
"Jangan banyak tanya? ayo ikut kami!" Bentak pria yang paling sangar
"Jika aku tidak mau? Gimana?" sahut Green dingin dengan seringai tipis di sudut bibirnya
"Maka kami akan memaksa" Ucapnya ingin meraih lengan Green, Namun sebelum Green di sentuh, Green langsung menepis kasar dan langsung melayangkan tendengannya ke bagian perut
"rupanya gadis ini bukan gadis sembarangan, Ayo kita tangkap!" seru dari mereka.
Perkelahian sengit pun terjadi, bahkan mereka mengkroyok Green dengan senjata tajam di tangan mereka masing masing.
""iiihhh...paman, aku hanya gadis biasa, aku takut dengan pisau mengkilap mu, kenapa paman begitu tega mengeroyok ku."" Suara Green terdengar manja mengolok di telinga para pria yang berseragam hitam itu yang sudah kelelahan menyerang Green.
""Sialan, kau mengejek ku."" serunya. dan langsung menyerang kembali dengan pisau kecil mengarah ke wajah Green.
""Jangan harap bisa menyentuh kulit mulusku, paman jelek."" tekan Green lalu melayangkan kakinya ke udara menepis pisau. dan memberi serangan balik.
Ke empat orang yang melihat temannya tersungkur kembali menyerang Green saling bergantian, bahkan kadang mereka maju sekaligus tapi dengan mudahnya Green bisa menepis dan membalas semua serangan yang di berikan oleh ke empat orang itu.
"Merepotkan." sinis Green menembakkan senjata bius ke arah yang mau menyerangnya lagi.
"Aku tidak akan membunuh kalian hari ini, tapi jika kita bertemu lagi kalian tidak akan ku ampuni, Gumamnya yang akan siap melangkah kan kakinya, Namun berhenti saat ekor matanya menangkap tanda di setiap pergelangan kanan para pria tersebut.
"Singa,? Apa kah mereka dari Mafia kejam itu Apa yang mereka inginkan.?" gumam Green
***
Setelah dari pantai Green langsung pulang ke hotel dengan pikiran yang berkecamuk tentang orang orang yang baru saja menyerangnya.
"Dion, tolong kau cari tau info tentang Black Lion." ucap Green yang tak memperdulikan kecemasan Dion.
"Buat apa? jangan bilang kau berurusan dengan mereka." Dion langsung membuka layar canggihnya.
"Bukan aku, Tapi mereka?"Ucap Green seraya memasang kembali Soflen hitam yang akan menutupi manik hijaunya.
Tangan Dion terhenti memencet tombol Keybaord, Menatap Green dengan penuh kebingungan.
"Green, apa kau tidak ingin menceritakan apa pun kepadaku? kau ternyata sangat misterius." ucap dion penasaran
"Apa yang ingin kau ketahui, Dion? Tentang ini?" Green menunjuk matanya lalu duduk di sofa dekat Dion.
Dion mengangguk kan kepalanya, sedari tadi ia memang menunggu kepulangan Green, dan ingin tau kenapa gadis itu menyumbunyikan manik matanya sedari dulu sebab ia sudah berteman dengan Green sejak duduk di bangku sekolah.
"Kalau masalah mata ku memang aslinya begitu, tapi entah kenapa Daddy selalu menyuruhku untuk tidak memperlihatkan ke pada semua orang, jadi bertanyalah kepada!"" jelas Green enteng.
""pfhuuuu..!"" Dion hanya mengembuskan nafas panjang, tidak mendapat jawaban yang memuaskan.
""Green, lihatlah tidak ada yang menarik tentang mafia itu hanya data data biasa yang aku dapat."" keluh Dion memberikan laptopnya.
""gitu? ya sudah lah!"" Enteng Green tanpa mau melihat ke layar, ia hanya memikirkan alasan apa yang daddy sembunyikan tentang manik hijaunya.
""kau aneh."" cibir Dion menarik kembali layar canggihnya.