kakek yang kebetulan terlihat sangat gelap dari dapur
terang saja yang aku dapati adalah kamar kosong yang gelap tanpa sedikit cahayapun, namun hanya selama beberapa detik.
*suara saklar lampu dengan derap jalan cepat
*menepuk pundakku
sontak aku terkejut
"Kamu ngapain lagi sih jam segini disini?" tanya papaku dengan nada sedikit keras mengagetkanku.
"Danu mau kasih kakek cemilan pa, danu takut kakek belum makan", jawabku sambil menoleh kembali ke arah kamar kakek
Saat itu kamar kakek sangat terang dan rapih seperti biasa.
Lalu papa menarikku ke dapur menjauhi kamar kakek
" Kamu tuh jangan cari alasan terus kalo disuruh belajar ", papa terus memarahiku ketika aku ingin masuk kekamar kakek
"Ada apa mas? " tanya tanteku yang tidak sengaja melihat papa memarahiku
" Sendanu, disuruh belajar malah cari alasan buat main "
"Danu ga main pa, danu cuma khawatir kakek belum makan" jawabku sedikit gemetar menahan tangis
"Sudah, danu bawa lagi cemilannya ke atas ya, kakek sudah makan kok tadi tante liat kakek makan"
tante menengahiku dan papa sembari menarik tanganku dari papa menuju pintu dapur
Aku membawa kembali cemilanku kekamarku di atas, dan melanjutkan belajar kembali. Hari - hariku banyak kuhabiskan untuk belajar memang, bukan hanya karna aku ingin, tapi keluargaku sering tidak puas dengan nilai yang kudapatkan.
Ketika aku mendapat juara 2 di awal tahunku, papa menuntutku untuk mendapatkan posisi utama di kelasku
Aku sering juara 1 di kelasku, tapi papa menuntutku untuk juara umum di sekolahku
Aku tidam menjadikan itu sebagai sebuah tekanan walaupun terkadang aku lelah
Tetap saja aku menjadikan itu sebagai pemicu diri untuk lebih semangat belajar karena aku sadar papa sudah memenuhi semua fasilitas belajar yang aku butuhkan, dan aku bersyukur dengan cara belajar lebih giat.
Malam itu aku tertidur di meja belajar, aku kembali bermimpi tentang temanku yang sering berdiri didepan jendela kamarku
" Sendanu Anggasta, kemarilah", Panggil egi padaku sambil mengayunkan tangannya ke arahku memberikan isyarat agar aku turun kearahnya.
" Katamu ingin menjadi teman dekatku, ayo melompat kau akan bisa terbang sepertiku " ucap egi mengajakku terbang
Kuangkat kakiku menaiki kursi dipinggir pembatas tangga, aku bersiap untuk melompat dan..