
Berjas hitam rapi, dia mendekatkan dirinya pada seorang gadis bergaun putih di hadapannya kala itu. Perlahan ia membuka sehelai kain yang menutup wajah lalu mengecup kening sang gadis dengan lembut. Ia membelai rambut wanita manis nan imut di hadapannya dengan senyum tipis di wajah.
"Mulai sekarang, kamu istriku," kata-kata manis terlontar dari bibir kering nya. Dia kembali tersenyum dan kini mengelus lembut pipi wanita nya.
Para tamu yang hadir, merasa senang menyaksikan sepasang kekasih yang telah resmi menjadi pasangan seumur hidupnya. Berharap, mereka juga akan mengalami saat-saat seperti itu di masa depan.
"Peringatan! Baterai tersisa 20%"
....
"Sial lagi-lagi terjadi. Lagi seru-serunya lho!" Sambat gadis berambut ikal mengenakan kacamata yang duduk di samping ku. Aku menghela napas panjang, meraih ponsel yang ku senderkan di botol minum lalu melempar nya masuk ke dalam ransel.
"Ya udah sih gak usah marah, cuma adegan gitu." Balasku ketus yang membuat nya sedikit jengkel.
"Ya menurut mu itu cuma adegan biasa, tapi menurutku itu adegan luar biasa! Kau tahu sendiri betapa tersiksa nya tokoh utama sepanjang series," ucapnya yang membela sang tokoh utama dari series yang baru saja kami tonton.
Aku menghela napas panjang mendengar apa yang diungkapkan. Kami selalu saja berbeda pendapat dalam hal seperti ini. Meski begitu, hubungan persahabatan kita juga sudah lama terjalin. Aku maupun dia sama-sama sudah saling mengenal lebih dalam satu sama lain. Tapi tak bisa dipungkiri, banyak perbedaan yang terkadang menjadi sebuah perdebatan.
Seperti halnya Floren yang menyukai hal-hal manis baik itu di kehidupan maupun dengan makanan kesukaan nya, dia juga bucin jika menyukai seseorang. Berbanding terbalik denganku yang menyukai hal menantang, kegelapan, dunia kriminal dan semacamnya, aku juga bisa dibilang buta dalam masalah percintaan.
Menurutku hal-hal manis seperti yang diinginkan sahabatku, hanya ada di dunia webtoon dan novel. Tidak akan pernah terjadi di dunia nyata, itu semua hanyalah ilusi semata. Kenyataannya, dunia ini penuh kepahitan, kekerasan. Dan kita harus terlatih kuat untuk menghadapi itu semua. Walau aku tahu, betapa sulitnya menghadapi rintangan-rintangan itu. Tak jarang orang-orang lebih memilih mengakhiri nyawa nya begitu saja daripada terus berjuang.
Tetapi dari lubuk hati terdalam aku memiliki keyakinan bahwa semua ini akan berjalan mudah dan berakhir bahagia jika terus berusaha. Ya tapi banyak juga hasil yang mengkhianati kerja keras, aku tidak bisa menyangkal nya. Kembali lagi ke keberuntungan seseorang.
"Klee, kau sibuk gak nanti?" Floren menatapku dengan penuh harapan, aku sudah tahu maksudnya.
"Memangnya kenapa? Mau jalan?" balasku singkat dengan raut datar. Ia lantas terkekeh, lagi-lagi aku mampu menebak isi pikiran nya.
"Tahu aja! Yuk nanti jalan, gabut nih. Kamu juga gak sibukkan?"
Aku terdiam memandang dia. Sejujurnya aku malas bepergian setelah pulang sekolah, namun di sisi lain juga tak tega menolak ajakan nya begitu saja. Dia benar-benar seperti anak kucing yang berharap untuk diberi makan oleh sang babu.
"Ah baiklah." Dengan terpaksa aku menerima nya. Meski begitu, aku juga senang melihatnya yang tertawa bahagia ketika mendengar keputusan ku, dia benar-benar nampak seperti anak kecil kegirangan. Aku menyukai situasi seperti sekarang.
Di tengah situasi itu, selalu saja ada yang mengganggu. Ketua Kelas tiba-tiba saja datang dan menyuruhku pergi ke kantor untuk menghadap ke Kepala sekolah. Mendengar pemberitahuan tersebut, satu kelas seketika menyorotku. Aku yang pendiam dan tidak pernah berulah tiba-tiba saja disuruh menghadap ke Kepala sekolah, siapa yang tak heran?
Aku beranjak berdiri, melangkah pergi dengan didampingi Ketua Kelas. Floren berniat untuk menemani ku, dia nampak begitu cemas. Tapi aku menenangkan nya lalu pergi berdua dengan Sang Ketua.
Tibanya di depan ruangan, aku dan Si Ketua Kelas bergegas masuk ke dalam, berhadapan dengan Kepsek yang telah menunggu sejak tadi.
"Ini anaknya, Pak." Ketua Kelas menunjuk kearah ku yang berdiri di sebelah kiri. Pak kepsek mengangguk pelan kemudian memintanya untuk keluar, biarkan dia berbincang hanya denganku tanpa ada siapapun yang mendengar. Walau sebenarnya begitu penasaran, pada akhirnya Sang Ketua Kelas mengikuti permintaan Kepsek dan memilih menunggu di luar ruangan.
"Kenapa bapak memanggil ku?"
Aku bertanya dengan tegas yang membuatnya tiba-tiba saja tertawa. Ia beranjak berdiri dari kursi, menghampiriku kemudian membelai rambutku. Melihat tingkah nya, aku menduga bahwa dia menyimpan pikiran buruk. Haruskah aku memberikan pelajaran pada bajingan sepertinya?
"Klee..."
"Klee, kamu kok semakin hari semakin cantik, ya? Bahkan hari ini, bapak ngerasa kamu benar-benar terlihat sangat cantik."
Aku menghela napas panjang, menatapnya dengan raut wajah datar lalu bertanya balik. "Intinya aja deh, mau pinjem duit, kan?!"
Dia terkekeh mendengar ucapan ku. Lagi-lagi aku dapat menebak isi pikiran orang begitu saja, ya karena sudah terlihat juga dari tampang yang menyebalkan nya.
"Hehehe iya nih. Paman belum gajian, pengen ngajak Bu Lexa jalan-jalan gitu. Nanti kalau udah ada, paman balikin kok," tutur nya.
"Haish ya udah deh!" aku mengeluarkan dompet dari saku rok, memberikan beberapa lembar uang padanya. "Dimana-mana tuh paman ngasih uang ke ponakannya, bukan pinjem uang!"
"Hehehe ya udah maaf ya, janji gak minjem lagi kok."
"Heleh!" Aku bergegas keluar dari ruangan, menemui Ketua Kelas yang sedari tadi menunggu. Kami melangkah menuju kelas.
Sepanjang perjalanan kami, perlahan ia membuka topik pembicaraan agar suasana di antara kami tidak terasa kaku. Entah mengapa setiap kali bersamaku, dia sebisa mungkin menghabiskan waktu berbincang lebih lama denganku. Juga setiap kali melihatku, dia seolah mencari cara untuk dekat-dekat denganku. Menyebalkan terkadang melihat tingkah laku nya.
"Klee, kamu sekarang update novel yang mana aja? Kayaknya udah banyak yang end, ya?" tanya Devin dengan tenang. Aku mengangguk perlahan mendengarnya.
"Iya udah banyak yang end, jadi aku sudah mempersiapkan beberapa novel baru." Balasku ketus. Dia tertawa tipis mendengarnya.
"Kau penulis terbaik, meskipun ending cerita yang kau buat selalu berakhir mengenaskan."
"Ya suka-suka aku, aku kan penulisnya."
Lagi-lagi dia terkekeh mendengar ucapanku. Setelahnya, dia menaruh telapak tangan kanannya di atas kepalaku. Devin menepuk kepalaku secara perlahan sembari tersenyum bak seperti malaikat.
"Kamu itu gadis lucu yang tidak akan pernah ku lupakan!"
Dia mengucapkan nya dengan lembut di hadapan ku.
"Apaan sih?! Gak jelas banget dah!" Tidak seperti kebanyakan, aku melihatnya nampak menjengkelkan bukan seperti orang lain yang melihatnya dan menyamakan nya dengan sosok malaikat. Aku lantas pergi dari hadapannya.