Saved

Saved
4. Deolina



"Aku lupa,tadi siapa namamu?" tanyaku penasaran.


"Deolina" jawabnya sambil menatap jalanan.


Aku dan Deolina akhirnya sampai di cafe. "Ayo" ajakku pada wanita bernama Deolina ini sambil membuka sealbet. Deolina melihat sekeliling cafe heran.


"Ada apa?" tanyaku sambil ikut melihat sekeliling cafe.


"Tidak" jawab Deolina sambil tersenyum.


Aku dan Deolina pun akhirnya memasuki cafe. Aku memilih meja yang paling pojok dan dekat kaca. Aku langsung mengeluarkan laptop karena Mama sudah mengirimkan file proyek perusahaan Mama padaku sedangkan Deolina duduk di hadapanku sambil melirik sekeliling. Aku tidak tau apa yang ia pikiran. Aku mencoba mengabaikannya. Aku memesan dua cokelat panas favoritku. Aku memesan untuk Deolina juga. Tak lama, saat aku sedang fokus mengerjakan proyek pelayan datang dengan membawa dua cangkir di tangan nya.


"Silahkan mas selamat menikmati" ujarnya sambil menyimpan cangkir cokelat panas kepadaku. Aku langsung menyimpan satu cangkir cokelat panas itu di depan Deolina. Pelayan yang melihat tindakanku mengerutkan dahi bingung. Aku hanya tersenyum lalu Pelayan itu juga tersenyum lalu berlalu pergi. Aku semakin bingung. Kenapa orang yang berada di sekitarku tidak bisa melihat Deolina? Aku menatap Deolina dengan wajah yang heran. Dia hanya tersenyum sambil mengangkat bahunya tidak tau.


Deolina memegang cangkir cokelat panas.


Aku kembali fokus pada proyekku. Tak sadar aku melihat Deolina yang hanya memainkan cangkir nya sambil menatapnya kosong.


"Ada apa? Kau tak menyukai minumannya?" tanyaku heran.


"Aku tak bisa meminum ini" katanya.


"Yasudah jadikan saja itu sebagai pajangan" ujarku lalu menatap fokus lagi pada laptopku.


Aku menoleh saat seorang wanita memanggilku. "Brian? Sedang apa kau?". Itu bukan suara Deolina melainkan suara Kirana yang berdiri menatapku bingung.


"Sedang ada urusan" kataku.


"Kau sendiri?" tanyanya lagi.


"Aku......" ucapku terpotong karena Kirana lebih dahulu berbicara "Ahh kau dengan seseorang?" ujarnya sambil menatap cangkir panas yang berada di hadapanku.


Aku hanya tersenyum padanya. Ia lalu tersenyum dan berlalu pergi meninggalkanku.


"Ternyata pajangan ku ini berguna juga yaa" kata Deolina. Aku hanya tersenyum tipis menjawabnya. Lagi-lagi Kirana tidak bisa melihat Deolina. Sebenarnya siapa Deolina? Apa benar dia kembaran Davina? Tapi kenapa aku tidak mengetahuinya? Davina tidak pernah mengatakan bahwa ia mempunyai kembaran.


"Kau kenapa tidak menyukai wanita secantik Kirana?" tanya Deolina lagi menatapku menanti jawaban.


"Apakah harus aku menyukai seseorang karena kecantikan nya? Cinta yang tulus tidak memandang fisik maupun harta" kataku membuat Deolina terbungkam.


"Davina? Dia juga cantik kan sama sepertiku" tanya Deolina sambil mengibaskan rambutnya.


Aku hanya menganggukan kepalaku pelan.


"Wajah kalian sama tapi sikap kalian berbeda".


"Bagaimana kau mengetahui nama dia Kirana?" tanyaku.


"Aku mendengarnya saat kalian berbicara dia cantik dan baik, dia juga terlihat menyukaimu, kenapa kau tidak menyukainya? Karena di hatimu masih ada Davina? Dia pasti akan setuju jika kau menyukai wanita selain dirinya" ujar Deolina.


"Tau apa kau tentang Davina?" tanyaku.


"Terserah kau, tapi kau ini sangat lucu sekali" kata Deolina.


"Setelah ini kau mau kemana?" tanya Deolina lagi.


"Kantor Mama" jawabku singkat dengan masih fokus pada laptopku.


"Aku ikut" ujarnya.


"Apa kau tidak punya kerjaan lain selain mengikutiku?" tanyaku pada Deolina.


Deolina ini sangat berbeda dengan Davina. Davina yang pendiam dan kalem. Tapi Deolina cerewat dan banyak omong.


Aku sudah berada di mobil bersama Deolina disampingku. Dari tadi Deolina menatap ke kursi belakang mobil menggunakan kaca yang dipegangnya. "Ada apa?".


"Tidak,Aku hanya tidak suka dia melihatku seperti itu" jawabnya.


Aku memberhentikan mobilku mendadak saat mendengar perkataan Deolina.


"Awww" ringis Deolina karena kepala nya terbentur mengenai bagian depan mobilku.


"Kau bisa bawa mobil tidak?!" ucapnya kesal sambil menyilangkan tangan nya.


"Siapa yang kau bilang menatapmu seperti itu? Aku?" tanyaku heran. Bagaimana bisa ia mengira bahwa aku menatapnya.


"Aku tidak mengatakan bahwa kau menatapku" katanya.


"Lalu apa yang baru saja kau ucapkan" tanyaku.


"Aku hanya tidak suka dia melihatku seperti itu" ia mengulangi perkataannya.


"Lalu jika bukan aku yang kau maksud siapa? Disini hanya ada aku dan kau" jawabku lalu melanjutkan mengendarai mobilku. Deolina hanya mendengus kesal lalu menatap kaca mobil.


"Aku tunggu disini saja" kata Deolina saat kami sudah berada di depan kantor.


Aku mengangguk dan keluar dari mobilku. Setelah aku keluar dari mobil aku melihat ke belakang. Aku melihat Deolina yang sedang bercermin di dalam mobilku sambil membetulkan rambut.Aku hanya menggelengkan kepalaku.


"Wanita itu apa tidak ada kerjaan lain selain bercermin dan mengikutiku?" ujarku pelan lalu masuk ke dalam kantor.