
Satu kepalan tangan Cheng Guo, bocah itu melayang tangkas namun hanya anginnya yang kurasakan sebab meleset. Semua orang terkejut tak terkecuali Cheng Guo sendiri, sepertinya mereka tidak percaya atas apa yang mereka lihat barusan.
Pukulan-pukulan berikutnya, kurang lebih tujuh kepalan tangan Cheng Guo pun bernasib sama, tak mengenaiku sekalipun. Sejak awal ia sama sekali tidak memperhatikan perbedaan postur kami berdua, seperti halnya mengayunkan tangan saja.
Ia kemudian menarik diri kurang lebih satu setengah langkah kakinya. Seperti sedang mengambil ancang-ancang Cheng guo bertumpu pada jari-jari kaki kanannya dengan tumit yang terangkat, tubuhnya ia lakukan satu putaran penuh sementara kaki kirinya tegak lurus kedepan.
Ini salah satu teknik tendangan yang cukup berbahaya, sejauh aku bisa melihatnya.
Jaraknya sudah sangat pas, berbeda dari sebelumnya dan Cheng Guo memang mulai terbiasa dengan gerakanku, akan tetapi ia lagi-lagi lupa akan perbedaan postur kami sehingga kakinya yang terangkat tinggi itu bisa aku hindari dengan sedikit gerakan menunduk.
"Beraninya kau!"
Cheng Guo jelas marah, akan tetapi itu karena kesalahannya sendiri. Sementara bagiku ini kesempatan baik untuk bertarung secara langsung, hanya saja lawanku terlalu terbawa emosi sehingga melupakan detil-detil yang harus ia lihat.
PAAAK—
Apa itu barusan? Benda yang keras menyakitiku.
"Hajar dia saudara Guo! Hajar dia!"
Sesuatu sepertinya mengenaiku dari belakang, membuat konsentrasiku buyar. Suara-suara mereka yang menyemangati Cheng Guo bisa kudengar dan sepertinya aku sempat melihat ia tersenyum, sulit bagiku memikirkan segalanya di waktu bersamaan.
BUAAKKK—
Satu pukulan telaknya mengenai wajahku.
Dua pukulan berikutnya masuk, pelipis serta rahang atasku jadi sasaran. Guru hanya melihat kami tanpa berbicara dan riuh anak-anak dari keluarga Cheng terus mengudara, semakin memecah fokus.
"Ini saja kemampuan sampah? Matilah!"
Pukulan pukulannya lebih menyakitkan ketimbang yang pertama kali datang, membuatku tersungkur ke tanah. Tak berhenti dan ia terus memukuli sekujur tubuhku sementara aku hanya bisa bertahan dengan meringkuk kearah samping sambil menutupi wajah.
"Mengaku kalah dan aku akan membunuhmu tanpa rasa sakit!"
Ini sangat buruk. Cheng Guo merundung tanpa ampun.
Telingaku mulai berdengung, lebam dan darah segar mulai mengalir dari pelipisku. Tubuhku yang kecil mulai mati rasa dan jika berlanjut aku bisa mati.
Aku dihidupkan kembali namun ditakdirkan mati ditangan bocah tengik? Ini sangatlah konyol!
Awalnya aku berpikir tidak membuat masalah dan hanya berusaha menarik diri, satu kesalahan yang dibakar oleh api kecil bisa menghanguskan segalanya.
Tapi Cheng Guo, bocah tengik ini membuatku tak bisa menerima hal itu.
Ia memukul sedangkan aku mengumpulkan begitu banyak kebencian yang bisa aku bakar. Aku bertahan sampai dia merasa puas dan ternyata benar, begitu aku tak bergerak ia mulai menghentikan perbuatannya.
"HAHAHA—" riuh mereka semua, terdengar senang.
"Sampah tetaplah sampah, kau tak pantas berada disini cuih—"
Cheng Guo dengan sengaja meludahi wajahku. Aku masih meringkuk, berdiam sejenak sementara ia mulai berjalan memunggungiku. Aku pun memanggil namanya sekali untuk membuatnya menoleh.
Bocah keparat! Aku akan membalasmu!
"Cheng Guo,"
"Kau sampah besar yang pernah kutemui!"
BUAKKKK—
Satu tinjuan mungilku merangsek masuk, memukul wajahnya hingga dua gigi atasnya pun rontok. Aku hempaskan ia hingga tersungkur sejarak satu langkah, dan Cheng Guo tak sadarkan diri ditempat.
Malamnya, pamanku secara khusus datang ke kamar dan membawa sebuah mangkuk ditangan. Sepertinya kejadian tadi siang sudah ia ketahui sehingga kini ia datang untuk mengobati luka-luka yang aku derita.
"Xiao Li, kau terluka begitu banyak...."
"Tidak apa-apa paman Nie, aku baik-baik saja."
"Kau merasa kesulitan? Bagaimana kalau kau kembali pulang ke desa? Kau sudah belajar cukup banyak."
"Tidak paman Nie. Ini belum cukup."
"Kau masih sangat muda dan kecil ... Mengapa kau berusaha begitu keras?"
Aku tak tahu harus berkata apa, memang ini diluar dugaanku. Di duniaku dulu setiap orang belajar dalam damai, memang ada beberapa kasus kekerasan seperti perundungan namun pada dasarnya tampak damai.
Sedangkan disini sedikit berbeda. Ilmu utama yang dipelajari bukanlah ilmu pengetahuan melainkan seni beladiri, kekuatan diatas segalanya dan kekerasan hal yang sangat biasa, bisa kulihat dari reaksi guru saat ia membiarkan kami bertarung dengan niat membunuh.
Kenyataannya aku mulai memahami prinsip dunia ini. Jika kekuatan seperti itu yang dibutuhkan maka aku akan terus berlatih dan berdiri dipuncak.
"Paman, aku akan berdiri di puncak suatu hari nanti."
Nie Wei terdiam sejenak, ia tak mengerti apa yang aku maksudkan. Tapi bagaimanapun ia tersenyum sambil menutupi luka-lukaku dengan kain putih.
"Paman tidak yakin— tapi kau sudah tumbuh sangat dewasa ketimbang usiamu sendiri." guraunya.
*****
Lima hari setelah aku diangkat menjadi cucu Cheng Xiang dan hari yang dinantikan itu tiba.
Semua anggota keluarga Cheng berkumpul demi melaksanakan upacara pelepasan kami yang akan mengikuti seleksi Paviliun Bukit Surgawi. Dari yang aku tahu, perwakilan keluarga Cheng adalah Cheng Yuyan, Cheng Fan, dan aku sendiri.
Ketika latih tandingku dengan Cheng Guo, keduanya tak ikut andil bahkan aku tak melihat mereka disana sebelumnya, sehingga aku berpikir kalau mereka mendapatkan sesuatu seperti pelatihan khusus.
Beberapa hari ini memang masalahku dengan Cheng Guo sudah menyebar, dan kejadian itu tidak pernah membuatku mendapat panggilan, atau harus mendatangi aula utama. Memukuli anggota keluarga Cheng, meski aku cucu angkat kepala keluarga mungkinkah aku bisa lepas? Sulit bagiku untuk tidak merisaukan hal ini.
Dan sampai acara pelepasan kami pun tak ada pembahasan lebih lanjut mengenai kejadian itu, Aku melepas kekhawatiranku dan meninggalkannya di kediaman keluarga Cheng.
"Jaga dirimu disana, Xiao Li ... Jika kau gagal maka pulanglah kemari." ucap Nie Wei sebelum aku pergi.
"Kupikir paman Nie ingin aku langsung kerumah."
"Apa yang kau bicarakan? Kau kemari dan pamanmu ini yang akan membawamu kembali pulang."
"Baiklah, paman." ucapku sambil menyeringai kecil. Nie Wei juga tertawa setelahnya.
Mengendarai kereta kuda, kami bertiga pun berangkat menuju Paviliun Bukit Surgawi. Perjalanan panjang ini setidaknya menghabiskan waktu empat hari tiga malam, beruntung baik Cheng Yuyan pula Cheng Fan tak berniat mengganggu.
Hanya saja Cheng Yuyan melalui bola matanya yang keunguan sering menatapku dengan aura tak biasa dan aku belum lupa sebab pernah sekali kurasakan saat latih tanding waktu itu, tapi dia tak berada disana.
Mungkin perasaanku saja.
Setibanya kami di Paviliun Bukit Surgawi, hal yang bisa aku gambarkan ialah sekte ini dibangun dengan bangunan-bangunan tinggi di bukit-bukit yang berdampingan, terlihat dekat satu sama lain. Saat dilihat dari dekat pun bangunan-bangunan tadi ternyata berjarak sangatlah jauh.
Kami setidaknya harus menaiki kurang lebih seribu anak tangga untuk sampai di tempat pertama, masih di badan bukit. biar begitu disini sangatlah ramai dan sepertinya mereka datang dari berbagai kalangan, ada yang terlihat seperti keluarga bangsawan bahkan ada juga yang terlihat sangat biasa.
Aku berpikir mengapa setiap keluarga hanya boleh mengirimkan tiga wakilnya, dan melihat mereka sekarang aku bisa tahu pasti alasan yang masuk akal.
Cheng Yuyan, Cheng Fan sudah meninggalkanku sejak pertama kali menaiki tangga dan tiba di tempat ini. Aku sibuk berjalan kesana kemari untuk melihat-lihat sampai sebuah seruan menghentikan langkah kami semua seketika.
"Seleksi Paviliun Bukit Surgawi akan segera dimulai!"