Secret Agent "Green" Vs Leader Mafia

Secret Agent "Green" Vs Leader Mafia
Chapter 08



"Entahlah sayang! Daddy juga tidak tau, hanya itu pesan terakhir orang tuamu yang di katakan kepada Daddy." ucap Heru mengingat masa lalu orang tua Green yang meninggal karena ledakan dahsyat di sebuah gedung Lab terbesar di Negara J.


"Hmm baiklah, Aku akan pergi." Green memeluk hangat Heru yang sudah jadi orang tua sambungnya sejak 13 tahun


"Maaf Dad, Zahwa tidak janji kali ini." Batinnya seraya melepaskan tubuh paru baya itu yang masih kelihatan gagah


*****


Setelah Cukup lama menempu perjalanan panjang dari Negara I ke Negara J, Green, Dion dan Pak Billy sudah berada di hotel yang akan mereka tempati selama 2 hari kedepan.


pak billy adalah orang yang harus Green dan Dion lindungi selama berada di Negara J.


setelah selesai dari tugasnya Green dan Dion langsung memasuki kamar masing masing, kini Green sudah terlihat rapih dari pakaian kasualnya, Green mematuk pantulannya dari Cermin, Melepas soflen yang selama ini menutupi manik hijaunya.


"Mari kita lihat apa yang akan terjadi." Gumamnya sembari memakai masker untuk menutupi sebagian wajahnya, Meninggalkan kamar yang hanya tinggal sehari ini yang akan di tempatinya.


Tujuannya adalah mengunjungi tempat pemakaman orang tua kandungnya.


"Aku akan keluar sebentar, Dion, tolong jaga baik baik tugas kita." Ucapnya sembari memasang kembali Maskernya yang sempat di lepas setelah berada di kamar dion.


"Hai, kau mau kemana? Trus mata mu ? wow Indah! Apa kau memakai soflen hijau? tapi buat apa?" Dion melempar pertanyaan Beruntung setelah melihat penampilan Green yang berbeda.


"Aku akan pergi ke tempat yang sangat aku rindukan." Sahutnya sembari meninggalkan Dion dengan sejuta pertanyaannya.


Setelah dari pemakaman orang tuanya, sekarang Green berada di sebuah pantai, Tempat yang meninggalkan sejuta kenagan indah bersama teman masa kecilnya dulu yang entah kemana sekarang berada.


Bibirnya tersungging setelah kaki telanjang nya menginjak pasir putih basah yang di terpah ombak.


Green memejamkan matanya,menikmati hembusan angin laut yang dingin menerpa setiap rinci kulitnya.


Matanya yang terpecam sembari mengingat kenangan indah bersama cinta monyetnya. "Apa kau masih hidup setelah tragedi itu." monolognya sedih.


flasback on


13 tahun yang lalu


"Woy jangan ganggu dia!" suara lantang anak pria kecil itu melerai 2 orang anak kecil yang sedang mengganggu seorang anak perempuan berumur 7 tahun yang memiliki manik mata hijau.


"Apa kah kau tidak terluka, Awa?" tanya pria kecil berumur 9 tahun itu sembari membantunya berdiri.


"Lututku sakit, kak Li? ringisnya sambil memegangi lutut nya yang sedikit mengeluarkan darah akibat terkena batu karang kecil


"Wah, ada pahlawan kesiangan." ujar anak kecil yang berkisaran ber umur 11 tahun.


"jangan sok jagoan, atau kau akan terluka anak mami!" Anak yang berperawakan gendut menimpali sembari mendorong bahu Li."Lebih baik kau pulang saja, minta di nina boboin, dan jangan ikut campur urusan kami." Lanjutnya menunjuk kasar muka Li


"Kau." Li memelintir tangan anak gendut itu tanpa segan Li mematahkan tangan yang sudah berani menunjuknya tidak sopan.


Anak gendut itu mencerit kesakitan dan langsung terjatuh ke pasir putih sembari memegangi tangan satunya yang sakit.


Li menatap tajam kearah anak berumur 11 tahun, dengan cepat Li mencengkram kera baju anak itu kuat, sembari ingin melayangkan tinjunya, Namun terhenti karena cegahan anak perempuan yang di sayanginya.


Li yang masih emosi terpaksa berhenti lalu mendorong kuat tubuh anak itu hingga jatuh terpental.