
Aku bergegas bangun dari ranjang kemudian merapikannya, lalu mengambil sapu yang sengaja kusandarkan di sudut ruangan kecil ini. Habis itu berjalan keluar, menarik pelan pintu kayu pembatas pandangan melalui dalam rumahku dengan dunia luar.
Aku mendongakkan wajah ini untuk melihat sentuhan kabut tipis, sorotan langit fajar dengan cahayanya yang perlahan menyingsing seakan sengaja membiarkan untuk beberapa saat, masih belum menghapus seluruh warna abu-abu di sekitaran.
Pagi hari yang begitu damai.
Cepat-cepat aku sapu seluruh halaman agar terbebas dari dedaunan berserakan, aku juga harus bergegas sebelum mendatangi rumah guruku yang berada di puncak bukit, di balik hutan bambu. Membersihkan rumahnya sudah menjadi rutinitasku selama ini sampai kini, hingga delapan tahun lamanya.
Usiaku sekarang sudah menginjak empat belas tahun.
Sejak diterima Paviliun Bukit Surgawi ini aku masih menjadi murid luar. Waktu itu murid yang berada diperingkat sepuluh ke bawah hasil ujian tidaklah menarik minat guru, terlebih bagi seseorang yang tidak diterima oleh guru manapun dalam sepuluh hari maka akan dikeluarkan dari sekte.
Selama batas waktu yang diberikan tersebut aku tentu berusaha mencari guru dari sekte yang bisa aku mintai pengakuan juga pengajaran, karena Paviliun Bukit Surgawi tidak hanya berada disatu tempat, melainkan ada banyak bukit dan aku terus naik turun bukit untuk mencarinya.
Hingga menemukan hutan bambu di salah satu puncak bukit, disanalah ada seorang guru bernama Ding Jun tinggal dan beruntungnya ia mau menerimaku.
Sejak hari itu aku pun menempatkan diri di bukit yang sama dengan guru Ding, dengan syarat mencari sisi bukit yang lain selain puncak sebab ia menolak diriku tinggal dekat di puncak dan memaksaku mencari rumah sendiri di kaki bukit.
Memang disini ada beberapa rumah kosong namun melihat kondisinya dengan dinding berlubang juga kayu yang lapuk, hanya ada satu pilihan rumah yang kondisinya paling layak untuk ditinggali. Aku pun menyadari kalau di bukit ini hanya ada aku dan guru Ding sebagai penghuni.
Pada awalnya waktu yang aku habiskan untuk membersihkan rumah guru Ding selalu lebih dari setengah hari. Ia sama sekali tidak mentolerir adanya kotoran, bahkan debu di rumah juga halamannya. Pernah juga ia memintaku dengan menunjuk tanpa berbicara, menyapu hampir separuh puncak bukit itu luasnya hanya mengandalkanku seorang diri.
Selepas itu ia hanya akan acuh saat menyeduh teh dan meminumnya seorang diri. Sementara aku yang tidak mendapatkan pengarahan selalu merasa kebingungan dan tak tahu apa yang harus dilakukan, menemui kebuntuan dari hari ke hari.
Peringkatku sendiri tidak mengalami kemajuan namun terus menurun seiring berjalannya waktu dan ujian peringkat yang diberikan. Semua murid yang lain sudah mempelajari cara membentuk pondasi, bahkan sudah menjadi murid dalam sedangkan aku masih sibuk menyapu dan berlatih tanpa arahan.
Setiap waktunya, ketika aku mulai berpikir yang bukan-bukan maka sapu yang ada ditanganku kugenggam lebih erat lagi, menekan kalau aku harus segera menyelesaikan ini dan pergi kerumah guru Ding agar tersisa banyak waktu yang bisa aku gunakan untuk latihan.
*****
"Nie Li, sudah berapa lama kau disini?"
Aku tertegun saat guru Ding bertanya, juga itu tak biasa. Pria paruh baya yang dipenuhi keriput halus, ditambah rambut acak-acakan dan senantiasa terlihat suram dimataku itu sangat jarang berbicara kecuali telunjuknya yang selalu bergerak sebagai caranya berkomunikasi saat ingin memintaku membersihkan sesuatu.
Ini masih dalam hitungan jari, berapa kali ia bicara.
"Murid sudah tinggal disini selama delapan tahun."
"Selama itu? Apa saja yang kau lakukan? Kenapa tidak ada perkembangan sama sekali?"
"Apa kau sadar akan kesalahanmu?"
"Maafkan murid ini, guru ... Aku tidak tahu."
Guru Ding menyesap sedikit teh di cangkir kecilnya, wajahnya terlalu datar dan suram hingga tak tahu apa yang sebenarnya ia pikirkan. Setelah itu ia kembali meletakkan cangkir tersebut diatas meja kecilnya kemudian lanjut berbicara.
"Kau memenuhi semua tugasmu tapi tak pernah menganggapku sebagai guru. Pernahkah kau memintaku untuk mengajarkan sesuatu?"
Sesaat aku menyadari ada yang salah dengan pria paruh baya ini. Aku sendiri yang seharusnya dari dulu menanyakan hal tersebut kepadanya namun melihat sikapnya selalu membuatku berpikir ribuan kali, menyinggungnya hanya akan membuatku terusir dari sini sehingga keluhan tadi kutelan bulat-bulat.
"Sekalipun kau tak pernah memintaku untuk mengajarkanmu, apa kau kira gurumu ini tak berkemampuan? Merendahkanku?"
Ternyata selama ini ia berharap aku meminta pengajaran kepadanya. Aku terlalu sombong dan berpikir hanya dengan pengakuannya saja itu sudah lebih dari cukup, berharap ia memberiku arahan tanoa aku meminta juga suatu kekeliruan.
Cepat-cepat aku bersujud, tak peduli tanah liat dibawah ini mengotori pakaianku. Aku sendiri hanya tak mau mengganggunya sehingga tidak pernah bertanya terlebih dulu.
"Bukan begitu guru ... Murid mengaku salah,"
"Hentikan itu, kemarilah."
Aku menuruti ucapan guru Ding dan bergegas datang. Selama ini aku hanya melihatnya duduk sambil menyeduh secangkir teh di pondok kecilnya seharian dengan tampilannya yang suram, harus diakui bahwa delapan tahun ini berlalu menjadi sia-sia sebab aku tak mengenal guruku sendiri sama sekali.
Begitu aku mendekat ia menempelkan dua jarinya ke dahiku, yang tidak kupahami namun seketika seperti ada yang mengalir di kepala begitu saja dan aku mulai memahami sesuatu. Cara belajar yang tidak wajar.
"Setiap orang punya hak dan kewajiban. Jangan lupakan tuntutan hak-mu atau kau akan ditindas seumur hidup."
"Murid ini akan mengingat pesan guru." ucapku menyampaikan rasa terima kasih.
"Hari ini sudah cukup, besok pagi-pagi sekali aku akan membawamu kesuatu tempat untuk latihan."
*****
Besoknya pagi-pagi sekali,bahkan sebelum fajar naik aku bergegas pergi ke rumah guru Ding. Terlihat disana ia sudah menungguku dengan berdiri, tangan pun saling menyilang, berpangkuan dibelakang.
"Hormat pada guru...." ucapku sembari mengepalkan tangan pada guru Ding.
"Ikuti aku." perintah guru Ding singkat.
Masih di bukit yang sama, kami pun tiba disebuah air terjun kecil dengan kolam yang cukup luas sebagai penampungnya. Dari yang kulihat tempat ini sangatlah terjaga sampai-sampai membuatku merasa takjub.
Juga satu-satunya yang muncul dipikiranku sekarang ialah menikmati dinginnya air kolam. Selama ini aku hanya bisa membersihkan diri di bawah rintikan hujan saat turun, namun bukit ini sendiri memiliki curah hujan yang sedikit dan hanya turun dua sampai tiga kali setiap bulannya. Aku sudah lama tinggal disini dan tidak tahu ada kolam sebagus ini.
Kini ada kolam di depan mata, sangat menggoda.
"Ini adalah sumber mata air abadi dan kolam suci dan Langit sengaja menciptakannya dengan ukuran yang kecil namun air yang tiada habisnya. Mulai hari ini kau berlatih dibawah air terjun."
Kemudian guru Ding menjelaskan apa yang harus aku lakukan dibawah air terjun tersebut. Aku setidaknya harus berdiri dengan kedua kaki yang sedikit tertekuk disana, menahan deras air terjun dengan tubuhku sementara di waktu yang sama bisa berkonsentrasi membentuk pondasi.
Mengikuti arahannya sempat aku berpikir kalau ini tugas yang amat mudah, namun setelah aku mencobanya langsung maka kepercayaan diri yang kumiliki tersebut seketika sirna tanpa jejak.
Air yang datang seperti menghujam layaknya batu besar, kepalaku seakan mau pecah dengan tubuhku serasa terkoyak-koyak. Sementara guru Ding juga penuh persiapan dilihat dari meja kecil dan perlengkapannya untuk minum teh yang sudah ada diatasnya, aku hanya bisa bertahan selama setengah jam hingga memutuskan untuk menarik diri.
"Kau mengecewakanku." ucapnya dingin.
"Maafkan aku guru ... Murid ini belum sanggup." ucapku sambil menunduk.
"Aku akan pergi menyeduh teh."
Guru Ding lantas membelakangi, berjalan terus meninggalkan diriku dengan sikapnya yang acuh. Aku sempat memandangi punggungnya sebelum memberi hormat, meski ia sendiri tak mungkin akan menoleh.
"Murid menerima perintah guru."
Setelahnya aku melanjutkan latihan, kusadari kalau satu jam menjadi batasku dan tiap saat mencapai batas aku akan menjauh untuk beristirahat selama lima menit. Hal itu aku lakukan secara berulang-ulang sampai senja di hari ini tak lagi tampak, bersembunyi dibalik punggung bukit menunggu hari berganti.