Seriously, Become A God Of Martial Arts

Seriously, Become A God Of Martial Arts
Ch.05



"Mereka dari keluarga Cheng?"


Suara itu berasal dari seseorang yang tak kukenal, dan berasal dari kelompok yang menghampiri kami. Walau begitu aku terfokus pada seorang anak lelaki, didepan mataku ia setidaknya berumur dua belas tahun, rambutnya yang panjang diikat keatas, dan matanya setajam bilah pedang.


Aku pun sadar di dunia ini, anak-anak belia sekalipun lebih terlihat kejam seperti orang yang haus darah.


"Aku dengar kepala keluarga Cheng mengangkat seorang anak pelayan menjadi cucu, apa generasi kalian anggota keluarga asli selemah itu? Haha—"


"Beraninya kau angkat bicara, dan menyebut kepala keluarga kami dengan lidah kotormu!"


"Bukankah ucapanku tidak salah? Kakak Yichun?"


Bai Yichun, ternyata itu nama anak lelaki yang sedari awal kuperhatikan.


"Hentikan itu Bai Jingting ... Dan juga Cheng Fan, yang dikatakan saudaraku itu benar. Kalian keluarga Cheng memang lemah." Hina Bai Yichun, merendahkan.


"Kau anak haram Bai Yichun! Seluruh keluargamu anak haram!"


Dihina sebagai keluarga lemah, Cheng Fan kini naik pitam. Ia melemparkan sumpah serapah dibelakang punggung Bai Yichun yang berjalan beberapa langkah meninggalkan kami.


Ucapan Cheng Fan langsung menarik perhatian begitu banyak orang yang berkumpul saat ini. Baik itu perwakilan keluarga Bai sekarang kembali menatap kami, terutama Bai Yichun ikut geram. Cepat keluarga Cheng dan keluarga Bai jadi sorotan semua orang.


"Aku akan menghabisi kalian semua, keluarga Cheng!"


*****


Gong dipukul sebanyak tiga kali, dan seleksi masuk Paviliun Bukit Surgawi pun dimulai. semua orang mulai berbaris rapi ketika para tetua dan pengawas turun menemui kami semua. Pemandangan saat mereka terbang dan mendarat, seakan turun dari langit itu membuatku berdecak kagum.


Ini mulai terlihat jauh dari realita yang kupahami di kehidupanku yang lalu, pemandangan demi pemandangan sejak aku dilahirkan kembali seperti sebuah kehidupan fantasi saja.


Setidaknya ada tujuh tetua, dan belasan pengawas mengenakan jubah putih bermotifkan awan dengan pola yang berbeda, berdasarkan derajatnya. Dari tujuh orang yang terlibat dominan ini salah seorang nya maju dan mulai angkat berbicara.


"Selamat datang di Paviliun Bukit Surgawi!"


"Begitu kalian sampai disini kalian sudah tahu kalau yang berada disini adalah perwakilan keluarga masing-masing, begitu kalian diterima bekerja keraslah dan jangan permalukan sekteku!"


Kata sambutan dari Tetua barusan sungguh menaikkan moral kami sebagai peserta. riuh terus bergemuruh sampai ketujuh tetua meninggalkan area seleksi.


Suasana kembali hening saat pengawas mulai membacakan peraturan selama seleksi diadakan. Sesi pertama adalah uji bakat sedangkan sesi kedua adalah uji kemampuan.


Uji bakat ini mengharuskan seorang peserta untuk berdiri didepan sebuah batu besar yang disediakan, lalu memukul batu itu memakai segenap kekuatan yang ia miliki sampai hancur dengan batas yakni sepuluh pukulan. Semakin sedikit serangan yang dilakukan untuk menghancurkan batu maka semakin tinggi penilaian dari pengawas.


Satu-persatu dari peserta mulai mengikuti sesi pertama. Tidak sedikit peserta yang dinyatakan gagal karena tidak bisa menghancurkan batu tersebut, para pengawas terlihat kurang puas saat menggelengkan kepalanya sambil berkata tidak lulus pada peserta.


Desas-desus kalau seleksi Paviliun Bukit Surgawi itu sangat berat yang sempat kudengar, ternyata benar. Tak sampai setengah hari dan separuh peserta telah dinyatakan gugur dalam seleksi.


Kini giliran perwakilan keluarga Bai yang maju. Mereka bertiga adalah Bai Jingting, Bai Furen, dan Bai Yichun. Begitu mereka maju para peserta yang tertinggal pun mulai bersorak.


"Bai Furen— Berjuanglah!"


"Bai Jingting— Semangat!"


Bai Jingting tersenyum puas kala namanya tengah dielu-elukan begitu banyak orang, Bai Furen kulihat merasakan hal yang sama sedangkan Bai Yichun lebih fokus pada ujiannya.


"Bai Furen, Bai Jingting, Bai Yichun lulus!"


Sorak sorai pendukung mereka langsung ramai mengisi arena seleksi. Bai Furen menghancurkan batu dengan delapan pukulan, Bai Jingting nyaris gagal dengan sepuluh pukulan, dan Bai Yichun bisa lulus dengan hanya empat pukulan saja!


Mungkin di generasi ini Bai Yichun memang salah satu yang terbaik, pikirku.


Cheng Fan yang ada disampingku langsung menggigit bibirnya kuat, sedangkan Cheng Yuyan tak bergeming. Aku berdiri dihimpit aura mematikan dari mereka berdua, jika mentalku masih anak berumur enam tahun maka sudah pasti aku mengompol dicelana.


"Ini semua karena kau anak pelayan! Sekarang Keluarga Bai menarik sorotan semua orang dan keluarga Cheng terlihat seperti lelucon yang membawa anak seorang pelayan kemari!" hardik Cheng Fan padaku.


Aku sadar keberadaanku tak akan diterima oleh mereka. Namun demi impianku aku bisa bertahan asalkan tujuanku tercapai.


Habis beberapa peserta lagi yang mengikuti ujian dan sebagian besar gugur, kini giliran keluarga Cheng untuk maju. Beberapa orang bersorak sorai saat keluarga Cheng maju namun tak seramai keluarga Bai sebelumnya.


Bisa kuambil kesimpulan, walaupun keluarga Cheng salah satu keluarga besar di Nancheng namun masih kalah pamor dengan keluarga Bai. Aku tahu keluarga Bai adalah puncak kekuatan kota Nancheng.


Cheng Fan berusaha tetap tenang sementara Cheng Yuyan tak sedikitpun bereaksi, ia memandangiku sekilas kemudian dengan dinginnya memalingkan wajah seakan itu tak pernah terjadi.


Didepan batu besar ini aku langsung menarik nafas sedalam-dalamnya, berharap energi alam merasuk ketubuhku dan meledak melalui tinju. Satu pukulan ku lesatkan dan hasilnya batu itu sungguh sulit untuk dihancurkan.


BUAAKKK—


"Ini bukan batu biasa." gumamku pelan.


Aku berusaha sekuat tenaga, pukulan silih berganti ku lancarkan sampai pada akhirnya batu itu pun hancur berkeping-keping.


"Cheng Yuyan, Cheng Fan, Nie Li lulus!"


Cheng Yuyan menghancurkan batu dengan lima kali pukulan, Cheng Fan dengan delapan kali pukulan sedangkan aku perlu tujuh kali pukulan demi menghancurkan batu sebesar dan sekeras itu.


Kegembiraanku meluap begitu saja. Sudah lama sekali aku berusaha keras dan hasilnya mulai terlihat. Siapa yang akan menduga kalau aku yang masih berumur enam tahun bisa menghancurkan batu yang tingginya dua kali tinggiku sendiri? Aku sendiri merasa bangga.


Diantara mereka, para peserta banyak yang merasa tidak puas sekaligus iri kepadaku. Cheng Fan spontan mendengus kesal dan Cheng Yuyan bertahan dengan sikapnya yang dingin.


Diatas langit, aku merasakan seseorang sedang memperhatikanku. Orang tua lanjut usia ini berjubah putih bermotifkan awan, saat aku menatap ke atas ia seolah-olah tersenyum padaku meski terlihat samar dengan kerutan wajahnya.


*****


Sesi pertama telah usai, Dari ratusan peserta yang ikut dan menyisakan empat puluh orang peserta yang tersisa. Sesi kedua dilanjutkan setelahnya dan empat arena sengaja disiapkan, setiap arena diisi dua orang yang saling bertarung sehingga setidaknya ada lima sesi pertarungan yang diadakan bergantian.


Aku sendiri masuk di sesi ketiga, bertarung dengan Wang Ziyi. Lawanku berasal dari keluarga Wang yang tidak terlalu terkenal, namun kekuatannya harus diperhitungkan. Sama sepertiku, Wang Ziyi melesatkan tujuh pukulan dan lulus sesi pertama. Perbedaannya adalah aku anak yang masih berumur enam tahun sedangkan dia sudah berumur sepuluh tahun.


Bicara soal umur, bukan aku satu-satunya yang paling muda. Ada lagi seorang gadis kecil bernama Meng Qiao yang lulus dengan hasil menakjubkan, ia sebanding dengan Bai Yichun yakni empat pukulan agar lulus. Umurnya yang masih enam tahun, seimbang dengan Bai Yichun yang berumur dua belas tahun.


Menariknya lagi, Meng Qiao berada di sesi pertama dan semua orang sedang terfokus padanya. Melihat dan mengacu pada bakat Gadis kecil ini mungkin ia adalah yang terbaik di generasi sekarang.