Seriously, Become A God Of Martial Arts

Seriously, Become A God Of Martial Arts
Ch.06



Tes kedua atau yang kusebut sebagai uji kemampuan ini berlangsung sangat cepat. Aku pun sudah mengira kalau seluruhnya dapat diselesaikan hari ini juga.


Sesi pertama memiliki orang-orang yang cukup menonjol di uji bakat, namun pertarungan yang tersaji tampak kurang menarik terkecuali seorang gadis bernama Meng Qiao. Ia masih sangat belia, dan dengan satu teknik beladiri yang ia lakukan berhasil merubuhkan lawannya dalam satu serangan.


Sorak sorai dan pandangan para peserta laki-laki yang dipenuhi cinta, seakan mereka jatuh cinta pada pandangan pertama, hanyut pula tenggelam di dalam.


Andai ini masih disana mungkin mereka akan sudah di penjara.


Sesi kedua lebih banyak lagi mencuri perhatian, disana ada Bai Jingting, Bai Furen, serta Cheng Yuyan yang bertanding. Asal kau tahu, bisa dibilang sesi kedua menyajikan pertarungan lawan jenis paling banyak dimana empat arena seluruhnya menyajikan pertarungan lawan jenis.


Terlebih Bai Jingting dan Cheng Yuyan berada di arena yang sama dan harus bertanding sehingga keadaan jelas memanas sebab dua keluarga besar kota bertanding dan salah satu diantaranya dipastikan angkat kaki dari Paviliun Bukit Surgawi.


Bai Jingting yang aku cap sebagai tukang omong besar itu akhirnya kalah ditangan Cheng Yuyan. Keduanya melalui pertarungan yang cukup panjang hanya saja Cheng Yuyan memang lebih kuat darinya. Saat itu pandanganku pada gadis dari keluarga Cheng itu juga sedikit naik.


Disisi lain Bai Furen juga menghadapi kesulitan menghadapi lawannya, Ruo Linxi. Gadis ini berasal dari keluarga Ruo yang merupakan salah satu keluarga terpandang kota Nancheng, sama statusnya dengan keluarga Cheng dan keluarga Bai.


Ruo Linxi memiliki kecepatan ditambah kelenturan yang hampir sempurna. Dalam ujian sebelumnya ia kurang menonjol dengan lulus setelah melakukan sembilan pukulan, menghadapi Bai Furen yang satu pukulan lebih sedikit darinya namun yang kulihat disini pertarungan mereka nyaris seimbang.


Susah payah Bai Furen menghadapi Ruo Linxi, jika ia gagal seperti saudaranya Bai Jingting maka nama keluarga Bai akan tercoreng setelahnya. Beruntung ia berhasil keluar sebagai pemenang setelah bertarung selama setengah jam dan bertukar serangan lebih dari puluhan banyaknya.


Berikutnya sesi ketiga pun dimulai.


*****


Aku naik keatas arena yang disediakan, didepanku ada Wang Ziyi dan disini kami sudah dipertemukan sebagai lawan tanding.


Belajar dari tes sebelumnya maka kuketahui kalau kekuatan kami seimbang. Aku sedikit gusar sebab hanya dalam beberapa hari aku mulai mengikuti latihan resmi di keluarga Cheng dan masih kekurangan untuk soal variasi teknik gerakan.


Aku menarik nafas, sebisa mungkin suara-suara gaduh disekitar bahkan hembusan angin pun bisa terhapus dari pikiran.


Wang Ziyi melompat kearahku, satu telapak tangannya yang terbuka berhasil kutahan untuk mengikuti momentum yang sudah ia buka. Kami bertukar serangan secara terbuka dan ada satu waktu saat dimana ia beralih kebagian belakangku dengan gerakannya yang sehalus angin tipis, mataku cukup cepat mengikuti gerakannya dan tangan ini berhasil menangkap tangannya yang memegang sesuatu.


Ia ingin menghunuskan sebuah pisau kecil padaku.


Berpikir kalau serangan mendadaknya tak berhasil, ia melepaskan diri dengan mudah dan kembali berhadap hadapan denganku. Ia tersenyum sebentar setelahnya dan menyimpan pisaunya seolah hilang begitu saja.


"Adik Nie, aku menyerah." ucapnya kemudian yang membuat semua orang kaget.


"Arena tiga, peserta Nie Li menang!" teriak pengawas sesaat kami berdua turun dari arena.


"Apa yang kau lakukan Wang Ziyi?"


"Iya— jelas dia kini membuat malu keluarga Wang"


Pertarungan kami barulah sampai sepuluh menit dan sangatlah jauh dari kata puncak yang menegangkan. Keputusan Wang Ziyi langsung mendapat cemooh dari para peserta sementara aku kini disebut-sebut telah bersekongkol dengannya.


Dunia ini sangatlah kejam, bahkan bagi seorang anak kecil.


Sorot mata merendahkan terarah lurus kepadaku. Saat itu Wang Ziyi datang mendekat dan mengatakan sesuatu dengan lantang didepan semua orang.


"Adik Nie memiliki kemampuan diusia yang masih sangat muda dan ia mendapat pengakuanku. Kalian semua yang berani mencemoohnya maka harus berhadapan dengan keluarga Wang-ku, ingat itu!"


"Tuan Wang, kau...."


"Panggil saja aku kakak Wang." ucapnya lagi sambil tersenyum lebar, jempolnya juga sengaja ia acungkan.


Aku terdiam. Wang Ziyi ini diusia sangat muda berpikir luas dan bijak, membuatku berhutang budi padanya. Sangat disayangkan orang sepertinya harus gagal karena diriku dan itu membuatku merasa kecewa dan diwaktu bersamaan aku sangat kebingungan mengapa ia membantuku yang berstatus pelayan keluarga.


"Asal adik Nie tahu, aku bisa menang dengan mudah karena persiapan adik ini kurang matang. Hanya saja aku lebih ingin bertarung dengan keadaan yang sama."


Jawaban Wang Ziyi barusan seakan ia sudah berhasil menebak apa yang aku pikirkan dan itu benar. Sekali lagi ia melangkah meninggalkanku tapi sebelumnya ia sempat melambaikan tangan, sebagai tanda salam perpisahan darinya.


"Dimasa depan kita pasti bertarung lagi dan saat itu terjadi maka aku tak akan mengalah. Sampai jumpa!"


Waktu aku menunggu ujian berakhir untuk menerima pengarahan selanjutnya, sesi keempat pun berlangsung. Pertandingan panas kini terjadi di arena dua, dimana Bai Yichun juga Cheng Fan akan melakukan pertarungan disana.


Cheng Fan menjadi wakil keluarga Cheng dengan jumlah pukulan terbanyak dengan delapan pukulan sedangkan Bai Yichun sebagai wakil keluarga Bai keluar dengan jumlah pukulan paling sedikit yakni empat pukulan. Pukulan Bai Yichun hanya setengah dari pukulan Cheng Fan.


Pertarungan ini mempertemukan si lemah dari Cheng dan si kuat dari Bai. Tak dipungkiri angin dukungan kemenangan kini berhembus kuat disisi Bai Yichun. Dan seperti yang diduga semua orang, pertarungan terlalu berat sebelah juga Bai Yichun terlihat bersenang-senang selama pertarungan demi mempermalukan nama keluarga Cheng.


"Arena dua, peserta Bai Yichun menang!" ucap pengawas ujian dan disambut senyum puas dari Bai Yichun untuk pertama kali, sebagai ungkapan hasil kemenangan sempurnanya pada ujian kali ini.


Selepas sesi keempat dan berlanjut ke sesi kelima. Intensitas ketertarikan penonton jatuh kian merosot, dari yang aku lihat tak ada lagi yang menarik minat mereka bahkan tak sedikit yang sudah berhamburan.


Dengan berakhirnya sesi kelima maka ujian Paviliun Bukit Surgawi pun berakhir. Semua peserta yang gagal dipersilahkan untuk meninggalkan tempat ujian sementara yang lulus yakni ada dua puluh peserta dihimbau tetap berada disini sampai arahan selesai.


Diwaktu yang sama peringkat para murid baru langsung diumumkan. Peringkat ini dari yang aku ketahui nantinya akan secara langsung mempengaruhi pilihan para guru yang mengangkat masing-masing dari kami sebagai muridnya.


Bai Yichun datang sebagai peringkat pertama, kemudian Meng Qiao menduduki peringkat kedua. Peringkat Ketujuh dihuni oleh Cheng Yuyan sedangkan peringkat empat belas didapatkan oleh Bai Furen.


Aku sendiri berada di peringkat sembilan belas.


Meski hanya satu tingkat diatas dasar peringkat aku tetap bersyukur karenanya. Berstatus sebagai murid luar Paviliun Bukit Surgawi, hari-hariku kini mulai masuk ke tahapan babak baru.