
***
Beberapa jam telah di lalui. Para pihak kepolisian menghabiskan harinya untuk menemukan jejak-jejak pelaku dari kasus pembunuhan yang menimpa anak kecil tak bersalah. Beberapa pihak yang jarang menghandle permasalahan ini, kali ini turun tangan dalam penyelesaian.
Van, sebagai seorang detektif yang di kenal dingin dan arogan, terpaksa membaur dengan para detektif dari beberapa divisi. Mereka merundingkan hal-hal yang pastinya berkaitan erat dengan kasus tersebut. Berusaha membayangkan bagaimana pelaku menyerang Jim, menduga-duga situasi yang terbilang kurang tepat. Mereka berusaha mungkin untuk memecahkan masalah.
"Aku tak ingin kasus ini di tutup begitu saja. Walau membutuhkan waktu yang panjang, tapi aku berharap kita bisa memecahkannya." Tegas Van pada para detektif yang sempat sibuk dengan argumennya.
Salah seorang detektif paruh baya, mengalihkan perhatiannya di saat Van angkat bicara. Ia terkekeh, tangan kanannya meraih secarik kertas, membentuknya menjadi sebuah karya seni melipat. "Kau pasti teringat dengannya, ya?"
Seketika ruangan hening, semua mata tertuju pada satu orang yang baru membentuk angsa dari kertas. Van yang sempat tak menyadari kehadirannya, di buat diam dengan sorot mata yang tak teralihkan sedikitpun.
"Mengapa kau mengingatkan itu?"
"Aku sudah menduganya, kau tidak pernah sekeras ini..."
Perkataannya benar-benar mengena di hati Van. Sang detektif arogan di bungkam dengan kalimat sederhana dari lisan pria paruh baya. Mungkin terdengar sederhana di telinga orang lain, namun tidak untuk Van. Dia tersenyum kaku pada sosok pria itu, sebelum dirinya meraih beberapa dokumen di meja dan pergi meninggalkan rapat antar divisi yang mendadak di hentikan.
"Hu dia tak bisa dewasa..." pria paruh baya terkekeh sembari menyeruput kopinya.
Beberapa saat berlalu, Van memutuskan untuk segera kembali ke kediamannya. Tapi dalam perjalanan, dia berhenti karena teringat akan suatu hal yang menjadi mimpi buruknya semenjak kejadian naas menimpa dirinya. Ia terpaksa menghentikan mobilnya sebelum melanjutkan perjalanan.
Van berdiri di dekat jembatan, angin malam berhembus kencang di bawah gelap dan dinginnya hari.
Van menggosok-gosok kedua tangannya, sesekali ia meniupnya untuk menghangatkan tangan yang terasa dingin. Menghela napas panjang, dia memandangi bulan yang hanya di keliling beberapa bintang.
"Mengapa hanya ada sedikit bintang di langit? Bukankah angka kematian membeludak sepanjang tahun, tapi mengapa hanya ada sedikit bintang? Mungkinkah sebagaian dari jiwa-jiwa itu, masih berkeliaran karena mengingat permasalahan hidup yang belum terselesaikan?"
Dia bergumam sendiri, tak ada siapapun yang mendampinginya saat ini. Walau beberapa kendaraan berlalu lalang di jembatan itu, tapi tak ada satupun yang peduli. Mereka tak acuh terhadap orang lain, hanya memikirkan kepentingan pribadinya.
"Terkadang aku membenci manusia karena sifatnya yang munafik. Namun, jika dipikirkan, aku juga tidak ada bedanya seperti mereka," tuturnya. Setelah sekian lama, ia kembali larut dalam kesedihan yang menyakitkan.
Jika saja, pada masa itu, dirinya tidak egois, mungkin tidak akan ada luka dalam kehidupannya. Kalimat itu terukir di hati dan pikirannya. Di balik canda tawa, diam-diam menyimpan luka yang tak bisa disembuhkan oleh siapapun. Luka mendalam yang menjadikannya sebagai trauma kehidupan. Dua kata masa lalu juga turut menghantui benaknya sampai detik ini, 'Kakak berbohong'.
Karena hal tersebut, ada beberapa hal yang tak dapat Van tangani langsung seperti biasanya. Kemungkinan penyelesaian kasus pembunuhan Jim tidak sepenuhnya ia tangani. Dia akan seutuhnya memberikan tanggung jawab pada Klee dengan di bantu ataupun di awasi oleh kedua rekan timnya.
Di saat Van hanyut dalam kesedihan, di sisi lainnya, Klee bersama dengan kedua pria yang tak berhenti mengikuti kemanapun dia pergi, tengah berdiskusi perihal kasus pembunuhan Jim yang penuh teka-teki rumit. Pasalnya dalam kasus kali ini, tak ada petunjuk ataupun seseorang yang di duga pelaku pembunuhan.
"Bagaimana tanggapanmu jika kasus ini di tutup begitu saja karena kurangnya bukti dan informasi yang merujuk pada pelaku?" Alden bertanya dengan tegas saat-saat yang hening.
Semua tatapan menyorot dia yang menggenggam secarik kertas sembari memandangi Klee. Dia penasaran akan jawaban sang adik kelas atas pertanyaannya yang kemungkinan terjadi jikalau kasus pembunuhan Jim tidak menunjukkan perkembangan. Namun bukannya merasa panik atau lainnya, justru respon Klee benar-benar tak sesuai dugaannya.
"Ya aku akan mengakhirinya. Untuk apa aku menyelidiki kasus tanpa uang? Aku memutar otakku, menggunakan tenagaku bukan cuma-cuma, tetapi, untuk sepeser uang yang mungkin di matamu tidak terlalu berarti."
Kata-kata yang terdengar singkat itu, cukup menusuk hati para pendengarnya. Bagaimana tidak? Mereka yang mengira bahwa Klee bekerja karena mengikuti hati nuraninya, namun, dugaan mereka sangatlah salah. Jikalau begini, dia tak jauh berbeda dari kotoran yang bersembunyi di balik jabatan dan pemerintahan.
"Jadi kau bekerja hanya karena uang, Klee?" Devin menegaskan perkataan yang dituturkan oleh sang pujaan hati. Dia berharap, bahwa kalimat tadi hanyalah candaan yang sengaja Klee ucapkan untuk menipu mereka.
"Kau bilang hanya? Uang itu berharga lebih dari segalanya! Tidak ada uang? Kau mau hidup bagaimana? Berpikirlah secara realistis, Tuan! Mungkin sekarang kalian mendapatkan banyak uang tanpa harus bekerja, coba nanti ke depannya. Tiba-tiba keluarga di tipu hingga uang abis, terpaksa kalian harus mencari pundi-pundi uang untuk memenuhi kebutuhan. Munafik saja jika ada seseorang yang bilang tidak membutuhkan uang."
Kata-kata itu semakin menyayat hati mereka. Pandangan mereka terhadap Klee, jauh berbeda dengan kenyataan yang ada sekarang. Ya apa yang dikatakan Klee benar adanya, namun, bukankah itu cukup berlebihan? Dia benar-benar seseorang yang tak memiliki hati, seperti robot yang hanya diperintah untuk mengerjakan tugas tanpa di beri perasaan oleh penciptanya.
"Klee, kata-katamu terdengar berlebihan. Kau tak pernah mengikuti hati nurani selama ini?" Alden nampak kecewa setelah mendengar ungkapan sang adik kelas.
"Adanya perasaan itu di atur oleh otak, bukan HATI! Perasaan atau emosi yang di rasakan oleh manusia adalah bentuk respons yang diolah otak setelah mendapat stimulus atau rangsangan, impuls. Jadi fungsi hati itu untuk membantu metabolisme tubuh, tidak berkaitan dengan rasa emosional." Jawabnya dengan rinci.
Suasana hangat berubah menjadi dingin dalam sekejap mata. Alden diam tak berkata sepatah katapun setelah apa yang ia dengar. Ia cukup kecewa dengan kata-kata yang di lontrakan, namun, tetap saja dia tidak bisa membenci Klee. Hanya sekedar kecewa karena terlalu berharap lebih.
Sementara Devin tampak tak acuh, ia tak memikirkan kalimat yang terdengar mengecewakan. Dia yakin, bahwa Klee hanya berbohong. Ia tahu, bahwa pujaan hatinya tak ingin kelihatan peduli pada siapapun hingga terucap lah kata-kata itu. Dan Floren yang sedari tadi hanya diam tanpa bertanya atau menjawab, mencairkan suasana kembali dengan memesan daging. Mungkin saja mereka ingin menyantap sesuatu sambil memutar otak untuk memecahkan teka-teki.
Beberapa saat kemudian tepatnya selang tiga puluh menitan, daging yang Floren pesan tiba di depan rumah. Ia terkejut ketika pesanannya tiba lebih awal tak seperti biasa. Tetapi Floren tetap mengambil makanan yang di letakkan si pengantar di depan pintu, setelahnya masuk membawakan makanan menuju ruang tamu.
"Makan nih sambil mikirin jalan keluar," tuturnya santai sembari meletakkan kantung daging di meja. Ia mengeluarkan box daging bakar dari dalam kantung, lalu membuka tutup boxnya. "Silahkan dinikmati," lanjutnya dengan sumringah.
"Keren! Floren pengertian banget jadi orang," sahut Devin yang membuat Floren semakin girang.
"Makasih banyak ya, Floren," Alden dengan nada datar khasnya di sertai dengan senyum tipis, mengucapkan kalimat itu.
Sementara Klee tak mengucap sepatah kata. Ia justru mengambil daging seboxnya, lalu mencium baunya yang terasa berbeda. "Bau daging ini sedikit lain." Ujarnya tegas usai mencium daging yang di pesan sahabatnya.
"Ah Klee, bilang saja kau ingin semua! Tidak perlu berkata begitu," Floren jengkel melihat kelakuan sahabatnya yang berusaha menakut-nakuti.
"Aku serius, baunya berbeda dengan daging ayam, sapi, ataupun babi. Coba ciumlah" Pintanya seraya menyodorkan daging tersebut agar ketiganya dapat mencium aroma yang di keluarkan dari daging bakar.
"Bagaimana kamu bisa membedakannya? Apakah kau seekor anjing hingga aroma penciumanmu tajam?!" umpat Floren pada sahabatnya sendiri.
"Setidaknya aku tidak lebih buruk darimu yang merupakan cacing parasit, kerjaannya hanya mengganggu manusia!" Umpatnya yang jauh lebih menyakitkan untuk di dengar.
"Kalau aku apa?" Devin dengan polosnya justru bertanya di saat kedua wanita tengah saling berdebat dan mengejek satu sama lain. Begitupun dengan Alden yang mengikuti Devin.
"Oh kalau Devin kudanil, kalau Kak Alden koala. Oke mulai sekarang aku akan memanggil kalian dengan julukan yang manis. Devin jadi kudanil, Kak Alden jadi koala, dan Floren jadi cacing parasit!" Jawabnya dengan santai.
Floren tersulut emosi, namun, tak ada lagi yang dapat dia lakukan selain memendam perasaan kesalnya pada sahabatnya yang memang agak laen dari yang lain, bukan Pick Me!
Lanjut ke daging yang menjadi topik pembahasan Klee kali ini, dia bertanya pada Floren darimana ia memesan daging itu, dimana letak restorannya, dan lain sebagainya yang berkaitan dengan daging.
Floren menjawab dengan apa adanya, tak ada yang di tutupinya satupun. Walaupun demikian, ia masih janggal terhadap respon Klee pada daging yang ia beli melalui online. Di saat Devin dan Kak Alden yang mengucapkan terimakasih, berbeda dengan sahabatnya yang mencurigai pemilik atau koki restoran daging. Mungkinkah kasus pembunuhan Jim berkaitan dengan restoran daging langganan Floren?
....
"Nah, coba cium. Aku sampai keluar malam-malam untuk membeli daging ayam, sapi, dan babi agar kalian percaya bahwa aroma daging pesanan Floren benar-benar berbeda dengan aroma daging pada umumnya!" Klee menegaskan pendapatnya tentang daging tersebut yang membuat rekan-rekannya tak habis pikir dengan pola pemikiran Klee.
"Terus selanjutnya apa? Apa kau menduga bahwa ini daging manusia?" Sahut Kak Alden yang sejujurnya lelah meladeni Klee.
"Yaps benar! Tidak tahu pasti, tapi coba saja esok kita selidiki toko daging ini," jawab Klee.
"Tapi aku dan Kak Alden berniat untuk masuk sekolah besok,"
"Ya sudah kalau begitu, aku sama Devin saja. Kalian tidak perlu turun tangan dalam penyelesaian kasus ini, juga tak masalah."
Kak Alden dan Floren merasa tak nyaman mendengarnya, meskipun demikian ya mau bagaimana lagi? Mereka harus menjalankan kewajiban sebagai seorang pelajar, jika tidak konsekuensinya berat. Mereka lanjut memecahkan teka-teki kasus pembunuhan Jim.
***
23.34
Floren tertidur nyenyak di atas sofa, juga dengan Kak Alden yang ketiduran di tikar yang Klee gelar. Sementara Klee masih saja tak berhenti memandang layar laptopnya, membaca berulang kali dokumen penyelidikan dan hasil forensik yang kurang memuaskan.
"Klee, kamu tidak mengantuk? Tidurlah jika mengantuk. Jangan terlalu memaksakan diri, kalau butuh uang, katakan saja padaku," ujar Devin sembari memberikan segelas air putih untuk pujaan hatinya.
"Iya, makasih."
Devin menghela napas panjang, mendapati respon Klee yang dingin dan tak acuh. Walaupun begitu, dia berusaha mungkin untuk memahaminya perlahan demi perlahan. Ia yakin, bahwa sikap dingin dan tak acuh itu pastinya ada sebab dan alasan. Tak mungkin jika dari lahir memiliki sikap sedingin itu?
"Klee, kalau ku perhatikan, kamu seperti kekurangan kasih sayang, ya? Tapi kamu terus saja menutupi itu. Begini Klee, kalau kamu..."
"Devin!" Devin refleks menoleh ketika Klee menekankan namanya. "Kau tahu kan hal yang tidak bisa dilakukan manusia?" Klee bertanya dengan tegas, namun Devin tak tahu jawaban atas pertanyaan itu. Mau tidak mau, ia menanyakannya.
"Apa, Klee? Apa yang tidak bisa dilakukan manusia?"
"Membaca pikiran orang lain. Asal kau tahu saja, itu adalah hal yang rumit. Dan dugaanmu itu, sungguh salah besar! Aku tidak membutuhkan kasih sayang ataupun orang-orang yang mendukungku! Aku tidak butuh persetan seperti itu. Yang ku butuhkan adalah uang! Uang segalanya untukku. Kebahagiaanku adalah banyak uang."
"Klee, aku tahu! Hidup di dunia ini memang membutuhkan uang, tapi..."
"Sudah kubilang, aku tidak membutuhkannya! Aku hanya butuh uang. Manusia bisa menyakiti, bisa meninggalkan, tapi tidak dengan uang. Asal kau tahu saja, bahkan di keluarga sekalipun yang di pandang ialah yang berduit! Sebanyak apapun prestasi, tetap kalah dengan orang berduit." Tegas Klee agar Devin tak terus membantah kata-katanya.
"Iya, Klee. Aku paham dengan semua itu, namun, sebagai manusia, kita tidak mungkin hidup sendirian."
"Aku mampu melakukannya, aku sudah menjalani hal itu. Maka dari itu, aku tak peduli dengan apapun selain dengan uang. Segalanya adalah uang, keluargaku menjauhiku juga perihal keuangan."
"Keluargamu menjauhimu?"
"Bukan sih, lebih tepatnya seperti dibedakan. Sewaktu kecil dahulu, aku pernah menghasilkan uang yang menbuat ibuku senang dan begitu menyayangiku. Namun sekitar setahun dua tahun, aku tidak menghasilkan uang lagi karena suatu alasan. Karenanya, ibuku mulai menunjukkan sisi sebenarnya. Kasih sayang dan perhatiannya berkurang. Dia sering membentak dan menyuruhku untuk menghasilkan. Sementara uang-uangku saat itu, hampir semuanya ia pakai untuk urusan pribadi atau untuk pria yang dicintainya. Persetanlah dengan cinta!"
"Jadi orang tuamu mengeksploitasi kamu?"
"Yah bisa di bilang begitu sih, dan jika kau bertanya siapa orang yang kubenci, adalah dia. Dia lah dalang dari segala permasalahan dalam hidupku."
Devin diam seribu bahasa. Walau ceritanya terdengar singkat, namun dia bisa merasakan betapa sakit dan beratnya kehidupan yang Klee jalani. Di tambah, Klee menjalani itu semua dengan lancar seolah tak terjadi apapun padanya. Betapa menyakitkannya dia. Tak heran jika ia kurang pandai bersosialisasi dan nampak cuek pada siapapun. Ya karena dianya sendiri juga tidak mendapatkan itu semua.
"Jika kau merasa lelah, bersandarlah di pundakku."
"Tidak bisa, aku harus menyelesaikan ini semua dan mendapatkan uang. Ah mungkin jika sudah dewasa nanti, aku memilih single dibandingkan memiliki pasangan yang hanya merepotkan serta mengusik kehidupanku," ungkapnya sambil menyeringai.
"Eh? Mana bisa begitu! Kau harus menikah dengan seseorang. Jika kamu single untuk selamanya, apa kata orang diluaran sana?"
"Biarin ajalah, memangnya mereka yang kasih aku makan? Toh hidupku, aku yang ngatur bukan orang lain."
Kata-kata yang terlontar membuat Devin tersenyum tipis. Wanita pujaan hatinya benar-benar berbeda dengan wanita diluaran sana. Rata-rata dari mereka begitu memikirkan cinta, hingga rela melawan orang tua dan melakukan tindakan kriminal demi cintanya. Tetapi, berbanding terbalik dengan Klee yang memikirkan uang dibanding percintaan. Memikirkan masa depan yang pasti dibandingkan memikirkan kamu yang belum pasti :)
Setelah percakapan itu, Klee kembali fokus pada pekerjaannya. Berlaku juga dengan Devin yang berulang kali membaca hasil tes forensik yang diserahkan ke tim mereka.
Keesokan harinya...
Enver melangkahkan kaki menuju meja makan panjang yang sudah disediakan satu buah kursi untuk ditempati olehnya. Ia duduk di atasnya, mengelap alat makannya dengan tisu sebelum mencicipi daging yang di hidangkan.
Di sebelah sisi kanannya, sudah ada salah seorang pria dengan setelan jas yang tertata rapi dan wangi. Dia merupakan asisten pribadi Enver, sebelumnya adalah asisten pribadi Ayahanda Enver.
"Citra rasa daging manusia berbeda dengan daging-daging lainnya." Sang asisten hanya mengangguk mendengar kata-kata yang dituturkan sang Tuan Mudanya. Responnya membuat Enver tertawa kecil. "Semalam ada yang membeli daging manusia. Tapi sepertinya tak di makan."
"Bagaimana jika mereka memakannya, Tuan?"
"Mereka bisa dituduh sebagai tersangka atas kasus pembunuhan itu," Balasnya yang kembali menyantap daging favoritnya. "Lain kali bawakan aku daging ini lebih banyak, aku sangat menyukai citra rasanya."
Sang asisten menganggukkan kepala mendengar permintaan sang Tuan Muda. Tentu saja dia harus mengiyakan daripada di pecat dan menjadi gelandang di jalanan.
Sementara di sisi lainnya, Klee dan Devin mendatangi restoran tempat Floren memesan daging semalam. Ya tentunya kedatangan mereka ke sana untuk melakukan ininvestigasi. Mungkin saja pemilik atau pekerja restoran merupakan tersangka atas kasus pembunuhan, ataupun orang yang membantu sang pelaku.
"Permisi, Pak. Pesan paket B nya dua ya, Pak," ucap Devin dengan nada ramah dan terlukis senyuman manis di wajahnya.
"Baiklah, silahkan ditunggu,"
"By the way, Pak. Setelah makanannya jadi, bisa saya mengobrol dengan bapak?"
"Tentu saja! Berhubung resto kami masih sepi, jadi kita bisa mengobrol."
Jawaban itu tentunya sangat menyenangkan hati Devin dan Klee. Mereka dapat menginterogasi mereka semua yang kemungkinan salah satu diantaranya adalah tersangka ataupun tangan kanan sang pelaku sesungguhnya.
Sebelum itu, Devin sempat berunding dengan Klee. Apakah dia benar-benar yakin bahwa sang pelaku bersembunyi di balik restoran daging yang sudah tak asing lagi di dengar orang.
....
"Jadi, apa yang ingin kalian tanyakan?" tutur sang pemilik restoran dengan tenang.
"Semalam sahabatku memesan daging di sini, aku mencicipinya. Citra rasa daging dari restoran ini sangat enak! Berbeda dengan rasa daging dari restoran lainnya. Jikalau boleh tahu, apa rahasianya? Kami berniat untuk mempromosikan restoran ini di laman Internet," jelas Klee.
"Wah apa kau serius? Kau ingin mempromosikan restoran kami?" Tanya sang koki antusias.
"Kamu bilang, semalam temanmu memesan daging? Tapi restoran ini sudah tutup jam enam sore,"
Klee dam Devin terpaku mendengar ucapan sang pemilik restoran yang memberitahukan waktu tutupnya restoran daging tersebut. Sudah jelas Floren memesan daging di tempat itu semalam, tapi mengapa sang pemilik mengatakan resto nya sudah tutup jika melewati jam enam sore?
.....
Klee dan Devin berjalan melewati setiap ruko-ruko yang ada di pinggir jalan. Klee merasa jengkel karena lagi-lagi mereka tidak menemukan titik terang untuk memecahkan kasusnya. Sedangkan Devin asik menyantap daging dari restoran yang baru di belinya.
"Hah brengsek brengsek shibal lintah darat si pelaku itu! Dasar pengecut, bisa-bisanya dia membunuh anak kecil yang tak bersalah," umpat Klee yang membuat Devin terpaku mendengarnya.
"Klee, mau makan? Daging ini enak loh,"
"Aku tidak lapar!" ketusnya.
Devin tak mengatakan sepatah katapun. Dia sadar bahwa amarah Klee tengah meluap-luap sekarang, jangan sampai ia salah bicara atau bertingkah yang tidak-tidak di hadapan sang pujaan hatinya itu.
Ketika berjalan, Devin dan Klee melihat sekilas Jimmy yang masuk ke dalam sebuah kedai yang tampak kumuh dan lusuh. Untuk memastikan benar atau tidaknya apa yang mereka lihat, keduanya bergegas masuk ke dalam kedai untuk bertemu sang kakak dari korban pembunuhan.
"Jimmy!" sebut Devin, melangkahkan kaki masuk ke dalam kedai tersebut. Jimmy sontak menoleh ketika seseorang memanggil namanya dengan lantang.
"Oh Kak Devin! Ayo duduk-duduk," Jimmy menyambut kedatangan mereka berdua dengan ramah.
Devin menyuruh Jimmy untuk duduk di sampingnya. Dia ingin berbincang-bincang santai sejenak dengan keluarga korban yang hidup sebatang kara ini. Sementara Klee lekas mendatangi kasir untuk memesan menu makan yang disediakan.
"Pesan dua porsi ya, Bu,"
"Baiklah, Nak. Ah kamu memiliki paras menawan, sungguh beruntungnya dirimu! Jaman ibu dahulu ya, wanita-wanita yang memiliki paras cantik seperti ini akan dinikahi oleh Tuan Muda kaya dan tampan di kota. Dulu karena ibu tidak terlalu cantik, akhirnya menikahi suami ibu yang sekarang. Walaupun begitu, hidup ibu berjalan bahagia dan lancar,"
"Ahahahaha begitu ya, Bu?" balas Klee singkat sembari tersenyum.
"Ngomong-ngomong, kalian tampaknya mengenal Jimmy dengan baik, ya?"
"Iya, kami masih sekeluarga dengannya."
"Begitu, hu turut berduka ya atas kematian mendiang Jim. Ibu juga sedih, pasalnya anak yang tampan, baik, dan tidak bersalah itu harus mati secara mengenaskan," sang ibu pemilik kedai mulai menitihkan air mata, dia menangis di hadapan Klee.
Suara tangisan itu terdengar sampai di telinga Devin dan Jimmy. Keduanya sontak menoleh, sebelum akhirnya Jimmy menundukkan kepala dan kembali teringat dengan mendiang adiknya yang berakhir mengenaskan.
Devin tahu betapa sakitnya Jimmy, kehilangan satu-satunya anggota keluarga yang paling disayangi dengan cara kematian yang terbilang mengenaskan. Dia menenangkannya, walau dirinya tahu bahwa peristiwa yang menimpa Jim akan menjadi luka dalam kehidupan Jimmy yang takkan terlupakan untuk selamanya.
Begitupun dengan Klee, ia yang kaku dan tak acuh pada siapapun, mau tidak mau harus menghibur hati sang pemilik kedai yang turut sedih atas kepergian Jim. Sang pemilik kedai berharap, jika pelakunya ditemukan, harus di hukum seberat-beratnya.
"Iya, Bu. Saya juga merasa kehilangan, merasa sakit hati. Tapi kita harus melupakannya, harus bangkit!" tutur Klee dengan tenang dan berwibawa.
Namun, Jimmy membantah perkataannya. Bagaimana bisa dia melupakan kematian adiknya begitu saja? Adiknya harus menerima rasa sakit yang mendalam sebelum kematiannya, sementara sang kakak melupakan dan hidup bahagia?
"Apa kau gila?!" Teriak Jimmy lantang pada Klee yang menghibur perasaan sang ibu pemilik kedai daging. "Bagaimana mungkin aku melupakan adikku begitu saja?! Dia merasakan sakit untukku, sementara aku melupakannya dan hidup bahagia?! Ohh apa jangan-jangan kau pelakunya, ya? Maka dari itu kamu meminta kami untuk melupakannya?" Kini Jimmy berprasangka buruk pada Klee.
"Bajingan sialan! Bisa-bisanya kau menyebutku sebagai seorang pembunuh. Kau tahu, betapa lelahnya aku memecahkan kasus pembunuhan adikmu yang rumit! Bahkan di luar waktu penyelidikan, aku tetap melakukan penyelidikan, penelusuran atas kasus kematian adikmu itu." Klee membantah dengan tegas yang membuat suasana semakin runyam.
"Alah bohong! Kau pasti bersantai dan tidak melakukan kerjamu dengan baik, kan?" balas Jimmy yang semakin memperkeruh suasana.
Klee refleks mengambil patung kucing di meja kasir itu, melemparnya ke Jimmy. Tapi beruntungnya, lemparan itu meleset dan patung tersebut membentur dinding yang langsung pecah dan berserakan dimana-mana. Semua tatapan seketika tertuju pada patung yang pecah. Bagaimana tidak? Isi di dalam patung tersebut terdapat satu buah mata dan beberapa kuku berkutek merah.
Jimmy yang melihatnya, sontak terjatuh. Ia kembali teringat dengan kondisi mayat sang adik yang begitu mengenaskan ketika di temukan oleh pihak kepolisian kala itu. Sang ibu pemilik kedai, bergegas pergi menuju patungnya yang hancur untuk memunguti mata dan kuku-kuku yang berserakan di lantai.
"Mengapa ada kuku dan mata di dalam patung?" Tanya Klee yang mencurigai sang ibu pemilik kedai.
"Ja-jangan salah paham! Bukan akulah yang membunuh Jim. Coba saja kalian melakukan tes dna pada mata ini, pasti bukan milik Jim! Ini mata anakku yang juga mati sepuluh tahun lalu, secara mengenaskan seperti Jim. Dan polisi hanya menemukan organ ini saja," jelas sang ibu kedai agar kedua detektif muda tidak salah sangka padanya.
Namun, Klee masih tak percaya atas pengakuan sang ibu pemilik kedai. Ia menyuruh Devin untuk menghandle ibu tersebut, membawanya ke kantor kepolisian untuk di interogasi dan menyerahkan mata serta kuku itu pada tim forensik. Sementara dirinya akan bersama dengan Jimmy untuk beberapa waktu.
****
"Kak Klee, aku ingin pergi ke gereja untuk mengadu pada Tuhan."
"Baiklah, aku akan mendampingimu,"
Mereka memasuki gereja yang ada di dekatnya untuk menjalani ibadah. Di sana, mereka bertemu dengan salah satu pastor yang kebetulan mengenal Jimmy dengan baik.
"Jimmy, bagaimana kabarmu? Kau baik-baik saja?" Tanya ramah pak pastor.
"Baik-baik saja. Bagaimana dengan bapak?" Sang pastor hanya mengangguk mendengar pertanyaan Jimmy. Setelahnya, dia mengantarkan keduanya masuk ke dalam gereja dan membiarkan mereka untuk berdoa pada Tuhan.
Selama Jimmy berdoa dengan khusyuk, Klee justru tak berhenti memandangi salib yang terpajang di ruangan gereja. Entah mengapa, dia merasa ada yang janggal dengan salib yang terpampang jelas di hadapannya.
Seusai berdoa, Jimmy dan Klee kembali menemui Pastor Michael yang telah menunggu mereka di halaman belakang. Ya halaman belakang gereja disediakan taman bunga yang asri dan selalu bermekaran.
"Saya turut berduka atas kematian adikmu, Jimmy. Kau harus menjadi anak yang tangguh, oke? Jangan stuck pada kesedihan, tidak mengikhlaskan kepergian adikmu, hanya akan membuatnya tidak tenang di alam sana," Sang Pastor memberikan nasihatnya pada pemuda yang bernasib malang.
Sementara Klee hanya diam. Ia membiarkan sang pastor menasihati Jimmy, karena jika dia yang memberikan nasihat padanya, justru hanya akan terjadi keributan.
Usai pertemuan mereka dengan Pastor Michael, keduanya lekas pergi. Klee mengantarkan Jimmy pulang ke rumahnya sebelum dia pergi ke kantor kepolisian untuk melakukan interogasi pada ibu pemilik kedai daging, tempat Jimmy bekerja.
Selang satu jam kemudian, Klee tiba di kantor kepolisian. Kedatangannya tersebut lantas di sambut hangat oleh Devin yang memang sedari tadi menunggunya. Mereka bergegas masuk ke dalam untuk melakukan interogasi. Namun, langkah mereka dicegat oleh salah seorang detektif yang tidak pernah mereka lihat.
"Hei! Kalian, mau ngapain di sini? Kenapa tiba-tiba menyelonong masuk ke dalam, hah?! Kalian berdua tak memiliki sopan santun kah?! Dengar ya! Ini masih waktunya belajar, lebih baik kalian kembali sekolah sebelum aku bertindak kasar." Cegat sang detektif yang membuat keduanya terdiam sejenak.
"Maaf sebelumnya, tapi di sini kami ada wewenang untuk melakukan tugas serupa seperti para detektif yang bekerja di kantor kepolisian ini. Jadi saya meminta, agar bapak tidak menghalangi kami yang sedang menjalankan tugas," balas Klee dengan tegas. Ya walaupun kata-kata yang dituturkannya sopan, namun, dalam lubuk hati terdalam, ia ingin menonjok detektif itu.
Akan tetapi, sang detektif tetap saja tak membiarkan mereka masuk ke dalam. Juga menganggap perkataan Klee hanyalah kebohongan semata. Detektif itu mengusir keduanya bahkan dengan cara yang terbilang kasar, hingga...
"Detektif Jacob!" seru seorang detektif yang tengah berjalan menghampiri ketiganya. Jacob lantas menoleh ketika namanya di panggil oleh sang atasan.
"Ya, Pak kepala? Ada yang bisa saya...."
"Biarkan mereka masuk ke dalam."
Jacob terpaku mendengar perintah yang diberikan sang atasan. Ia kembali menatap kedua remaja di dekatnya, dan menentang perintah atasannya. "Tidak bisa, Pak! Mereka itu remaja-remaja yang bolos sekolah. Untuk apa juga mereka ke sini, hah?"
"Mereka juga sama seperti kita! Ya meskipun mereka belum pernah melewati sekolah pendidikan, bahkan sma pun belum lulus. Tapi mereka telah menjalani tugas yang sama seperti kita! Asal kau tau saja, gadis mungil ini telah menangani kasus pembunuhan yang belakangan ini terjadi,"
"Bapak bagaimana sih? Kerja detektif yang melewati banyak tahapan saja masih tidak becus! Apalagi mereka-mereka ini yang belum menyelesaikan pendidikannya?!"
Sang kepala detektif benar-benar harus sabar menghadapi detektif Jacob.Ya tingkahnya memang merepotkan di antara para detektif lainnya. Namun bagaimanapun juga, mereka akan tetap tunduk pada kekuasaan. Sang atasan lekas membisikkan sesuatu pada bawahannya, agar tidak terus mengusik Klee dan Devin.
Setelah diberitahukan apa yang sebenarnya terjadi, ia justru semakin mengamuk bahkan mengatai Klee wanita murahan karena mengira bahwa dia simpanan dua orang Tuan Muda yang memiliki kekuasaan itu.
Klee yang tak terima atas perkataannya, lantas menonjok sang detektif dan terjadilah keributan yang besar di kantor kepolisian. Para petugas kepolisian dari berbagai divisi yang saat itu ada di dalam kantor, segera melerai pertikaian tersebut. Hingga datanglah sosok yang paling mereka takuti, bahkan melebihi Van.
"Hei! Beraninya kau mengatai tunanganku wanita murahan?!" tuturnya dengan tenang. Semua mata memandang ke arahnya. Jacob yang bertikai dengan Klee, lantas terdiam setelah melihat kehadiran sosok tersebut.
"Tu....tuan Enver?"
Enver berjalan menghampiri Klee, ia menggenggam tangannya, menariknya masuk ke dalam kantor kepolisian. Devin merasa tak terima, pujaan hatinya di sebut sebagai tunangan dari sang tuan muda yang sangat berkuasa di negaranya.
"Mana bisa begitulah anjing. Awal ketemu aja ribut, sekarang malah bilang Klee tunangannya. Dia halu kah?" gerutu Devin sembari menyusul Klee yang bersama Enver.
Usai masuk ke dalam kantor kepolisian, Klee tak banyak bicara lagi. Ia menepis tangan Enver, setelahnya pergi menuju ruang interogasi dengan di temani Devin.
Enver tertawa tipis melihat kelakuan Klee yang benar-benar tak ada sopan santunnya itu. Di saat orang lain begitu tunduk dan takut padanya, hanya Klee seorang yang berani menghadapinya. Karena hal tersebut, menjadi alasannya untuk menyukai sang gadis SMA yang terlihat imut di luar namun begitu garang.
Di ruangan interogasi, Klee mulai mempertanyakan pertanyaan yang seperti umumnya ditanyakan para detektif. Tetapi, setiap kata-kata dari pertanyaannya ia ubah untuk menjebak lawan bicaranya. Jikalau sang ibu pemilik kedai daging adalah pelaku pembunuhan Jim, maka akan ketahuan dari setiap jawaban yang di ucapkan.
Tetapi nyatanya, setiap jawaban yang dikatakan tidak menunjukkan bahwa dia adalah pelaku pembunuhan Jim. Sebaliknya, ia juga pernah mengalami hal yang sama seperti yang Jimmy rasakan. Kehilangan orang tersayang, yang mati dengan cara mengenaskan.
Saking bingungnya Klee antara benar atau tidaknya perkataan sang ibu pemilik kedai, ia lekas bertanya pada para detektif usai melakukan interogasi. Benar adanya, kasus pembunuhan menimpa anak sang ibu kedai terjadi sekitar sepuluh tahunan lalu dan di hari serta tanggal yang sama dengan kematian Jim. Klee lekas kembali ke ruang interogasi untuk bertanya beberapa hal lagi sebelum membebaskan ibu pemilik kedai.
"Mengapa anda menyimpan mata dan kuku anak anda, di dalam patung tersebut?" tanya Klee.
"Aku menyimpannya di tempat berharga yang juga menjadi barang kesayanganku. Karena itu adalah barang terakhir yang diberikan mendiang anakku sebelum ia tewas. Sebagaian orang juga akan menyimpan barang di tempat yang menurutnya menjadi tempat favoritnya dan tertutup. Sehingga tidak sembarangan orang juga dapat menemukan benda yang mereka sembunyikan. Sampai saat ini juga, pelaku yang membunuh anakku belum ditemukan. Dugaanku, mungkin pelaku pembunuhan Jim dan anakku adalah orang yang sama. Dan aku berharap, pihak kepolisian bisa segera menangkap dan memberikan hukuman yang seadil-adilnya."
Mendengar ungkapan sang ibu pemilik kedai, Devin merasa tersentuh sekaligus sedih atas peristiwa kelam yang menimpa keluarga sang ibu kedai daging. Dengan begitu, semangatnya untuk menemukan pelaku meningkat. Ia juga ingin pelaku mendapatkan hukuman yang setimpal atas kejahatannya.
Seusai interogasi yang panjang, ibu pemilik kedai dibebaskan. Kini Klee dan Devin harus melanjutkan penyelidikannya untuk menemukan pelaku pembunuhan Jim dan mungkin juga anak dari ibu pemilik kedai daging.
***
Malam harinya, Klee dam Devin menyantap mie instan di suatu supermarket sebelum kembali ke rumah masing-masing dan melanjutkan tugasnya esok. Di sana, mereka berbincang-bincang hangat mengenai latar belakangnya masing-masing.
Meskipun Devin telah menceritakan latar belakangnya secara terperinci, namun, Klee tetap saja tak mengungkapkan identitas keluarganya. Ia hanya mengatakan, dibalik keharmonisan keluarganya, mereka hanyalah sosok monster mengerikan yang haus akan uang dan kekuasaan. Mereka akan melakukan segala cara untuk mendapatkan keduanya walau harus mengorbankan keluarga sendiri.
"Kenapa kamu tak melaporkan keluargamu pada pihak kepolisian?" tanya Devin yang merasa kasihan dengan Klee. Ya meskipun dia hanya tahu sedikit tentang keluarganya, karena keseluruhannya Klee tutup rapat-rapat. Pihak sekolah pun tidak tahu begitu dalam mengenai keluarga Klee.
Setelah menikmati mie instan hingga habis, Klee dan Devin bergegas pulang ke rumahnya masing-masing. Tetapi sebelum pulang, Klee mampir ke gereja untuk berdoa agar diberi petunjuk pada Tuhan yang maha esa.
Di sana, ia bertemu dengan Pastor Michael yang menunggunya dengan berdiri di belakang dan tak berhenti mengamati setiap gerak-geriknya.
"Kudengar, kau detektif yang menangani kasus pembunuhan Jim? Kamu masih cukup muda, ya? Tidak seharusnya kamu ikut campur masalah orang dewasa seperti ini, bukan?" tutur Pastor Michael.
"Iya, saya tahu. Tapi memang saya ingin melakukan pekerjaan ini. Selain mencari uang tambahan, saya juga ingin menangkap pelaku kejahatan dan memberikannya hukuman yang setimpal atas kejahatannya tersebut."
"Bagaimana jika saat kau tengah menyelidiki kasus kejahatan, justru kau turut menjadi korbannya?" tanya Pastor Michael yang membuat Klee tertawa tipis.
"Tanpa sadar, kau membongkar jati dirimu sendiri, bajingan sialan!" Klee bangkit, menatap tajam Pastor Michael yang sedari tadi berdiri dan mengamatinya.
"Toh sebentar lagi kamu akan mati, tidak masalah jika mengetahui jati diriku yang sebenarnya, kan?" balas Pastor Michael dengan tangannya yang menggenggam pistol, menodongkan pistol tersebut pada Klee. Ia menarik pelatuknya. Beruntung, Klee menghindar lebih dulu dan segera berlari menghampirinya untuk merebut pistol tersebut.
Tembakan kedua, berhasil Klee hindari dengan cara ia mengarahkan ujung pistolnya ke langit-langit ruangan lalu merebutnya dan melemparnya sembarang dengan jarak yang agak jauh dari mereka berdua.
Pastor Michael tetap menyerangnya meski dengan tangan kosong. Takkan dia biarkan detektif muda ini hidup dan menangkapnya.
Pertarungan keduanya terbilang sengit. Pastor Michael dapat mengimbangi kemampuan bertarung Klee bahkan sepertinya dia sudah biasa menghadapi situasi semacam ini.
Klee memikirkan cara untuk menumbangkan lawannya dengan memberikan celah yang berupa jebakan. Namun, tak sesuai yang diharapkan, sang pastor dapat membaca pergerakannya dengan baik sehingga dialah yang berbalik ditumbangkan.
Pastor Michael menendang Klee hingga tubuhnya terbentur bangku-bangku panjang di ruangan. Tak sampai di situ, ia sempat menginjak betis kanan Klee. Tapi Klee segera menendang dengan kaki kirinya lalu bangkit berdiri.
Pastor Michael tertawa kegirangan melihat Klee yang sepertinya kewalahan menghadapinya. Ia melakukan serangan selanjutnya dengan mencekik leher Klee lalu membanting tubuhnya ke lantai dengan benturan keras. Beruntungnya pada saat terbanting, kepala Klee tak membentur lantai. Mungkin jika terbentur, maka akan menjadi malapetaka untuknya.