SIR

SIR
Part 1 - Prolog



Siang itu di kantin sekolah ..


"Nu, kamu dicariin bu tati tuh, katanya nanti jangan lupa bawain buku yg ada di kelas keruangannya", ujar karin sambil berjalan melewatiku


"oh oke rin, makasih ya", jawabku lalu kembali merebahkan tubuhku di gazebo kantin sekolah


Aku tidak langsung bergegas mengambil buku yang ada di meja guru kelasku karna di dalam kelas pasti masih ramai perkara pemilihan ketua kelas.


Siang itu kantin terlihat sepi, padahal sudah waktunya istirahat dan tentu saja aku sudah disini sedari tadi untuk menghindari beberapa keributan di kelas tentang pemilihan ketua kelas.


Aku Sendanu Anggasta, seorang anak remaja siswa kelas 9 di salah satu Sekolah Menengah Pertama di Kota besar ini.


Aku anak ke dua dari tiga bersaudara dan aku lebih dekat dengan kakek dan tanteku ketimbang dengan mama, papa, ataupun saudaraku.


Ini adalah hari dimana kami harus melakukan pemilihan ketua kelas dan aku lebih memilih untuk kabur ke kantin sekolah, karena aku lelah setelah 2 tahun menjadi ketua kelas dan prestasiku hanya di anggap sebagai keuntungan atas relasi ku kepada guru - guru oleh teman - temanku.


Dan tentu saja, aku berhasil tidak kembali terpilih menjadi ketua kelas karena disekolahku syarat untuk menjadi ketua kelas adalah calon terpilih harus ikut serta dalam pemilihan dan jika tidak hadir maka hasil pemilihan dianggap gugur dan tidak sah.


Sepulang sekolah, hujan turun sangat tipis dan aku tetap berlari pulang ke rumahku yang kebetulan dekat dari sekolah.


Setiba dirumah langit masih gerimis dan aku duduk di teras rumahku sambil membuka tali sepatuku yang kebetulan aku melihat kakek dari kejauhan.


*berlari kecil ke arah kakek


"Kakek udah lama duduk disini? nungguin danu ya?"


sapa ku pada kakekku yang sedari tadi duduk di sampingku.


Namun saat itu wajah kakek terlihat sangat muram, lalu aku menceritakan apa saja yang sudah aku lalui di sekolah tadi.


Sore itu ketika aku duduk di samping kakekku, tanteku datang.


"Danu belum ganti baju? masuk gih basah bajunya, diganti dulu nanti masuk angin" sapa tanteku sambil berjalan santai ke arahku.


" Iya tante, danu lagi curhat sama kakek"


tante hanya tersenyum lalu duduk di sampingku


Dan dengan tatapan bahagia tanteku duduk di sebelahku sambil bercerita, aku mendengarkan tanteku bercerita tentangku yang saat itu masih berusia 3 tahun.


"Dulu waktu kamu umur 3 tahun, kamu tuh rajin, pinter, ga pernah ngomong kasar, tante suka banget kamu suka bantuin kerjaan rumah", sambil tertawa tante mengusap kepalaku kemudian memegang bekas luka yang ada di kepalaku.


*kakek perlahan bergerak kedalam


"Eh kakek mau kemana? Yaudah tante danu mau lanjut kedalem dulu ya" sambil mengejar kakek, aku meninggalkan tante


"iya nuu.." tante menjawabku pelan dengan tertunduk


Aku memapah kakek, aku kebelakang ngelewatin mama sama adek aku, sampai kamar di sebelah dapur. Tapi seperti biasa mereka tidak menyapaku.


Sore itu rintik gerimis tak kunjung henti sehingga aku tertidur di kamar kakek.


Aku kembali bermimpi kakek berpamitan padaku untuk pulang namun aku selalu terbangun, mimpi itu sudah berapa kali hadir dalam tidurku.


Suara langkah kaki terdengar dari kejauhan dan mulai mendekat.


"kamu ngapain tidur disitu, pindah kekamar sana", mama menyuruhku pindah kekamarku


"iya ma", jawabku sambil melihat sekitar kamar yang sudah kosong.


Aku bergegas keluar dari kamar kakek menuju kamarku dan mulai membereskan kamar yang berantakan bekas aku belajar semalaman.


Saat aku bergegas mandi, aku melihat tanteku masuk kekamarku menuju kekamar mandi jadi aku urungkan dulu niatku untuk mandi.


" Astaga tante kok ga ketok pintu dulu sih, danu jadi kaget. Tante jangan lama - lama ya, nanti mama marah soalnya danu harus mandi", tante tidak menjawabku.


Aku menonton tv sembari menunggu tanteku keluar dari kamar mandi, kebetulan kamar mandiku didalam kamar, jadi aku memutuskan untuk menonton tv sembari menunggunya.


"Ya Allah, Danu belum mandi juga?", teriak mama padaku.


"Iya ma, danu nungguin tante dari tadi ngga keluar - keluar dari kamar mandi danu", jawabku dengan nada yang sedikit gemetar


"Ada apa kak? kok teriak - teriak?", tante berlari ke arahku dan mamaku


" Ngga tau, si danu emang suka ngarang cerita terus dari dulu, banyak banget alasannya di suruh mandi", marah mama padaku


" t tapi ma" aku selalu tidak diberi kesempatan untuk menjelaskan sesuatu kepada keluargaku terutama mama dan papaku


"Sendanu.. mandi ya nak, udah mau magrib ini, siap - siap mau sholat", perintah tante padaku pelan


"i iya tante.." aku tidak bisa berkata - kata lagi


aku langsung bergegas ke kamar mandi dan betul saja, tidak ada siapa - siapa di kamar mandiku


" mama.. aku takut.. ", aku cuma bisa menangis kecil dari kamar mandi tanpa ada yang tau sebesar apa ketakutanku selama ini.


Alhamdulillah tidak terjadi apa - apa selama aku mandi


" Anggasta, ayo sholat ", aku mendengar teriakan kakakku memanggilku dari bawah


" Iya kak.. " teriakku menjawab kakakku


Aku buru - buru turun untuk sholat berjamaah di bawah, namun sampai di bawah ruang tengah kosong, aku berusaha mencari kemana perginya semua orang di rumah.


Namun aku mendengar suara yang cukup ramai dari dapur rumahku.


" Kaaak, kakak.. sholatnya dimana?? " aku tetap berjalan sembari mendekati sumber suara yang ramai tersebut


setibanya di dapur aku melihat semua keluargaku berkumpul didepan kamar kakek


" Anggasta, kamu ngapain sih. orang udah pada nungguin kamu, keburu isya " teriak kakakku kembali sembari menepuk pundakku


"Ah iya kak" jawabku kaku


Perlahan aku keruang tengah dan terang saja disana ramai sudah bersiap untuk sholat magrib


Dan pakaian yang dikenakan keluargaku semuanya sama persis dengan yang aku lihat di depan kamar kakekku tadi


"Kamu di panggil - panggil kok cuek aja sih" tanya papa padaku, namun aku hanya bisa terdiam kaku sambil memahami situasi yang ada.


Setelah kejadian itu, seperti biasa aku tidak terlalu memkirkan hal yang sudah terjadi, setelah sholat aku membantu kakakku dan mamaku menyiapkan makan malam, sedangkan tanteku menyiapkan cemilan yang sudah di bawanya dari perjalanan kerumahku


Saat makan malam aku tidak melihat kakekku, aku berjalan menuju kamar kakekku untuk memanggil kakek


"Sendanu mau kemana? abisin dulu makanannya" tegur papaku


"Kakek mana pa? kok ga ada?", aku masih berfikir apa ada kaitannya dengan wajah kakek yang muram tadi sore.


"Udah, abisin aja makanan kamu, kakek nanti makannya" jawab papa.


Aku berfikir kakek marah kepadaku sampai - sampai kakek tidak mau makan malam bersama.


Aku melanjutkan makan malamku seperti biasa, setelah selesai makan aku belajar seperti biasa di kamarku sebelum tidur dengan membawa beberapa cemilan


Aku teringat dengan kakekku, aku khawatir kakekku belum makan, lalu aku turun menuju kamar kakekku dengan membawa cemilan yang aku punya, suasana sudah sepi, semua orang sepertinya sudah tertidur.


" Kakek.. kakek sudah makan belum? " dengan pelan aku mengetuk pintu kamarnya namun kakek tidak menjawab


" kakek.. kakek sudah tidur ya? danu boleh masuk? danu bawain cemilan " aku perlahan membuka pintu kamar kakek yang kebetulan terlihat sangat gelap dari dapur


terang saja yang aku dapati adalah ..