Seriously, Become A God Of Martial Arts

Seriously, Become A God Of Martial Arts
Ch.01



Perkenalkan, namaku Shi Huo. Umurku 35 tahun, pegawai biasa disebuah perusahaan terkemuka dibidangnya (atau sering dsebut dengan alias budak korporat), dan aku adalah seorang lajang tua.


Benar sekali. Aku lebih baik mengatai diriku sendiri ketimbang kalian yang mengatakannya terlebih dulu.


Darimana aku harus memulai semuanya?


Lupakan ... Aku akan mulai bercerita.


Suatu hari, meski aku tak tahu hari apa itu namun yang pasti ini dimulai saat aku membuka mataku. Aku mengerjap beberapa kali sembari melihat ke langit-langit atap tak kukenal, lalu saat aku berusaha menggerakkan leherku namun tidak bisa selentur yang aku inginkan.


Dibawah cahaya yang sedikit remang, waktu itulah aku melihat wajahnya.


Pria ini setidaknya dua tahun lebih tua dariku (hanya perkiraan), dahi yang begitu panjang kulihat tak tertutupi oleh rambut tipisnya. Ia mengucapkan suatu kata yang tak dapat kumengerti namun singkat setelahnya aku segera terfokus pada bibir orang itu.


"Kemarilah anak ayah— Chuuu~"


Tidak! Tidak! Pria tidak normal ini ingin menciumku!


Yang benar saja, aku seorang pria dan dia juga. Terlebih kumisnya itu sungguh menggangguku.


Apa yang harus kulakukan? Ya, aku berpikir jika bibir itu sampai menyentuhku aku akan membunuhnya ditempat, tidak peduli hukum yang berlaku!


Namun sebelum semua itu terjadi aku harus mencegahnya. Aku menggerakkan kaki, kukunci arahnya pada rahang bawah orang aneh tadi kemudian menendangnya sekuat tenaga.


DUAAAKKK—


"Ughhh!" Erangnya kesakitan sambil mengelus-elus dagu.


Jika itu dia, dengan kemampuan fisikku aku begitu yakin bisa membuat ia melayang dan terlempar paling tidak sejauh satu meter.


Tapi apa yang terjadi? Tunggu ...Ada yang salah!


"Apa yang kau lakukan Nie Lan? Kau sedang menakut-nakuti anak kita."


Aku tak memperhatikannya, namun ternyata ada seorang wanita yang tengah memelukku sejak awal. wajahnya begitu cantik, terlihat sederhana dan yang paling penting ia memiki warna bola mata kehijauan yang sangat indah.


"Kau ini bicara apa istriku?"


"Lihat dia menendang dagumu, itu artinya dia takut."


"Aku kan ayahnya, aku hanya ingin mencium anakku...."


Ayah? Ibu? Pembicaraan mereka sungguh tak masuk akal. Aku tidak memiliki orang tua lagi dan hidup seorang diri sejak empat tahun lalu.


"Nie Li sejak tadi tak pernah menangis, aku takut," ucap wanita itu, terlihat muram.


"Berhenti bicara yang tidak-tidak Rou-er ... Tabib Xu juga sudah mengatakan kalau anak kita sehat."


"Kau benar suamiku...."


Mereka berpeluk mesra sedangkan aku berada ditengah-tengah mereka berdua, aku beralih dengan mengangkat tanganku untuk memastikan dugaan yang baru saja terbesit dalam otakku.


Kulihat tangan ini begitu kecil dan halus.


Sial! Ini semua tidak mungkin!


Tangan, kaki, tubuh ini ... Aku menjadi seorang bayi! Bagaimana mungkin ini terjadi sementara sehari yang lalu aku masih sehat dan bekerja di kantor? Mengapa aku bisa mati? Terlahir kembali?


Tolonglah, katakan padaku kalau ini mimpi.


*****


Kau tahu, hal paling buruk yang bisa kualami sekarang adalah diumurku yang sudah menginjak 35 tahun (sayangnya hanya sebatas itu) aku masih buang air dicelana, aku tak berdaya.


Aku mulai berpikir betapa memalukannya aku dulu. Andai aku sudah berpikir dewasa di awal kehidupanku sebelum ini sekalipun mungkin akan tetap seperti ini kejadiannya.


Namun hal baiknya aku bisa meminum 'air susu ibu' dari Tang Rou. Aku benar-benar tak pernah menyentuh dada seorang wanita selain ibuku seumur hidup, apalagi mengisap hal itu.


Sayangnya meski kesempatan itu ada, aku tidak merasakan gairah padanya. Apa karena dia juga adalah ibuku sendiri di kehidupan ini? Mungkin.


Melalui kasih sayang Nie Lan juga Tang Rou ini aku pun mulai tumbuh besar. Diusiaku yang ke sepuluh bulan aku sudah berjalan bahkan berlarian sampai keluar rumah, membuat ayah dan ibuku panik.


Rumah kami memang kecil, kami hanya keluarga petani sederhana. Dibandingkan Tang Rou, Nie Lan sungguh pucat pasi saat mencariku kesana kemari.


Dia ayah yang baik namun bukan berarti ibuku tidak. Hanya saja ia terlalu sering memelukku dan menggesek-gesekan wajahnya itu ke wajahku.


Kumis Nie Lan memang sangat tajam!


Sementara ibuku akan datang setelahnya, kemudian memelukku dengan hangat. Walau kami hidup sederhana, kehangatan terus menyertai kami disepanjang musim.


Hingga tak terasa lima tahun sudah berlalu, sejak aku dilahirkan kembali.


Aku sudah berbicara fasih, beruntung tak ada perbedaan yang begitu besar dengan bahasaku di masa lalu. Ku pikir ini hanya semacam perbedaan dialek (gaya bicara) dan itu bukan masalah besar. Bahkan jika aku lahir diluar dari negaraku juga hanya akan membuatku belajar dari awal.


Sayangnya, tidak ada buku disini.


Mungkin sebab kami yang tinggal rerata hanya keluarga petani, saat aku bertanya pada Nie Lan ia juga mengakui kalau ia dan Tang Rou itu buta huruf.


Meski aku hanya berumur lima tahun namun pemikiranku sudah melampaui usianya sendiri. Andai aku tak belajar maka tidak banyak yang bisa kau lakukan, menghabiskan seluruh waktuku hanya untuk bertani jelas tak akan menghasilkan banyak uang.


Aku bersungguh-sungguh. Aku ingin kehidupanku yang lebih baik, juga demi Nie Lan dan Tang Rou, kedua orang tuaku.


"Aku tak mau ikut bertani."


Nie Lan juga Tang Rou kini saling bertukar pandang. Hal ini memang mendadak tapi aku tak ingin menundanya lagi.


"Xiao Li, kau masih kecil. Mana mungkin ibu dan ayahmu tega menyuruhnya." Ucap Tang Rou lembut.


"Bukan begitu ibu, ayah— aku hanya ingin bisa membaca, belajar, dan memiliki kehidupan yang lebih baik untuk kita."


Mereka berdua, sekali lagi saling bertukar pandang. Keduanya mulai berdebat mengenai masa depan yang aku pilih, diantara keduanya adalah Nie Lan yang tampak tak setuju.


"Tapi tidak ada orang di desa ini yang bisa mengajarimu. Terlebih jikalau ke luar desa,"


"Li-er, apa kau bersungguh-sungguh ingin belajar?" Potong Tang Rou, sebelum Nie Lan selesai berbicara.


"Iya ibu ... Aku ingin belajar."


"Rou-er, bagaimana bisa kita membiarkan anak kita pergi keluar desa diusianya sekarang? Bagaimana jika terjadi sesuatu diluar sana, saat kita jauh darinya?"


"Suamiku ini pertama kalinya Nie Li meminta sesuatu dari kita. Aku pun tak bisa membayangkan hal itu."


"Tidak bisakah menunggu sampai anak kita cukup dewasa? Saat itu masihlah belum terlambat untuk belajar."


Aku tak bisa menutupi rasa kecewaku. Aku begitu menyayangi mereka berdua, hanya saja aku tak ingin mengulangi kesalahanku dimasa lalu. Aku cukup beruntung masih bisa bekerja namun itu terlalu menyiksa jika harus kuingat kembali.


Aku berjanji pada diri sendiri akan memiliki kehidupan yang lebih baik di kehidupan ini, berusaha keras sejak awal tanpa menyia-nyiakan waktu sedetikpun.


Sepertinya ibu pun sudah menyadari niatku. Sembari tersenyum lembut ia berbicara padaku.


"Biarkan ibu dan ayah memikirkan caranya. Kau pergi tidurlah, ini sudah larut."


"Baik, ibu." Jawabku menuruti Tang Rou.


*****


Sejak hari itu, baik Nie Lan atau pun Tang Rou tidak ada lagi membahasnya. Tidak seperti anak-anak yang seumuran, Aku memang menghabiskan waktuku untuk membantu ibu dirumah dan sesekali mengantarkan makanan untuk ayah di kebun.


Sepertinya mereka berdua tidak setuju.


Perlahan aku mengubur harapanku untuk belajar. Aku tak bisa menyalahkan kedua orang tuaku, tidak ada yang salah ketika mereka khawatir jika aku harus pergi. Andai mereka tahu aku bukanlah anak umur lima tahun.


Andai mereka tahu aku adalah orang yang dilahirkan kembali.


Sebulan kemudian, saat aku tengah tertidur Nie Lan datang membangunkanku. aku menguap sekali kemudian mengambil posisi duduk diatas ranjang.


"Xiao Li, bangunlah."


"Ayah...." ucapku sambil mengusap mataku yang berair.


"Maaf jika ayah membangunkanmu."


"Ada apa ayah?"


"Bukankah kau ingin belajar? Hari ini pamanmu akan pergi ke kota Nancheng dan bekerja disana. Ayah memintanya untuk membantumu belajar sekaligus menjagamu disana."


Sulit dipercaya! aku berpikir mereka sudah melupakan hal tersebut. aku tersenyum sumringah sementara Nie Lan tersenyum lembut kepadaku.


"Apa ayah bersungguh-sungguh?"


"Kau meragukan ayahmu? Haha—" ucap Nie Lan sembari mengacak-acak rambutku yang kusut.


"Belajarlah yang rajin."


"Terima kasih ayah...."


"Pergilah keluar. Ibumu mempersiapkan semuanya dan pamanmu sudah menunggu diluar."


Saat aku bergegas menuju luar rumah Tang Rou juga paman Nie yang menungguku juga seorang lagi yang duduk dikursi pedati. Sepertinya ia juga akan pergi ke kota untuk menjual hasil panen.


"Tolong jaga Nie Li untuk kami."


"Tenang saja kakak ipar, aku pasti akan menjaganya." ucap pamanku, Nie Wei.


"Rumah pasti akan sepi tanpa kenakalan Xiao Li."


"Suamiku, ini yang terbaik untuk anak kita."


Begitu melihatku, Tang Rou mulai meneteskan air matanya. Ia memelukku begitu erat, begitupun aku. kemudian bergantian Nie Lan yang memelukku dimana ia sempat mengelus-elus rambutku lembut.


"Ibu menyayangimu, Li-er."


"Ayah juga menyayangimu."


Jujur, aku hampir menangis saat mereka peluk. Sedewasa apapun aku tak bisa menahan rasa sedihku saat berpisah dengan mereka berdua. Di kehidupan lalu aku sudah kehilangan kedua orang tuaku, kesedihan ini sama besarnya seperti waktu itu.


Aku tak akan mengecewakan mereka.


"Hati-hati ... Jaga diri kalian." Pekik ayahku sambil melambaikan tangan. Kulihat juga ibu tersenyum sembari menangis dalam pelukannya.


"Ayah dan ibu juga." gumamku dalam hati.