
Aku masih menatapnya. Tak lama, wanita itu berbalik dan berjalan menjauhiku. Aku terkejut dengan tatapan Kirana yang melihat ku aneh.
"Ada apa denganmu Brian?" tanya nya sambil melihat ke arah belakangnya.
"Tidak apa-apa, ayo!" ajak ku sambil berjalan menuju meja pojok.
Kirana duduk di depanku sedangkan kursi di sebelahku kubiarkan kosong. Aku membuka buku dan mulai mengerjakan tugas. Saat aku sedang fokus mengerjakan tugas,aku mendengar suara wanita tepat berada di sebelahku.
"Haii" sapa nya. Aku menoleh kepadanya. Wanita itu lagi. Ia duduk di samping ku dengan senyumannya sambil menatapku.Sekarang aku bisa melihat wajahnya dengan jelas. Dia beralih dariku dan menatap Kirana yang sedang membaca buku. Aku lalu menatap buku ku kembali dan mengabaikannya.
"Kau pasti terkejut melihatku bukan? aku kembaran Davina, namaku Deolina" ujarnya lembut.
Aku menoleh lagi. Ia lagi-lagi tersenyum padaku. Aku beralih menatap Kirana yang sepertinya tak menyadari keberadaan wanita ini. Ia masih sibuk membaca buku. Wanita itu kemudian mengambil pulpen yang berada di tanganku dan mengambil kertas kecil di sampingku. Ia seperti sedang menulis sesuatu. Setelah selesai, ia lalu memberikan kertas dan pulpen ku kembali dengan senyuman nya.Aku mengerutkan dahiku bingung.
"Buka saja" ujarnya.
Aku membuka kertas itu dengan hati-hati. Ia menuliskan:
Salam kenal semoga kita bisa berteman
Aku mengerutkan dahiku bingung. Apa maksudnya? Aku menoleh kembali padanya tapi ia sudah tidak ada.Aku menatap Kirana yang masih fokus dengan buku nya. Tapi disampingnya ada wanita itu yang sedang menatapnya. Wanita itu mendekatkan wajahnya pada Kirana, matanya menerawang wajah cantik Kirana. Aku semakin bingung. Bagaimana bisa Kirana tidak menyadari ada seseorang yang menatapnya sedekat itu?
"Apa benar dia kembaran Davina?" gumamku dalam hati.
Wanita itu mengangkat wajahnya kembali dan tersenyum kepadaku. Senyuman itu memang mengingatkan ku pada..... Davina. Mereka benar-benar mirip. Davina. Seseorang yang sangat kusayangi yang telah meninggalkanku bertahun-tahun yang lalu. Aku menggelengkan kepalaku saat mengingat insiden itu kembali berputar di otakku. Aku menyaksikan Davina menghembuskan nafas terakhirnya.
2 tahun yang lalu.
Saat itu aku sedang berada di taman bersama Davina. Menikmati angin malam.
"Terlihat sangat tampan" ujarnya sambil tersenyum.
Aku menatapnya. "Siapa yang tampan? Aku?" ujarku.
"Bukan,bintang itu" ucapnya sambil menunjuk bintang yang ada di langit malam.
"Sejak kapan Bintang tampan? Bintang itu cantik bisa juga indah" sanggahku menatap bintang itu.
"Ya, aku tau aku sangat cantik maka dari itu kau sangat jatuh cinta padaku kan?" tanya nya dengan jail.
"Sepertinya tingkat kepedeanmu sudah melebihi langit ke 7" ujarku kesal.
"Benarkah begitu?" tanyanya dengan nada jail.
"Kau ini!" ujarku ingin sekali menangkapnya.
"Kenapa? Kau ingin menangkapku? Cobalah kalau bisa" kata nya sambil berlari.
Dia berlari sambil tertawa kegirangan. Aku mengejarnya. Dia berbalik dan berjalan mundur untuk mengejekku. Sampai akhirnya ia tidak sadar tengah berjalan di jalan raya. Sebuah cahaya membuatnya silau. Ia menyipitkan mata nya dan mendengar suara klakson mobil mendekati nya. Aku melihat sebuah mobil berjalan ke arahnya dengan cepat. Aku berlari ke arahnya untuk menolongnya. Tetapi terlambat. Mobil itu menabrak tubuh Davina dan membuatnya terpental jauh.
"Davinaa!" teriakku yang langsung berlari ke arahnya. Mobil itu berjalan secepat mungkin saat warga berhamburan datang. Tak sadar aku meneteskan air mata ku melihat Davina yang sudah diselimuti darah. Aku membawa tubuhnya ke pangkuanku. Davina membuka mulutnya seperti ingin mengucapkan sesuatu.
"Aku- menya-yangimu-jangan-pernah-lupakan-aku-aku- akan -selalu- ada- dihatimu" ujarnya dengan terbata-bata.
"Tidak usah repot-repot, terima kasih karena telah menemaniku aku akan beristirahat dengan tenang" ujarnya sambil tersenyum.
"Tidak,kau pasti bertahan!" teriakku.
Dia hanya tersenyum dan melepaskan genggaman tanganku. Dia meninggalkanku untuk selama-lamanya. Wajah nya yang manis akan selalu kuukir dalam hatiku. Aku merindukannya.
Setelah aku tersadar dari bayang-bayang masa laluku,aku langsung izin kepada Karina untuk ke toilet. Tapi saat aku sedang berjalan,Wanita bernama Deolina itu memanggilku.
"Brian!" panggilnya.
Aku hanya menoleh dan tidak menjawab.
"Davina sudah meninggal" ujarnya saat berada di hadapanku.
"Aku tau saat kejadian itu terjadi aku ada di sisinya, ini semua salahku karena tidak bisa menjaganya" kataku sambil menundukkan pandanganku.
"Aku berada disini bukan untuk membuatmu mengingat kejadian itu" ujar wanita itu sambil memegang bahuku.
Aku menatapnya. Ia selalu tersenyum.
"Dia sangat merindukanmu dan mencintaimu" ujarnya panjang lebar.
"Terimakasih" ujarku.
Kirana mengangkat wajahnya dan menatapku. "Terimakasih untuk apa?" ucapnya.
"Karena kau mau menemaniku" kataku.
👻
Aku berjalan di lorong menuju cafe di kampusku. Tetapi aku melihat sesuatu yang membuatku bingung. Tiba-tiba aku melihat lorong dan pintu yang seharusnya berada di rumahku. Aku hanya bisa diam di tempat. Seluruh tubuhku terasa kaku untuk digerakkan.
"Kau sudah melakukan kesalahan yang membuatmu harus menanggung resiko nya" ujar seorang wanita. Aku menoleh kepadanya. "Apa maksudmu?" aku mengernyitkan keningku heran dengan perkataan wanita ini.
"Mau kemana kau sekarang?" ia tidak menjawab pertanyaanku dan mengalihkan pembicaraan.
"Ke cafe, aku harus mengerjakan suatu urusan" kataku singkat.
"Boleh aku ikut?" tanyanya dengan mata yang penuh harap. Mata itu. Mata yang sangat mirip dengan Davina. Bagaimana bisa aku menolaknya.
Aku menggangguk pelan dan dia tersenyum bahagia. Kemudian aku menjalankan mobilku menuju cafe.
"Aku lupa tadi siapa namamu?" tanyaku penasaran.
"Deolina" jawabnya sambil menatap jalanan.