Saved

Saved
1. Prolog



Aku berjalan melangkahkan kakiku menuju pintu keluar kampus. Tetapi seseorang memanggilku dan membuatku menoleh.


"Brian!" panggil seorang wanita cantik berambut pirang bergelombang. Dia memang cantik. Memang banyak lelaki yang menyukai nya karena kecantikannya. Tetapi aku tidak tau mengapa dia tidak merespons semua lelaki itu. Dia selalu menemaniku walaupun sebenarnya aku lebih suka sendiri. Ya,memang itu bukan kebiasaan bagus. Tapi tidak tau mengapa aku sangat menyukai itu. Karena keheningan membuatku tenang dan tidak akan ada lagi orang menanyakan kabarku. Setiap hari,orang selalu menanyakan kabarku. Padahal aku terlihat baik-baik saja. Aku tidak mengerti kepada mereka. Mungkin mereka merasa aneh melihat diriku yang kesepian.


"Ada apa?" tanyaku hangat sambil tersenyum.


"Kau sibuk hari ini?" tanya nya seperti sedang mengharapkan sesuatu.


"Hari ini.....aku ada janji dengan keponakanku, ada apa memang?" tanya ku penasaran.


"Tadinya aku ingin mengajakmu untuk makan malam hari ini tetapi ternyata kau tidak bisa yaa" ucapnya terlihat putus asa.


"Maaf" ujarku singkat.


Dia hanya menundukkan kepala nya pelan sambil menunduk.


"Kirana!" Panggil seorang pria yang berjalan menghampiri kami. Aku tersenyum pada pria itu. Aku mengenalnya. Dia teman sekelasku. Kirana juga mengenalnya.


"Kirana kau sedang apa? Mau makan malam denganku? Aku mempunyai restoran baru untuk kita cicipi" ujarnya riang.


Kirana mengangkat wajahnya lalu menatapku dan menatap pria itu, lalu menjawab "Ayo!" ujarnya tersenyum.


"Aku duluan yaa selamat bersenang-senang!" ujarku melambaikan tangan dan meninggalkan mereka. Saat aku berbalik,Aku melihat dengan ujung mataku bahwa Kirana memandangiku dengan mata yang terlihat putus asa. Aku tau dia menyukaiku,maka dari itu aku tidak mau menyakitinya dengan memberikan harapan palsu untuknya.


Aku berjalan dan memasuki mobilku. Menyimpan tasku di kursi samping dan menyalakan mobilku meninggalkan area kampus dan menuju rumah. Tentang janjiku dengan keponakanku Rasya itu memang benar. Aku tidak berbohong untuk itu.


Aku memasuki mobilku ke halaman rumahku yang cukup luas. Aku membuka pintu mobilku dan melihat Rasya berjalan ke arahku dengan riang.


"Kakak sudah pulang horee!" ujarnya dengan sangat menggemaskan. Dia baru berumur 8 tahun tapi tubuh nya yang mungil membuatnya terlihat seperti anak berumur 5 tahun.


Aku merangkul Rasya masuk menuju rumah.


"Brian kau sudah pulang" ujar mama dengan senyuman terbaiknya.


Aku mengangguk dan tersenyum.


"Kau sekarang ganti baju dan makan bersama Rasya lalu setelah itu bermain dengan nya, Kakakmu hari ini tidak pulang jadi mereka menitipkan Rasya padamu" ujar Mama sambil memegang bahuku.


"Baik Ma, ayo Rasya" kataku sambil menggandeng tangan nya menuju meja makan.


Aku mengganti bajuku lalu berjalan menuju Ruang makan. Saat berjalan di lorong aku melihat sebuah pintu yang selalu tertutup rapat berada di ujung. Aku pun tidak tau alasan nya mengapa pintu itu selalu terkunci. Mama bilang jangan pernah membuka pintu itu karena Kakek akan marah besar jika mengetahuinya. Aku penasaran dan berjalan menuju pintu itu. Kakiku terasa sangat berat untuk melangkah. Tidak tau kenapa. Saat aku semakin dekat dengan pintu itu,sebuah suara lembut mengejutkanku. "Kakak sedang apa disitu?" ujarnya.


"Rasya? Kakak sedang......" ucapku menggantung karena tidak tau harus menjawab apa. Mulutku terasa kaku dan otak ku terasa berhenti seketika untuk memikirkan jawaban apa yang tepat.


"Ayo kak kita makan aku sudah lapar!" kata Rasya sambil memegangi perutnya yang kecil itu.


Kami hanya makan berdua. Mama katanya sudah makan tadi karena menungguku terlalu lama pulang dari kampus. Sedangkan Papa dan Kakek sedang pergi bisnis. Nenek ku? Sudah meninggal bertahun-tahun yang lalu.


Rasya makan dengan sangat lahap. Ia sepertinya memang kelaparan. Pasti ia menungguku pulang dan tidak makan. Aku tersenyum memandangi nya yang sedang memasukkan makanan ke mulutnya dengan sangat menggemaskan.


"Rasya kita akan main apa setelah makan?" tanya ku sambil memandangnya.


"Bermain petak umpet saja bagaimana Kak?" kata Rasya setelah terlihat berpikir terlebih dahulu.


Aku hanya mengacungkan jempolku sebagai jawaban dan membuat Rasya tersenyum bahagia. Setelah selesai makan,aku dan Rasya menonton televisi sebentar untuk membuat makanan yang kita makan tercerna dengan baik. Setelah 30 menit,Rasya menarik tanganku menuju ruang utama. Ruang yang paling luas di rumahku. Kami sering bermain disana karena tempat itu sangat luas membuat kami bisa bergerak bebas.


"Rasya yang jaga dan kakak yang bersembunyi bagaimana?" tanya Rasya sambil tersenyum memperlihatkan gigi kecilnya.


"Siapa takut" ujarku menantang.


Rasya berbalik dan menuju dinding. Ia menutup wajahnya menggunakan tangan nya dan menyimpan nya di dinding.


"1....2....3....4..." Rasya mulai berhitung. Dengan cepat aku mulai berlari mencari tempat yang aman untuk bersembunyi.


Aku melihat sekitar lorong itu. Bingung harus bersembunyi dimana karena Rasya pasti akan tetap menemukanku. Aku melihat pintu itu lagi. Aku berjalan mendekati nya dan penasaran apa yang ada di dalamnya. Aku sekarang menatap pintu yang jaraknya sangat dekat denganku.


Aku berpikiran untuk bersembunyi disana. Tetapi aku bingung bagaimana cara membukanya. Aku tidak tau Kakek menyimpan kunci nya dimana. Aku menatap sekeliling dengan teliti berharap menemukan sesuatu yang bisa membantuku. Aku menyipitkan mataku setelah aku melihat sebuah kunci tersimpan rapi di atas lubang udara pintu itu.


"Apakah itu kunci nya? Aku sudah sering kesini tapi tidak tau kenapa aku baru melihatnya sekarang" ujarku pelan.


Aku mengambil kunci itu dan memperhatikan nya dengan teliti. Dengan berani aku mencoba membuka pintu itu menggunakan kunci yang ku temukan.


Ckrekk


Akhirnya pintu nya berhasil terbuka. Aku tersenyum melihat usahaku ternyata berhasil.


Aku melihat sekeliling memastikan tidak ada yang melihatku kemudian aku masuk ke dalam ruangan itu dan menutup pintu nya kembali dengan hati-hati agar tak menimbulkan suara. Aku melihat sekeliling ruangan itu yang gelap gulita. Tidak ada apa-apa disana. Aku hanya melihat beberapa barang yang sudah tidak terpakai dan sepeda kakek yang telah diselimuti debu, sepeda itu juga digantung di tembok ruangan ini. Aku melirik sekeliling memastikan benar-benar tidak ada apa-apa. Aku mendengar suara orang melangkah mendekatiku dari balik pintu. Itu mungkin Rasya.


"Kak Brian!" Panggil Rasya dari balik pintu.


Aku menunduk dan melihat ke luar pintu menggunakan lubang kunci pintu yang terbuka. Sesaat aku terbingung ternyata ada lubang. Aku bahkan tidak mengetahui itu ketika aku membuka nya dan masuk tadi. Aku melihat Rasya yang sedang berjalan sambil melirik ke sekitarnya. Ia melihat ke arah pintu ini. Ia juga menatap lubang kunci ini. Aku gemetar. Apakah Rasya melihatku?


Rasya menatapku kosong. Kemudian ia mundur melangkahkan kaki nya dan bergidik ngeri melihat pintu ini. Lalu dia berjalan menjauh sambil meneriakan nama ku lagi.


Aku bisa bernapas lega. Ternyata tadi Rasya tidak melihatku. Tapi tunggu sebentar!


Aku terdiam sesaat. Jadi itu artinya pintu ini hanya bisa melihat dari dalam ke luar saja tanpa bisa sebaliknya. Kenapa bisa begitu? Aku mengernyitkan dahiku bingung. Lalu tubuhku tak sengaja menyentuh sepeda kakek. Aku terkejut karena itu menghasilkan suara. Semoga saja tidak terdengar sampai luar.