Seriously, Become A God Of Martial Arts

Seriously, Become A God Of Martial Arts
Ch.02



Kota Nancheng adalah satu kota di distrik timur di negara Yunan. awalnya aku terkejut sekaligus terkesima dengan bagaimana kota ini terlihat, begitupun suasananya.


Aku beritahu, kota ini dipenuhi bangunan bergaya arsitektur seperti zaman tiga kerajaan, aku tak bisa menjelaskannya secara detil sebab aku tak memiliki pengetahuan besar akan hal itu.


Namun setidaknya aku tahu ini sangat indah saat dilihat langsung, sangat berbeda dengan gedung pencakar langit yang biasa aku lihat dulu.


Begitu sampai, kami dihadapkan dengan kediaman keluarga Cheng yang sangat luas dan dijaga dua orang pria bersenjatakan tombak didepan gerbang.


Mungkin mereka berdua penjaga? Seperti di film.


Nie Wei, pamanku sempat bertanya pada mereka saat aku sibuk melihat kesana kemari. Setelahnya aku mengikuti kemana ia melangkah dan sampai lagi disatu tempat dan bertemu dengan seseorang. Nie Wei jelas memberi salam hormat kepadanya dan aku ikut melakukan sama seperti yang ia buat.


"Kepala pelayan...." hormat Nie Wei saat menempelkan tangannya satu sama lain kepada orang tersebut.


Pria didepan Nie Wei ini jelas bersikap congkak. tak sedikitpun ia memandangi wajah pamanku seakan kami ini bukan apa-apa sembari mengatakan sesuatu.


"Jadi kau pelayan baru itu?"


Ah, pemandangan yang sangat familiar.


"Benar tuan Wu, hamba adalah pelayan baru."


"Kau itu hanya tukang bersih-bersih sampah. urus kediaman utama juga kediaman cabang dan pastikan tidak ada satupun yang terlewat!"


Pria paruh baya berwajah buruk, memiliki dua gigi besar seperti tikus ini jelas sedang merendahkan Nie Wei. Biar begitu ia tetap terlihat tenang sedangkan aku, apa yang bisa kubuat dengan tubuh anak usia lima tahunku ini.


"Siapa ini? apa aku mengizinkanmu membawa orang lain kemari?"


"Maafkan hamba, tuan Wu ... Dia adalah anak saudaraku dan aku ingin dia bisa belajar disini."


"Kau ingin dia belajar dengan gratis? Mimpi saja!"


"Tunggu, jika dia juga menjadi pelayan dan membersihkan halaman maka aku akan mempertimbangkannya."


"Tapi tuan,"


Sebelum Nie Wei berbicara lebih jauh aku segera menarik tangannya kuat agar ia menoleh padaku. Sudah sejauh ini aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan apapun asal aku bisa belajar.


Di kehidupan lalu aku bahkan sampai menjilati sepatu atasanku, hal ini masih tidak ada apa-apanya untukku.


"Paman, aku akan melakukannya."


"Xiao Li, kau masih sangatlah kecil. Jika ayah dan ibumu tahu maka,"


"Mengapa kau menghalanginya? dia bahkan berpikir lebih dewasa darimu, haha—" sela kepala pelayan Wu sambil tertawa, mengejek.


"Paman Nie, percayalah padaku."


Nie Wei hanya bisa mendesah pelan. Memang tak ada yang bisa ia lakukan, terlebih kepala pelayan Wu tak akan mendengarkan ia.


"Baiklah, tapi kau harus berjanji untuk fokus belajar ketimbang melakukan pekerjaan rumah."


"Aku berjanji." jawabku yakin.


*****


Sejak tinggal di kediaman keluarga Cheng,aku tidur di ruangan yang sangat sederhana juga sempit. Setiap hari aku bangun pagi-pagi dan membersihkan halaman, sembari menunggu waktu belajar dimulai.


Pembelajaran dimulai saat matahari mulai naik sampai batas pertengahan menuju puncak. Yang termasuk dalam keluarga Cheng mendapat tempat yang nyaman sementara kami yang dari keluarga pelayan hanya bisa mendengarnya dari luar.


Yang membuatku tertarik adalah, selain belajar pengetahuan dasar namun ada juga belajar mengenai seni beladiri, meski dengan status kami sebagai pelayan tak bisa ikut mempelajarinya.


Aku bisa mengetahui itu sebab beberapa hari yang lalu pernah aku tak sengaja melihat anak-anak seusiaku berlatih gerakan seperti seni beladiri.


Andai aku bisa berlatih seperti mereka.


Kemudian, beberapa hari berikutnya berlalu dan aku masih saja penasaran. Hari ini aku sengaja memanjati tembok, dibantu oleh sebuah pohon hanya demi melihat mereka berlatih.


Setidaknya ada belasan anak-anak dari keluarga Cheng, dengan rentang usia berbeda tengah berlatih gerakan seni beladiri juga seorang lagi yang sepertinya memperhatikan setiap gerakan mereka.


"HAAAAA—!" teriak mereka serempak.


"Cheng Lan, perhatikan posisi tanganmu."


Aku memperhatikan setiap gerak gerik mereka sampai melupakan apa yang harus kukerjakan. Waktu sedang memperhatikan itulah, seseorang tengah berusaha memanggil-manggil namaku dibelakang punggungku.


"Xiao Li, Xiao Li,"


"Nie Li!" pekik pria itu sedikit kuat, membuatku terkejut setengah mati.


"Paman Nie!"


"Apa yang sedang kau lakukan disana?"


Aku segera turun untuk menemui Nie Wei. Kulihat kerutan tipis didahinya menandakan kalau aku mungkin akan dimarahi atas tindakan barusan.


"Apa kau tak takut jatuh dari atas sana?"


Ucapan Nie Wei membuatku tertegun. Kupikir ia akan memarahiku namun ternyata ia mengkhawatirkanku.


"Aku senang kau mau belajar, tapi tetap harus berhati-hati dan jangan sampai ketahuan. Beruntung kali ini aku yang melihatmu namun nasib baik tak selalu datang lebih dari sekali." lanjutnya sambil mengacak-acak rambutku.


Kebiasaan paman Nie Wei sama seperti ayah. Mereka memang saudara.


"Baiklah paman." balasku sambil tertawa kecil.


Semenjak itu aku semakin sering memperhatikan anak-anak keluarga Cheng berlatih, kemudian mempraktikkannya sendiri saat waktu luang.


Tak lupa aku pun menyelesaikan pekerjaanku untuk membersihkan halaman, dan belajar pengetahuan dasar. Aku juga sudah bisa membaca dan menulis seperti yang aku harapkan.


Dan satu tahun berlalu begitu cepat.


*****


Seharusnya ada pelajaran namun hari ini guru tidak bisa mengajar sehingga kelas ditunda. Aku meneruskan pekerjaanku membersihkan halaman namun sampai ditengah jalan berlatih gerakan seni beladiri yang kupelajari secara diam-diam.


"Tangan kanan lurus kedepan dan tangan kiri ditekuk kebelakang, kaki lurus sementara kaki kanan ditekuk sedikit kedepan, membentuk kuda-kuda."


Aku menggumamkan setiap gerakan yang sudah kuhapal sebaik mungkin lalu mempraktikkannya langsung. Saat aku tengah sibuk akan gerakanku tiba-tiba saja seseorang muncul entah darimana.


"Apa yang sedang kau lakukan?"


Jaraknya sejak awal masihlah jauh, kemudian datang sampai bayangannya dekat aku pun tak menyadari hal itu. aku tergugup didepannya, memilih bungkam.


Dari pakaian atau aura yang pak tua ini pancarkan jelas ia adalah bagian dari keluarga Cheng. Terlebih aku menduga kalau ia bukanlah anggota keluarga biasa.


"Siapa namamu, nak? Kau ini dari keluarga pelayan bukan?"


"Mengapa kau mempelajari seni beladiri keluarga Cheng-ku?"


Pertanyaan darinya sudah mencapai titik dimana aku tak bisa lagi mengelak. Aku menundukkan kepala dan menghindari kontak mata langsung padanya sebisa mungkin.


Namun tak disangka pak tua ini menepuk bahuku, refleks aku melihat kearahnya sebab kaget. ia tersenyum padaku, sepertinya ingin rasa takut yang kurasakan bisa memudar.


"Apa kau takut padaku, nak?"


"Maaf...."


Orang tua itu mendesah panjang. Hanya permohonan maaf yang bisa aku ucapkan padanya.


"Sepertinya kau sudah tahu kesalahanmu. Keluarga pelayan tidak diperbolehkan belajar seni beladiri."


Aku kembali menunduk, akan tetapi kalimat orang tua itu selanjutnya membuatku tak percaya.


"Namun aku sudah melihat kegigihanmu, bakatmu juga tak kurang. Aku sangat berharap bisa melihatmu berkembang di masa depan."


Sekali lagi ia menepuk bahuku lalu pergi. Beberapa langkah orang tua itu lalui kemudian ia berbalik, ia memanggilku sekali lagi dan kali ini aku tak berniat mengabaikannya.


" Aku hampir lupa— hei nak, siapa namamu?"


"Namaku Nie Li."


"Nie Li, ya ... Baiklah." ucap orang tua itu seraya tersenyum tipis, meninggalkanku yang masih bergeming ditemani sapu lidi.