Say Love And Solve Cases

Say Love And Solve Cases
Chapter 2 (Bajingan)



"Ah Klee, sepertinya kau sedang datang bulan," tuturnya sembari tersenyum. "Gak apa-apa, aku bisa memaklumi nya." Lanjutnya.


"Aku tidak sedang datang bulan, bedebah."


Lagi-lagi Klee membuat Kak Alden tak bisa menuturkan sepatah kata. Devin kembali tergelak yang membuat nya justru ikut kena semprot. Berbeda dengan Floren yang sedari tadi hanya diam menyimak pembicaraan, dia sama sekali tidak menimbrung percakapan di antara kedua nya. Bagaimanapun juga, dia tak ingin membuat sahabat nya kesal di hari yang menurutnya istimewa.


Selang beberapa menit, pintu lift terbuka. Mereka melangkah keluar, melanjutkan perjalanan menuju area bioskop yang jaraknya tidak jauh. Tiba di dalam, Floren menarik Klee menemani nya membeli tiket nonton. Devin dan Kak Alden sontak mengikuti meski mereka sempat di minta untuk menunggu sejenak.


Di kasir, Klee dan Floren memilah film yang menurutnya bagus untuk di tonton. Tetapi ketika akan membayar tiket, kedua pria yang tak berhenti mengikuti mereka tiba-tiba saja mencegat nya melakukan itu. Ya sebagai seorang pria, Kak Alden dan Devin yang akan menanggung masalah biaya demi menghibur sang tersayang.


Namun bukannya berterimakasih, Klee langsung menyelonong pergi bersama dengan Floren. Walau sikapnya benar-benar buruk, entah mengapa Devin maupun Kak Alden justru semakin tertarik dan berharap mereka dapat menjalin hubungan lebih dekat dan istimewa.


Sebelum masuk ke dalam ruang teater bioskop, Devin membeli beberapa camilan dan minuman yang kemungkinan akan dia konsumsi bersama Klee, Floren. Kak Alden tidak mau kalah, ia melakukan hal yang serupa untuk menarik perhatian Adik Kelas Tersayang. Namun sepertinya, apa yang mereka lakukan hanyalah sia-sia.


Di dalam ruang teater bioskop, Klee duduk di antara Kak Alden dengan Devin. Sedangkan Floren duduk di depan mereka, dia terpaksa menuruti permintaan kedua Pria Populer Sekolah yang tengah di mabuk asmara. Sesungguhnya ia jengkel, karena kedua pria yang masih saja mengejar sahabat nya meski mengetahui kepribadian nya yang buruk. Berbeda dengan gadis lainnya yang justru berusaha semaksimal mungkin untuk menarik perhatian mereka.


"Ternyata apa yang dikatakan orang tua itu benar. Seseorang jika sudah jatuh cinta, maka dia akan buta segalanya."


***


Di kala anak-anak remaja tengah bersantai menikmati waktu luang nya sejenak, berbeda dengan para orang dewasa yang disibukkan dengan pekerjaan nya. Terutama di unit kepolisian yang kini dihantui dengan berbagai kasus kriminal, salah satu nya ialah kasus pembunuhan berantai. Semua detektif dari berbagai unit telah turun tangan untuk menyelesaikan kasus pembunuhan yang telah meneror kota hampir setahun belakangan.


"Haish gimana? Udah ada hasil kah?" Tanya salah seorang detektif pada rekan kerjanya yang tengah mengecek rekaman di komputer.


"Belum, aku tidak menemukan apapun." Balasnya singkat dengan raut wajah kecewa yang tak bisa ditutupi.


Meski pihak kepolisian begitu keras melakukan cara untuk menyelesaikan kasus pembunuhan itu, namun tetap saja mereka harus bertemu dengan jalan buntu seperti yang dialaminya sekarang. Sudah dapat hujatan dari warga, mereka juga harus bekerja keras menangkap pelaku, belum lagi harus menanggung risiko yang besar. Tentunya Sang Pelaku bukan orang sembarangan, pasti akan sangat berbahaya jika berhadapan langsung dengannya


"Rasanya aku ingin keluar dari pekerjaan ini." Ia melempar setumpuk dokumen ke meja. Sorot mata pun seketika tertuju kearahnya selang setelah dia berulah.


"Apakah semuanya masih sama saja?!" Bentak Pria itu yang membuat semuanya seketika menundukkan kepala. Pria itu menghela napas panjang, ia mendobrak meja di samping nya dan kembali mencaci para detektif.


"Kalian tahu apa yang terjadi di luar sana sekarang?! Masyarakat itu sudah memandang buruk kepolisian bahkan berpikir bahwa kita hanya makan uang tapi tak mau bekerja! Saya gak mau tahu, pokoknya sebisa mungkin kita harus menangkap bajingan itu! Apa harus nunggu manusia di negara ini musnah baru kita bisa menangkap nya?!" Gertak nya.


Suara itu sampai terdengar ke ruangan tertutup lainnya. Komandan Kepolisian yang awalnya tengah bersantai di ruangan, lantas bergegas pergi mengecek apa yang terjadi hingga suara bising terdengar sampai ke telinga.


"Tuan Van, apa yang terjadi?" Tanya tenang yang baru saja tiba.


Plakkkk....


"Kau masih bertanya padahal sudah melihat situasi nya sendiri?!" Hardik Van yang membuat sang Komandan tertunduk takut padanya. Ia kembali menatap para detektif yang berkumpul dalam ruangan dan lagi-lagi kembali menuturkan kata-kata menyakitkan.


"Dengar! Kalau sampai kalian tidak juga dapat informasi baru yang menjuru pada pelaku, saya takkan biarkan kalian bersantai seperti tadi!" tegasnya. "Kennedy dan John, ikut saya sekarang!" Pintanya seraya berjalan pergi.


Kepergian nya tersebut, para detektif merasa jauh lebih tenang dari sebelumnya. Mereka memang tidak bisa melawan Van meski jabatannya setara, dia bukan hanya seorang detektif seperti mereka-mereka. Dia memiliki kekuasaan sehingga tidak ada siapapun yang berani membantah.


Singkat cerita, Van bersama Kennedy dan John yang merupakan rekan setimnya, kini tiba di sebuah gedung apartemen lama. Penampilan dari luarnya begitu kumuh, benar-benar tak terawat meski banyak penuhi yang menetap di dalam nya. Mereka bergegas masuk ke dalam untuk melakukan interogasi pada salah satu penghuni apartemen.


Sebelum pergi ke kantor kepolisian, Van mendapati laporan dari seorang Ibu beranak dua yang menghuni di apartemen tersebut. Dia menyatakan bahwa beberapa hari terakhir, dirinya mendapati tingkah yang janggal dari tetangga yang menghuni kamar apartemen di dekat nya. Ia bahkan kedua anaknya, sempat memergoki tetangganya yang membawa sekantong plastik hitam besar penuh dengan tulang. Terkadang juga, seragam yang dikenakan nya terdapat bekas bercak darah. Maka dari itu dia melaporkan nya sebelum hal yang tak diinginkan terjadi dan menimpa sekeluarga nya.


Van berdiri di depan kamar apartemen pemuda yang bertingkah aneh tersebut. Ia mengetuk pintunya, mengatakan dirinya adalah tetangga baru pindah yang ingin memberikan beberapa makanan sebagai salam perkenalkan. Sang target merespon dan membukakan pintu untuknya.


Saat membuka nya, raut wajah tegang dan cemas dia tunjukkan di saat mendapati sosok Van. Dia maupun masyarakat lain tak asing akan sosok nya karena seringkali tampil di televisi sebagai detektif yang telah menyelesaikan kasus kriminal yang terbilang sulit untuk dipecahkan. Walau begitu, Si Pemuda berusaha bertingkah seolah semua berjalan baik-baik saja. Sayangnya, dia tak mengenal lebih dalam akan sosok Van yang seringkali jadi bahan perbincangan masyarakat bahkan pemerintahan.


"Kau hanya tinggal sendirian di sini?"