
Mereka menonton film horor yang sedang trend di kalangan pecinta film. Setelah menonton selama seperempat menit, Devin menyadari alasan Klee memilih film horor yang mereka tonton sekarang di bandingkan dengan film criminal.
Film horor yang mereka tonton terbilang sadis karena adegan berdarah yang di lakukan oleh manusia. Sementara jumpscare dari para hantu yang bergentayangan di sepanjang film, jarang muncul dan mudah tertebak oleh para penonton yang menyaksikan.
Di kala suasana tegang, menunggu sang main character keluar dari dalam ruangan dengan perasaan was-was sebab pembunuh berantai berserta hantu yang ada dalam tempat itu, tiba-tiba saja seseorang menyalakan lampu kelas. Devin, Kak Alden, juga Floren yang terlalu serius mengamati film, lantas terkejut karenanya.
"Kalian....."
Klee menoleh, dengan tatapan dingin dan rautnya yang datar. Ia memandang siswi yang mengusiknya, sebelum sorot mata tajam tertuju pada pria berjas yang berdiri di balik pintu kelas.
"Klee, Floren, Devin, dan ini pula, Kak Alden! Kenapa kalian malah bersembunyi di dalam kelas bukannya menyambut kedatangan Tuan Muda?!" Gertak siswi tersebut pada Klee yang berjalan menghampirinya.
"Hanya seorang Tuan Muda, memangnya istimewa?" balas Klee dengan enteng seolah Tuan Muda yang di maksud tidak ada apa-apanya. Padahal ia sadar, bahwa orang yang di remehkannya mendengarkan apa yang baru saja ia ucap.
"Klee! Tutup mulutmu itu! Berani-beraninya kau bicara tak sopan pada Tuan Muda?! Cepat minta maaf!"
"Ah persetan buat Tuan Muda, aku hanya ingin kalian keluar dan tidak mengusik kami!" Klee mendorong tubuh siswi yang tersulut emosi. Dia juga menutup pintunya, mengganjalnya dengan meja agar sulit untuk di buka.
Ia kembali duduk di lantai, menata sekitarnya sebelum mengeplay film horor yang mereka tonton. Namun, Tuan Muda yang awalnya hanya diam dengan raut datar, kini bertindak. Dimana dia mendobrak pintu berulang kali hingga terbuka, lalu masuk dan menemui orang yang berani-beraninya meremehkan dia.
"Ah nona.....kau tidak mengenalku sepertinya?" Tanyanya menghampiri Klee yang berdiri tak jauh darinya.
Klee menyeringai, ia melangkahkan kaki dan balik bertanya. "Memangnya kenapa jika aku tidak mengenal dirimu? Memangnya siapa kamu?" Dengan enteng dia bicara di hadapan sesosok pria yang memiliki kekuasaan.
"Nona, kau mengenal pasal yang tercipta di negeri ini? Bersikap tak sopan pada seseorang yang lebih tua, dapat membuatmu terkurung di dalam jeruji besi itu," pria itu mengancam, tapi Klee nampak acuh. Justru ia menantang pria tersebut untuk melakukan apa yang di ucapkan.
Kak Alden yang tadinya tak ingin ikut campur, arkian bertindak menyadari adik kelas kesayangannya dalam bahaya. Ia mengambil posisi dengan berdiri di depan Klee juga menyuruh sang tuan muda angkuh yang ingin macam-macam, pergi dari hadapan mereka.
"Pergi, dan jangan mengusik kami!"
Pria itu menyeringai, melihat Kak Alden yang memgusirnya begitu saja, bagaikan mengusir seekor binatang menjijikan.
"Ah Alden, sudah lama tidak bertemu, ya? Bagaimana kabar ayahmu?" jari jemari pria itu, menyentuh kerah baju Kak Alden, merapikannya yang sedikit berantakan. "Kudengar, ayahmu sangat di cintai masyarakat, ya? Karena selama beberapa dekade, hanya ayahmu sebagai pejabat pajak yang tampaknya bekerja dengan jujur."
Suasana hening menjadi semakin tegang karenanya. Para murid di sekitaran sana tercengang mengetahui kabar tersebut. Meski Alden populer di kalangan murid terutama kalangan kaum ciwi-ciwi, namun, tak ada satupun orang yang mengetahui identitas keluarganya lebih jauh.
"Tempo hari, aku menemui ayahmu. Beliau bercerita, bahwa beberapa minggu terakhir sikapmu sedikit berbeda. Kau jadi sangat cuek dan susah untuk di atur, bahkan bolos sekolah dan mengambil kunci mobil tanpa izin, mungkinkah karena cewek murahan ini?" Sekilas pria itu melirik Klee yang berdiri di belakang Alden.
Klee tak bergeming. Sementara Kak Alden dan Floren tersulut emosi mendengar kalimat tak pantas yang di ucapkan pria itu pada kesayangannya. Sedangkan Devin, tanpa sadar ia tertawa tipis memerhatikan situasi yang semakin menarik.
"Kau benar-benar bedebah sialan! Berani-beraninya kau menyebut sahabatku murahan?! Kau itu yang murahan!" umpat Floren, refleks juga ia mendobrak meja.
Sang pria hanya diam terpaku, bibirnya tak berhenti menyunggingkan senyum di tambah tatapannya yang tampak sangat meremehkan Klee. Namun, tak sesuai harapan, gadis SMA yang sempat tak membuka mulut kembali bicara tapi dengan kata yang terdengar menyakitkan.
"Ahh kau pasti lelah, ya? Kau harus berdandan di dua wajah sekaligus," kini Klee berbalik melakukan hal serupa, merapikan kerah baju si pria. Ia berjalan melewatinya, kemudian duduk di atas meja sambil memainkan kuku-kuku yang mulai memanjang.
"Hu beberapa orang tampak seperti uang receh, bermuka dua dan nilainya tak seberapa." Ia menyunggingkan senyum pada pria yang kini menatapnya dengan sorot mata tajam dan ekspresinya yang perlahan mendatar. "Ah ya, sejujurnya aku tidak tersinggung dengan kata-kata mu tadi, aku juga tidak masalah jika kau membenciku. Ya, karena tidak semua orang memiliki selera yang baik."
Mendengarnya membuat satu ruangan membisu. Sang pria yang tadinya meremehkan, kini berbalik di remehkan oleh seorang gadis SMA biasa.
Klee menyeringai, ia beranjak berdiri lalu melangkah pergi. Sembari berjalan, ia sempat melontarkan kata-kata pamitan pada lawan bicaranya yang sudah kalah telak. "Sampai jumpa lagi, Tuan Enver. Aku ingin beli ice cream yang lebih nikmat dan berharga daripada dirimu."
Ia menyelonong pergi begitu saja, dengan di susul oleh Kak Alden, Devin, dan Floren setelahnya. Sekarang, di kelas hanya Enver dan beberapa murid, guru, serta bodyguardnya di sana. Para guru merasa tak enak atas sikap muridnya pada Tuan Muda yang memiliki kekuasaan ini. Sementara Kepala Sekolah tak ingin ikut campur dalam permasalahan antar kedua belah pihak yang bersangkutan.
"Tuan Enver maafkan atas ketidaknyamanannya. Kami akan segera menghukum..."
"Siapa namanya?"
Sang guru sejenak terdiam, sebelum ia memohon permintaan maaf dan justru Enver malah kembali mempertanyakan nama muridnya yang berulah.
"Na....namanya.....Klee, Tuan!"
Enver tak membalas sejenak, hingga ia tergelak, meminta asistennya untuk melacak identitas Klee lebih dalam. Dia tak ingin berbuat macam-macam dengan gadis itu, justru karena kejadian beberapa saat lalu yang membuatnya jatuh cinta untuk kali pertama dalam hidupnya.
"Ah aku harus beritahu ayah bahwa sebentar lagi dia akan memiliki menantu yang hebat!" ucapnya kegirangan.
Baik guru dan murid benar-benar di buat tak habis pikir. Bagaimana bisa Klee dengan mudahnya memikat hati seorang Tuan Enver yang di kenal dingin dan kejam? Bahkan tingkahnya berubah seratus delapan puluh derajat setelah pertemuannya yang terbilang tak di sengaja.
Di momen para guru dan murid sedang bingung akan situasi, sebaliknya, Klee dan rekan-rekannya bersenda gurau. Mereka bahagia, berkat sang gadis yang begitu dingin setara dengan kulkas seribu pintu, membuat Enver tak bertindak ataupun bicara sepatah kata.
"Klee itu memang suhunya, gak ada yang bisa lawan!" sanjung Devin pada Klee yang tengah menikmati ice cream varian choco mint. Tampaknya, dia memilih untuk melupakan kejadian daripada hanya mengungkitnya saja. Menurutnya, tidak ada untungnya mengungkit kesalahan orang lain, toh mereka tadi juga baru bertemu ini, bisa saja mereka tidak akan bertemu atau justru bakal sering bertemu dan malah menjalin hubungan dekat.
"By the way Kak Alden, masalah bapak lo pejabat pajak itu, bener?" sahut Floren yang spontan mengganti topik pembicaraannya.
"Kalau misalkan Alden pejabat pajak, kaya raya dong. Pantesan duitnya gak pernah habis," ketus Devin yang menyeruput segelas ice jeruk.
"Iya, bokap gw pejabat. Tapi hubungan gw sama dia, gak berjalan baik....."
Suasana yang tadinya terasa biasa saja, menjadi menyedihkan ketika mendengar ungkapan perasaan Alden. Floren maupun Devin jadi tak enak karena membahas hal yang sepatutnya tidak di perpanjang. Sementara Klee sudah siap mendengarkan segala curhatan, keluhan, dan mungkin sudah menyiapkan beberapa nasihat untuk Kak Alden.
Kak Alden diam tak berkata. Ia menundukkan kepalanya, menyeka air mata dengan dasinya yang rapi, bak seperti habis di setrika. Floren dan Devin merasa gelisah melihatnya, berbeda dengan Klee yang paham akan perasaan meski dari gaya bicara dan gelagatnya tetap dingin.
"Kalau mau cerita, cerita aja sih. Gak usah di tahan-tahan apalagi sok paling sedih, mewek depan orang lain." ketus Klee yang kembali menjilat ice creamnya.
Selang setelah dia bicara, Kak Alden sontak menangis sesegukan yang membuat Devin dan Floren panik. Klee juga tercengang melihatnya yang tiba-tiba saja menangis usai mendengar kata-katanya yang terbilang kasar, mungkin karena kasar makanya dia nangis.
***
Waktu berlalu, puas mendengar cerita Kak Alden yang dimana orang tuanya lebih mementingkan prestasi di bandingkan anaknya, Klee memberikan beberapa nasihat untuknya yang dapat memotivasi hidup sang kakak kelas sekaligus ketua osis ke depannya.
Devin tak menyangka, bahwa tak hanya dirinya yang mengalami hal tak mengenakan di antara orang tua. Kak Alden yang seolah kesayangan orang tua walau selama ini tak ada yang tahu identitas kedua orang tuanya, nyatanya juga memiliki jalan cerita yang persis seperti dia alami. Mungkin setelah ini, mereka bisa lebih sering bertukar pikiran, mengingat hubungan antara kedua orang tua yang tak jauh berbeda. Jadi bisa saling berbagi dukungan satu sama lain.
Sedangkan Floren merasa tak enak, karena sepertinya hanya dirinya yang hidup bahagia di keluarga. Tidak ada masalah apapun seperti yang di alami dengan Devin maupun Kak Alden, sementara Klee sendiri, sampai sekarang tidak ada yang tahu identitasnya lebih dalam. Bahkan sudah berulang kali Floren mencoba membobol internet milik Klee, hasilnya tetap saja nihil sejauh ini.
"Klee, kau tidak ada masalah dalam hidupmu?" Tanya Kak Alden berusaha untuk menarik Klee hingga dia bercerita panjang lebar tentang kehidupannya. Karena di antara mereka, hanya satu-satunya dia lah yang masih misterius. Bertanya pada kepala sekolah pun juga percuma, beliau tak menceritakan apa yang ingin mereka dengar.
"Ada atau tidaknya masalah dalam hidupku, kalian tidak akan bisa menghandlenya." Klee melempar bungkus ice cream ke dalam tempat sampah, kemudian pergi meninggalkan teman-temannya yang di buat penasaran akan hidupnya.
"Haruskah kita menguntitnya?" pikir Kak Alden yang sungguh penasaran dengan adik kelasnya.
Bagaimana tidak? Selama ini, dia tak pernah sedikitpun melihat kedua orang tua atau anggota keluarga Klee lainnya selain kepala sekolah. Itupun yang mereka tahu, hubungan keluarga antara kepala sekolah dengannya hanya sebatas sambungan, bukan kandung. Di acara sekolah yang di adakan, juga tidak pernah muncul salah seorang yang merupakan anggota keluarganya. Aneh, bukan?
......................
"Tuan, kami hanya mendapatkan ini saja...." seorang pria bersetelan jas hitam, menyerahkan dokumen pada majikannya yang bermain game di laptop.
Dia merebut dokumen yang di serahkan, membaca apa yang telah di dapatkan oleh para anak buahnya yang jago dalam hal teknologi. Namun, apa yang di dapat hanya mengecewakannya saja.
"Kenapa kau hanya dapat ini? Kalau begini sih, gak usah lama-lama nyari! Bahkan ponakanku yang masih berumur lima tahun, juga bisa melakukannya jika hanya dapat segini!" Hardik Enver. Dia mendobrak meja, melempar berkas-berkas tersebut pada asistennya.
"Tapi, Tuan....hanya itulah yang kami dapatkan, tidak ada lagi selain itu bahkan foto sewaktu kecil gadis ini, juga tidak...."
"Tutup mulutmu!" Enver memukul bibir asistennya dengan tongkat golf di samping kursi. Ia tak terima karena perempuan yang di cintainya, di panggil seperti itu oleh asistennya yang dia anggap sampah.
Dia kembali duduk di kursi, meletakkan tongkat golf sembarangan di lantai. Jari jemarinya menyentuh beberapa foto Klee yang di dapat dari hasil penelusuran.
"Gadis ini, ahhhh benar-benar idamanku!! Aku akan mencari cara agar bisa mendapatkan hatinya."
Memandangi perilaku sang anak yang tak wajar hanya karena seorang gadis SMA, membuat sang Ayahanda yang seorang wakil ketua DPR penasaran untuk menjelajah lebih dalam gadis yang berhasil membuat anaknya jatuh cinta.
"Mungkinkah dengan adanya gadis ini, dapat merubah Enver menjadi lebih baik? Aku harus mendapatkan gadis itu bagaimanapun caranya sebelum terlambat! Aku hanya ingin putraku mengikuti apa yang kuinginkan, tidak terus memberontak seperti anak kecil." Monolog sang ayah yang tak henti memerhatikan anaknya dari rekaman kamera pengawas.
Beberapa menit berselang, seseorang mengetuk pintunya serta meminta izin untuk masuk bersama klien sekaligus sahabat dekat Enver.
...
"Ah putra kedua kesayanganku sudah datang, mari duduk," sambut hangat Ayahanda Enver.
"Makasih, anda selalu menganggap saya sebagai putra anda sementara ayah saya saja tidak ingin menganggap saya sebagai anaknya." Balas Van merasa tersanjung dengan sikap hangat yang di berikan.
Mereka duduk di sofa, sang asisten bergegas membuatkan minuman untuk klien berserta tuannya sebelum di suruh. Jika tidak begitu, mereka habis kena omel bahkan parahnya di pecat.
"Ah hahahaha bisa saja, mungkin kamu sering memberontak hingga ayahmu membencimu," balasnya di sertai tawa khas bapak-bapak. "Bagaimana kabarmu, Van? Belakangan ini, kau terlihat bahagia dan sangat bersemangat." Lanjutnya sembari meneguk secangkir teh yang baru datang dan di sajikan.
"Ya, beberapa kasus pembunuhan terselesaikan dalam waktu singkat. Tidak seperti sebelumnya yang membutuhkan waktu panjang! Aku tidak salah merekrut orang kali ini." Ungkapnya yang membuat Ayahanda Enver kembali tergelak mendengarnya.
Bagaimanapun juga dia merasa senang dan puas, karena kedua bocah ingusan yang dulu sering bertengkar dan mencari masalah, kini tumbuh dan menjadi sosok yang membanggakan. Ya meskipun Enver masih suka mencari masalah dan sulit di atur, tapi setidaknya ada perubahan.
"Omong-omong, aku sudah lama tidak bercengkerama dengan kedua orang tuamu, bagaimana kabar mereka? Bagaimana jika kita mengadakan pertemuan seperti tahun-tahun sebelumnya? Sekalian saja kau memperkenalkan orang hebat yang kau katakan itu, mungkin dia juga bisa membantuku," tutur Ayahanda Enver lembut dan berwibawa. Van semakin senang berbincang, menurutnya Ayahanda Enver lebih mengerti perasaannya di bandingkan kedua orang tuanya.
"Boleh saja kalau anda mau, saya akan mengatur waktunya."
"Bagaimana jika akhir pekan?"
***
Van memasuki ruangan kerja sang Ceo sebelum pergi meninggalkan gedung tersebut menuju kantor kepolisian. Tidak mungkin kan dia hanya menemukan bapaknya sedangkan sahabatnya sendiri justru tidak?
"Yo! Sipaling ngeberontak bokap, gimana kabarnya?" ujarnya sambil duduk di sofa. Enver yang tadinya asyik mengamati foto-foto gadis idamannya, buru-buru menyimpan foto tersebut di laci lalu menghampiri sahabatnya yang datang.
"Hmm...sudah kelar masalah pembunuhan begitu? Tumben cepat! Biasanya butuh waktu berbulan-bulan." Balasnya sembari duduk berhadapan dengan sahabatnya. Van yang mendengar hal itu sejenak tertawa, ia memberitahu sahabatnya mengapa sekarang dirinya dapat menyelesaikan kasus dengan cepat.
...
"Wah hebat dong? Nemu dimana anak itu? Keren ya, masih SMA udah secerdik itu." Enver merasa takjub mendengar segala cerita Van terkait seseorang yang baru menjadi partner. Ini kali pertamanya dia mendengar seorang remaja yang mau bergabung dalam tim kepolisian dan menyelesaikan kasus kriminal yang rumit dan mengancam nyawa.
Jika boleh jujur, Enver pribadi saja angkat tangan ketika dirinya di mintai tolong untuk menyelesaikan kasus kriminal. Di tambah kasus-kasus yang Van tangani, tidak ada satupun yang ringan. Kalau tidak tentang pembunuhan yang di lakukan oleh para pembunuh bayaran atau psikopat, pasti terkait dengan korupsi yang di lakukan para pejabat.
"Tadi, aku sempat mengobrol dengan ayahmu, beliau bilang ingin bertemu dengan bokap nyokap gw di akhir pekan."
"Terus?"
"Udah? Gitu aja?" Van tampak jengkel mendapati respon sahabatnya yang biasa saja, tak seperti harapannya.
"Iya, memangnya apa lagi? Bukankah itu sudah sering kita lakukan? Memangnya kenapa?" Lagi-lagi Enver malah bertanya dengan rautnya yang polos, membuat sahabatnya semakin gregetan. Temannya tidak sepeka dirinya, wajar jika di masa lampau dia tak lulus dari sekolah kepolisian, karena memang tak ada pantas-pantasnya menjadi seorang polisi untuk masyarakat.
...----------------...
Malam harinya, Enver menghentikan mobil di sebuah kedai daging yang tak lama lagi tutup, karena hari semakin larut malam. Dia tak keluar dari dalam mobil, ia memerhatikan pemuda berambut pirang yang bekerja di kedai tersebut. Pemuda itu tipikal ramah dan rajin bekerja keras, dia anak yatim piatu yang harus menghidupi adiknya yang masih duduk di bangku sekolah dasar, serta dirinya yang sebentar lagi memasuki universitas jalur beasiswa.
Dia bekerja dari pukul lima sore hingga jam setengah dua belas malam. Di waktu luang, ia mengisi kekosongan waktu dengan belajar berbagai pelajaran yang di ajarkan di sekolahnya.
Melihat ketekunannya, tak jarang sang pemilik kedai dan para pembeli yang sudah lama berlangganan, memberikan upah atas kerja kerasnya.
"Nama Jimmy, umur delapan belas, kakak pertama dan seorang yatim piatu." Enver mencatat nama beserta beberapa identitas pribadinya. Selepas itu, ia memegang setir mobil, mengendarai mobil pergi menuju pemberhentian akhir sebelum kembali ke rumah.
***
"Ah senangnya dapat banyak uang! Kalau begini, aku bisa masakin makanan enak buat sarapannya besok! Ke minimarket dulu deh," Jimmy begitu bersemangat karena upahnya yang di dapat sangat banyak, tidak seperti hari-hari biasanya walaupun dia juga mendapatkan upah, tip dari pelanggan.
Jimmy berjalan memasuki gang yang gelap dan sepi. Di setiap langkahnya, penuh dengan sampah-sampah berserakan yang membuat dirinya merasa terdorong untuk membersihkan. Ya dia tahu jika apa yang di lakukannya tidak akan menghasilkan uang, tapi, perlu di ingat! Dengan begini lingkungan dan udara terawat.
Kala ia tengah asyik membersihkan jalanan yang di penuhi sampah, sesosok berjas hitam dari dalam kegelapan mendatanginya. Dia menggenggam sebuah batu bata, menghajar Jimmy di bagian dahinya hingga tergeletak pingsan.
Sosok berjas hitam, menggunakan sarung hitam di kedua tangannya sebelum menggeret tubuh Jimmy menuju tempat persembunyian.
Keesokan harinya...
"Sangat enak! Bahkan rasanya melebihi daging ayam, daging babi, maupun daging sapi termahal!" balas sang adik yang girang.
Sementara di sisi lainnya, Klee baru saja duduk santai sembari menyantap sarapan. Namun, dia mendengar kabar dimana kantor kepolisian mendapatkan telepon dari seorang pemuda yang katanya di culik dan di siksa di sebuah tempat. Mau tidak mau, Klee harus mengambil izin untuk menyelidiki kasus tersebut bersama dengan rekan-rekan setimnya.
...
"Bagaimana? Apa kita masih terhubung dengan pemuda itu?" Tanya Klee yang kini berjalan menghampiri Van.
Van bersama beberapa anggota kepolisian juga tim medis sudah sejak lama berkumpul di tengah lapangan. Mereka mencurigai bahwa korban di sekap di dalam ruang bawah tanah tempat pengolahan daging segar.
"Ya, kita masih terhubung dengan dia."
Klee menarik kursi di dekatnya, ia duduk di kursi tersebut dan mencoba untuk berbicara baik-baik dengan pemuda yang menjadi korban.
"Hmmm Jimmy, bisakah beritahu lebih tepatnya titik lokasimu sekarang?"
"Bukankah titikku sudah jelas bahwa aku berada di tempat pengolahan daging? Apa kalian tidak bisa melacak sinyal GPS ponselku?" Jawab Jimmy yang jengkel sekaligus merasa gusar akan situasi yang di alaminya.
"Iya, kami sudah menemukan titik koordinatmu! Tapi bisa gak kamu deskripsikan ruangan tempat kamu berada sekarang?!"
"Aku berada di ruang bawah tanah. Di sini sama sekali tidak ada jendela atau ventilasi, benar-benar tertutup!"
"Terus?"
"Atap ruangan ini berbentuk seperti peti, di sini penuh dengan kantong-kantong besar yang sepertinya berisi daging-daging basi. Hanya itu saja yang bisa ku beritahu."
"Apa kamu mendengar suara dari atas?"
"Tidak."
Klee menoleh ke arah Van usai berbincang singkat dengan korban. Ia mengambil ransel yang di dalamnya sudah ada borgol, beberapa benda tumpul dan tajam, serta beberapa barang-barang lainnya yang berguna untuk penggeledahan.
"Kau ingin langsung pergi, Klee?" Tanya Devin dengan napas tersengal-sengal karena baru saja datang.
"Aku ikut bantu ya, Klee!" sahut Kak Alden yang juga baru tiba.
"Klee, aku bisa bantu hal-hal yang berkaitan dengan teknologi." Sahut Floren yang juga baru tiba.
Melihat kehadiran remaja-remaja SMA, membuat para petugas tercengang. Sementara Van hanya diam dengan raut wajahnya yang masam. Sedangkan Klee tampaknya mengabaikan kehadiran teman-temannya. Dia langsung menyelonong pergi tanpa menghiraukan apapun.
Klee berhenti di depan pintu gudang pengolahan daging segar. Ia mengecek pintu yang telah terpasang sandi yang rumit. Kemungkinan mereka tak bisa menghancurkannya jika bermodalkan benda tumpul.
"Aish pintunya!" gerutu Klee. Van yang baru saja tiba, coba membukanya dengan kode asal-asalan tapi tak terbuka.
Tetapi semua kerumitan itu tak berkunjung lama, karena Floren dapat membobol sandi keamanan dengan ipad kesayangannya. Van cukup kagum akan kemampuannya. Ya meskipun sih rekan detektifnya juga bisa melakukan hal serupa.
"Wah kau hebat! Jangan-jangan kau juga yang membobol website pemerintah?" Tutur Van dengan enteng.
"Detektif sialan!" umpat Floren.
Sedangkan Klee, Devin, dan Kak Alden lebih dulu masuk ke dalam gudang. Mereka berpencar, mencoba mencari pintu menuju ruang rahasia yang kemungkinan adalah tempat Jimmy di sembunyikan.
Van memerhatikan beberapa jejak-jejak di tanah yang tampak mencurigakan. Ia sempat menunjukkannya pada Klee, namun tak sesuai harapan. Klee menduga jejak itu berasal dari sepatu boots para pekerja di gudang.
"Klee, apa kau menghafal setiap bentuk sepatu?" Tanya Van seolah tak percaya dengan dugaan Klee.
"Tidak! Kau saja yang terlalu bodoh sampai tidak bisa membedakan sepatu boots dengan sepatu biasa." Gertak Klee yang menarik perhatian Kak Alden dan Devin sejenak.
Berselang beberapa detik, kini giliran dua anak osis yang menemukan hal aneh di dinding. Devin mendapati sebuah lambang yang di ukir dengan sebatang pulpen. Sedangkan Kak Alden, ia menemukan beberapa tumpuk pakaian wanita yang menurutnya masih bagus dan mahal tapi sudah di bakar oleh seseorang.
"Tak sayang kah membakar baju yang masih bagus?" pikirnya yang bingung. Jika yang melakukannya seorang wanita, sangat di sayangkan, bukan? Lebih baik dia memberikan pakaiannya pada yang membutuhkan.
"Lambang yang baru terukir dengan sebuah pulpen? Kalau Klee tahu, marah banget pasti. Dia kan pecinta pulpen karena seringnya menulis," gumamnya tak berani mengatakan pada crush.
Namun, mau bagaimanapun juga, Klee tetap saja menyadari hal-hal itu. Ia sempat memotret dengan kameranya sebelum kembali menjelajah di dalam gudang pengolahan daging. Sesekali, ia menyuruh Van menghubungi anggota kepolisian untuk membantu mereka melakukan penggeledahan di tempat yang luas ini. Tapi nyatanya Van sengaja tak memanggil petugas kepolisian. Sebab ia ingin berlama-lama di dalam bersama Klee.
Di saat yang lainnya berkeliling, Floren asyik dengan ipadnya dan mencoba untuk membobol beberapa sistem keamanan yang ada di dalam gudang pengolahan daging tersebut. Mungkin saja dengan begitu, mereka dapat menemukan Jimmy lebih cepat. Semua sistem keamanan berhasil di bobolnya dalam kurun waktu singkat. Namun, tak lama mereka juga mendengar suara jeritan remaja dari sebuah ruangan.
"Mungkinkah itu Jimmy?" Tanya Kak Alden yang refleks menatap Klee.
"Bisa saja." Klee lekas berlari menuju sumber suara, di susul dengan Van yang lainnya termasuk juga dengan Floren.
Tiba di sumber suara, mereka menemukan Jimmy yang terjebak di dalam ruangan yang masih terpasang sistem keamanan jauh lebih ketat dan rumit. Tubuhnya di gantung di atas mesin penggiling daging. Klee meminta Floren untuk membobol sistem keamanan. Namun, entah mengapa berkali-kali dia mencoba membobolnya, tak bisa. Sementara di dalam, raut wajah Jimmy panik. Perasaannya tak karuan meski di balik kaca, dia melihat dengan jelas Klee, Van, dan lainnya yang datang membantu.
"Jimmy, tenanglah! Kami akan menyelamatkanmu." Van mencoba menenangkan situasi yang semakin tegang. Terutama ketika mesin penggiling daging yang ada di bawah Jimmy menyala secara tiba-tiba.
"Huhu aku masih ingin hidup! Kalau aku tidak ada, bagaimana nasib Jim?" Jimmy mulai menitihkan air matanya. Ia negatif thinking, juga berharap kejadian buruk yang di bayangkannya tak terjadi.
Klee mengambil beberapa benda tumpul dalam ransel. Ia berusaha memecahkan kaca yang sangat tebal. Walau berkali-kali dia mencoba memecahkannya tetap saja gagal. Tetapi, bukan berarti hanya berdiam diri saja, kan? Dia memerhatikan setiap sudut, barangkali saja ada sesuatu berguna yang dapat menyelamatkan sang korban. Di bantu dengan Van, Kak Alden, dan Devin. Mereka berkeliling sekitar ruangan berulang kali untuk mendapatkan kode membuka ruangan.
Klee masih berusaha memecahkan kaca, hingga Kak Alden membantunya. Melihat hal tersebut, dirinya memilih untuk mengecek benda-benda sekitar. Bisa saja dari benda-benda yang tak mungkin justru malah berguna.
Miau....Miau...Miau...
Seekor kucing putih berjalan melewati mereka. Kucing itu berhenti, duduk di dekat Floren. Seperti pada umumnya, ia berharap di berikan makanan ataupun minuman.
"Ah kucing yang menggemaskan, sini ku beri makan," Floren merogoh saku celananya, mengeluarkan kue kering dan memberikannya pada sang kucing yang kelaparan. Klee melirik, ketika sahabatnya memberikan kue kering pada seekor kucing yang tiba-tiba saja muncul.
"Dia bukan kucing belang, kan?" tanyanya yang membuat sorot mata tertuju padanya. Bahkan si kucing ikut menatapnya.
"Entah. Tapi sepertinya dia gak...."
Klee menghampiri sang kucing, mengangkat tubuhnya lalu memerhatikan benda hitam yang menempel pada sang kucing. Ia menarik benda tersebut perlahan dari bulu yang lembut dan mudah rontok, setelahnya membiarkan sang kucing menyantap kue kering yang tergeletak di lantai.
"Apa itu?" Van mendatangi Klee, ia menatap benda yang sekilas mirip seperti lakban. Klee tak membalas segala pertanyaan yang di ajukan. Dia kembali mendatangi pintu ruangan tempat Kimmy berada, menempelkan benda tersebut ke pintunya tanpa pikir panjang. Dan bum, pintu tersebut terbuka dengan sendirinya. Klee mendorong pintu, bergegas masuk ke dalam menyelamatkan Jimmy. Kak Alden dan Devin, mendorong mesin penggiling sebelum menurunkan Jimmy.
"Kau aman sekarang," Klee merasa puas hati. Korban kali ini berhasil di selamatkan olehnya, tidak seperti sebelum-sebelumnya. Ya meskipun ia sempat menyelamatkan Bella. Van memanggil para tim medis untuk merawat Jimmy yang terluka sekaligus syok akan kejadian mengerikan yang menimpanya.
....
Van, Klee, Devin, Kak Alden, dan Floren berdiri memandangi mobil ambulans yang membawa Jimmy ke rumah sakit untuk di rawat lebih lanjut.
"Kau pasti senang, Klee," Van menoleh ke arah Klee, menyunggingkan senyum tipis sembari menepuk bahu kanannya dengan lembut.
"Berkat Klee, Jimmy selamat! Hebat Klee!!" sahut Devin di sertai tepuk tangan.
Sementara Kak Alden, ia yang awalnya diam refleks menggenggam tangan Klee. Memandang jari-jarinya yang terluka karena percobaan memecahkan kaca beberapa waktu lalu.
"Tanganmu terluka!" Kak Alden mengambil obat merah beserta plester di meja, mengobati luka Klee dengan pelan agar tak sakit. Sedangkan Van yang baru menyadarinya, merasa kesal sendiri.
Beberapa menit berselang, mereka memutuskan untuk pergi ke kantor kepolisian sejenak sebelum menemui Jimmy di rumah sakit. Namun, di perjalanan menuju kantor, Van di hubungi oleh John yang membawakan berita buruk. Menduga bahwa target pelaku ialah Jimmy, nyatanya hal tersebut hanyalah sebuah jebakan. Target sebenarnya ialah Jim yang di temukan tewas mengenaskan di dekat sampah.
***
Para pihak kepolisian dari berbagai divisi, berkumpul di TKP. Beberapa dari mereka memotret barang-barang yang di temukan, tempat kejadian, serta mayat korban yang tidak sepenuhnya ada. Klee bersama Van tiba lebih dulu di lokasi TKP. Mereka keluar dari mobil, mendatangi kerumunan pihak kepolisian yang melakukan penyelidikan.
"Beberapa jari korban menghilang. Mata sebelah kirinya juga tidak ada! Serta organ kelaminnya di potong habis hingga tak tersisa." Deskripsi Kennedy terkait kondisi mayat sang korban. "Saat di temukan, lidah sang korban menjulur keluar. Beberapa giginya juga di putus secara paksa menggunakan kunci inggris yang di temukan di TKP." Tambah Kennedy.
"Aish benar-benar mengerikan. Kasihan sekali, jangan biarkan Jimmy mendengar kabar ini," gumam Van yang merasa kasihan dengan kejadian yang menimpa remaja yatim piatu tersebut.
"Sudah cek kamera cctv sekitar?" Tanya Klee tegas.
"John baru mengecek kamera cctv di kedai daging tempat Jimmy bekerja, dan minimarket. Selebihnya belum."
Klee diam sepatah kata. Hingga ia memutuskan untuk mengecek kembali TKP sebelum pergi ke beberapa titik lokasi untuk melihat rekaman dari kamera pengawas.
Selang beberapa menit, Klee menemukan beberapa barang yang mungkin berguna dalam proses penyelidikan. Terdapat tas yang di duga milik Jim, sebuah sumpit dan garpu, jam tangan pria dewasa bermerek, juga setangkai bunga mawar hitam dengan noda darah di beberapa sisi kelopak bunga. Dia menyerahkan barang-barang tersebut pada tim forensik, kemudian berkeliling mengecek kamera pengawas di sekitar TKP.
...
"Bagaimana jika Jimmy tidak selamat? Apakah nasib buruk juga menimpa, Jim?" tanya Klee pada Van yang tengah mengamati foto jasad korban.
"Mungkin saja? Berarti di gudang tadi, ada seseorang yang mengawasi kita?"
"Ya, bisa saja pelaku tidak bergerak sendirian. Tapi mengapa, dia menargetkan Jimmy dan adiknya? Tidak mungkin anak sekecil dia memiliki musuh berbahaya seperti ini. Kecuali jika dia memiliki kedua orang tua, kemungkinan pelaku adalah musuh ayah atau ibunya."
Van terpaku dengan perkataan Klee. Ia merenungkan kalimat yang terlontar sebelum memberikan jawaban. "Tapi bisa saja ada seseorang yang membenci Jimmy diam-diam. Seperti rekan kerjanya?" Balas Van spontan.
"Baiklah, berarti setelah menyalin rekaman cctv, kita akan menginterogasi warga setempat, orang-orang yang mengenal atau mungkin pernah bertemu sekali dua kali dengan Jimmy maupun adiknya, Jim." Tutur Klee yang di balas anggukan dengan Van.
Sedangkan di sisi lainnya, kala pihak kepolisian sibuk mengurus kasus, berbeda dengan Enver yang asyik menonton rekaman mengerikan dari laptopnya.
"Hah menyenangkan sekali jika membunuh korban apalagi jika yang tidak saling mengenal. Dengan begitu, polisi juga susah untuk menangkap pelaku, bukan?" Ia tertawa di dalam ruangan yang hening.
***
"Saya sangat-sangat berterimakasih. Kalau tidak karena kalian, saya tidak ada di sini sekarang," tutur Jimmy seraya membungkukkan tubuhnya sebagai rasa hormatnya pada Klee, Van, dan Devin.
Kak Alden dan Floren hanya bisa melihat hal tersebut dari jauh. Mereka tak bisa membayangkan bagaimana kondisi Jimmy setelah mendengar adiknya tewas secara tragis. Sementara dirinya berhasil di selamatkan.
"Iya, sama-sama. Tidak seharusnya kamu berterimakasih, ini sudah menjadi wewenang kami melindungi masyarakat." Balas Klee yang tetap tegar meski di pikirannya terlintas bayangan jika dia beritahu perihal adiknya.
"Ngomong-ngomong, apakah kalian melihat ponselku? Aku ingin menghubungi adikku. Pasti dia sangat mencemaskanku karena semalaman tak pulang." Mendengar kata-kata yang terlontar, membuat Van semakin tak tega menyampaikan kabar buruk itu. Sementara Devin sudah ingin menyampaikan, tapi Van selalu menghentikan.
"Ponselmu sekarang rusak." Ketus Devin yang mau tidak mau harus berbohong untuk sementara.
"E-eh? Rusak?!"
Dari raut wajahnya, ia tampak tak percaya dengan apa yang Devin ucapkan. Tapi pada akhirnya ia memilih memercayai di bandingkan memperpanjang masalah yang terbilang sepele.
"Baiklah kalau begitu. Aku tidak sabar pulang! Pasti adikku sangat merindukanku." Jimmy kembali berbaring di atas ranjang, menyelimuti dirinya dengan selimut rumah sakit yang di sediakan. Van memilih keluar lebih dulu daripada berlama-lama di dalam ruangan yang hanya akan merusak suasana hatinya. Begitupun dengan Devin yang tak lama keluar.
Klee masih berada di dalam. Ia bimbang antara menyampaikan kabar itu sekarang atau nanti saja? Tapi berhubung lagi di rumah sakit, ada dokter yang bisa menangani Jimmy jika syok mendengar kabar buruk tersebut.
"Ah Jimmy, ada sesuatu yang ingin kusampaikan." Klee menarik kursi, ia duduk di dekat Jimmy.
"Iya? Katakan saja, mengapa terlihat ragu-ragu begitu?" Jimmy heran akan sikap Klee yang berbeda dari sebelumnya.
Klee menundukkan kepala, mengatur napas sejenak. Sekilas ia menatap jam tangan lama yang di kenakannya. Berselang setelah itu, raut dan sikapnya kembali dingin seperti biasanya. Tanpa banyak bicara, dia dengan enteng menyampaikan apa yang ingin di sampaikan sedari kedatangannya ke rumah sakit.
...
"Kau bercanda?" Jimmy seolah tak percaya mendengarnya. Di tambah ekspresi dan sikap Klee yang dingin, tak ada sedih-sedihnya sedikitpun.
"Mana mungkin aku bercanda, hah?! Nyatanya memang begitu. Perlukah aku membawamu ke ruang forensik agar kau melihat mayat adikmu itu?!" pekik Klee yang membuat Jimmy diam seribu bahasa.
Van, Devin, Kak Alden, dan Floren yang menyaksikan dari luar juga di buat tak bergeming. Bisa-bisanya Klee menyampaikan kabar menyedihkan dengan enteng bahkan membentak lawan bicaranya yang sedang berduka? Hatinya beku atau memang tak berperasaan?
"Hah dia gak ada pantas-pantasnya jadi psikolog! Gitu dulu dia bercita-cita menjadi sikolog. Bisa-bisa kabur semua pasiennya." Gerutu Floren yang sudah capek dengan sikap sahabatnya.
Sedangkan Devin yang sempat tertawa mendengar gerutu Floren, kini ia memutuskan masuk ke dalam menjemput Klee keluar daripada crushnya berulah, bertikai dengan Jimmy yang larut dalam kesedihan.
"Klee, ayo keluar. Masih banyak hal yang harus kita lakukan," ajak Devin dengan tenang dan lembut agar tidak kena semprot oleh crushnya yang dingin dan garang.
"Ah ya kau benar juga!" balas Klee singkat. "Bye bye Jimmy." Lanjutnya sembari pergi dengan Devin.