SIR

SIR
Part 4 - Waktu Yang Berlalu



*latar masa lalu, ketika sendanu berusia 8 tahun


*Didalam perjalanan menggunakan mobil


Gea, mama nya sendanu anggasta dan Hen papanya sendanu berniat untuk berlibur kesini, ke desa dimana tempat kakek sandi tinggal


mereka mengajak keluarga kecilnya kesini karena sudah satu bulan kakek sandi pulang kampung untuk mengurusi kebun teh miliknya


Gea, Hen beserta ketiga anaknya Vio, Danu dan Alden berangkat bersama dengan membawa beberapa buah tangan untuk kakek sandi


kakek sandi sudah sangat lama tinggal bersama Gea, dan beliau sangat dekat dengan sendanu anggasta ketimbang dengan adik dan kakaknya sendanu


dan sesampainya di desa..


*Di sebuah taman di desa tempat kakek Sendanu Anggasta tinggal


"kita ke taman saja yuk" ajak kakek sandi


"nah ini buat danu dari kakek ya", kakeknya sendanu memberikan seikat ilalang yang di lilit dengan sapu tangan merah milik kakek sandi


" Terimakasih kakek, danu saayang kakek ", Sendanu memeluk kakeknya dengan sangat girang


bermainlah sendanu anggasta di gazebo kecil di tengah taman, namun sesaat terlihat danu duduk terdiam cukup lama sambil melotot ke arah sudut kanan gazebo, dan tidak lama kemudian Sendanu berlari - lari kecil kesana kemari, lalu terjatuh


"Yah, ayah gimana kabarnya?" tanya mama danu pada kakeknya sandi


"Ayah baru saja menjual sebagian kebun teh di puncak kemarin, tapi sepulang dari sana badan ayah kurang sehat nak" Jawab kakek sandi yang sedari tadi memperhatikan sendanu


"Kenapa di jual yah? ayang butuh uang? atau buat apa?", gea terkejut karena ayahnya harus sampai menjual sebagian kebun teh miliknya


" ngga, hanya saja ayah ada rencana mau membuat rumah tinggal untuk orang tua terlantar dan anak terlantar" Jawab kakek sandi yang masih tetap memperhatikan sendanu dari kejauhan


"Anakmu, Sendanu itu, dia punya kelebihan. kamu harus memberikan dia perhatian lebih" tambah kakek sandi sambil beranjak dari tempat duduknya


"Setiap orang pasti punya kelebihan dan kekurangan kan yah?" Jawab gea sambil tersenyum disusul dengan tawa kecilnya


*terdengar suara anak kecil menangis


"Kembaliin", suara tangis danu makin mengeras


Sendanu Anggasta yang saat itu berusia 8 tahun berusaha mengambil ilalang yang sudah terikat rapih bersama dengan sapu tangan milik kakek


" kamu jangan nakal dong sendanu " marah mama pada danu yang saat itu sedang berlari kesana kemari seperti sedang mengejar sesuatu


Disisi lain, sang kakek melihat seorang anak laki - laki yang berlari membawa ilalang miliknya yang telah diberikan kepada danu


"Danu, jangan di kejar " perintah kakek sandi sembari berlari mendatangi sendanu anggasta


Sendanu menangis,


" Kakek.. dia mencuri hadiahku " sendanu memeluk kakeknya dengan derai tangisan


" sudah, birkan saja. Nanti kakek ganti dengan yang baru " jawab kakek sandi menenangkan sendanu yang menangis begitu kencang


Gea berlari mendekati ayahnya dan sendanu


"Sendanu, kan sudah mama bilang danu ngga boleh nakal"


"Ngga ma, danu ngga nakal" sendanu menunduk


"Tadi mama liat kamu lari - lari, jatoh kan"


"Tapi ma, dia mencuri ilalang danu"


"Jangan banyak ngawur danu, mama ngajarin danu supaya danu ga jadi anak nakal"


"T.. Tapi ma.. " danu berusaha menjelaskan apa yang dia lalui


namun tidak ada seorangpun dari keluarganya yang memahaminya


*di perjalanan keluar taman


Ilalang milik sendanu tergeletak di bawah batang pohon yang hanya satu - satunya di depan gerbang taman


Danu berlarian ke arah pohon tua tersebut, namun dihentikan oleh anak perempuan kecil


*berlarin ke arah sendanu, lalu menarik tangan sendanu


*anak kecil itu menggelengkan kepalanya seolah memberi tanda bahwa danu dilarang kesana


*kakek sandi bergegas mengejar sendanu dan menarik tangannya


*biru pun mengangguk dan berjalan menjauh lalu menghilang


*dibawah pohon tua terlihat sesosok wanita paruh baya dengan seorang anak laki - laki yang tadi mencuri ilalang milik sendanu sedang berdiri menatap kepergian keluarga itu


sendanu pun hanya melihat dari kejauhan sambil berlari kecil pergi meninggalkan tempat itu


papa sendanu yang dari awal sedang membersihkan mobil, didatangi oleh seorang anak kecil berpakaian compang camping saat dia sedang beristirahat di dalam mobilnya


*menatap datar


"tuan, bolehkah saya ikut dengan tuan? saya kedinginan" anak itu meminta dengan menundukkan kepalanya


namun saat hen ingin membuka pintu mobil, disaat yang bersamaan danu, mama dan kakeknya tiba


terlihat dari arah yang bersebrangan dengan anak kecil tadi, hen menoleh ke arah gea dan danu, tangannya sambil membuka pintu mobil


saat hen memalingkan pandangannya kembali dari gea menuju anak yang berpakaian compang camping tadi


namun setelah membuka pintu tidak ada seorangpun di luar mobil


sontak hen mengarahkan pandangannya ke arah gea, danu dan kakek. Kemudian anak kecil tadi berjalan menunduk tepat dibelakang kakek sandi


hen melotot dan berkali - kali mengucek matanya, namun masih jelas terlihat dari kejauhan bahwa itu anak kecil tadi


anak kecil itu berlari semakin mendekati hen mendahului danu, gea dan kakek sandi


Dengan refleks hen berjalan menjauh, namun lari anak itu terlalu cepat hingga membuat hen memegang kepalanya dengan kedua tangan lalu berjongkok


"Aaaaaargh apa mau muuu?" teriak hen ketakutan


*terdengar suara anak kecil berbisik


"biarkan aku ikut"


*suara teriakan anak laki - laki Keras melengking


Hen tetap berteriak sejadi - jadinya seperti orang yang kehilangan akal


"Papaaaaa, papaaaaaa" suara teriakan itu perlahan berubah menjadi sebuah panggilan


ketika hen sadar dan membuka kedua matanya, dia melihat Vio sedang berteriak memanggil namanya dan hen mendapati wajah vio sangat cemas


"papaaaa, alden ga mau ngomong sama vio paaa"


sambil menarik tangan papanya, vio membawa hen ke gazebo dari arah yang berlawanan dengan gazebo tempat danu tadi bermain


di tengah perjalanan hen sempat menoleh ke arah sendanu dan gea, dan jelas dia tidak melihat anak laki - laki yang tadi mendatanginya


Gea dan kakek sandi heran melihat tingkah hen yang aneh dari kejauhan lalu berlari bersama vio


merekapun mengejar vio dan hen


Setibanya di gazebo tempat alden tadi terdiam, mereka tidak mendapati alden di sana


mereka berteriak mencari - cari alden namun alden tidak diketemukan


di sisi lain, Sendanu Anggasta yang tidak ikut mengejar vio dan hen


"Ma, danu mana?" vio cemas, karena tadi sudah melihat alden tidak melakukan apapun sekarang sendanu yang hilang


"Danu bener - bener deh, orang lagi cemas malah ngga peduli padahal tadi dia liat kalian" Gea pun marah pada sendanu karena jelas dia keluar dari rombongan yang sedang mengejar vio dan hen


saat mereka sibuk mencari alden, kakek sandi bertanya pada vio


"nak, sebelum kejadian ini, kalian ngapain aja?" tanya kakek sandi pada vio dengan sangat pelan dan tenang


"tadi vio lagi petik bunga di sana kek ( menunjuk ke arah taman kecil di sebrang gazebo tempat alden duduk) alden main disana kek (menunjuk ke arah gazebo) tapi alden kayak ngobrol sama orang, pas vio deketin alden diem, jadi vio lanjut lagi petik bunga nya"


vio mencoba menjelaskan kepada kakek dan orang tuanya dengan rasa takut


"ma, vio beneran ngga tau alden kenapa"


"pa, jangan marahin vio ya" vio meneteskan air mata kerena takut di marahi oleh papa mamanya


"ga, mama papa ngga akan nyalahin vio. vio jelasin pelan - pelan ya nak tadi alden ngapai  aja" tanya kakek sandi dengan pelan


"sebenernya ma, pa, kek.. tadi alden..