Say Love And Solve Cases

Say Love And Solve Cases
Chapter 4 ( Seni Patung )



"Astaga kau benar-benar gadis SMA garang yang berani denganku seperti ini."


"Huh memangnya kau siapa hah?! Mau presiden sekalipun, aku juga tidak peduli! Sebaiknya kau keluar dari sini sebelum aku kehabisan kesabaran!" Gertak Klee sembari meraih sapu di dekat Owen.


Van menghela napas panjang, ia mencoba mengontrol dirinya sejenak sebelum menghadapi Klee dengan perlahan hingga dia melunak, tidak emosian seperti sekarang. Namun nampaknya sang gadis SMA begitu kesal padanya bahkan sudah hampir menimpuknya dengan sapu. Kalau bukan karena Owen yang menghentikannya, mungkin itu akan terjadi.


"Hu gadis SMA, bisakah kau tenang sedikit? Aku hanya bercanda hehehe. Btw, kau sudah makan belum? Bagaimana kalau misalnya kita makan malam bareng sambil ngobrol? Ada hal yang ingin kubicarakan, ini berkaitan dengan kriminal." Tutur Van yang membuat Klee perlahan tenang.


Selang beberapa menit, Klee, Van, juga Devin duduk di luar minimarket untuk menikmati mie rebus yang di seduh dan sekotak ayam goreng, sembari berbincang terkait kriminal.


"Jadi apa yang ingin kau katakan?" Tanya Klee tegas sambil mengetuk meja dengan gelas kopinya.


"Baiklah, sebelumnya siapa namamu?" Tanya balik Van yang menyunggingkan senyum tipis pada Klee.


"Klee," balasnya singkat dengan raut datar. "Udah ah jadi intinya kau mau bicara apa, hah?!" Lanjutnya seraya mendobrak meja. Di kala Klee merasa jengkel, sementara Devin justru asik menyantap ayam goreng. Ia juga sempat masuk ke dalam menemui Owen, memberikan ayam goreng padanya.


Van yang tadinya tenang kini kembali serius, namun tidak seserius ketika ia bersama dengan rekan setim atau dengan para detektif di kantor kepolisian. Mengingat lawan bicaranya yang seorang gadis SMA, ia harus hati-hati saat bicara.


Dia memberitahu Klee terkait beberapa kasus pembunuhan yang akhir-akhir ini meneror kota. Tak tanggung-tanggung ia menunjukkan beberapa dokumen laporan kasus pembunuhan, ringkasan lokasi TKP dan barang bukti yang di temukan, serta hasil tes forensik pada mayat dan barang-barang tersebut. Ia sengaja menunjukkan itu semua agar penjelasannya lebih mudah untuk di mengerti.


Tujuannya menemui Klee adalah mengajaknya untuk bergabung dalam timnya dan mereka akan memecahkan segala kasus kriminal bersama. Baik itu kasus kriminal pembunuhan maupun yang lainnya. Dia melakukan hal itu karena merasa Klee pantas untuk menjadi partner kerjanya dalam menangani kasus meski ia baru duduk di bangku SMA. Dari kinerja, pola pemikirannya, Van jadi semakin tertarik untuk merekrutnya sebagai partnernya.


Jujur Klee tak menyangka bahwa ia akan di tawari menjadi partner kerja seorang detektif dan membantunya menyelesaikan kasus kriminal. Tak pernah terpikirkan hal seperti ini akan terjadi dalam hidupnya. Mungkin kalau bukan karena Devin yang tak sengaja menendang kaleng, hal seperti ini tidak akan terjadi.


Namun menurut Klee, penilaian Van terhadapnya cukup berlebihan. Pendapat dia terkait kasus pembunuhan yang tak sengaja ia selesaikan itu termasuk kasus yang terbilang ringan. Anak kecil pun bisa mengira bahwa sang pelaku masuk ke hutan untuk melarikan diri dari kejaran polisi. Tempat persembunyiannya juga terbilang mudah untuk di temukan, karena rumah gubuk itu adalah satu-satunya tempat yang paling aman untuk bersembunyi. Kecuali jika pelaku membuat ruang rahasia di dalam pohon dan tanah.


Tetapi Van tetap kekeuh ingin merekrut Klee sebagai partner kerjanya. Ia yakin, bahwa ke depannya akan banyak kasus kriminal yang terselesaikan karena bantuannya. Saking inginnya dia untuk merekrut Klee, ia menawarkan sejumlah uang dengan nominal besar sebagai penghasilannya perbulan.


Ia melakukan hal seperti ini agar bisa memudahkannya menyelesaikan kasus-kasus yang tak kunjung usai dan justru terus bertambah. Dia ingin semuanya berakhir agar negara ini bisa terus berkembang di dunia yang kian berubah. Ya seperti yang mereka tahu, pelaku pembunuhan berantai ini lebih menargetkan remaja di bandingkan yang sudah dewasa atau lansia.


"Jadi Klee, kamu mau menerimanya?" Tanya Van. Dari lubuk hati terdalam, ia sangat berharap Klee menerima tawarannya tersebut. Dia siap melakukan apapun jika mereka menjadi partner kerja nanti.


"Hmm...Sebenarnya aku tak pernah menduga hal seperti ini akan terjadi. Tak sengaja menyelesaikan kasus pembunuhan, malah di tawari untuk bekerja sebagai detektif sepertimu di usia muda yang tak memenuhi prosedur hukum. Hu...Jadi intinya, aku menerimanya." ungkapnya yang membuat Van kegirangan. "Tapi aku melakukan ini bukan karena uang yang kau tawarkan, ya!" Lanjutnya tegas.


Van mengangguk pelan, ia sangat senang karena Klee mau menerimanya. Dengan begini juga, dia bisa menjalin hubungan lebih dekat hingga mereka duduk bersama di pelaminan.


Sedangkan Devin saat itu tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Karena sebelum Van memulai perbincangan, ia masuk ke dalam minimarket dan justru mengobrol dengan Owen sembari menikmati mie rebus. Dia merasa tak tega melihat Owen yang berjaga sedangkan yang lainnya bersantai di luar minimarket.


***


Satu jam kemudian...


Owen menitipkan kunci minimarket pada karyawan yang mengambil shift malam hingga pagi. Setelahnya ia menemui Klee, Devin, dan Van yang telah menunggu di luar.


"Sudah malam, aku pulang lebih dulu ya." Ujar Owen sambil tersenyum. Klee dan Devin hanya mengangguk, ia lantas bergegas pergi lebih dulu.


Kini tinggallah mereka bertiga. Klee berniat untuk pulang dengan menaiki taxi yang mungkin masih ada berlalu lalang di jalan, karena sekarang sudah larut malam jadi juga sudah susah mencari kendaraan umum.


Devin menawarkannya untuk pulang bersama, jalan pulang mereka juga searah. Begitupun juga dengan Van yang mau mengantarkannya dengan mobil. Meskipun begitu, justru Klee malah menolak tawaran keduanya dan hanya ingin pulang sendiri. Walau di tolak, Devin dan Van justru menemaninya hingga taxi datang. Mereka juga mengikutinya sampai di depan komplek.


Klee sedikit risih dengan tingkah mereka. Ia berniat untuk mampir ke rumah Floren sebentar jadi gagal karena ulah keduanya yang membuntuti. Di tambah supir taxi yang mengira bahwa dia habis putus dengan pacar hingga di buntuti.


"Aish shibal! Tuh orang berdua, awas aja ya." Gerutunya sembari masuk ke dalam rumah. Dari jauh, Devin memerhatikannya. Ia senang melihat Klee yang pulang dengan aman sampai rumahnya.


"Ah kuharap kau bermimpi indah, bidadariku." gumamnya. "Waktunya pergi ke pemberhentian berikutnya!" Lanjutnya seraya mengenakan helm lalu mengendarai motornya pergi dari kompleks perumahan Klee.


***


Satu...Dua...Tiga...


Dia berlari dengan kencang di dalam gedung yang gelap dan sunyi. Ia berlari sembari menutupi jalan yang telah di lewatinya, agar orang tersebut tidak dapat mengejar dan menangkap dirinya. Walau napasnya terengah-engah dan memiliki asma, ia tetap berlari sekencang mungkin di dalam gedung yang sangat luas. Ia menuruni puluhan anak tangga, melewati lantai gedung yang kosong.


Tak peduli jika ada hantu yang menakutinya sekalipun, karena ada yang lebih menyeramkan daripada hal itu. Sepatu yang di kenakannya juga dia lepas agar lebih fleksibel saat berlari menuruni anak tangga yang seolah tak ada habisnya. Rok yang di kenakan dia lepas dan di biarkan tergeletak di lantai anak tangga. Beruntungnya saat itu dia menggunakan celana legging sebagai dalaman roknya.


"Kenapa? Kenapa aku harus mengalami hal ini?! Aku salah apa?!" Kedua matanya berlinang air mata. Ia ketakutan, panik, dan mulai sesak napas karena tak berhenti berlari.


Hingga tiba dirinya di lantai satu. Ia berhenti sejenak untuk mencari pintu keluar, usai menemukannya baru dia kembali berlari menuju pintu tersebut. Suara petir terdengar menggelegar, membuatnya semakin tambah risau kala itu.


Ia melewati pintu keluar dan terus berlari menuju gerbang sekolah. Namun naas nya, sebelum sampai di gerbang, ia justru tersandung dengan tumpukan pot bunga di sekitar jalan. Kepalanya membentur salah satu pot, tapi tetap berusaha untuk bangkit dan berlari. Namun hari itu keberuntungan tidak sedang memihaknya. Yang ia takuti sedari tadi, telah berdiri tepat di hadapannya.


"Lepaskan aku."


Sesosok berjubah hitam tak mengatakan sepatah katapun. Ia mendekati gadis itu, menusukkan jarum suntik di leher anak SMA yang duduk bersimpuh di hadapannya. Gadis SMA itu terpaku, sebelum akhirnya ia berteriak dan mengalami kejang-kejang hingga kedua matanya mengeluarkan darah yang cukup banyak. Sosok berjubah hitam menyeret tubuhnya sebelum darah sang gadis mengotori tanah.


...


Keesokan harinya...


Klee tertidur nyenyak dengan memeluk guling. Di atas kepalanya terdapat buku novel yang baru saja ia baca semalam sebelum dirinya tertidur pulas. Perlahan ia membuka kedua matanya, merasa ada sesuatu di ranjangnya selain bantal, guling, dan selimut.


"Baa...."


Kedua matanya terbelak lebar. Ia sontak bangun dari tidurnya, berdiri di dekat ranjang sembari menatapi sosok yang tengah rebahan di atas ranjangnya. Beberapa detik berselang, ia mengenali sosok tersebut yang tak lain adalah Van.


"Ahh shibal!" umpatnya sembari melempar guling ke Van. "Oi, kenapa kau ada di ranjangku?! Apa yang telah kau lakukan brengsek?!" Tanyanya yang kesal. Van tergelak melihat tingkahnya yang menggemaskan. Ia beranjak berdiri lalu meraih dokumen yang tergeletak di atas meja.


"Karena kau sudah menjadi partner kerjaku, jadi sekarang waktunya bertugas! Pagi ini aku dapat laporan pembunuhan di sekolah yang bisa di bilang sangat mengerikan sekaligus menakjubkan. Dan baru aku yang tahu! Karena pihak sekolah tak berani menghubungi kepolisian." Jelas Van sembari menunjukkan dokumen laporan pada Klee.


"Lalu kau tahu darimana?" Tanya Klee polos.


"Aku kenal dengan salah seorang siswi di sana. Dia adalah anak yang sering di bully oleh teman sekelasnya dan kakak kelasnya. Dan asal kau tahu saja, yang jadi korban pembunuhan ini adalah sahabatnya yang juga seringkali mengalami pembullyan. Maka dari itu pihak sekolah belum berani melaporkannya pada kepolisian karena menduga bahwa pelakunya adalah murid dari sekolah mereka sendiri." Ungkap Van secara mendetail.


"Baiklah aku akan bersiap. Tapi hari ini aku sekolah."


"Aku sudah mengirimkan pesan pada wali kelasmu, kau izin selama beberapa hari ke depan."


"Bagaimana kau tahu wali kelasku?!"


"Aku tanya Devin semalam." Singkat Van yang membuatnya terpaku. Klee menghela napas panjang kemudian menyuruhnya untuk keluar dari kamarnya. Van menuruti keinginannya, sebelum itu ia menyuruh Klee untuk mengenakan baju yang telah di belinya dan ia gantung di dekat lemari pakaian.


...


"Astaga aku harus mengenakan setelan jas hitam ini?" Gumam Klee menatapi pakaian yang di berikannya.


Sepuluh menit kemudian, Klee menemui Van yang menunggunya di ruang keluarga. Dia pergi ke dapur untuk membuat sarapan, tapi sang detektif menghentikannya karena ia telah membeli sarapan lebih dulu. Pada akhirnya mereka menyantap hidangan sarapan bersama dalam kurun waktu singkat, lalu bergegas menyiapkan barang yang harus di bawa sebelum keluar.


Ketika di luar dan akan pergi, mereka bertemu dengan Devin yang sedari tadi menunggu. Tentu kedatangannya itu karena ingin mengantarkan Klee ke sekolah seperti kemarin. Ia tercengang mendapati Van yang keluar dari dalam rumah crushnya. Di tambah Klee yang mengenakan setelan jas hitam sepertinya, membuat ia bingung.


"Eh? Kalian mau kemana? Klee, kenapa ada dia di sini? Kenapa kamu juga tidak mengenakan seragam?" Tanya Devin dengan polos.


"Hari ini aku izin karena mau ngurus kasus pembunuhan."


"Kasus pembunuhan?"


Klee mengangguk pelan yang membuat Devin terpaku. Dia mencerna otaknya sejenak sebelum akhirnya, "Aku ikut!"


Van yang mendengar refleks melarangnya. Ia melakukannya agar bisa bermesraan dengan Klee di kala mereka tengah sibuk menangani kasus. Tapi Devin kekeuh ingin bergabung dan mendampingi crushnya. Ia menambahkan bahwa dirinya memiliki indra penciuman yang tajam. Bukankah hal demikian akan berguna saat proses penyelidikan?


Klee yang awalnya tak menanggapi, akhirnya mengizinkan Devin untuk bergabung dalam timnya yang membuat Van geram. Rencananya jadi gagal karena nyamuk yang mengganggu.


***


Dari luar, sekolah itu nampak seperti biasanya seolah tak terjadi apapun. Klee, Van, dan Devin bergegas masuk ke dalam tanpa pikir panjang. Di sekeliling sekolahan sudah ada beberapa mobil kepolisian yang akan memantau dari luar, barangkali saja terjadi sesuatu, mereka akan langsung bergerak.


"Aku merasa seperti sudah dewasa." Tutur Devin terkekeh. Klee sekilas menoleh sembari tertawa tipis. Sementara Van masih saja geram dengan Devin yang menggagalkan niatnya selain menyelidiki pembunuhan.


Mereka melanjutkan langkahnya menuju gedung sekolah. Baru beberapa langkah berjalan, ketiganya mendapati suasana halaman depan sekolah yang tampak berantakan. Pandangan Klee tertuju pada pot bunga yang pecah dan berantakan di halaman. Ia lantas mendekati pot tersebut dan mengamatinya lebih dekat dengan teliti.


Sedangkan Devin mencium aroma bunga lavender padahal bunga yang tumbuh di sekelilingnya ialah bunga lily. Sementara Van memerhatikan jejak kaki di tanah.


"Sepertinya pelaku jatuh dan terbentur pot ini, ada sedikit noda darah." Ujar Klee yang sekilas menatap Van.


"Sepertinya pelaku menggunakan parfum lavender. Hmm di sini juga ada bau seperti obat bius deh." Sahut Devin yang membuat Klee lantas menatapnya. Ia bangkit berdiri lalu menatap ke arah jejak-jejak yang ada di tanah.


"Pelaku di seret." Singkat Van. Klee mengeluarkan buku berserta pena, ia mencatat apa yang mereka temukan sebelum lanjut berkeliling sekolah itu.


Van mengarahkan mereka menuju halaman belakang sekolah. Karena laporan dari siswi yang ia kenal, mayat tersebut masih ada di sana dan belum ada satu orang pun yang berani menyentuhnya. Tiba di halaman belakang, ketiganya mendapati siswa siswi berserta para guru yang mengerumuni sebuah patung, tentunya bukan sekadar patung biasa.


"Patungnya berdarah?" Gumam Devin.


***


"Pak Van, kami akan segera mungkin mengirimkan hasil otopsi dan hasil tes dari barang yang di temukan."


"Segeralah! Kau tahu aku tidak suka menunggu, kan?!" Balas Van yang menatap tajam kapten dari tim forensik. Usai berbincang dengannya, ia bertemu dengan John dan Kennedy, memberikan perintah untuk menginterogasi para murid maupun guru, terutama murid yang sekelas dengan korban. Sehabis itu, ia melanjutkan penyelidikan di lokasi bersama dua anak SMA.


Beberapa menit berselang, mereka kembali ke halaman depan sekolah. Dimana saat itu, Klee dan Devin mencoba menirukan kejadian sesuai perkiraan mereka, sementara Van bertugas mengamatinya.


Brukkk...


Klee terjatuh dan Devin mendatanginya. Ia berdiri di hadapannya lalu melakukan adegan seolah menyuntikkan sesuatu di leher Klee dengan pulpen.


"Nah terus si korban pingsan habis tuh di seret ke tempat lain." Ujar Klee seraya beranjak berdiri. Van terpaku, ia menatap tajam Devin lalu menghampirinya.


"Bagaimana kau bisa tahu kalau korban di suntik?" Tanyanya tegas yang membuat Devin sempat terdiam.


"Di sini tercium semacam bau bius gitu. Jadi bisa saja kan pelaku menyuntikkan obat bius gitu pada korban?" Balasnya dengan polos.


"Iya benar! Kalau masukin obat langsung ke mulut korban, itu tidak mungkin." Sahut Klee.


"Tapi kenapa kau bisa menduga bahwa di suntiknya di leher?"


"Hmm bukankah biasanya begitu, ya? Aku seringkali lihat drama criminal, orang nyuntik di bagian lehernya kok! Mungkin saja kan si pelaku juga begitu."


Van masih saja tak percaya dengan perkataannya yang membuat Klee kesal. Temannya mengatakan hal yang benar tapi malah di tuduh dengan tidak masuk di akal. Tetapi karena sekarang situasinya sedang serius, ia tak mau memperpanjang masalah kecil dan kembali pada permasalahan yang seharusnya.


"Hmm pelaku kan membawa korban ke ruangan paling dekat tapi tertutup, kira-kira ruangan apa?" Tanya Klee.


"Hmm gudang penyimpanan? Itu paling dekat!" Ujar Devin.


"Tidak! Meskipun gudang penyimpanan termasuk tempat paling dekat, tidak mungkin pelaku melakukan aksinya di situ. Karena dia sudah menduga bahwa kita akan mengecek tempat itu! Jadi kemungkinan tempat paling aman adalah UKS. Lagipula di sana juga ada alat-alat yang bisa dia pakai untuk melakukan aksinya." Balas Van yang membuat Devin sedikit geram padanya.


Sedangkan Klee masih mengira-ngira tempat yang digunakan pelaku saat melakukan aksi kejinya terhadap jasad korban. "Mungkinkah pos satpam?" Tuturnya yang membuat keduanya heran.


"Lah kok pos satpam?" Tanya Devin yang bingung.


"Jika di ruang penyimpanan, tak mungkin! Karena polisi akan memeriksanya. Di UKS mungkin alat-alat medis bisa dia gunakan, tapi pastinya dia sudah membawa sendiri untuk menghilangkan jejak. Sedangkan pos satpam, meskipun letaknya memungkinkan untuk di lihat awal masuk gerbang, tapi bentuknya tertutup tidak seperti pos satpam pada umumnya, orang juga bakal jarang memerhatikannya meski sering melewati. Di sana juga jarang satpam berjaga, para satpam sekolah lebih sering berkeliling dibandingkan berada di pos seharian. Jadi kemungkinan jika dia melakukan aksinya di sana, bakal lebih aman dan tidak diketahui siapapun." Jelas Klee mendetail yang membuat Devin sampai melongo.


"Kalau begitu kita cek saja pos satpamnya!" Tegas Van.


"Baiklah kita kumpulkan semua ini." Ujar Klee dengan tenang.


Seusai itu, mereka bergegas pergi ke rumah sakit forensik agar barang-barang temuan mereka dapat di lakukan pemeriksaan forensik lebih detail. Selepas menyerahkan barang, kini mereka kembali lagi ke sekolah sesuai permintaan Klee.


Tibanya di sekolah, dia bertemu dengan siswi yang dekat dengan Van. Mereka berbincang, membicarakan perihal si korban yang merupakan sahabatnya. Kala Klee berbincang, Van dan Devin sibuk dengan kamera pengawas di setiap sisi sekolah.


"Kamera pengawas ada di mana-mana, tapi kita tidak menemukannya di sekitar pos satpam dan di halaman depan maupun belakang sekolah." Ucap Devin merasa janggal.


"Mungkinkah ini semua memang pembunuhan terencana? Kalau begitu, kemungkinan besar pelakunya bukan murid dari sekolah ini."


"Maksudmu semacam dewan guru? Staf yang bekerja di sekolah?" Tanya Devin, Van mengangguk pelan sembari menyunggingkan senyum simpul.


"Kalau begitu waktunya menginterogasi beberapa staf mencurigakan!" Tutur Van sembari pergi bersama dengan Devin.


Di sisi lainnya, Klee masih tengah sibuk menginterogasi siswi itu. Ia menanyakan banyak hal terkait korban.


"Hmm....Apakah ada orang yang suka menggunakan parfum lavender?" Tanya Klee.


"Ya! Ada dua orang, yaitu wali kelas kami dan satunya ketua osis. Ketua osis itu merupakan anak pejabat, jadi sangat disegani di sekolah ini. Tapi sekarang, dia sedang tidak masuk." Ungkap Lexa, Klee lantas mencatatnya.


"Siapa nama keduanya?"


"Wali kelasku biasa di panggil Bu Ren, sedangkan Ketua Osis namanya....Bella!"


"Bu Ren dan Bella, ya? Kalau Bu Ren sendiri, hubungannya baik tidak dengan korban?"


"Hu kami semua tahu bahwa hubungan kedua orang itu dengan sahabatku sangatlah buruk. Mereka sering menyuruh sahabatku, menganggapnya sebagai budak dan seringkali bertindak kekerasan. Beberapa murid telah melaporkannya pada pihak kepolisian, namun berhasil di bungkam berkat Bella yang memiliki kekuasaan." Ungkapnya yang membuat Klee tertawa tipis mendengarnya.


"Ah lagi-lagi terjadi. Di dunia ini, uang dan kekuasaan adalah segalanya. Bahkan orang jenius sekalipun akan tersingkirkan dengan dua hal itu."


Elena yang mendengarnya hanya mengangguk perlahan. Suasana sempat hening setelah itu, hingga Klee merogoh ranselnya lalu meletakkan beberapa snack di atas meja beserta minumannya.


"Dari tadi kita serius, bagaimana kalau sekarang waktunya bersantai?" Tuturnya sembari tersenyum.


****


Di sekolah, Floren tengah asyik dengan ponselnya. Sesekali dia menatap sekelilingnya, memastikan kelasnya tak kosong. Minimal ada sekitar tiga sampai empat orang di dalam, selain dirinya. Ia tak ingin sendirian di kelas, takut ada yang kehilangan uang atau benda berharganya, dia yang tertuduh.


"Haish kenapa Klee izin, ya? Mana gak balas chat dari tadi." Gerutunya yang jengkel. Berselang setelah ia bicara, Alden tiba-tiba masuk ke dalam kelas. Dia mendatanginya lalu menanyakan Klee yang tak terlihat sedari pagi.


"Floren, kamu teman baiknya, kan? Seharusnya kamu tahu dimana Klee." Ujarnya yang mencemaskan Klee. Meskipun ia sahabat dekat Klee bahkan sudah seperti saudara, dia sama sekali tak mendapatkan kabar apapun darinya. Chat yang sedari tadi ia kirim juga belum di balas.


"Haish kalau begitu, apakah Devin masuk? Aku juga dari tadi tidak melihatnya." Alden memijat-mijat keningnya, ia semakin mengkhawatirkan crushnya.


"Tidak masuk." Raut Alden lantas berubah mendengar kabar tersebut. Ia sontak berlari keluar entah kemana.


****


Usai melakukan penyelidikan yang memakan waktu berjam-jam, mereka memutuskan untuk beristirahat sejenak di kantor kepolisian sembari membaca dokumen berupa hasil tes forensik yang baru keluar sore harinya. Satu-satunya ruangan divisi kriminal paling enak, ialah ruangan milik tim Van. Di sana semuanya tertata dengan rapi dan cukup lengkap. AC yang ada juga terasa sangat dingin, berasa seperti sedang di rumah bukan di kantor kepolisian.


"Hmm...Klee mau makan?" Tanya Van sembari membuka kulkas. Klee menolak, ia jadi tak nafsu makan karena memikirkan kasus pembunuhan yang di tangani.


Tapi Van inisiatif membuatkan makanan untuk Klee, karena mereka juga telah melewatkan makan siang. Jadi tak mungkin jika tidak merasa lapar, kan? Sedangkan Devin membuat makanannya sendiri di dapur yang telah tersedia. Dia hanya mengambil bahan masakan di kulkas saja.


"Hmmm aku penasaran seberapa berbahaya obat ini? Bahkan pelaku saja membunuh korban tanpa menyentuhnya sedikitpun. Ia menyentuhnya ketika menyeret dan mengukir jasad korban menjadi patung." Gumam Klee yang penasaran.


"Pelakunya berarti memang psikopat yang gemar membunuh. Kalau dia pembunuh bayaran atau seorang amatir, tidak mungkin sehandal ini." Sahut Van sembari memasukkan bahan-bahan masakan ke dalam panci.


"Benar! Psikopat menyiksa targetnya hingga tewas tanpa menyentuhnya. Baik itu mengenakan tegangan listrik, parasit, atau apapun. Dia menggunakan barang-barang tak masuk di akal untuk membunuh targetnya." Balas Devin seraya memotong beberapa wortel lalu memasukkan nya ke dalam wadah.


Klee tak membalas, ia berusaha membayangkan saat-saat pelaku membunuh korbannya. Hingga ia beranjak berdiri kemudian membuka jendela ruangan untuk memandangi suasana senja. Tak lama setelahnya, dia keluar dari jendela tanpa alasan yang membuat Van dan Devin panik.


Keduanya pergi mendatangi jendela, melihat apa yang dilakukan Klee hingga keluar secara tiba-tiba. Namun ternyata, ia hanya mendekati kucing yang kelaparan lalu membawanya masuk ke dalam ruangan.


"Ada sedikit makanan yang bisa dibagikan, tidak?" Tanyanya sembari melepaskan kucing yang ia ambil. Van mengambil sosis yang ada di dalam kulkas, dia memberikannya pada si kucing yang kelaparan.


"Ah dia benar-benar sangat kelaparan." Ujar Klee sambil mengelus kepala si kucing hitam dengan lembut.


Van dan Devin nampak senang melihat sisi lembut Klee yang jarang sekali ditunjukkan. Ia lebih sering mengeluarkan sisi yang menyeramkan, bahkan sekelas pembunuh sekalipun sampai tunduk takut kepadanya.


"Aku tak menyangka bahwa dia selembut ini." Gumam Van sambil membayangkan jika Klee menjadi istrinya dan tengah bersikap lembut padanya.


"Aku tak salah jatuh cinta!" Gumam Devin sembari tersenyum. Keduanya kembali lanjut memasak, sedangkan Klee bermain-main dengan kucing yang ia temukan.


Selang beberapa menit, Van menyajikan masakannya di meja. Ia menyuruh Klee untuk menyantapnya, mengingat dia yang belum makan sedari siang. Begitu pula dengan Devin yang juga membuatkan makanan untuk sang crush tersayang sekaligus sahabatnya untuk sementara.


Namun Klee hanya menyantap sedikit dari kedua makanan itu. Ia justru membagikannya pada si kucing yang benar-benar sangat kelaparan, bahkan dua makanan dalam porsi banyak, habis di santapnya.


"Hu sekarang kau sudah kenyang, ya?" Tutur Klee sembari mengelus kepala si kucing yang duduk di atas pahanya.


"Humm dia lebih memerhatikan kucing itu dibandingkan denganku yang lebih lucu!" Gerutu Van yang tengah mencuci piring.


"Haruskah aku menjadi seekor kucing agar di sayang dan duduk di pahanya?" Pikir Devin yang justru cemburu pada seekor kucing hitam.


Setelah beristirahat sejenak, mereka kembali berkumpul dan mendiskusikan perihal kasus pembunuhan. Menurut Van pribadi, ia menduga bahwa sang pelaku merupakan orang yang bekerja di sekolahan. Karena dari hasil penyelidikan, sang pelaku sangat menguasai lingkungan sekolah bahkan di setiap sisinya. Dia juga tahu tempat-tempat yang tidak di pasang kamera pengawas atau tidak dapat di jangkau oleh kamera pengawas. Maka dari itu si pelaku membunuh korbannya di tempat tersebut.


Sedangkan Devin menduga bahwa pelakunya bukan orang dalam, melainkan orang luar yang memiliki kenalan orang dalam dan sudah sejak lama memerhatikan korban. Mungkin dia semacam psikopat yang sudah obsesi dengan targetnya hingga dia menguasai lingkungan sekolah.


Pendapat keduanya memang mungkin terjadi. Menurut Klee pelaku juga berasal dari orang luar sekolah dan kemungkinan masih sekeluarga dengan murid yang bersekolah di sana sehingga dia bisa mendapatkan banyak informasi. Dia sengaja menggunakan saudaranya untuk menggali informasi lebih dalam, juga sudah menyiapkan orang-orang yang dijadikan kambing hitam. Pelaku juga bukan psikopat yang terlahir dari keluarga sederhana. Kemungkinan dia memiliki kekuasaan sehingga bisa membungkam dan mengontrol orang-orang yang ada di sekitarnya.


"Jadi Klee, siapa pelakunya?" Tanya Van dengan tenang dan berwibawa.


"Bagaimana kalau kita bertemu dengan Bella Bernard?" Balas Klee yang membuat keduanya sejenak terdiam.


"Bukankah dia anak dari seorang pejabat, ya?" Sahut Devin dengan polos.


"Hmmm....Oh iya dia juga sekolah di sana. Hahahaha ternyata anak sama bapak sama saja, ya? Sama-sama gak bener! Bapaknya koruptor, anaknya pembunuh." Tutur Van yang sangat meremehkannya. Klee tak terlalu menggubris perkataannya, ia lebih memikirkan tujuannya untuk menangkap sang pelaku.


"Kapan kita akan menemuinya? Aku sangat tidak sabar! Kira-kira apa yang perlu kita siapkan sebelum datang ke sana?" Tanya Van sangat antusias.


"Kita lanjutkan esok, sekarang waktunya untuk kembali ke rumah masing-masing. By the way, ada tas atau keranjang? Aku ingin membawa pulang kucing ini." Ucap Klee beranjak berdiri sembari menggendong kucingnya.


"Kalau gak salah ada detektif yang merawat kucing juga, dia sering membawa keranjang kucing ke kantor. Tunggu bentar!" Van bergegas pergi, sehingga di dalam tinggallah Klee dengan Devin bersama seekor kucing.


Devin berdiri menghampiri Klee. Ia memegang kucingnya sejenak sebelum menyerahkannya kembali pada Klee.


"Hmm hari ini pasti kau sangat lelah, ya?" Tanyanya pelan, Klee menggelengkan kepalanya sambil menyunggingkan senyum tipis di wajah.


"Tidak! Menurutku biasa saja. Hmm btw, kamu kerja di minimarket gak hari ini? Kalau aku sendiri, akan tetap pergi ke sana untuk menemani Owen, kasihan jika dia hanya bekerja sendirian."


"Tentu saja aku tetap bekerja! Kalau begitu kita bakal jalan bareng ke sana, kan? Nanti ku boncengin ya," ucapnya antusias. "Tapi bagaimana dengan kucing ini?" Devin menatap kucing hitam sejenak sebelum Klee membalas pertanyaannya.


"Tetap ikut! Dia diletakkan saja terlebih dahulu di gudang, lagiupula di kurung ini jadi takkan bisa lari kemana-mana, kan?" Balasnya dengan tenang. Devin mengangguk pelan sembari tersenyum tipis.


Tak lama setelahnya, Van kembali sambil membawa keranjang sesuai yang di minta. Klee memasukkan kucingnya ke dalam keranjang lalu pamit pulang. Sebelum itu, Van menawarkan diri untuk mengantarkannya pulang. Tapi tawarannya di tolak, karena ia akan pergi bekerja dengan Devin.


Meskipun kecewa, Van membiarkannya. Klee dan Devin lantas pergi, sedangkan dirinya harus bertemu dengan John serta Kennedy lebih dahulu untuk membahas perihal pembunuhan.


***


Malam hari yang gelap dan hening. Klee tengah asyik menonton series sembari rebahan di atas ranjangnya. Seperti biasa, ia selalu mematikan lampu kamarnya agar lebih seru menonton series yang tegang. Di kala dirinya tengah asyik mengamati adegan serius, terdengar suara kucing mengeong. Tak lain dan tidak bukan, itu adalah kucing yang dia ambil sore hari.


Klee memencet tombol pause di series yang ia tonton. Dia beranjak bangkit, berjalan keluar dari kamar untuk mengecek kucingnya yang tiba-tiba saja bersuara. Berselang beberapa detik, dirinya memandangi kucing yang tak berhenti mengeong padahal tidak ada apapun yang terjadi di sana. Ia lantas mendekati kucing itu, bertanya dengan perlahan.


"Hu kamu kenapa? Ada hantu kah di sini?" Tanya Klee. Ia membuka keranjangnya lalu mengeluarkan kucing tersebut dari dalam. Si kucing sejenak terdiam, hingga ia berjalan perlahan-lahan mengelilingi ruang keluarga.


Klee duduk di sofa, ia membiarkan kucing itu sebelum memasukkan nya kembali ke dalam keranjang. Dia tersenyum, memandangi kucing yang menggemaskan tengah berjalan dengan kaki-kakinya yang pendek di tambah tubuh mungilnya yang gemuk.


"Sangat menggemaskan!" Gumamnya yang senang. Tak lama, si kucing diam memandangi babu barunya. Dia melompat ke atas sofa dan lagi-lagi duduk di atas paha Klee.


"Ah sepertinya kau senang ya karena dapat babu baru hehehe. Mau makan? Atau mau minum wahai Tuanku?" Ucap Klee yang setelahnya tertawa. Si kucing hanya diam memandangi wajah babunya yang cantik. Bahkan dua orang pria tampan saja jatuh cinta kepadanya yang hanya seorang gadis SMA memiliki paras menawan.


"Hu kau terus saja memerhatikanku. Apa kau suka denganku? Hahahaha,"


Si kucing nampak tersenyum. Kemudian ia turun dari atas paha putih lalu berjalan menuju dapur. Klee sontak mengikutinya dan berjalan lebih dulu sebelum sang kucing sampai ke dapur. Ia bergegas memberikan makanan dan minuman untuk majikan yang akan datang.


Si kucing tak kelaparan, dia hanya merasa haus karena sempat mengeong cukup lama dan panjang. Setiap gerak-geriknya, Klee amati tanpa henti. Ini kali pertamanya ia merawat seekor binatang menggemaskan dalam rumahnya. Selama ini dia hanya sendirian, tak ada siapapun orang di sana selain dirinya sendiri. Tapi sekarang semuanya berubah.


"Hmmm kira-kira kucing suka ice cream gak, ya? Terus kalau suka, sukanya rasa apa? Coklat? Vanilla? Stoberi? Atau choco mint? Wait...Choco mint tak boleh! Itu untukku." Batinnya yang tengah berpikir sembari menunggu sang majikan selesai minum air yang di sediakan.


Tak lama setelahnya, kucing hitam itu kembali mendekatinya. Klee lantas menggendongnya menuju ruang keluarga. Sebelum memasukkannya ke dalam keranjang, ada satu hal yang ingin ia lakukan. Dia bergegas kembali ke kamarnya untuk mengambil beberapa barang lalu kembali menemui sang kucing yang menunggu.


"Apa kau merindukan keluargamu?" tanyanya sembari meletakkan kucing di atas paha. "Pasti berat rasanya hidup sendirian tanpa keluarga. Bagaimana kalau aku menyatukanmu dengan mereka?" Lanjut Klee sembari mengelus kucing tersebut.


Selang setelahnya, ia meletakkan hp nya di meja. Kamera hp tersebut menyorot ke arahnya berserta ke si kucing. Ia memencet tombol rekam video sebelum kembali bermain dengan si kucing.


"Bagaimana? Kau mau tidak bersama keluargamu kembali?" Tanyanya lembut yang membuat sang kucing semakin senang berada di dekatnya. Klee tersenyum tipis melihat sang kucing yang semakin bersikap manja padanya. Seolah kucing tersebut begitu senang berada di dekatnya sekarang.


"Ah sepertinya kau sangat menyukaiku sama seperti aku menyukaimu, ya?" Ucap Klee dengan lembut. Ia menghela napas panjang, merogoh saku celananya, mengeluarkan sebuah benda yang membuat kucing itu diam terpaku.


"Aku masih penasaran dengan adegan pelaku membunuh korban tanpa menyentuh tubuhnya sedikitpun." Gumam Klee. Ia menyuntikkan sebuah cairan pada kucing yang tadinya bersikap manja dan menggemaskan di hadapannya.


***


Keesokan harinya....


"Klee....Kau serius? Kau melakukan ini?" Tanya Van terkejut melihat video rekaman yang Klee tunjukkan padanya. Devin berlari ke toilet, ia muntah di sana, tak kuasa melihat rekaman yang mengenaskan juga menjijikan.


"Kenapa kalian terlihat sangat takut? Memangnya salah, ya? Lagipula aku tidak melakukan uji coba cairan suntikan itu pada manusia, jadi seharusnya tak salah dong." Tutur Klee polos.


"Iya tahu, tapi kau...Kau tega melakukan hal keji itu pada seekor binatang yang sangat menggemaskan?"


"Hu lagipula aku hanya menyuntikkannya cairan, bukan ngeblandernya." Klee tidak terima dengan sikap Van terutama Devin yang sampai muntah di toilet.


"Bukan begitu, kau tahu sendiri kan kalau cairan ini berbahaya? Dan kemungkinan pelaku menggunakannya untuk membunuh korban. Tapi kenapa kau melakukan pembuktian tersebut pada kucing? Kenapa tidak pada tikus, cicak, atau ular sekalian?" Balas Van yang mencoba untuk menasihati dengan tenang.


'"Masalahnya di rumahku gak ada tikus atau cicak, hanya ada kucing saja! Lagipula ada banyak kucing di dunia ini, seharusnya tidak masalah jika dia mati kan. Lagipula dia hidup sebatang kara, jadi lebih baik dia tidak ada saja di dunia ini. Aku juga tidak tahu bahwa hasilnya akan separah ini! Aku pikir dia hanya pingsan selama beberapa jam lalu terbangun kembali. Tapi nyatanya tidak."


Van di buat diam karena keterangannya yang benar-benar seperti gadis polos dan bodoh. Devin yang sedari tadi di toilet kini kembali dan duduk di meja. Ia sampai tak berani menyentuh ponsel Klee saking takutnya melihat video yang sengaja di rekam oleh Klee semalam sebagai bahan eksperimennya pada kucing.


Devin juga mencabut permintaannya yang ingin menjadi seekor kucing agar bisa duduk di paha Klee. Lebih baik kondisinya seperti sekarang saja, perlahan-lahan ia dekat, menjalin hubungan hingga sang crush jatuh cinta balik kepadanya. Lalu mereka menikah dan menjadi sepasang kekasih yang sangat mesra dibandingkan menjadi seekor kucing dengan babunya yang entah polos atau memang dasarnya punya jiwa psikopat.


"Klee, apakah kau merasa sedih saat kucing itu mati?" Tanya Devin dengan perlahan. Klee sejenak terdiam sebelum akhirnya ia menggelengkan kepalanya yang membuatnya juga Van diam membisu.


Entah polos atau bagaimana, dari rautnya juga sudah kelihatan dia tidak sedih sedikitpun. Bahkan berani merekam kejadian tersebut dan menonton videonya ulang dari awal.