Say Love And Solve Cases

Say Love And Solve Cases
Chapter 5 ( Patung figuratif )



"Hah sudahlah lupakan saja perkara kucing tuh. Sekarang kita fokus sama penyelesaian kasus ini," alih Van menduduki sofa putih. Begitupun dengan Devin, dan Klee yang masih menatap layar ponselnya, menonton video rekaman.


"Oh ya bukankah kita harus menemui Bella Bernard, si anak pejabat itu?" sahut Devin. "Jadi rencana apa yang akan kita rancang sebelum datang ke sana?" Tanyanya dengan sekilas menoleh ke arah Klee.


Klee seolah tak peduli dengan hal tersebut. Ia masih asyik saja menonton video rekamannya, membuat Devin geram. Van yang tak ingin bermasalah memutuskan untuk langsung membahas rencana sebelum menemui Sang Nona Muda keluarga Bernard, meski di antara mereka ada yang tidak mendengarkan.


"Hmm begini, nanti aku akan...."


"Sekarang jam berapa?'' Klee memangkas kata-kata Van. Ia mematikan ponselnya, meletakkan di atas meja lalu menatap ke arah kedua partnernya yang baru saja memulai pembahasan.


"Jam lima kurang tujuh belas."


"Berarti masih ada waktu untuk bersiap-siap sebelum berangkat sekolah, ya?"


Mendengar pertanyaannya, sungguh menjengkelkan untuk kedua pria yang tengah serius membahas perihal rencana pertemuan dengan Bella Bernard. Namun kenapa di saat-saat begini, Klee dengan entengnya menanyakan waktu dan urusan sekolahan?


"Klee, kumohon jangan menganggap sepele pembahasan rencana ini. Ini sangat penting lho Klee! Jangan sampai kita datang tanpa rencana dan justru malah terjebak dalam perangkap mereka. Kau tahu sendiri bagaimana keluarga Bernard. Meskipun kekayaanku berada di atasnya tapi...."


"Rencana pertama ialah menyamar menjadi murid di SMA itu untuk memata-matai situasi dan perilaku para murid. Kemungkinan akan lebih mudah bukan untuk menemukan pelaku?" Lagi-lagi Klee memangkas kata-kata Van. Namun kali ini Van tidak tersinggung seperti sebelumnya.


"Langkah selanjutnya?" Devin meraih buku jurnal di atas meja, mencatat kerangka rancangan dalam menyelesaikan kasus pembunuhan yang menimpa siswi SMA STAR atau di sebut dengan kasus "Bloody Statue".


"Aku dan Devin akan menyamar menjadi murid di sana. Selama penyamaran itu, kita benar-benar mengamati gerak-gerik murid, guru, maupun pekerja sekolah lainnya dengan cermat. Terutama orang yang kita pusatkan adalah Bu Ren, Bella Bernard, dan Elena."


"Lalu apa yang kulakukan?"


Devin tergelak menyadari Van yang tak berfungsi dalam penyelesaian kasus ini. Tetapi berselangnya, Klee membagi tugas untuk sang kapten detektif yang dimana dia harus menjalin hubungan dekat dengan keluarga Bernard. Di tambah Sang Putri Putri keluarga Bernard yang diketahui menaruh perasaan terhadapnya, akan lebih mudah untuk menjalin hubungan. Status Van juga terbilang bagus, bisa dikatakan tugasnya paling mudah di antara yang lainnya.


Usai pembagian tugas, mereka berkemas sebelum berangkat ke tujuannya masing-masing. Van pergi ke SMA STAR lebih dulu untuk membeli seragam kedua rekan timnya. Sementara Klee dan Devin pergi ke salon, merubah sedikit penampilannya agar tak dikenali oleh para murid maupun guru.


****


Derap langkah kaki terdengar di lorong kelas. Para murid yang asyik menggosip, bermain game, lantas kembali ke tempatnya masing-masing. Duduk dengan rapi dan tertib sebelum guru datang ke kelas, merupakan kebiasaan positif yang harus di jalankan para murid jika tidak ingin mendapat hukuman atau lebih buruknya di keluarkan dari sekolah. Perlahan pintu terbuka, sang guru melangkahkan kaki masuk ke dalam kelas. Ia berdiri di hadapan murid-muridnya dengan setumpuk buku yang di bawa.


Bu Ren meletakkan buku-bukunya di atas meja. Ia melirik dua orang murid barunya yang berdiri di depan kelas, memandangi para murid yang akan menjadi teman sekelasnya.


"Baiklah anak-anak, hari ini kita kedatangan dua murid baru," Ungkap Bu Ren mencoba menenangkan suasana. "Ayo, Nak. Silahkan perkenalkan diri." Klee terkekeh tipis. Ia maju selangkah, memperkenalkan dirinya di hadapan para murid yang tidak mengalihkan pandangan sedikitpun dari mereka berdua.


"Halo perkenalkan, aku Joy. Dan ini kakakku, Jay. Kami berdua merupakan saudara kembar." Seolah bukan dirinya, ia berbicara dengan lantang dan penuh senyuman di hadapan orang asing yang baru di jumpai. Devin tertegun melihat Klee yang benar-benar berbeda. Ia tak pernah menerka, bahwa crushnya bisa berakting menjadi orang lain. Mungkinkah karena selama ini dia hanya membaca gerak-gerik dan karakter orang?


"Saudara kembar! Wah adiknya cantik dan friendly, kakaknya cupu, ya?" celoteh seorang siswa yang duduk di pojok kanan belakang.


Meskipun jengkel namun keadaannya begitu. Devin harus berakting sebagai anak cupu, lugu, tapi cerdas dalam akademik. Berbanding terbalik dengan Klee yang tipikal anak yang friendly, walaupun begitu ia juga tak kalah pintar di bidang akademik, namun kepintarannya tak sebanding dengan sang kakak.


"Joy boleh minta kontaknya gak? Kali aja jodoh," sahut siswa lainnya yang di barengi dengan tawa dari para murid lain. Klee hanya tersenyum menanggapi candaan mereka. Meski dalam lubuk hatinya sangat gusar dengan perilaku mereka. Sementara Devin hanya diam, dia telah memprediksi perasaan crushnya sekarang.


"Baiklah. Joy, Jay, duduk di bangku yang kosong ya. Joy duduk sama Bella aja, biar Jay duduk sama Elena." Titah sang guru yang diikuti kedua murid barunya.


Klee duduk di samping Bella, meletakkan tasnya di bawah kolong meja usai itu memusatkan perhatiannya pada teman sebangku yang merupakan target dari rencananya.


"Hai salam kenal, gw Joy. Lo, cantik juga, ya?"


Bella tersenyum tipis mendengarnya. Ia mengangguk pelan, balik memperkenalkan dirinya dengan lemah lembut. Melihatnya, sungguh berbeda dengan apa yang di deskripsikan oleh Elena kemarin.


"Btw, kenapa lo duduk sendiri? Gadis cantik dan anak pejabat kaya lo, harusnya banyak yang mau duduk sebangku,"


"Enggak kok, aku memang ada teman sebangku. Tapi kudengar kabar, kemarin dia meninggal dengan tragis di sekolah ini. Aku syok mendengar berita itu, tapi setidaknya sainganku berkurang." Ungkapnya yang mengucapkan kalimat akhir dengan pelan, mungkin biar tidak terdengar jelas. Namun salahnya, orang yang ada di sampingnya sekarang, memiliki indra pendengaran yang tajam.


"Begitu, ya? Turut berduka atas kematian teman lo." Biar mendengar, Klee sengaja berpura-pura tak mendengarnya agar rencananya bisa berjalan lebih mulus. Bella hanya mengangguk pelan. Kelas di mulai seperti biasanya.


...


Bel sekolah berbunyi yang menandakan waktu istirahat. Para murid begitu antusias memanfaatkan waktu istirahatnya sebelum kembali di pusingkan dengan mata pelajaran. Klee mengajak Bella pergi ke kantin, tapi tak hanya berdua melainkan dengan Devin juga Elena yang mulai menjalin hubungan pertemanan. Klee sempat mengajak Bu Ren untuk makan bersama. Tapi sang guru menolak dikarenakan ada hal yang harus dilakukan sehingga beliau tidak bisa bergabung dengan murid-muridnya.


Beberapa menit berselang, keempatnya tiba di kantin. Memesan makanannya, lalu kembali duduk di satu meja yang sama. Dari gelagat-gelagatnya, hubungan antara Bella dengan Elena di perhatikan kurang berjalan baik. Dari cara bicara dan berperilaku, keduanya saling membenci satu sama lain.


"Hmmm....Bel, lo pake parfum lavender, ya? Bau lavendernya nyengat banget nih di hidung," celetuk Klee mencairkan suasana.


"Ya, aku menggunakannya."


Klee sejenak terdiam mendengar yang di katakan. Sementara Devin tersenyum tipis merasa targetnya mulai menampakkan apa yang mereka butuhkan. "Oh begitu, ya? Gak apa-apa deh kalau Lo yang pakai, cocok!" Tutur Klee.


Selepas makan sekaligus berbincang selama beberapa waktu hingga jam istirahat berakhir, para murid kembali ke kelasnya masing-masing dan memulai pembelajaran seperti sediakala. Klee tak henti menganalisis setiap tindakan Bella, Elena, maupun Bu Ren. Tapi menurutnya pribadi, Bu Ren bukanlah pelaku dari pembunuhan ini.


Beberapa jam berselang, bel kembali berbunyi dimana sekarang menandakan waktu pulang. Beberapa murid ada yang pulang, selebihnya mengikuti kegiatan ekstrakurikuler yang di sediakan pihak sekolah.


"Bel, Lo ekskul?"


"Iya."


"Ekskul apa?"


"Semacam membuat patung."


"Membuat patung? Ada toh di sekolah ini,"


"Iya, ada. Kalau kamu sendiri mau ikut ekskul apa?" Tanya balik Bella yang tengah bebenah buku-bukunya.


"Aku? Kebetulan sih aku juga suka mengukir patung gitu, jadi kemungkinan ambil ekskul yang sama denganmu! Lagipula kan kita bestie, jadi harus selalu bareng!" Cakapnya sambil mendengkap tubuh Bella. Namun mendengar ekskul yang ingin diikuti, gelagat Bella berbeda seperti sebelumnya. Ia jadi dingin dan cuek terhadap Klee. Sedangkan Devin mengambil ekskul melukis seperti Elena, walau lukisannya terbilang tidak begitu bagus.


Selama di dalam ruangan ekskul, Klee tak berhenti mengawasi Bella dari membuat sketsa patung hingga tahapan berikutnya.


"Hmm...Dia suka dengan patung figuratif."


***


Selepas menjalankan hari pertama duduk sebangku dengan Bella, kini di hari kedua Klee bertukar posisi tempat duduk dengan Devin. Dia akan duduk dengan Elena yang merupakan sahabat sang korban pembunuhan semasa hidupnya.


...


"Hai El, lo kok cuek bebek banget sih? Gw anak baru, gak mau kenal dikit gitu?"


"Maaf, saya gak suka murid sokab dan caper."


Deg...


Mendengar hal tersebut membuat Klee tertegun. Sebaliknya, Devin merasa gelisah terhadap Elena yang bisa-bisanya bertutur kata ketus terhadap crushnya.


"Cari mati tuh anak." Batinnya.


....


"El, gambaran lo bagus. Gw mau dong di buatin,"


"Bukannya kamu ikut ekskul membuat patung? Seharusnya menggambar seperti ini, adalah hal yang mudah." Ketusnya yang lagi-lagi membuat Klee diam seribu bahasa. Sementara di sisi lainnya, Bella nampak senang karena duduk sebangku dengan Devin. Materi yang kurang dia mengerti bisa ditanyakan dan diterangkan kembali oleh sang anak cupu yang sebetulnya bukan.


...


"El wajah lo pucet, mau gw anter ke UKS?" Tanya Klee yang mengkhawatirkan teman sebangkunya. Namun bukannya menanggapi pertanyaan justru Elena menyelonong pergi. Alhasil saat melangkah keluar, ia tergeletak pingsan di depan kelas. Sontak saja Klee buru-buru menghampiri dan bergegas membawanya ke UKS.


Beberapa menit kemudian...


"Dok, gimana keadaannya?" Klee duduk di kursi sebelah ranjang tempat Elena berbaring. Dokter muda itu tersenyum, dia memberikan resep obat kepada sang pasien.


"Penyakitmu kambuh lagi, kau harus sering-sering meminum obat," ujar dokter Deon dengan tenang. Elena tak mengindahkan perkataan sang dokter, ia beranjak berdiri dan bergegas keluar dari UKS. Tapi ketika akan menggenggam gagang pintu...


"Elena, kau sudah menerimanya?" Tanya sang dokter yang membuat langkah Elena sejenak terhenti. Tak lama, ia kembali berjalan keluar dari UKS. Klee hanya diam sejenak sebelum ia memohon permohonan maaf baru pergi menyusul Elena.


***


Hari demi hari telah di lewati. Tak terasa delapan hari telah mereka lalui sebagai anak murid di SMA STAR. Hubungan Klee dan Devin terjalin baik dan mulus dengan Bella. Begitupun dengan Elena meski Elena masih saja bersikap ketus dan dingin terhadap Klee maupun Bella.


Hari ini tepatnya di hari Kamis, Bella mengundang teman sekelompoknya untuk mengerjakan tugas di kediamannya. Kebetulan, dia satu kelompok dengan Devin, Klee, dan Elena. Jadi tak masalah jika mereka berkunjung ke rumahnya.


...


"Silahkan masuk." Sambut hangat Bella seraya membuka pintu rumah untuk teman-temannya yang berkunjung. Dia membawa mereka menuju ruang keluarga yang terletak di lantai dua.


"Kalian tunggu di sini sebentar ya. Aku mau pergi ke minimarket dulu, ada yang harus di beli,"


"Mau aku temani?" Klee menawarkan diri. Tapi Bella menolak dan pergi sendiri tanpa di kawal dengan pengawal pribadinya. Ketika dia pergi, Klee melaporkannya pada Van dengan mengirimkan pesan di chat. Tapi dia tak membalas, mungkin karena sedang berurusan dengan Pak Bernard, Ayahanda Bella.


Waktu terus berjalan. Setengah jam berlalu, Satu jam berlalu, satu setengah jam berlalu, hingga empat jam telah berlalu tapi Bella belum juga kunjung kembali. Klee dan Devin mulai merasa was-was dengan situasi ini, mereka mencoba menghubunginya namun tak di angkat.


"Bella kemana, ya? Kenapa gak balik-balik?" Gumam Devin. Sedangkan Klee masih mencoba menghubungi Bella meski tak di angkat sedari tadi. Sementara Elena tengah mengerjakan tugas kelompoknya sendiri tanpa mengkhawatirkan temannya yang tidak ada kabar. Situasi semakin tegang ketika Klee mendapati kiriman lokasi dan pesan suara dari Bella. Ia mendengar suara yang dikirimkan itu yang hanya terdengar suara teriakannya. Dia kembali mengirim pesan yang ia dapat dari Bella ke Van. Ia langsung saja meneleponnya agar mereka bisa bertindak sebelum terlambat.


***


"El lo di sini dulu ya, kita pergi bentar." Pamit Klee yang kemudian pergi dengan Devin. Mereka menuruni anak tangga, berjalan keluar dari rumah dan mendapati Van bersama dengan kedua rekannya, Kennedy juga John yang akan mengawasi Elena selama mereka pergi. Ketiganya lantas pergi menuju lokasi yang dikirimkan oleh Bella.


"Bagaimana menurutmu, Klee? Apakah ini jebakan atau bagaimana?" Tanya Van sembari mengendarai mobilnya.


"Tidak, memang bukan dia pelakunya setelah melakukan analisis hampir dua minggu ini."


"Elena kah?" Sahut Devin dengan polos namun Klee menggeleng.


"Lebih tepatnya orang yang mengagumi Elena."


Van hanya diam tak merespon. Selama ini dia hanya mendengar laporan, tidak melihat langsung apa yang terjadi di tempat kejadian. Sedangkan kedua partner yang masih SMA berada di lapangan, mereka bisa lebih mudah melakukan analisis dan menemukan pelaku.


Selang beberapa menit, mereka tiba di area hutan. Klee turun dari mobil lebih dulu, membawa borgol dan pistol milik Van, ia berjalan masuk ke dalam hutan. Sementara kedua rekannya menyusul di belakang. Area hutan ini tidak terlalu luas walaupun begitu, benar-benar tertutup. Di sana banyak bangunan tua yang nampaknya bekas pergudangan.


"Van, kamu pergi ke sisi kanan sana sedangkan Devin ke tengah. Aku akan pergi ke ruang bawah tanah." Titahnya yang kemudian bergerak.


Di sisi Van, dia tak menemukan satupun orang. Hanya ada alat-alat dan obat-obatan medis yang berserakan dimana-mana, mengotori tempat tersebut. Sedangkan di sisi Devin, ia mendapati banyak skesta patung yang tertempel di dinding berserta beberapa patung figuratif dengan posisinya yang zonde bosse.


"Semua patung ini mengucurkan darah, mungkinkah patung-patung ini..."


...


Sementara Klee yang di ruang bawah tanah, melihat suasana dan situasi mencekam. Darah menodai setiap dinding yang ada di ruangan. Beberapa kulit manusia tergantung di beberapa sisi, serta organ-organ dalam manusia yang dimasukkan ke dalam botol dan di tata dengan rapi di sebuah rak tua coklat.


"Benar-benar psikopat." Klee berjalan selangkah demi selangkah, melewati hal-hal mengerikan dan menjijikan. Ia mengecek situasi sekeliling sebelum mendobrak pintu ruangan berikutnya yang terkunci.


Brakkk...


Dalam sekali percobaan, ia berhasil mendobrak pintu besi dengan mudah. Dirinya masuk ke dalam, berhadapan dengan sosok pria berjas putih layaknya seorang dokter yang akan mengeksekusi mangsa berikutnya, bukan pasien. Tak lain dan tidak bukan, adalah Bella yang akan di suntik sebuah cairan olehnya.


Klee menembak cairan tersebut sebelum sang pelaku mengeksekusi korban berikutnya di hadapannya. Dia lantas menoleh, menatapnya tajam sebelum akhirnya menyunggingkan senyum dan tertawa.


"Hahahahaha, tak menyangka bahwa kau akan memergokiku. Padahal setelah membunuhnya, aku berniat membunuh kakakmu lalu dirimu. Oh! Atau jangan-jangan, kau sengaja datang ke sini untuk menyerahkan nyawamu sendiri?" Tanya Deon dengan pelan dan lembut. Dia berjalan menghampirinya, menyentuh wajahnya namun Klee refleks menamparnya.


Deon terkekeh akan ucapannya. "Kau bodoh? Mana mungkin ada orang yang mau menyerahkan diri begitu saja?" Ia meraih kapak di meja, menyerangnya tanpa pikir panjang. Klee menghindar, ia menggenggam pergelangan tangan sang dokter lalu menendang perutnya hingga terjatuh.


Dia menghampiri sang dokter, merebut kapak dari tangannya. Ia mencengkram rambut Deon dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya memukul wajah sang dokter berulang kali dan di akhiri dengan tendangan di bagian pinggang kiri. Melihatnya yang melemah, Klee memanfaatkan keadaan dengan melepaskan Bella. Namun Deon kembali bangkit dan menyerang Klee secara diam-diam dengan kapaknya yang telak mengenai bahu kirinya.


Klee memutar tubuhnya, menendang Deon hingga jatuh tersungkur lalu merebut kembali kapak dari tangannya. "Heh dasar orang gila!" Deon terkekeh. Ia menghela napas panjang, mencengkram kerah baju Klee dengan kencang. Sementara Bella berdiri di pojok ruangan, tak berbuat apa-apa, hanya bisa menangis sesegukan padahal temannya sedang dalam bahaya.


Klee menampar wajahnya kemudian menginjak perutnya. Ia beranjak berdiri, memandang Bella, menyuruhnya untuk kabur sesegera mungkin. Tanpa sadar, Deon telah merebut pistol. Ia menembakkan beberapa peluru tapi Klee berhasil menghindarinya. Sang dokter memutuskan untuk kabur daripada terjebak di dalam ruangan tersebut bersama gadis SMA yang berani menghajarnya bahkan membunuhnya. Klee lantas mengejar Deon yang kabur.


Devin yang awalnya mengamati situasi, menyadari seseorang yang berlari. Ia segera menghentikannya, merasa bahwa pria berjas putih adalah sang pelaku dari pembunuhan yang menimpa gadis malang itu. Namun...


Dor...Dor...


Van membelakkan kedua matanya. Mendengar suara pistol yang terdengar di luar, dirinya lekas mengecek situasi. Sampai di luar, ia memergoki sosok pria berjubah putih yang menggenggam pistolnya, menembak Devin yang menghalangi jalannya. Deon kembali berlari, menyadari Klee yang tidak jauh darinya.


Van bergegas menghampiri Devin. Ia bertemu juga dengan Bella yang syok dengan situasi yang baru ia alami untuk kali pertamanya. Dia menghubungi ambulans dan menyuruh Nona dari keluarga Bernard untuk mendampingi Devin. Sementara dirinya akan mengejar si pembunuh karena mengkhawatirkan Klee.


...


Klee terus berlari mengejarnya. Ia tak ingin penjahat lepas begitu saja apalagi setelah menembak sahabatnya. Deon berlari melewati jalanan yang berlalu lalang kendaraan, Klee mengejarnya, melewati jalanan yang padat. Namun sialnya...


Brukkk...


Sebuah mobil tak sengaja menabrak Klee. Menyadari hal tersebut, membuat Deon sempat terhenti dan mengecek ke belakang. Mengira bahwa kejar-kejaran hanya sampai di sini, tetapi siapa sangka gadis SMA tak waras itu malah berdiri seolah tak terjadi apapun dan lanjut mengejarnya.


"Sial! Dia benar-benar monster." Deon kembali berlari, menghindar dari tangkapan Klee. Ia tak ingin berakhir mengenaskan di penjara begitu saja, apalagi dirinya baru membunuh kurang dari sepuluh orang.


Terus berlari dan terus berlari. Klee yang geram, sesekali melemparinya dengan barang-barang yang ada di jalan, tentunya untuk memperlambat laju lari Deon.


"Hah sial, udah di tabrak, kena kapak, kenapa masih kuat berlari sih tuh cewek?!" Rungut Deon merasa gusar. Ia melewati jalan yang sepi, namun sebuah mobil melaju kencang dan menghantamnya hingga terpental. Klee berhenti, berdiri di hadapannya. Ia refleks menatap orang yang keluar dari dalam mobil.


"Duh aku gak sengaja nabrak lintah." Tutur Kak Alden yang berpura-pura merapikan poni rambutnya. Klee tersenyum tipis, melihatnya yang telah membantu meringankan proses pengejaran. Tepat saat itu juga, Van datang dan langsung memborgol sang pelaku sebelum terlambat.


Kak Alden mendekati Klee, mengecek keadaannya yang benar-benar mengkhawatirkan. "Kau harus di rawat di rumah sakit!" Tuturnya yang cemas. Van refleks menoleh, menyerahkan pelaku pada petugas kepolisian dulu yang baru tiba lalu menghampiri sang kesayangannya.


"Klee? Kau harus ke rumah sakit!" Tanpa pikir panjang ia mencengkram tangannya, menarik Klee masuk ke dalam mobil Alden. "Anak SMA, cepat bawa mobilmu ke rumah sakit." Pintanya dengan enteng.


"Heh siapa lo berani merintah." Rungut Kak Alden, masuk ke dalam mobil. Dia mengendarai mobil kesayangannya menuju rumah sakit terdekat dari lokasi.


***


"Astaga Klee, kamu tuh. Ish sekalinya ketemu malah kek begini kondisinya." Floren nampak gregetan dengan sahabatnya satu ini yang benar-benar membuatnya kehabisan kesabaran.


"Aku baik-baik aja kok, hanya luka gores."


"Luka gores bapakmu!'' Sahut Van, Kak Alden, dan Floren berbarengan. Klee tertegun mendengarnya, ia mengalihkan pandangan, menggerutu tidak jelas. Berselang beberapa detik, Devin datang dengan dada kanannya yang telah di balut dengan perban. Sekilas mereka memandangnya, tapi tak lama sorot matanya kembali tertuju pada Klee yang mendesak ingin pulang ke rumah.


"E-eh Klee! Kau harus beristirahat di rumah sakit semalam aja, baru boleh pulang," kak Alden berusaha menghalangi niatan sang adik kelas.


"Ah shibal saekki! Lo siapa ngatur-ngatur? Udah ah maunya pulang titik! Lagipula aku masih harus nemuin tuh si persetan! Dajjal shibal!" Gertaknya membuat Van dan Devin diam seribu bahasa.


Kak Alden dan Floren spontan melirik ke arah kedua orang itu. Mereka sudah mencurigai bahwa dalang di balik semua ini, ialah mereka berdua. Tapi Devin lekas membela diri, "bukan aku sumpah! Dia nih ngajakin Klee buat join ke tim divisi kriminal dan nyelesein kasus bareng." Ia menunjuk Van yang kebetulan berdiri di sampingnya.


"Bangsat banget anak satu." Batin Van jengkel.


Sementara Klee tak ingin memperpanjang masalah. Dia masih mementingkan kasus Bloody Statue walau pelakunya telah tertangkap dan berada di kantor kepolisian sebelum di tindak lebih lanjut.


***


Beberapa jam kemudian...


"Mengapa kau mengira bahwa pelakunya adalah dokter Deon?" Tanya Van dengan secarik kertas yang berada di atas meja dengan pena yang di genggamannya.


"Aku tidak langsung mengira kalau pelakunya dokter Deon kok. Aku sempat berprasangka kalau pelakunya Elena." Balas Klee dengan polos.


"Ya aku juga begitu. Gelagatnya mencurigakan," sahut Devin.


Tetapi semua dugaan itu berubah seiring berjalannya waktu. Selama delapan hari di sekolah SMA STAR, Klee sengaja mendekatkan diri ke Elena dibanding Bella. Terutama ketika dia mengenal dokter Deon. Di awal pertemuannya dengan sang dokter, ia menyadari beberapa objek barang berupa patung yang di pajang di meja. Di hari berikutnya ketika Klee sengaja memberi obat bius pada makanan Elena agar dia bisa membawanya ke UKS, ia melihat buku diary Elena yang penuh dengan skesta patung. Padahal setahunya, Elena tidak terlalu pandai membuat skesta modal manusia, dia lebih berbakat melukis pemandangan.


Hari berikutnya lagi, Klee mulai bertanya pada Elena terkait hubungannya dengan sang dokter UKS. Dia mengaku bahwa mereka sering bertemu, menggambar di buku diary yang selalu Elena bawa kemanapun ia pergi. Diam-diam mereka memang menjalin hubungan dekat, dokter Deon sangat mencintainya. Dia begitu obsesi meski cintanya telah di tolak berkali-kali. Bahkan tiap hari, dia tak henti mengirimkan parfum aroma lavender ke rumah Elena. Merasa kesal, Elena mengirimkan parfum lavender kepada Bu Ren dan Bella meski mengetahui Bella yang tak menyukai bau lavender.


Semakin berlalunya waktu, Klee mulai menyadari bahwa pelaku dari pembunuhan itu ialah dokter Deon. Terutama setelah menganalisis hubungan korban dengan Elena yang terbilang tidak berjalan baik beberapa bulan terakhir. Mungkin Deon memang menargetkan orang-orang yang bermasalah atau menyakiti hati kekasihnya dan membunuhnya di hari yang ia tentukan seperti di tiga hari favoritnya, Senin, Kamis, dan Sabtu.


Dokter Deon memilih Bella jadi kambing hitamnya, mengingat Elena yang sangat membenci Bella sejak awal masuk SMA. Orang-orang lebih memandang sang anak pejabat yang cantik, cerdas, dan pandai juga dalam hal seni terutama melukis dan membuat patung.


Elena merasa bahwa dirinya tak jauh berbeda meski lukisan yang ia buat lebih sering objek pemandangan dibanding membuat skesta patung model manusia. Tapi tak ada satupun yang peduli, mereka hanya memandang Bella seorang. Maka dari itu dokter Deon menjadikan Nona muda Bernard sebagai kambing hitam lalu membunuhnya.


...


"Jadi si pelaku membunuh korban karena bermasalah dengan gadis yang dia cintai?" Tanya Kak Alden yang menimbrung pembicaraan.


"Dia sangat obsesi dengan wanita yang di cintai sampai segitunya, ya? Ih gila, ternyata cerita novel cowok-cowok posesif itu beneran ada," sahut Floren yang ngeri hingga bulu kuduk merinding.


"Ya begitulah, setidaknya semua sudah berakhir. Hmm pelaku tidak hanya membunuh satu orang siswi itu, sebelumnya dia juga membunuh orang lain yang bermasalah dengan Elena." Tutur Klee, Devin mengangguk pelan.


Van merasa lega. Dugaannya benar, dengan bergabungnya Klee ke dalam tim dapat memperingan pengerjaan kasus-kasus kriminal seperti yang mereka tangani. Mungkin kasus pembunuhan berantai yang telah lama menghantui kota bisa terpecahkan.


...----------------...


Di kala pagi yang cerah dan hangat, sebagian orang menghabiskan waktunya dengan bermain di tempat outdoor seperti di taman, dan semacamnya. Namun berbeda dengan para pekerja di kantor kepolisian yang mengurung diri di dalam kantor, menyelesaikan tugas yang tak kunjung usai.


Klee bersama Van dan Devin mendatangi kantor kepolisian untuk menemui dokter Deon. Mereka yang akan melakukan interogasi padanya sebelum sang pelaku di bawa ke pengadilan untuk dijatuhi hukuman yang setimpal dengan perbuatannya. Mereka memasuki ruangan interogasi. Sementara Devin menyaksikan di balik kaca bersama dengan para detektif lainnya.


"Hah tak sangka kau seorang detektif. Kau masih sangat muda," respon Deon ketika melihat kedatangan Klee bersama Van. "Tak sangka bahwa kau juga satu tim dengan detektif kondang sepertinya." Lanjutnya yang kini menatap Van dengan sinis.


"Aku memang masih muda." Ketus Klee sembari membuka berkas dokumen di meja.


"Intinya saja, tanpa kuberitahu kalian pasti sudah menebak alasan aku membunuh mereka. Menurutku sih mereka juga tak pantas berada di dunia ini, lebih baik mereka menjadi sebuah karya mengesankan yang di nikmati banyak orang. Sekaligus aku ingin membuat suatu hal yang baru, mengajarkan pada para seniman bahwa kita bisa membuat patung selain dari batu. Bukankah menggunakan tubuh manusia lebih mudah dibandingkan dengan batu?"


Kalimat yang terlontar membuat Klee dan Van tertegun mendengarnya. Seobsesi itukah jika seseorang sudah jatuh cinta? Bahkan berani melakukan hal mengerikan demi orang yang mereka cintai. Setidaknya biarkan dia bahagia dengan caranya sendiri sudah cukup, tanpa perlu melakukan hal begini.


"Kau terlalu bodoh hingga nafsu membutakan pikiran dan hatimu." Van teramat geram. Meski ia juga sedang mencintai seseorang, tapi takkan dia melakukan hal bodoh seperti yang Deon lakukan.


"Kau mungkin bisa bicara seperti ini sekarang, tapi ketika kau merasakannya mungkin kau akan jauh lebih bodoh dariku." Balas Deon menyunggingkan senyum sinis padanya.


Sementara Klee yang sempat diam, membuka mulutnya. Namun ia mempertanyakan hal sesuai prosedur, sama sekali tidak memikirkan setiap kalimat yang Deon katakan untuk memanipulasi pikirannya. Sampai detik ini, tak ada yang bisa memanipulasi pikirannya selain dirinya sendiri. Hal tersebut membuat Deon geram sekaligus penasaran. Ini kali pertamanya ia bertemu seseorang yang tidak dapat ia manipulasi pikirannya. Sementara gadis-gadis lainnya bahkan Elena sendiri, dapat ia kontrol dengan mudahnya.


"Nona, mungkinkah kau betulan monster?" Dia menatap tajam Klee dengan rautnya yang datar. Tak seperti sebelumnya, kini dari cara bicara dan tindakannya jauh berbeda. Ia yang sedari tertawa dan seolah menganggap semuanya sepele kini berbanding terbalik.


Tatapan Van tertuju pada Klee yang diam memandangi Deon. "Kenapa jadi aneh?" batinnya merasa gundah.


"Hmm...Kau menyebutku monster? Ya, aku memang monster! Kenapa?! Masalah, hah?! Kau tak suka kah? Ini hidupku brengsek! Lo gak usah ikut campur dasar setan, aish shibal bikin orang emosi." Klee sengaja meluapkan emosinya untuk menetralkan situasi yang di rasa tegang. Deon terpaku mendengar gertakan Klee yang tidak ia duga. Kelihatannya, dia sudah menyerah berhadapan dengan sang gadis SMA yang pandai menguasai situasi.


Waktu berlalu. Selepas menjalani proses yang panjang dalam menyelesaikan kasus, Klee dan Devin bersekolah seperti sediakala. Sesekali mereka membantu petugas kepolisian seperti menangkap pencuri, menolong warga, dan tugas lainnya yang terbilang ringan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Klee memasuki kelas. Di dalam, sudah ada Floren yang datang lebih dulu dan telah menunggu kedatangannya. Ada beberapa teman sekelasnya yang sudah datang, termasuk Devin. Tapi sepertinya dia sedang keluar, karena hanya ada tasnya saja di dalam kelas. Klee mendatangi mejanya, duduk di kursinya seperti biasa. Ia mengeluarkan buku catatan berserta pena untuk menulis plot cerita dari novelnya. Ya tentu karena sudah delapan hari ia tak menulis novel, sebab menjalankan misi barunya sebagai anggota dari divisi kriminal. Floren terkekeh, ia senang melihat sahabatnya yang kembali ke kehidupan semula.


"Klee, kamu tahu gak?"


"Enggak," pangkas Klee. Floren mengerutkan dahi dan memayunkan bibir, merasa kesal akan tingkah sahabatnya yang tidak berubah sedikitpun. Minimal gak kaya setan semenit aja deh.


"Sumpah dah, aku lagi serius nih,"


"Hmmm? Kenapa?"


"Husbu aku, rilis lagu baru! Dia juga bakal tampil di negara ini bulan depan! Ggwp, bukan?" ceritanya yang begitu antusias. Sementara Klee hanya mengangguk pelan dengan tangannya yang tak berhenti bergerak di atas lembaran kertas.


"Ya Tuhan....Ish gemes banget!" Floren menarik kedua sisi pipi Klee secara bersamaan. Membuat kalimat yang sedang di tulis, tercoret begitu saja. Menyadari hal tersebut, ia lantas segera melepasnya. "Ah hahaha aku mau ke toilet bentar, bye everything." Dia melarikan diri sebelum sahabatnya nyap-nyap.


Sementara di sisi lainnya, Devin bersama Kak Alden. Tak hanya berdua, mereka bersama dengan beberapa anggota osis lainnya. Pagi ini, para osis berniat mengadakan rapat membahas acara yang akan mereka gelar di akhir bulan. Mereka memikirkan serangkaian acara yang menghibur semua murid maupun guru di sekolahnya.


"Ada saran?" Tanya Kak Alden dengan tegas. Sebagai ketua osis, ia juga harus mendengarkan pendapat anggota osis yang lainnya.


"Bagaimana kalau ada acara cosplay? Anak-anak suka tuh yang kek gitu,"


"Ada acara nyanyi gitu juga dong tapi satu grup gak solo, biar berasa lagi nonton idol kpop. Kalau bisa yang grupnya cowok semua, biar makin kece,"


"Ada penampilan drama juga biar seru!"


"Ada sulap!"


Dan lain sebagainya, mereka semua memberikan pendapatnya masing-masing. Kak Alden diam sejenak, memikirkan pendapat apa yang harus ia putuskan agar tidak menimbulkan kecemburuan pada beberapa pihak. Setelah berpikir berapa lama, pada akhirnya ia mengambil pilihan. Akan ada acara cosplay, penampilan boyband maupun girlband, dan drama. Semuanya setuju akan keputusan tersebut. Selain ada ketiga acara itu, akan diadakan bazar yang menjual berbagai barang dan makanan.


"Ya baiklah, rapatnya sampai sini aja dulu. Nanti sekitar jam sembilan kita ngumpul di lapangan buat ngumumin perihal acara ini,"


Selepas itu mereka kembali ke kelasnya masing-masing dan beraktivitas sesuai dengan kemauannya sebelum jam pembelajaran di mulai. Kak Alden berjalan berdampingan dengan Devin, ya karena dia ingin menemui adik kelas kesayangannya.


"Klee sayang," kata-katanya membuat satu kelas menyorotnya. Termasuk juga Klee yang tengah asyik mengusik sahabatnya, Floren.


"Apa tadi kata dia?" Tanya Klee pada sahabatnya tapi Floren mengangkat bahu sambil menggelengkan kepalanya. Kak Alden dan Devin menghampiri gadis yang mereka cintai, keduanya berdiri di hadapannya lalu memberikan roti dengan rasa dan merek yang sama.


"Lo ngikutin gw, ya?!" Kak Alden menarik kerah baju Devin.


"Heh gw udah datang dan beli dari tadi, ya! Jadi ya lo yang ngikutin gw!" Devin berbalik mendorong tubuh Kak Alden yang mengakibatkan pertikaian di antara keduanya. Murid lain berbondong-bondong melerai pertikaian tersebut. Sementara Klee merebut roti tersebut dan membuangnya di tempat sampah untuk menghentikan keributan.


"Bocah-bocah tolol! Roti aja di permasalahin, kek gak ada kerjaan aja." Satu kelas menyorot dirinya yang berdiri di antara pintu kelas. Floren yang duduk terpaku di kursinya, buru-buru menghampiri sang sahabat.


"Maaf, emang orangnya begini," dia berusaha mencairkan suasana tapi Klee seolah tak peduli. Ia kembali duduk di kursinya, memandangi kedua pria yang menurutnya bertingkah kekanakan.


"Yang satu ketos, yang satu ketua kelas, tapi gak ada yang bisa memberikan contoh baik. Haish brengsek shibal," rungutnya membuat Devin dan Kak Alden diam. "Btw rapiin tuh meja sama kursi yang berantakan, jangan ngerepotin yang piket." Klee menutup buku catatannya, suaranya terdengar jelas yang membuat satu kelas ikut terdiam.


Devin dan Kak Alden menuruti perintah dari sang nona garang. Mereka tak mau Klee tambah marah jika tidak merapikan meja. Usai melakukannya, mereka duduk di bangku yang kosong, menimbrung pembicaraan antar dua sahabat manis ini.


"Btw kalian lagi bahas apa? Cerita kriminal?" Devin meraih buku catatan di meja, tapi Klee merebutnya balik. "Ah hahahaha maaf." Ia menyadari crushnya yang memasang raut masam karena perbuatannya.


"Keknya tadi Klee lagi gangguin..."


"Weh lihat! Ada orang istimewa tuh datang ke sekolah!" Seru seorang murid yang berdiri di dekat jendela. Murid lainnya lantas pergi menatap jendela, mereka bergegas ke lantai bawah untuk menemui orang yang datang.


"Haish siapa dah yang datang? Bodo ah! Ada anak osis lain ini. Kita sembunyi di sini aja, ya." Tutur Kak Alden yang kali ini disetujui oleh Klee.


Kelas yang ramai beralih sepi karena murid-muridnya yang penasaran dengan orang istimewa siapa yang mengunjungi sekolahan mereka. Mengapa disebut istimewa? Karena dari mobil tersebut datang, sudah diberi sambutan yang megah. Di tambah mobil yang di kendarai orang tersebut juga mahal, tidak mungkin jika hanya orang biasa. Devin inisiatif mematikan lampu kelas, menutup pintu, jendela, dan gorden kelas agar suasana gelap dan sepi. Setelah itu dia berkumpul dengan klee, Floren, dan Kak Alden yang akan menonton film.


"Mau pake hp aku aja, gak? Sinyalnya bagus nih," Kak Alden membuka ponselnya, mengklik salah satu aplikasi menonton film maupun series. "Mau nonton film, apa?" tanyanya yang melirik ke arah Klee.


"Horor yang baru keluar di bioskop beberapa hari lalu tuh! Yang bikin penonton takut sama parutan keju," sahut Floren antusias. Namun Kak Alden tak menanggapi, ia bertanya pada Klee bukan sahabatnya. "Klee, mau nonton apa?"


"Ah ya kalau gak salah ada film criminal yang baru rilis, ya? Mungkin Klee suka yang itu," jawab Devin. Tapi tak di duga-duga, gadis SMA yang biasanya menyukai tontonan criminal, kini tertarik dengan film horor trend yang bikin penontonnya ketakutan.