Say Love And Solve Cases

Say Love And Solve Cases
Chapter 1 (Berandal Sialan)



***


Beberapa jam kemudian...


Bel sekolah berbunyi, waktu yang telah ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Para murid bergegas merapihkan barang-barangnya dan bergegas untuk kembali ke rumah masing-masing.


Berbeda dengan para Ketua Kelas yang harus menghadiri pertemuan dengan para Osis untuk membicarakan hal terkait perkembangan Kelas mereka masing-masing. Dan Klee juga Floren, keduanya lantas ke halte bus untuk pergi menonton bioskop. Sebelum itu Floren berniat pergi ke minimarket terdekat, membeli beberapa camilan dan membayar tagihan WiFi yang ia gunakan.


Tentunya sebagai sahabat baik, Klee mengantarkan nya. Namun mereka harus masuk ke dalam gang yang penuh dengan berandalan untuk sampai di minimarket. Karena hanya itu juga satu-satunya jalan pintas yang dapat mereka lalui daripada harus berjalan jauh. Sesuai yang telah diduga, baru saja berada di ujung gang, mereka melihat para berandalan yang berkumpul dan menjalankan berbagai aktivitas. Namun dengan berani, Klee menarik tangan Floren, berjalan melewati para berandal yang ada.


Namun baru saja sampai di tengah gang, langkah mereka dicegat oleh para berandalan brengsek.


"Wah...Wah...Wah...Lihat! Dua gadis cantik dengan berani melewati kita."


Klee diam tak berkata. Sorot matanya tajam, membuatnya di tertawakan oleh para berandal di sekelilingnya.


"Lihat gadis ini, sorot mata nya sangat tajam, ya? Berbeda betul dengan temannya yang berkacamata, benar-benar gadis cupu!"


Para berandalan menertawakan Floren di hadapan Klee. Di kala itu juga, salah seorang murid memergoki nya. Namun dia tak bisa berbuat lebih, mengingat jumlah para berandal yang cukup banyak jadi dia memikirkan cara lain untuk menyelamatkan mereka berdua.


"Itu crush nya Devin, kan?! Gawat, gw harus kasih tahu sebelum terlambat!" Ia bergegas pergi, melaju dengan sepeda motor nya menuju sekolahan.


Floren mengajak Klee untuk memutar jalan dan memilih untuk kembali ke sekolah, khawatir mereka akan mengikuti nya. Namun Klee menolak dan tetap kekeuh untuk pergi ke minimarket sesuai tujuan awal mereka. Melihat temannya yang keras kepala, dia terpikir rencana lain yang mungkin dapat menyelamatkan nya juga sahabatnya.


"Ah kak, apa kakak butuh uang? Kalau iya, aku akan memberikan semua uang yang ku bawa pada kakak!" Mendengar ucapan nya, para berandal itu tergelak yang membuat Klee semakin jengkel.


"Haha sayang nya, kami tak butuh uang saja. Kami juga harus memenuhi hasrat." Dia melirik kearah Klee yang sedari tadi menatapnya dengan tajam. Hingga para berandal itu mulai bertindak, mereka mencengkram tangan Floren secara bersamaan.


Sedangkan di sisi lainnya...


Devin tengah membaca selembar kertas dokumen sembari duduk di samping ketos, Kak Alden. Keduanya sama-sama sedang membaca selembar dokumen yang tertulis berbagai laporan juga sebuah rancangan ke depan nya. Di kala ketenangan itu, salah seorang murid yang sebelumnya memergoki Klee bersama para berandal, datang dan langsung menemui mereka.


"Devin, Klee dikeroyok sama berandal di gang samping tuh." Ungkapnya yang membuat Devin juga Alden lantas menatap. Keduanya refleks berdiri dan pergi berbarengan untuk menyelamatkan Klee.


***


Di sisi Klee, kini ia mengikat rambut panjangnya yang terurai. Dia meraih ransel nya yang tergeletak di tanah lalu menggendong nya seperti sedia kala. Sejenak ia menyentuh rambutnya, memandangi noda darah yang menempel di rambut.


"Astaga, seharusnya tadi aku mengikat rambut terlebih dahulu sebelum memukul para cecunguk brengsek." Gerutunya. Di sisi kiri, Floren yang diam membatu lantas menatap lalu mendatangi nya. Ia mencengkram pergelangan tangan yang membuat Klee jengkel.


"Hmm apaan sih?!" Klee menepis tangan Floren, merapihkan rok nya yang berantakan.


"Apakah aku sedang bermimpi?" Tanyanya singkat, Klee refleks menatapnya.


"Tidak! Kita memang betulan di dunia nyata, bukan alam mimpi mu!"


"Tapi kau..."


Di tengah perbincangan, Devin dan Kak Alden datang dengan tergesa-gesa. Mereka terpaku mendapati para berandal yang telah tergeletak di tanah, sedangkan Klee sendiri baik-baik saja sekarang.


"Klee, kau baik-baik saja?" Devin menghampirinya, mengecek kedua tangan Klee dan mendapati bekas cengkraman di pergelangan tangan.


"Ini pasti ulah nya!" Ia melirik kearah berandal yang tergeletak di dekatnya, dia berniat untuk menghajar nya. Namun sebelum hal itu terjadi, Klee menghentikannya bahkan mengatakan bahwa kemungkinan besar para berandalan tersebut akan mengalami cacat sementara.


"Udah biarin, gak usah di hajar lagi karena mereka bakal cacat sementara. Ya mungkin sekitar setahun, itupun paling cepat!" tuturnya membuat Devin diam seribu bahasa. Kak Alden yang sedari tadi memerhatikan sekeliling kini menghampiri Klee dan mengecek kondisi nya. Tak sampai di situ, ia juga menawarkan diri untuk mendampingi adik kelas kesayangan nya.


Tapi sayang, tawaran tersebut ditolak mentah-mentah oleh Klee. Ia berniat untuk pergi berdua dengan Floren tanpa ada yang mendampingi nya. Kecuali jika mereka memang mau bergabung untuk nobar film bersama, ia tidak begitu mempermasalahkan nya.


"Kalau begitu, aku gabung nonton deh! Lagipula akhir-akhir ini disibukkan banyak tugas jadi butuh waktu refreshing," sahut Devin.


"Ah Klee sepertinya itu ide yang bagus! Kebetulan beberapa minggu terakhir banyak sekali kegiatan yang harus ku urus. Aku ikut ya," ucap Kak Alden.


Floren tertawa mendapati situasi tersebut. Apa yang ia lihat di drama kini menjadi kenyataan dan dialami oleh sahabat nya sendiri. Mungkin jika dirinya berada di posisi Klee, dia takkan menyia-nyiakan kesempatan itu. Namun melihat karakter sahabat nya, sepertinya kisah cinta dua pria populer sekolah hanya akan berakhir tragis.


Dengan berat hati, Klee mengiyakan keinginan Devin juga Kak Alden. Keempatnya pun bergegas pergi ke minimarket sebelum akhirnya kembali ke halte bus.


Singkat cerita, mereka tiba di mall. Keempatnya bergegas masuk ke dalam dan melanjutkan langkah nya menuju bioskop dengan menaiki lift mall. Di dalam lift, Kak Alden tak berhenti memandang Klee, Devin jengkel melihat nya. Sedangkan Floren yang sadar akan situasi itu, hanya bisa tertawa diam-diam.


"Klee, kita mau nonton film apa?" Tanya Devin yang berusaha mencairkan suasana sekaligus mengompori Kak Alden.


"Nonton film crime."


"Oh film crime? Seru dong, ah sepertinya aku tahu film apa yang kamu maksud," Balas Kak Alden dengan penuh semangat.


"Kalau udah tahu, kenapa masih ikut nonton?!"


Mendengarnya membuat Kak Alden diam seribu bahasa. Devin refleks menertawakannya, ia sungguh senang melihat sikap dingin yang Klee terapkan juga dengan Kak Alden. Jadi dia tak begitu khawatir jika di masa mendatang, Sang Ketos merebut crush nya. Dan Floren sempat tercengang ketika Klee melontarkan kalimat yang tak seharusnya diucapkan pada Kakak Osis nya. Namun di sisi lain, ia juga sudah menduga inilah yang akan terjadi.