
Sungguh aku ketakutan setengah mati.
Aku sempat berpikir kemana-mana, di zaman ini mungkinkah orang dewasa menindas anak kecil? Yang lebih mengkhawatirkan lagi jikalau Nie Wei terseret karena diriku.
Meski kecil, harapanku semoga tidak ada masalah untuk kedepannya setelah bertemu orang tua tadi.
*****
Beruntung bagiku, tidak ada masalah bahkan satu minggu berlalu begitu saja. Aku meneruskan kegiatanku namun lebih waspada ketimbang yang lalu, aku selalu berlatih seni beladiri didalam kamar untuk memastikan tidak ada seorang pun yang melihat.
Seperti biasa, setelah mengikuti pelajaran aku akan mengambil sapu lidi, menyapu halaman. belum lagi aku memulainya ketika kepala pelayan Wu datang menghampiriku sekarang.
"Kau bocah kecil, kau tukang membuat masalah ya!"
Tak diduga hukuman itu datang. Aku terlalu naif dengan berpikir kalau semua itu berlalu begitu saja.
"Apa salahku?"
"Kau tak tahu? Kepala keluarga secara langsung menyuruhku untuk menjemputmu ke aula kediaman utama sekarang! Pasti kau membuat masalah!"
Sial! Benarkah orang tua waktu itu adalah kepala keluarga Cheng? Orang tua ini benar-benar tak mengingat umurnya dan ingin menghardik anak kecil.
"Paman, aku sungguh tidak melakukan apa-apa."
"Berhenti memanggilku paman! Ikut aku sekarang!"
Ia menarik tanganku kuat, tanpa peduli akan langkahku andaikan tersandung sekalipun. Sesuai perkataannya, kepala pelayan Wu membawaku ke kediaman utama dan sampailah kami di aula utama.
"hormat kepada kepala keluarga Cheng, anak ini sudah hamba antarkan kemari."
Aku melihat sekeliling, begitu banyak orang-orang dari keluarga Cheng. Yang paling mengejutkan adalah pamanku, Nie Wei kini berdiri disampingku.
Ruangan ini lebih pantas disebut pengadilan.
"Keponakan hamba tidak bersalah tuan Cheng ... Hamba lah yang tidak mengajarinya dengan benar."
Cheng Xiang, kepala keluarga Cheng duduk di kursinya tak bergeming, tak ada sepatah katapun keluar. Melihat pamanku memohon ampun atas namaku membuatku diliputi rasa bersalah yang besar.
"Maafkan aku, Tuan Cheng. Pamanku tidaklah bersalah."
"Dan juga mengapa seseorang dilarang berlatih seni bela diri? Meski dia berasal dari keluarga pelayan?"
Salah seorang anggota keluarga Cheng naik pitam atas pertanyaanku. Ia bangkit dari kursinya, menunjukkan jari telunjuknya kearahku sembari mengucapkan kalimat kasar untuk menghardik seorang anak kecil.
"Kau sampah! Beraninya mengatakan hal itu didepan kepala keluarga Cheng? Apa kau tak mensyukuri hidupmu yang baru seumur jagung?"
"Penjaga, cepat usir mereka berdua dan jangan biarkan menginjak kediaman keluarga Cheng lagi!"
Orang tua satu ini tidak main-main. perintahnya jelas didengar para penjaga dan dua diantaranya sudah berniat mengambil langkah. Namun sebelum mereka melangkah lebih jauh Cheng Xiang pun angkat bicara.
"Hentikan!"
"Dan kau adik kedua, mengapa kau mengambil tindakan tanpa seizinku? Kau kah kepala keluarga Cheng?"
"Tidak, kakak pertama ... Bukan begitu aku hanya,"
"Berhenti membuat masalah!" lanjut Cheng Xiang.
"Baik, kakak."
Orang tua yang menghinaku barusan tampak geram, dari jauh aku bisa melihat kalau ia menggertakkan giginya seraya duduk kembali dikursi.
"Pelayan Nie, aku disini bukanlah ingin menghakimi keponakanmu namun aku ingin meminta sesuatu."
Pamanku yang sejak tadi menundukkan wajahnya, kini mulai mengangkat kepala dan melihat langsung kearah Cheng Xiang.
"Hari itu aku melihat bakat Nie Li, dan ia gigih. Terlebih hari ini ia memberiku satu pertanyaan yang membuka mata tuaku,"
Perhatian semua orang tertuju pada Cheng Xiang, tak ada yang bisa memikirkan kemana arah pembicaraan ini akan berlabuh. Cheng Xiang terlihat berhenti sejenak sampai ia kembali berbicara.
"Nie Li, aku memilihmu menjadi salah satu kandidat keluarga Cheng dalam seleksi Paviliun Bukit Surgawi."
*****
Entah sama seperti yang aku pikirkan namun wajah semua orang kurang lebih serupa denganku yaitu tegang, tak percaya. Cheng Shao, adik kedua Cheng Xiang lah yang paling berani menunjukkan sikapnya.
"Kakak pertama!"
"Dia bukan berasal dari keluarga Cheng, terlebih hanya dari keluarga pelayan! Seleksi Paviliun Bukit Surgawi bukanlah taman bermain dan bisa diikuti siapa saja!"
"Kau meragukan keputusanku, Cheng Shao?"
"Aku tak bisa menerimanya. Kita masih punya banyak dari anggota keluarga dan bisa ikut berpartisipasi. Setiap lima tahun sekali Paviliun Bukit Surgawi hanya menerima 3 dari setiap keluarga besar di Nancheng."
"Itu sebabnya aku meminta Nie Li mewakili keluarga Cheng. Apa kau pikir ada yang memiliki tekad sepertinya di keluarga Cheng?"
"Lihat anak cucu kita! Kebanyakan mereka setiap hari bermalas malasan saat berlatih. Mereka hanya akan mencoreng nama keluarga dimasa depan."
"Kakak pertama coba kau pikirkan, dia hanya orang luar yang hanya mengambil keuntungan dari keluarga kita! Jangan memberi sesuatu yang nantinya bisa menghancurkan kita!"
"Kalau hanya masalah status aku bisa mengubahnya, aku kepala keluarga Cheng! Berhenti membantahku dan siapapun yang berani artinya menentang seluruh keluarga Cheng!"
Cheng Shao benar-benar tak habis pikir. ia memukul kursinya tak peduli meski itu didepan Cheng Xiang sekalipun. Aku sendiri mulai berpikir akan masa depanku yang sudah diberikan kepala keluarga Cheng.
"Persiapkan dirimu, lima hari lagi akan diadakan seleksi Paviliun Bukit Surgawi dan jika kau ingin menerimanya maka kau akan orang tua ini angkat sebagai cucu."
Kulihat semua orang menatapku, seperti pisau yang siap menyayatku sekarang. Ini kesempatan besar untuk melangkah lebih jauh, jika itu aku yang dulu apa yang akan aku lakukan?
"Aku menerimanya."
Cheng Xiang tampak senang setelah aku menerima tawarannya. Ia menyuruhku untuk mendekat dan aku menurut, mematuhi perintah Cheng Xiang tanpa banyak pertanyaan.
"Kemarilah. Mulai sekarang kau adalah cucu Cheng Xiang, kepala keluarga Cheng."
"Hormat pada kakek." ucapku sambil memberi hormat.
*****
Berita tentang seorang anak pelayan yang diangkat cucu oleh kepala keluarga Cheng menyebar dengan sangat cepat ke seluruh penjuru kediaman.
Bukan hanya aku, pamanku Nie Wei juga diberi keringanan untuk pekerjaan meskipun statusnya masihlah seorang pelayan. Cheng Xiang adalah orang baik. Aku tak boleh melupakannya dan pasti akan membalas budi.
Aku diberikan fasilitas sama seperti anak keluarga Cheng, tempat tidur yang luas dan nyaman, makanan enak di meja makan serta masuk kedalam ruang saat kelas berlangsung, terlebih aku bisa berlatih seni beladiri tanpa harus mengendap-endap lagi.
Jalanku sendiri terlalu mulus, sulit mengatakan tidak ada rintangan bebatuan yang mencoba menghalangi.
Siapapun akan merasa iri terlebih ia yang berasal dari keluarga Cheng langsung. Seperti hari ini, ketika aku sedang berlatih seseorang dari keluarga Cheng datang sembari menolak kasar bahuku dengan jarinya.
"Kau sampah! Pencuri! Kenapa kau disini?!"
"Beraninya kau menunjukkan wajahmu yang kotor dan bau didepan kami semua? Kau pikir sampah bisa jadi berlian?"
Semua anak-anak keluarga Cheng tertawa, guru yang biasa mengajari mereka pun hanya melihat dan mengabaikannya. Aku memilih untuk diam
"Apa-apaan tatapanmu itu? Ingin bertarung hah!?"
"Tidak, aku...."
"Guru, bagaimana kalau latih tanding? yang kalah tidak diizinkan untuk ikut berlatih lagi sampai kapanpun dan dilarang ikut seleksi!"
Mereka semua tampak antusias atas tantangan yang barusan ia katakan. Aku tebak anak kecil yang menantangku setidaknya berusia 12 tahun, umurku sekarang hanya separuh dari miliknya.
Tidak ada yang bisa kulakukan. Dimanapun, mereka yang terlahir dengan sendok perak ditangannya kebanyakan hanya berpikir membuat masalah tanpa memperhatikan nasib orang lain yang lebih lemah.