
Pemuda itu sejenak terdiam mendengar pertanyaan nya. Hingga Van mengulangi pertanyaan untuk yang kedua kalinya, dia baru menjawab.
"Ya, saya hanya sendirian di sini. Mohon maaf sebelumnya, maksud kedatangan Bapak ke sini, ada apa, ya?" Tanyanya balik. Van terkekeh, ia merangkul Pemuda berambut blonde, membawanya masuk ke dalam kamar apartemen bersama dengan Kennedy dan John.
"Tidak apa-apa, aku hanya ingin berkunjung sesekali ke rumah warga. Terutama pemukiman seperti ini, biasanya para pembunuh menyembunyikan diri di tempat seperti ini, bukan?" Balasnya sembari duduk di sofa.
Pemuda itu diam tak berkata. Ia beranjak berdiri lalu menutup pintu kamar apartemen berserta mengunci nya. Ia berbalik badan, sorot matanya tertuju pada pisau yang tergeletak di atas buah-buahan pajangan di meja sisi kanan nya sekarang. Perlahan-lahan dia meraih pisau tersebut, menyembunyikan nya di balik badan sembari melangkah menghampiri Van.
"Apa yang bapak inginkan sekarang?" Tanyanya dengan senyum simpul di wajah.
***
19.48
Klee melangkahkan kakinya keluar dari area bioskop bersama dengan teman-temannya. Mereka nampak senang sekaligus bingung akan jalan cerita dari film yang di tonton sebelumnya.
"Aku masih tak menyangka bahwa dia pelakunya, dia benar-benar bisa menyembunyikan sisi gelap nya dengan baik! Sampai mendekati ending, tidak ada yang tahu jati diri sebenarnya, kan?!" ucap Devin yang membuat Kak Alden tergelak mendengarnya.
"Devin, kau seperti anak kecil yang tengah mengadu, ya? Kau polos atau bodoh? Bukankah sudah terlihat jelas dari awal, bahwa memang dialah dalang di balik semua peristiwa terjadi." Jawab nya merendahkan Devin.
"Tapi memang menurutku, film tadi benar-benar plot twist. Pasalnya dari awal film, penonton di buat seolah-olah agar tertuju pada antagonis yang cuma di tuduh doang. Meskipun memang ada beberapa clue, tapi si penulis berusaha semaksimal mungkin untuk mengecoh hingga menimbulkan banyak permasalahan, padahal inti cerita nya di situ-situ aja." Sahut Floren seraya menyeruput minumnya.
"Bagaimana dengan, Klee?" Devin menatap ke arah Klee yang sedari hanya diam seolah memikirkan sesuatu. Dia menoleh, ketika terdengar namanya di panggil.
"Tidak! Itu semua hanya jebakan semata."
Semuanya melongo mendengar apa yang dia katakan. Bagaimana bisa dia menyebutnya hanya jebakan? Bukankah di ending juga sudah terungkap bahwa pelaku nya ialah sahabat Si Tokoh Utama? Bukan Sang Antagonis yang sepanjang film tertuduh hingga membuat para penonton tak berhenti over thinking terhadapnya. Bagaimana bisa itu semua hanya jebakan semata?
"Memang di awal sang penulis menciptakan seolah-olah bahwa dokter itu adalah Antagonis dalam cerita. Namun kenyataannya, sahabat MC sendiri lah pelaku nya. Tapi tanpa sadar, bukan dia juga pelakunya melainkan si MC itu sendiri. Tidakkah kalian sadar, foto-foto anak kecil yang ditunjukkan oleh pihak kepolisian dan dinyatakan bahwa anak itu adalah seorang pembunuh kecil yang berhasil melarikan diri. Foto itu terpajang dalam kamar MC jika kalian lebih memerhatikan nya," jelas Klee.
"Woah benar juga sih, di kamar ada beberapa bingkai foto yang sekilas mirip dengan foto yang ditunjukkan pihak kepolisian pada temannya MC. Terus apa lagi?" Balas Kak Alden.
"Di tambah cara bicara MC juga pemikiran MC dalam membayangkan saat-saat pembunuhan terjadi, benar-benar mirip. Dari korban-korban yang di tangkap juga sangat janggal, tidak seharusnya mereka pelaku. Dan beberapa jebakan yang dibuat MC untuk menangkap pelaku, persisi seperti jebakan yang dibuat oleh sang pembunuh. Dan dua petunjuk yang paling menguatkan ketika MC bertemu dengan pembunuh berantai di masa lalu dan scene ending saat ia mengunjungi temannya di penjara." Ungkap Klee.
"Ah aku baru sadar! Saat bertemu dengan pembunuh berantai itu, dia mengatakan kepada MC bahwa gen psikopat nya benar-benar menurun pada Putrinya, sedangkan saat itu polisi menyatakan bahwa anak kecil yang melakukan pembunuhan berkelamin pria dan saat itu cerita masih di fokus kan ke antagonis." Tutur Devin ikut menerangkan.
"Dan ketika di scene ending, Si MC berbincang dengan temannya. Entah apa yang mereka bicarakan, di akhir kalimat si teman MC menangis bahkan menyebut nya Psikopat Sialan." Sahut Kak Alden.
Floren terpaku menatapi ketiganya yang tengah mendiskusikan alur film crime. Ia saja masih tak begitu mengerti dengan alur cerita serta kasus kriminal dan cara penyelesaian nya yang terbilang rumit. Bahkan dalam film nya sendiri, dilibatkan banyak orang dalam penyelesaian kasus-kasus tersebut.
Ketika tengah serius membahas film yang baru saja di tonton, ponsel Floren tiba-tiba berdering. Ia lantas mengangkat yang membuat Klee menatapnya. Berselang beberapa detik setelah berkomunikasi, dia meminta izin untuk pulang lebih dahulu karena di rumahnya telah kedatangan keluarga dari pihak Ibunya.
Klee berniat untuk mengantarkan nya, namun Floren menolak karena ia terburu-buru dan harus segera kembali. Dia lantas pulang lebih dahulu, meninggalkan sahabat nya sendirian bersama kedua Pria Populer yang jatuh hati pada sahabat nya.
Setelah pulang nya Floren, Kak Alden berencana mengantarkan Kesayangan nya pulang dengan aman hingga sampai di rumah. Tapi belum sempat bicara, ia justru tak sengaja bertemu adik nya di depan area bioskop juga memintanya untuk mengantarkan pulang. Tersisa lah Klee dengan Sang Ketua Kelas. Devin menawarkan nya untuk makan malam lebih dulu sebelum pulang ke rumah.
Klee setuju, berhubung juga ia memang lapar. Keduanya pergi ke restoran yang tak jauh dari area bioskop. Mereka memesan makanan dan berbincang sembari menunggu pesanan nya disajikan di meja. Dalam topik pembicaraannya, Devin menceritakan sedikit tentang hidupnya.
Ia mengatakan bahwa orang tuanya selalu memandang nya sebagai suatu hal yang buruk, padahal dia sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menggapai segala kesempurnaan dalam dirinya. Setidaknya sekali saja orang tuanya memujinya, namun sampai sekarang hal itu belum juga terjadi. Walau mungkin diluaran sana dia nampak seolah sebagai anak yang hidup bahagia di keluarga cemara, namun yang sebenarnya terjadi ialah Cemara Yang Kehilangan Peran.
Terkadang, terlintas di benak pikiran niatan untuk mengakhiri hidup. Tetapi jika dipikirkan lebih matang lagi, itu bukanlah satu-satunya hal yang dapat menyelesaikan masalah. Justru semakin memperpanjang masalah bahkan orang-orang akan membicarakan buruk perihal nya.
Klee yang awalnya tak begitu tertarik, mulai iba terhadapnya. Dia tahu posisi Devin sekarang, seorang remaja yang nampak bahagia namun sebenarnya dia kekurangan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Mungkin dia bisa menghibur orang-orang di sekitarnya, namun dia tak bisa menghibur dirinya sendiri.
"Hmm... Setiap orang tidak luput dari masalah dan kesalahan. Tapi bukan berarti jalan untuk penyelesaiannya adalah mengakhiri hidup. Jika kau ingin menangis, menangis sekeras mungkin, biarkan orang-orang di sekitar membicarakan. Mereka tidak tahu masalahnya, tidak selayaknya mereka mencaci." Tutur Klee membuat Devin diam seribu bahasa.
Devin tersenyum tipis, ia menundukkan kepala, menggenggam tangan Klee. Dia menyandarkan kepala nya di meja dan berkata. "Bisakah kau mengelus kepala ku?"
Klee yang dingin bak kulkas 1000 pintu, tiba-tiba saja tersenyum mendengarnya. Ia menuruti keinginannya lalu mengelus kepala Sang Ketua Kelas secara perlahan. Secara tak sadar, air mata mengalir di pipi nya. Klee meraih tisu di meja, mengelap air mata Devin.
"Tidak apa-apa, kamu juga hanya seorang manusia biasa. Kamu bisa menangis, tidak perlu menyembunyikan kesedihan mu. Luapkan semua kesedihan mu, kalau perlu kita pergi ke atas bukit sekarang agar bisa berteriak sekeras mungkin." Ujar Klee dengan penuh lembut layaknya seperti seorang Ibu yang penuh dengan kasih sayang.
Devin menyunggingkan senyum. Ia bangkit duduk, kepalanya bersandar pada bahu Klee yang tak berhenti mengelus kepala nya.
"Bagaimana dengan kehidupanmu, Klee? Kau tampak sangat misterius. Kau juga jangan larut dalam kesedihan, ceritakan apa yang ingin kamu ceritakan ya," kata-kata manis yang sebelumnya Klee lontrakan, kini dia lontrakan di hadapan orangnya sendiri.
Klee tergelak mendengarnya. Ia menggelengkan kepala dan menyatakan bahwa dirinya baik-baik saja, benar-benar tak memiliki masalah seperti yang Devin alami. Ditengah kehangatan tersebut, pesanan mereka datang di waktu yang tepat. Keduanya lantas menyantap nya seraya berbincang.
Di kala itu juga, sosok pria paruh baya duduk tak jauh dari mereka. Dia bertanya makanan dengan harga yang paling murah, yang disajikan oleh restoran tersebut. Namun semurah-murah nya makanan yang di jual, uang yang Kakek itu bawa tetap saja kurang. Ia meminta pelayan memberikan nasi dan sayur saja untuknya agar ia bisa membayar tagihan makanannya.
Tapi bukannya merasa prihatin dan menuruti keinginannya, justru sang pelayan dengan kejam membentak Sang Kakek bahkan mengusir nya hingga menarik pakaian si Kakek. Klee dan Devin, lantas memandang kearah kebisingan berasal.
Devin yang tak tega, lantas menghampiri dan menghentikan aksi kejam yang dilakukan oleh sang Pelayan. Dia juga membentak balik Pelayan dan dengan tegas menyatakan bahwa dirinya yang akan menanggung biaya makan Si Kakek. Melihat aksi heroik nya, Klee semakin simpati terhadap nya.
"Mungkin dia cocok untuk menjadi sahabat ku." Gumamnya.
***
Singkat cerita, usai makan malam bersama yang penuh dengan kehangatan, walau Klee tetap saja masih kaku dan dingin, Devin tetap senang karena setidaknya dia mulai menjalin hubungan dengan Crush nya. Kini, mereka berjalan kaki menuju stasiun kereta yang terbilang tak jauh dari mall.
Awalnya mereka berniat untuk menunggu taxi, namun lima menit berlalu belum juga ada yang lewat. Mungkin juga faktor karena sudah larut malam, jadi sudah tidak ada taxi yang beroperasi. Klee sempat meminta Devin untuk pulang lebih dulu, biarkan saja dia pulang sendiri. Namun Sang Ketua Kelas menolak dan berniat mengantarkan nya hingga sampai depan pintu rumah.
Dalam perjalanan, mereka memutuskan untuk bercanda seusai membahas topik serius sebelumnya. Klee beberapa kali tergelak, bukan karena lelucon yang di katakan nya melainkan perilaku nya yang menggemaskan di saat mengungkapkan lelucon nya. Hingga kelucuan berhenti di saat mereka mendapati Pelayan kasir minimarket yang dicaci oleh atasan nya bahkan di pukul.
Keduanya lantas saling menatap, usai mendapati kejadian tak mengenakan.
"Bagaimana?" Devin menatap Klee.
"Hajar kah?" Balas Klee sembari mengikat rambut nya.
****
Keesokan harinya, Klee menjalani hari seperti biasanya. Bangun di pagi yang cerah, menyiapkan berbagai hal sebelum berangkat sekolah sendiri. Ketika akan berangkat, ia mendapati Devin yang telah menunggu di luar dengan menaiki motor Harley Davidson CVO. Klee menolak, namun Sang Ketua Kelas tak kehabisan akal. Ia beralasan mereka harus menghadiri rapat dadakan sehingga diwajibkan datang ke sekolah secepatnya. Mendengar itu, pada akhirnya Sang Kulkas 1000 pintu terpaksa mengiyakan nya dan berangkat bersama nya.
Singkat cerita, mereka tiba di sekolah. Klee menjalani aktivitas nya seperti biasa walau sedikit berbeda karena sekarang dia tak hanya menjalin hubungan pertemanan dengan Floren seorang, melainkan juga dengan Devin. Kak Alden yang menyadarinya sekaligus cemburu juga tidak kehabisan akal. Berbagai cara dia lakukan untuk bersama dengan Sang Adik Kelas Tersayang.
Bahkan hingga jam pulang sekolah pun, kedua Pria Populer yang dikejar-kejar banyak perempuan itu, terpaksa berjalan kaki demi mengantarkan Klee pulang. Sejujurnya hal itu sangat memberatkan nya, dia juga menjadi sorot perhatian para perempuan alay yang tertolak oleh Kak Alden dan Devin. Namun berkali-kali dilarang, tetap saja mereka terus mengikuti tanpa memikirkan perasaan perempuan yang mereka tolak.
Dalam perjalanan nya, Klee tak mengeluarkan sepatah katapun. Ia diam dengan wajahnya yang datar dan sorot mata tajam. Meski berusaha mungkin mencairkan suasana, apa yang mereka lakukan hanya sia-sia.
"Ah semuanya jadi gak asik gara-gara ada yang sok berkuasa." Umpat Devin, lantas Kak Alden menoleh juga menatapnya dengan sinis.
"Klee, apakah kamu suka bocil yang sering merajuk? Kalau bertemu dengannya, lebih baik di usir saja, kan?" Sahut Kak Alden sambil merangkul bahu Klee.
Namun bukannya mendapat perlakuan sesuai ekspektasi, nyatanya malah sebaliknya. Klee menempleng kepala Kak Alden dan menjawab perkataan nya secara bertolak belakang.
"Tidak! Justru seharusnya perlakuan kita adalah menghibur anak kecil itu." Ketusnya membuat Kak Alden terpaku. Devin sontak mengolok Kakak Kelasnya, begitu senang dia melihatnya yang mendapat perlakuan buruk dari Klee.
Di kala kesunyian kembali antara ketiganya, Devin tak sengaja menendang kaleng minuman yang kemudian melayang dan mendarat di antara kerumunan polisi juga wartawan. Melihat hal tersebut, tanpa angin dan hujan, Klee berlari menuju lokasi membuat keduanya keheranan dan bergegas menyusul.
Tiba di lokasi, mereka mendapati noda darah di tanah dan di pot bunga yang terpajang di suatu rumah. Tak hanya itu saja, di depan rumah juga ada mayat gadis yang tergeletak berlumur darah dan di tangisi oleh neneknya. Para polisi nampak sibuk melakukan penyelidikan sekaligus pemeriksaan terhadap lingkungan sekitar, karena kejadian pembunuhan tersebut juga baru saja terjadi di depan beberapa warga dan polisi yang tengah berpatroli.
Berselang beberapa menit setelahnya, datang mobil Bugatti La Voiture Noire yang langsung menjadi sorotan. Van keluar dari dalam mobil bersama dengan rekan-rekannya, John dan Kennedy. Dia melepas kacamata hitamnya, berjalan menuju mayat yang masih tergeletak di tanah.
Ia menatapi mayat itu sejenak sebelum akhirnya memerintah para anggota kepolisian untuk melakukan pengamanan di sekitar lokasi. Ia juga menyuruh mereka melakukan pengecekan terhadap rumah warga dan mobil yang berlalu lalang di sekitar.
"Semuanya di cek! Jangan sampai kehilangan jejak pelaku!" Teriak Van dengan lantang.
"Baik, Pak! Kami akan melakukan pengecekan di seluruh area. Kemungkinan pelaku kabur ke arah Selatan, karena jika ke arah Utara hanya ada sungai dan hutan yang lebat." Tutur salah seorang anggota kepolisian.
"Ya pokoknya cari pelaku sampai dapat!" Bentaknya membuat anggota kepolisian bergegas melakukan tindakan. Ambulans juga datang di saat yang tepat untuk mengobati nenek korban yang terluka saat berusaha menghentikan pelaku yang melarikan diri.
Di kala Van baru saja memerintah para anggota kepolisian, tiba-tiba saja Klee datang mendekat membuatnya lantas menatap. Mengira bahwa ia adalah teman korban, namun dugaan nya salah besar. Klee justru merebut pistol dan borgol milik nya lalu berlari ke arah Utara.
Devin dan Kak Alden berlari mengejarnya. Begitupun juga dengan Van, John, dan Kennedy. Tetapi dari raut wajah Van, ia nampak tak marah. Justru ia tersenyum tipis dan tertarik akan gadis misterius yang entah mau melakukan apa.
"Gadis kecil, apa yang akan kau lakukan?" Batinnya.
Klee terus berlari hingga ia tiba di sungai. Di sana, dirinya menyadari noda darah yang menempel di jembatan penyebrangan tersebut. Dia lantas melanjutkan pelarian nya. Kak Alden cukup terkejut akan aksinya, ia tak menyangka gadis kulkas 1000 pintu ini dapat berlari kencang dan tidak lelah sedikitpun.
"Ah dia harus ikut lomba marathon." Ucap Kak Alden kelelahan.
"Berisik Lo! Kalau gak kuat, gak usah belaga sok ngejar!" Balas Devin yang berlari melewati nya. Melihat nya, Kak Alden kembali berlari. Ia tak mau kalah saing dengan nya.
Van bersama dengan rekan setim nya juga tak berhenti mengejar Klee. Mereka menyadari bercak darah yang menempel di jembatan, membuat mereka terpikirkan pelaku pembunuhan gadis SMA sebelumnya.
"Ahhh gadis ini, jangan bilang dia akan melakukan itu." Batinnya sembari menyengir.
Sepuluh menit kemudian, Klee tiba di sebuah gubuk. Di sekitarnya penuh pohon dengan sedikit noda darah yang tertempel. Dia memberanikan dirinya menerobos masuk ke dalam. Tiba di dalam, ia mendapati suasana yang sepi. Namun dirinya tak tinggal diam dan mengecek setiap sisi gubuk tersebut barangkali saja menemukan petunjuk.
Tak lama berselang, Devin dan Kak Alden tiba di dalam. Keduanya masuk ke dalam, menemui Klee yang tengah sibuk. Ia menyuruh keduanya untuk mengecek setiap sisi dalam gubuk itu. Keduanya menuruti perintah nya dan membantunya.
Hingga Van datang. Ia masuk ke dalam sedangkan John dan Kennedy berjaga di luar. Ia menemui Klee, menyuruhnya juga yang lainnya untuk berhenti melakukan pencarian, biar dirinya yang menangani masalah ini.
Namun bukannya menurut, Klee membantah bahkan tak segan membentaknya. Suara nya terdengar sampai ke luar. John dan Kennedy di buat diam atas perlakuan nya terhadap Van.
"Kau pikir kau bekerja dengan baik hah?! Kasus pembunuhan berantai yang sudah terjadi berbulan-bulan saja belum juga usai dan semakin memakan banyak orang! Bahkan kau saja tak kepikiran untuk mengecek tempat-tempat seperti ini! Dasar bodoh! Bajingan sialan! Gak bisa kerja dengan baik, SHIBAL!" Umpat nya.
Untuk kali pertama, Van di caci bahkan di buat diam oleh gadis SMA yang bisa dibilang tak ada apa-apanya. Devin dan Kak Alden menganga karena nya. Baru kali ini dia melihat Klee amat murka hingga mengeluarkan berbagai kata kasar dari lisan nya.
"Aku berjanji takkan berulah." gumam Kak Alden. Devin sontak menatap. "Aku juga." Balasnya singkat.
Usai mencaci Van, Klee kembali melakukan pencarian. Tiba-tiba, lantai tempat nya berpijak runtuh, membuatnya terjatuh ke dalam ruangan misterius. Kak Alden, Devin, juga Van refleks menatap ke arah lubang itu, memastikan gadis kulkas 1000 pintu baik-baik saja.
Dalam ruangan itu, Klee lantas bangkit berdiri. Dia mendapati foto gadis SMA korban pembunuhan, yang terpajang di setiap dinding ruangan tersebut. Ia juga melihat seorang pria yang kira-kira usia nya berkisar tiga puluh tahunan, berambut coklat kemerahan, mengenakan jeans, dan jaket kulit berwarna coklat yang terdapat sedikit bercak darah, kini menangis dengan pisau berlumur darah di tangan nya.
Klee mengangkat pistol nya, mengarahkan nya ke pria itu. Dia berjalan perlahan, menghampiri pria yang sepertinya pelaku dari pembunuhan terhadap gadis SMA.
"Angkat tangan mu dan akuilah bahwa kau pelaku nya!" Teriak Klee dengan lantang.
Sedangkan di atas, di kala Klee tengah berhadapan dengan pria misterius justru berbeda dengan suasana di atas. Dimana Van, Devin, dan Kak Alden tengah berebut masuk duluan ke dalam ruangan tersebut. Mereka juga saling membentak dan dorong-dorongan agar bisa masuk lebih dahulu.
Tetapi tak lama, lantai tempat mereka berpijak ikut rubuh dan menjatuhkan mereka bersama ke dalam ruang tanah. Di sana, mereka mendapati Klee yang telah memborgol seorang pria yang sudah di buat babak belur dengan nya. Klee berjalan menghampiri Van, menyerahkan pistol sembari menyeret sang pelaku pembunuh.
"Pistol mu tidak terlalu berguna," ketusnya yang menyerahkan pistol. "Nih juga pelaku nya, buat dia di hukum seberat mungkin! Kalau pihak kepolisian tak bisa memberikan hukuman yang setimpal, biar aku yang lakukan." Lanjutnya dengan sorot mata yang tajam.
Van tersenyum tipis mendengar nya. Ia semakin tertarik dengan gadis SMA yang nampaknya begitu dingin dan berani bahkan dengannya. Berbeda dengan gadis lain yang ia temui, rata-rata mereka takut bahkan menjual harga dirinya di hadapan nya.
"Siapa nama mu, gadis kecil?" Tanyanya seraya menyunggingkan senyum merayu. Bukannya dapat respon yang menyenangkan, Klee melempar pria itu ke Van hingga mereka terjatuh di lantai.
"Berani-berani nya kau merayu ku, dasar brengsek!" umpat nya lagi pada Van. "Pantas saja kasus kriminal gak selesai-selesai, pinter nya cuma ngerayu." Lanjutnya dengan ketus.
"Gadis kecil, siapa nama...." Belum sempat menyelesaikan kata-kata, Klee menampar pipi nya dengan buku yang tergeletak di meja.
"Berhenti memanggil ku gadis kecil ya, Dasar bajingan! Shibal! Brengsek! Bangsat banget Lo!" Umpat nya. Van benar-benar di buat nya tak berkata sedikitpun.
Sedangkan Devin dan Kak Alden hanya bisa diam, mereka tak berani melerai atau melakukan apapun. Siapa sih yang mau bernasib sama seperti, Van? Tentu saja tidak mau! Lebih baik mereka seperti beban daripada sok pahlawan atau iklan yang tiba-tiba saja lewat di kala seru nya series televisi.
"Hei! Daripada kau terus-terusan merayu ku seperti keparat, sebaiknya kau urus si bedebah ini! Hukum dia seberat mungkin!" Tegasnya pada Van.
Van diam tak berkata. Ia menarik pria tersebut, membawanya keluar melalui pintu di sisi kiri mereka. Klee mengikutinya dari belakang hingga mereka kembali ke daerah pemukiman. Pihak kepolisian tercengang mendapati Sang Detektif Arogan nya, telah menemukan pelaku dalam kurun waktu singkat. Mereka lantas membawa sang pelaku ke kantor kepolisian untuk di tindak lebih lanjut.
Sebagai detektif kepolisian, Van harus kembali ke kantor nya bersama dengan rekan setim. Bahkan ia juga yang akan menginterogasi pelaku nanti. Tapi ketika akan masuk ke dalam mobil, Klee secara spontan menghentikannya. Ia memohon untuk ikut dan melihat pelaku dari saat di interogasi hingga dijatuhi hukuman di pengadilan. John dan Kennedy, lantas mengusir ketika melihat perilaku Klee yang terbilang sudah melebihi batas karena sudah berani mencaci Kapten mereka dan melakukan tindak kekerasan. Di tambah juga, mereka tak ingin kena imbas nya karena tidak menangani gadis tersebut dan justru membiarkan Kapten nya di caci.
Namun apa yang mereka lakukan justru bertolak belakang dengan Van. Ia malah membiarkan Klee untuk ikut serta ke dalam kasus pembunuhan kali ini.
"Baiklah gadis kecil, silahkan masuk ke dalam mobil." Balasnya membuat para anggota kepolisian yang mendengar tercengang hingga terbelak lebar kedua matanya. Kali pertama nya mereka melihat sosok Van yang dikenal arogan dan berkuasa, tunduk pada gadis SMA biasa.
Tanpa pikir panjang, Klee masuk ke dalam mobil meninggalkan Ketua Kelas sekaligus Ketos nya yang sedari tadi mendampingi.
"Yah....Kita di tinggal nih?" Ujar Kak Alden dengan wajah yang dibanjiri keringat.
"Untung sekolah gak terlalu jauh dari sini, bisa nyusul pake motor." Devin berlari meninggalkan Kak Alden sendirian.
"Oi! Tunggu!"
***
Setelah melalui perjalanan yang memakan waktu tiga puluh menitan, mereka sampai di kantor kepolisian. Pelaku bergegas di bawa masuk ke dalam lebih dulu, sedangkan Van dan Klee berjalan di belakang nya. Tiba di dalam, pelaku di bawa ke ruang interogasi.
Sebelum masuk, Van menyiapkan beberapa berkas untuk mencatat perbincangan nya dengan pelaku. Usai itu, dirinya melangkahkan kaki menuju ruang interogasi. Tapi baru beberapa langkah berjalan, Klee menghadang. Lagi-lagi ia memohon agar diperbolehkan masuk ke dalam ruang interogasi. Van berniat untuk menolak, namun...
"Begini gadis kecil, kamu itu...."
"Apa?" Klee mengangkat buku yang tergeletak di meja. Posisi tangannya saat itu, seolah sudah siap untuk menempleng kepala Van dengan buku tebal di tangan nya.
"Baiklah kau ku izinkan masuk ke dalam tapi setelah lima menit berlalu ya," jawabnya dengan lemah lembut yang membuat para detektif terkejut bukan main.
"Ku hitung mulai dari kau masuk ke dalam." Balasnya dengan sorot mata tajam. Van mengangguk pelan, ia bergegas masuk ke dalam sedangkan Klee menunggu di luar hingga waktu nya tiba. Ia nampak sangat tak sabar menghadapi pelaku, berbincang dengan tenang dan santai seolah sedang bicara sebagai teman sebaya.
Di kala Van dan rekan-rekan setim nya tengah fokus mengurus pelaku, para detektif dari divisi lain justru bergosip terkait Klee yang bisa menaklukkan Sang Detektif Angkuh dengan mudah nya sampai terlihat begitu tunduk pada nya yang hanya seorang gadis SMA.
"Mungkin dia pake pelet kali, ya?" Bisik salah seorang detektif perempuan.
"Kayaknya, pelet nya kuat banget tuh." Balas detektif lain dengan nyinyir.
Sedangkan Klee acuh terhadap segala omongan dan cemooh para detektif, ia lebih mementingkan Sang Pelaku walau tak sepatutnya dia ikut campur dalam permasalahan berat seperti ini. Bahkan orang dewasa pun berusaha mungkin tidak terlibat masalah berat begini, sedangkan dirinya lain berbeda.
Kala dirinya menunggu, Devin dan Kak Alden tiba di kantor kepolisian. Mereka lantas menghampiri nya dan mengajaknya untuk kembali ke rumah. Tetapi sudah jelas Klee menolak karena masih ada hal yang harus dia lakukan sebelum dirinya bisa tenang kembali ke rumah. Walau begitu Sang Ketos dan Ketua Kelas bersedia untuk mendampingi nya hingga mengantarkan nya pulang sampai di depan pintu rumah.
Devin sempat keluar untuk membeli beberapa camilan dan minuman sembari menunggu. Ia membagikan nya untuk Klee dan terpaksa juga memberikan camilan serta minuman pada Ketos. Mungkin kalau bukan karena Kulkas 1000 pintu, ia takkan memberikannya.
Berselang beberapa menit, waktu berlalu begitu cepat. Klee sontak masuk ke dalam untuk berhadapan dengan Sang Pelaku yang ia tangkap dengan tangan nya sendiri. Dari raut wajahnya, sudah jelas pelaku begitu ketakutan melihat sosok gadis SMA itu bahkan berteriak kencang.
"Ahhhh kenapa dia ada di dalam!!! Bukan nya dia gadis SMA? Tidak seharusnya dia diizinkan masuk! Apa jangan-jangan dia intel kepolisian?!" Teriaknya membuat amarah Klee meluap dan refleks menampar wajahnya dengan berkas di meja.
"Berisik banget sumpah! Bisa diam gak?!" ketus Klee. "Nyebelin banget! Bikin badmood aja, mana di bilang intel lagi." Gerutu Klee sambil duduk di kursi nya dan kembali menatap Sang Pelaku yang di buat diam seketika.
Para detektif, Kak Alden, dan Devin yang mendengar juga di buat diam. Kini mereka tahu alasan Van begitu tunduk pada gadis SMA biasa, ternyata memang bukan gadis sembarangan seperti diluaran sana. Di sisi lain mereka juga cemas jika Klee sampai bergabung dalam dunia kepolisian seperti Van.
"Moga aja deh dia gak tertarik ke dunia kepolisian ya. Ngurusin satu orang aja udah berasa ngurus sepuluh orang, apalagi kalau dua."
Kembali lagi di dalam ruangan. Van kembali mengajukan pertanyaan terkait pembunuhan yang dilakukan oleh sang pelaku bernama "Joni" tapi kali ini dengan di temani Klee, bukan rekan setimnya yang justru menyimak di luar ruangan.
"Apa hubungan mu dengan korban?" Tanyanya dengan ketus.
"Aku tidak ada hubungan apapun dengan korban."
Brakkkk....
Klee menggebrak meja yang membuat kedua nya terkejut akan aksi yang dilakukan.
"Apa maksudmu?! Kau! Kau tidak ada hubungan apapun dengan korban?!" Tanyanya dengan suara lantang.
"I...Iya, saya tidak ada hubungan apapun dengan korban." Balasnya dengan tertekan.
"Terus kenapa Lo ngebunuh dia, bangsat?! Dia itu cuma gadis SMA biasa, yang masih polos dan hanya tinggal dengan nenek nya. Mikir gak sih Lo, gimana nasib neneknya kalau gak ada cucu nya?!" Bentak Klee yang kembali menggebrak meja.
"Aku...Aku terobsesi dengannya sejak pertama kali aku melihatnya. Setiap kali memandang wajahnya, aku tidak dapat menahan hasrat ku untuk...."
Plakkkkkk...
"Shibal! Bisa-bisanya kau berpikiran kotor seperti itu hingga kau membunuh gadis tak bersalah." Umpat nya.
"Ya maafkan aku. Aku hanya seorang manusia yang..."
Belum sempat menyelesaikan kata-katanya, lagi-lagi Joni mendapati tamparan maut dan cacian menyakitkan dari nya. Di saat itu juga untuk kali pertama nya Van hanya diam menyaksikan penderitaan yang dialami pelaku pembunuhan.
"Kira-kira pelaku pembunuhan berantai sama gadis ini, kuatan mana, ya?" Batinnya sembari meraih berkas di meja.
***
Usai interogasi yang panjang akhirnya berakhir. Joni nampak senang karena tidak lagi berhadapan langsung dengan Klee selepas ia keluar dari ruang interogasi dan dipindahkan ke dalam sel penjara. Saat ia dipindahkan, Van mengantarkan nya bahkan dia juga yang mengunci sel penjara tersebut. Ketika akan pergi, Joni sempat mencegat nya karena menitipkan pesan.
"Pak, bisakah aku tidak bertemu dengan gadis itu lagi? Aku tidak ingin melihatnya! Jauhkan dia dari hidup ku untuk selamanya!" Ujar Joni yang amat memohon. Van hanya diam dengan rautnya yang datar. Hingga berselang beberapa detik, suara tak mengenakan terdengar, membuat Joni semakin tertekan.
"Awas Lo ya! Ketemu gw lagi, habis Lo di tangan gw! Dasar brengsek! Bajingan keparat! Shibal!!" Sahut Klee dari jauh.
"Tuh kan, Pak. Saya mohon agar saya tidak berhadapan langsung dengannya." Lagi-lagi Joni memohon hingga membungkukkan tubuhnya. Namun Van tampak tak acuh, ia lantas pergi untuk menemui gadis SMA yang membuat nyaman begitu tertarik.
Tiba di ruang detektif, dirinya kembali berhadapan dengan Klee yang bersiap untuk kembali ke rumah dengan di dampingi kedua cowok populer bernasib malang.
"Sudah mau pulang? Bagaimana kalau saya yang antar?" Tanya Van dengan sangat lembut.
"Tidak!" Sontak kedua pemuda itu menjawab. Tentu saja mereka membantah, mengingat sedari tadi keduanya telah lama menunggu. Masa iya berakhir dengan Klee di antar oleh detektif kepolisian yang baru dia temui.
"Terimakasih atas tawaran nya, tapi setelah ini masih ada yang harus saya lakukan. Saya permisi." Klee pergi bersama dengan Devin juga Kak Alden yang penuh kesabaran menunggu nya. Van sejenak terdiam, sampai ia teringat bahwa dirinya belum mengetahui nama gadis SMA yang menarik untuknya.
"Eh, siapa namamu, gadis SMA?" Seru Van. Namun sepertinya Klee tidak mendengar dan langsung saja pergi dengan kedua temannya.
Kini Van kembali ke kehidupan nya seperti biasa. Suasana di sekelilingnya kembali menjadi hening, semuanya kembali dengan kepala tertunduk takut kepadanya. Van menatapi sekelilingnya, ia sempat memerhatikan kedua rekan setim yang berjalan kearahnya. Ketika mereka tiba dan berniat untuk menyerahkan dokumen, dirinya mengungkap sesuatu.
"Hey! Bisakah kalian lakukan sesuatu?"
John menatap nya dengan serius, begitupun juga dengan Kennedy yang refleks menarik berkas di tangan nya dan menyembunyikan di balik badan nya.
"Ya? Ada yang bisa saya bantu?" Tanya balik Kennedy dengan senyum tipis di wajah.
"Belikan aku kompres," Kennedy dan John menatapnya dengan raut heran usai mendengar permintaan nya yang tak biasa. Van mendongak sambil menyentuh pipi kanannya yang amat merah. "Tamparan gadis itu sangat menyakitkan bahkan sampai sekarang!" Ungkapnya dengan kedua mata yang berkaca-kaca.
****
Beberapa jam kemudian...
Klee memasukkan beberapa produk ke dalam kantong lalu menyerahkan kantong tersebut pada orang di hadapannya. Ia juga menyunggingkan senyum manis dan membungkukkan tubuhnya sembari berkata, "Terimakasih sudah datang ke minimarket kami, hati-hati di jalan!"
Sang costumer pergi dengan raut wajah yang bahagia. Tentu saja karena melihat senyum manis dari pelayan kasir yang berwajah imut itu. Walau dibalik itu semua, dia menyimpan sisi gelap nya bahkan membuat detektif kepolisian yang memiliki kekuasaan dan begitu ditakuti, sampai tunduk takluk padanya.
Selang beberapa menit setelah melayani pelanggan, seorang pemuda berambut coklat menghampiri meja kasir dan berdiri tepat di samping nya untuk menghitung pendapatan yang mereka dapatkan hari ini. Karena sebentar lagi, minimarket akan segera tutup. Sembari menghitung pendapatan, ia berbincang dengan Klee.
"Berkat kehadiran kalian, aku merasa senang bekerja di minimarket ini." Ungkap Owen. Klee refleks menoleh dengan raut wajah datar nan polos nya yang membuat Owen tergelak.
"Iyakah?"
"Hahahahaha astaga, Klee. Melihat raut wajah mu itu, benar-benar menggemaskan! Izinkan aku mencubit pipi mu sekali." Balasnya yang membuat Klee tersenyum tipis.
"Ah begitu, ya? Hmm senang mendengarnya."
Di kala perbincangan, Devin mendatangi mereka. Ia berniat join obrolan yang diperhatikan menyenangkan.
"Lagi ngomongin apa sih sampai kulkas 1000 pintu aja senyum?" Tanyanya yang membuat Owen refleks menatap Klee.
"Wah Klee, aku tidak sadar kalau kau tersenyum. Benar-benar seperti malaikat!" Owen mengacungkan kedua jempol tangan nya, Klee tertawa tipis melihat tingkah kekanakan itu. Hingga dia kembali dengan raut datar nan dingin saat menyadari Devin yang memandangi nya diam-diam.
"Devin, apakah kau sudah menata minuman soda itu?" Tanyanya tegas, Devin mengangguk pelan.
"Tentu saja, makanya aku bergabung dengan kalian."
Klee diam tak membalas. Ia cari-cari aktivitas agar dirinya terlihat seolah sedang sibuk dan tidak ingin di ganggu. Tepat ketika terpikir rencana tersebut, seorang pelanggan datang ke minimarket nya untuk membeli beberapa cemilan dan minuman dalam perjalanan nya. Kala sang pelanggan pergi ke kasir dan niat untuk membayar, keduanya sama-sama terkejut ketika saling menatap satu sama lain.
"Gadis SMA?"
"Detektif bodoh?"
Sedangkan Devin hanya diam mematung, begitupun dengan Owen yang refleks menatap Klee ketika rekan kerjanya memanggil Van dengan sebutan terbilang buruk.
"Gadis SMA, apakah kau bekerja sebagai kasir? Aku tak menyangka bahwa kau bisa melakukannya, sangat menakjubkan!" Tutur Van.
"Maksud mu, apa? Kau menghinaku? Mau menertawai ku? Mencemooh? Dasar brengsek!" Umpat nya dengan raut santai seolah-olah apa yang ia lontrakan adalah kata-kata yang ramah.
"Haduh gadis SMA, tidak bisakah kau menjaga lisan garang mu itu?" balas Van sembari mengeluarkan kartu dari dalam dompet nya. "Dan jika kau tidak bisa mengontrol emosi mu, orang-orang akan membenci mu."
"Hmm sok menasihati, memangnya kau siapa? Ibuku? Tidak usah banyak bacot, kerja aja masih gak becus." Balasnya balik yang benar-benar menyakitkan untuk dimasukkan ke dalam hati.
Karena tak ingin melihat pertikaian terjadi dan membesar, Owen melerai keduanya. Namun adu mulut di antara keduanya tak bisa terelakan meski sudah berusaha mungkin dilerai.
"Kau ingin menampar wajahku dengan apa setelah ini? Apa dengan mesin kasir ini?" Tanya Van seraya memandang ke arah mesin kasir yang ada tepat di hadapannya.
"Ya, kau mau mencobanya? Aku bisa melakukan nya untuk bedebah seperti mu! Ini terlalu mudah ku lakukan untuk orang tak tahu malu."