Seriously, Become A God Of Martial Arts

Seriously, Become A God Of Martial Arts
Ch.08



Berbeda dari kemarin, kali ini bukanlah membentuk pondasi dibawah derasnya air terjun melainkan menebang kayu. Guru Ding memintaku untuk membawa 1000 kayu besar dengan konsekuensi jika tidak terpenuhi sebelum matahari terbenam maka tidak diperbolehkan untuk makan selama tiga hari.


Oleh sebab itu aku pergi ke hutan di bawah untuk mencari pohon besar seperti yang diminta, kupukul kayu tersebut dengan kepalan tangan tanpa peduli rasa nyeri dari buku-buku jariku yang sudah kemerahan dan lecet sampai tumbang.


Setelahnya aku masih perlu membawa kayu-kayu tersebut ke puncak untuk dikumpulkan, bolak-balik dengan jarak yang begitu jauh dan beban berat yang kupikul hampir saja seluruh tubuhku mati rasa.


Batas waktu yang ditentukan pun berakhir.


"Ini tidak cukup." ucap guru Ding saat menyadari kayu yang aku bawakan sama sekali tak menyentuh angka seribu, bahkan separuhnya.


"Maafkan aku guru...."


"Kau tidak boleh makan selama tiga hari, pulanglah."


Guru Ding bahkan tak tergerak sedikitpun melihat tumpukan kayu, hasil yang sudah aku berikan. Aku menatapnya lesu sambil mengumpulkan sisa-sisa tenaga untuk menopang tubuh ini dan kembali kerumah, walau peluh saja mengalir deras bagaikan air sungai.


Lelahku semakin menjadi-jadi dalam dua hari terakhir. rasa sakit ini bahkan lebih parah ketimbang apa yang terjadi kemarin, diatas ranjangku aku berusaha menahan penderitaan ini dan berharap membaik saat hari telah berganti.


Esok harinya guru Ding memberi arahan baru, dimana ia memintaku mempelajari sebuah gerakan yang dinamakan langkah seribu kilat.


Gerakan ini sendiri terdiri dari 5 bagian yangmana bila menguasai keseluruhannya maka bisa memungkinkan seseorang bergerak dengan bebas dan sangat cepat bahkan mata pun sulit mengikuti pergerakan orang itu. Aku jelas sangat tertarik sebab ini pertama kalinya guru Ding memberi teknik beladiri.


"Sebulan lagi akan diadakan ujian musim semi. Kau kuasai bagian pertama dalam waktu sebulan dan ingat dua latihan sebelumnya juga harus kau lakukan setiap hari secara bergantian,"


"Murid ini akan mematuhinya."


"Aku tak bisa memberi arahan untuk sementara waktu sebab harus pergi ke suatu tempat, jadi pastikan kau sudah menguasai langkah seribu kilat saat aku kembali nanti." sambung guru Ding lagi.


Meski aku bertanya-tanya tentang apa yang harus ia lakukan terlebih ini pertama kalinya ia pergi sejak aku tinggal disini yakni delapan tahun, namun fokusku sekarang hanya ingin berlatih secepat mungkin.


"Baik guru ... Terima kasih guru."


"Pergilah, hari ini kau boleh meninggalkan puncak."


*****


Walau tanpa pengawasan guru Ding, aku menjalani latihan juga menerapkan konsekuensi yang sudah ia perintahkan sebelum pergi. Aku sampai harus menahan lapar selama dua belas hari akibat hukuman dan tiada niat sedikitpun untuk melanggar, dalam kondisi kelaparan justru semangatku meledak dan berhasil mencapai level yang guru Ding inginkan.


Latihan di bawah air terjun sama sekali tak memberi tekanan lagi, aku bisa bertahan dibawahnya sampai hari berakhir bahkan beberapa hari lalu pondasiku sudah terbentuk secara sempurna. Begitu juga latihan menebang dan mengumpulkan kayu itu aku bisa menebang seribu lebih kayu dalam sehari.


Hebatnya ialah pohon disini tampak masih banyak.


Adapun langkah seribu kilat yang aku pelajari sudah sampai tahap akhir pertama. Hari ini aku bertekad akan menguasai tahap pertama seutuhnya. Tingkat kesulitannya sendiri aku mengambil inisiatif dengan latihan bergerak diatas tanah berlumpur, menurutku ini akan sangat membantuku.


TAP— TAP— TAP—


"Fyuuh...."


"Akhirnya aku berhasil." ucapku memuji diri sendiri.


Aku sempat beristirahat sejenak, bersandar di bawah pohon. Perut yang mulai keroncongan terasa sangat mengganggu sehingga aku memutuskan untuk mencari makanan disekitar.


Lepas itu teringat lagi akan sumber mata air abadi, bermaksud menyegarkan diri juga hari yang masih terang dan aku pun memutuskan untuk pergi kesana.


Hari ini aku akan memanjakan diri, pikirku.


Sesampainya disana, tanpa mempedulikan sekitar aku melepaskan pakaian kemudian masuk kedalam kolam. Aku bersandar di bibir kolam sambil memejamkan mata, ketika dinginnya akan merasuk sampai ke dalam tubuhku tiba-tiba suara jeritan seseorang terdengar.


"Siapa kau?" tanya orang tersebut dengan teriakannya yang cukup keras.


Wanita cantik ini memiliki rambut berwarna hitam panjang, terurai dibelakang punggungnya. bola matanya yang berwarna hitam terlihat mengkilap, dengan tato tiga garis biru yang terdapat didahinya.


Ia terlihat seperti wanita yang baru berumur sekitar tiga puluhan dengan tubuh yang memiliki lekukan sempurna, dadanya tak bisa tertutupi seluruhnya oleh lengan sementara tangan satunya menutupi bagian bawahnya meski masih dibawah permukaan air.


"Kau tidak ingin menjawab pertanyaanku?"


Pikiranku kini hanya terfokus mengagumi keindahan yang kulihat. Hidungku mengalirkan darah segar dan aku berani bersumpah kalau ini pertama kalinya melihat wanita seperti dirinya.


Mungkinkah ini masanya? Bertindak seperti binatang?


"Tunggu dulu aku bisa jelaskan...."


"Diam kau!" balasnya terlihat amat berang.


BYAAARRR—!


Tanpa menunggu lama ia memecah permukaan kolam yang tenang itu hingga membentuk gelombang besar kesegala arah menjauhinya dan seakan akan pergi mengarah kepadaku, membuka mata ini lebar-lebar. Hawa dingin seorang pembunuh yang ia pancarkan lebih dari cukup untuk menekan, refleks aku pun melompat ke sisi luar kolam dan segera pergi menjauh secepat mungkin.


"Aku pasti akan mencari dan mencabik-cabik tubuhmu!" pekiknya yang masih kudengar meski jaraknya saja sudah jauh.


Kalang kabut, langkah seribu kilat langsung saja aku gunakan mengingat memang hanya ini satu-satunya cara untuk kabur. Sayangnya aku melupakan pakaian yang aku pakai sebelumnya dipinggir kolam, berlari sangat cepat tanpa sehelai benang pun.


Setibanya dirumah aku cekatan mengenakan pakaian, namun pikiranku yang bermacam-macam membuat tubuh ini tak berhenti gemetaran. Hanya sekilas aku menatap kilatan matanya dan berpikir jikalau aku tak sempat kabur maka tak akan ada hari esok.


"Kenapa guru tidak memberitahuku kalau ada orang lain yang tahu sumber mata air abadi?" gumamku.


Bagaimana dengan pakaian yang aku tinggalkan? Andai wanita tersebut mengenalinya dan ia juga bagian dari Paviliun Bukit Surgawi, maka cepat atau lambat dia akan menemukanku. Kesalahpahaman yang terjadi diantara kami pastinya semakin memburuk sebab aku lari tanpa ada penjelasan.


Akibat berendam dan berlari tanpa mengenakan pakaian, hawa dingin yang ada menusukku lebih kuat. Kesehatanku tidak boleh sampai memburuk namun tidur pun tak bisa. Tak tahu apa yang harus dilakukan untuk menenangkan diri maka aku mulai bermeditasi, dengan duduk bersila dan berkonsentasi mendalami alam bawah sadar dan memperoleh ketenangan batin.


Bukan hanya soal konflik diantara kami berdua namun kecantikan alami dari pemandangan yang tubuhnya gambarkan tadi masih tersimpan jelas, juga sangat mengganggu pikiranku yang masih sangat muda ini.