
"Lukisan ini terlihat aneh, ayo kita tertinggal!!" seru Alvian meninggalkanku. Ternyata teman-temanku sudah berjalan jauh meninggalkanku. Aku menatap lukisan ini lalu berjalan mengikuti teman-temanku.
Para pelayan hotel dan dosen mengantarkan kami pada sebuah lorong panjang dan gelap. Mataku masih setia memperhatikan satu persatu pintu kamar itu.
"Ini adalah kamar kalian, dan ini adalah jadwal kegiatan kita selama beberapa hari ke depan dan tolong besok bangun tepat waktu"
Dosen menatapku lalu tersenyum, "Brian, kau yang menjadi ketua kelompok ya, anggota kelompok juga sudah saya tuliskan di kertas ini" Dosen memberikan kepadaku selembar kertas, dan aku langsung menerima nya dan tersenyum.
"Wah, hebat lihatlah bagaimana seorang Brian yang dingin dan pendiam menjadi ketua kelompok!" ujar Gavin dengan tawa kecilnya.
"Heh, jangan seperti itu. Siapa tau dengan ini dia bisa lebih membuka dirinya dengan dunia luar" Alvian membelaku.
"Siapa saja anggota kelompoknya?" tanya David mengabaikan obrolan kami sebelumnya. Matanya ikut mengintip pada kertas yang ku pegang.
"Brian, Alvian, David, Gavin" Jawabku.
"Hanya berempat?" tanya Alvian. Aku mengangguk menjawab pertanyaannya.
"Ah, baiklah. Dimana kamarnya?" tanya Gavin menatap satu persatu pintu kamar hotel. Aku membaca nomor kamar yang tertera di kertas yang ku pegang. Jelas, aku tidak mungkin salah melihat. Angka itu memang benar-benar angka 13. Tiba-tiba darahku berdesir mengingat semua kejadian itu. Angka 13, angka yang kubenci karena mengingatkanku pada sebuah kejadian di masa lalu.
Pada tanggal 13, aku resmi berpacaran dengan Davina. 2 Tahun kemudian, tepat pada tanggal 13 di hari anniversary hubungan kami, Davina mengalami kecelakaan dan meninggal dunia. Davina juga menyukai angka 13. Mitos juga mengatakan bahwa kamar bernomor 13 biasanya menyimpan sejuta misteri. Tetapi aku berusaha menepis pikiranku itu. Dengan percaya, aku mulai melangkah mencari pintu yang bertuliskan angka 13. Sedangkan yang lain mengikuti langkah kakiku di belakang.
"Kau yakin kamar ini?" tanya Alvian tampak ragu. Aku mengangguk yakin. Lalu tanganku terangkat untuk memegang gagang pintu dan mulai membuka nya. Tetapi saat pintu akan terbuka, sebuah tangan menahan ku untuk melanjutkannya. Gavin menatapku dengan tatapan ragu. Di matanya aku bisa melihat bahwa ia takut dengan kamar yang akan kita tempati. Sepertinya ia juga mempunyai pikiran yang sama dengan pikiran awal ku tadi.
"Ini kamar nomor 13, biasanya kamar no 13 di setiap hotel di tiadakan. Tetapi kenapa ini ada? Atau jangan-jangan kamar ini menyimpan sejuta misteri?" tanya Gavin.
"Bagaimana jika kita meminta dosen dan pelayan hotel untuk mengganti kamar kita?" timpal David tak kalah takut.
"Tidak usah membuat susah. Memang kenapa jika kamar ini nomor 13? Jangan dulu berpikir aneh-aneh, ayo masuk!" Aku membuka pintu dan melihat isi kamar ini, sedangkan teman-temanku masih di bibir pintu menatap setiap inci kamar ini dengan detail.
"Ayo masuk!" ajak ku.
Aku memperhatikan kamar ini. Bagus dan megah. Tidak ada kesan seram. Lampunya menyala dengan terang dan beberapa perabotan mewah pun sudah tersedia. Aku langsung mendaratkan badanku di sebuah kursi panjang. Sedangkan teman-temanku masih menatap ku aneh. Tetapi lama kelamaan mereka pun ikut beristirahat dan tidak perduli lagi pada mitos itu.
Kami membereskan barang-barang kami, setelah selesai kami langsung beristirahat. Malam sekitar pukul jam 9 malam. Ada yang mengetuk pintu kamar kami, terpaksa aku harus membukakan pintu karena teman ku yang lain masih tidur dan sepertinya tidak mendengar suara ketukan pintu itu.
Aku menyibakkan selimutku dan berjalan mendekati pintu. Setelah aku membukakan pintu, aku bisa melihat bahwa itu adalah pelayan hotel yang mengirim makan malam pada kami.
"Maaf mas ini makan malam nya saya antar" ujar pelayan itu sopan.
Aku langsung menepuk jidatku karena baru mengingat bahwa aku dan teman-temanku baru saja melewatkan makan malam yang seharusnya dilakukan pada jam 8 malam di aula hotel bersama yang lain sesuai dengan jadwal.
"Aduh, jadi ngerepotin maaf banget ya kami lupa dan ketiduran"
"Gapapa mas, ini saya juga diperintahkan sama dosen mas"
"Makasih banyak ya"
Pelayan hotel memberikan beberapa makanan yang sudah mulai dingin di dalam sebuah roda makanan. Setelah itu pelayan pun pergi. Saat aku hendak berbalik dan membawa roda makanan, aku melihat Deolina di ujung lorong gelap tengah berdiri menatapku dengan senyumannya. Aku terkejut mengapa ia juga bisa ada disini? Tidak mungkin kan dia mengikutiku.
Aku membawa roda makanan ini ke dalam lalu menutup pintu. Aku juga akan ke bawah untuk menemui dosen dan meminta maaf karena aku yang tidak bisa disiplin mengenai waktu makan malam. Saat aku berjalan di lorong, Deolina pergi dan membuatku kebingungan. Dengan langkah yang cepat, aku mengejarnya tetapi lampu lorong yang tiba-tiba mati membuatku sulit untuk berjalan. Aku menatap kesana kemari untuk mencari cahaya yang bisa menerangiku.
"Hallo, apa ada orang di sekelilingku? Aku mohon jika ada orang yang mendengar suara ku tolong bantu aku"
Beberapa detik aku hanya bisa terdiam karena hanya hening yang ku dapatkan. Tiba-tiba suara seorang wanita tua mengejutkanku.
"Nenek ada disini, Brian"
Aku terkejut dan mencoba mencari sumber suara. Tetapi aku tidak dapat menemukan darimana suara itu berasal. Kesal campur bingung rasanya, terjebak dalam situasi yang gelap gulita tanpa ada cahaya sedikit pun. Aku berusaha menggapai sekitarku barangkali aku bisa menggapai sesuatu, tetapi yang ku dapatkan hanyalah kosong. Seakan-akan aku berada di ruangan yang kosong tanpa barang satupun. Padahal, tadi sebelum lampu mati aku yakin aku masih berada di lorong dan berada tidak jauh dari kamarku. Harusnya aku bisa memegang dinding, lukisan, pot bunga, atau bahkan lemari kecil yang ada di lorong.
Selang beberapa menit, aku merasakan ada sebuah tangan keriput dingin yang mengenggam tanganku. Aku berusaha melepas genggaman itu karena semakin lama genggaman itu semakin kuat dan membuat tanganku sakit. Tiba-tiba saja tangan itu hilang dengan sendirinya. Lampu juga tiba-tiba menyala dan menampakkan Deolina yang berdiri tidak jauh dariku. Ia menatapku dengan ketakutan.
"Cepat pergi dari sini, ini bukan tempatmu"
Aku mengerutkan dahiku, tidak mengerti apa maksudnya. Aku menatap sekelilingku sambil meringis kesakitan dan memegang tanganku.
"Apa maksudmu Deolina?"
"Cepat pergi ke kamarmu jika tidak ingin luka di tanganmu bertambah"
Aku menatap tanganku yang luka, dan ternyata benar luka nya bertambah. Seperti luka bakar dan seperti bekas cakaran binatang buas. Tanpa basa-basi aku langsung berlari dan masuk ke kamar. Persoalan permintaan maaf ke Dosen aku bisa melakukannya besok yang terpenting sekarang aku harus mengobati luka aneh yang ada di tanganku dulu.
Aku dikejutkan dengan pemandangan teman-temanku yang menatapku aneh sambil memasukkan makanan ke dalam mulutnya.
"Dari mana saja kau?" tanya Alvian.
"Ayo kita makan bersama" ajak David.
"Sebentar, aku harus mengobati luka di tanganku dulu" ujarku sambil menunjukkan luka di tanganku.
Semua temanku menatap ku aneh.
"Luka? Luka apa yang kau maksud? Tanganmu terlihat baik-baik saja" kata Gavin yang sukses membuatku terkejut dan ikut menatap tanganku. Dan benar tidak ada luka apapun disana. Tanganku masih baik-baik saja.
"Sudahlah ayo kita makan"
Aku mulai melupakan kejadian aneh tadi dan makan bersama teman-temanku. Saat sedang makan, kami hanya mengobrol ringan untuk menghilangkan keheningan malam ini. Lalu perkataan David sukses membuatku terkejut bahkan sampai tersedak makanan yang masih ada dalam tenggorokan ku.
"Tadi saat aku baru saja selesai dari toilet, ada seseorang yang mengetuk pintu kamar, dan ternyata itu adalah pelayan hotel yang mengantar makanan ini, lalu aku langsung membuka nya dan berterima kasih padanya"
#Bersambung