Saved

Saved
5. Mama



Deolina


Aku masuk ke dalam kantor ini dan mencari Brian. Aku berjalan sambil melihat sekeliling sampai akhirnya aku tidak menyadari bahwa aku hampir menabrak seseorang. Dan itu Brian.


"Bisakah kau tidak tiba-tiba muncul begitu?!" kata Brian dengan wajah yang kesal.


"Tidak" jawabku singkat.


"Brian sedang bicara dengan siapa kau?" tanya seorang wanita.


"Aku...sedang berlatih dialog untuk tugasku" jawab Brian asal.


Aku tersenyum mendengar jawabannya. Sungguh jawaban yang sangat bodoh. Wanita itu berlalu pergi. Brian menatapku tajam.


"Karena kau aku dikira orang gila" ujar Brian sambil berlalu pergi meninggalkanku.


"Hey dia tidak bilang kau gila!" kataku sambil mengikutinya.


Brian tidak menjawab dan hanya berjalan. Aku menyesuaikan langkahku dan menatapnya.


 


👻


 


Brian


Aku hendak memasuki mobilku dan melihat Deolina sudah tidak ada disampingku. Wanita itu selalu saja menghilang dan muncul di hadapanku seenaknya. Aku masuk ke dalam mobil dan menuju rumahku. Tak lama aku sampai rumah dan segera masuk ke dalam rumah. Rumah sangat sepi. Mama juga bilang bahwa dia tidak pulang malam ini karena ada urusan. Papa dan kakek tidak tau pulang kapan. Kakakku juga tidak tau pulang kapan. Aku baru ingat. Rasya kemana? Ahh mungkin dia main ke rumah teman nya.


Aku terbangun karena tenggorokan ku sangat kering. Aku ingin minum. Aku merubah posisi ku menjadi duduk. Aku melihat jam di tanganku ternyata sudah tengah malam. Aku mendengar suara orang yang membuka pintu tidak jauh dari kamarku.


"Rasya kau sudah pulang?Tapi mana mungkin ia pulang tengah malam" teriakku sambil memperhatikan keluar.


Lalu Aku mendengar suara orang yang berlari tepat di depan kamarku. "Rasya ini sudah malam jangan berlari!" kataku.


Aku turun dari kasurku dan menuju ke luar kamar. Aku membuka pintu kamarku dan melihat di luar kamarku hanya kosong dan gelap. Ujung mataku melihat sebuah bayangan melewati samping kamarku. Aku melihat sekeliling tidak ada seorang pun disana. Aku mendengar lagi suara orang berlari tak jauh dari tempatku berdiri.


"Rasya! Jangan berlari!" kataku. Tapi hening tak ada jawaban. Aku mendengar ponselku berdering. Aku meliriknya lalu mendekati ponselku dan meraihnya. Aku melihat pesan dari Mama.


Mama: Brian kau sendiri di rumah tidak apa-apa kan? Rasya ikut dengan kakakmu


"Ya jelas tidak apa-apa lah! Memangnya aku anak kecil yang merengek jika ditinggalkan sendiri di rumah!" ujarku kesal. Tapi sebentar! Aku baru mengingat sesuatu. Kata Mama Rasya tidak pulang hari ini dan ikut bersama Kakakku. Berarti yang tadi berlari siapa?


Aku berjalan keluar dari kamar dan menuruni tangga. Aku terkejut saat lukisan disampingku tiba-tiba terjatuh. Aku menoleh terkejut. Aku mendengar suara berisik berasal dari ruang yang selalu terkunci itu. Aku berjalan menghampirinya. Aku merasakan ada sekelebat bayang berlari di belakangku. Aku ketakutan. Aku mencoba mendekati ruangan itu. Aku berjalan pelan-pelan lalu sampai akhirnya........


Ada seseorang yang memegang pundakku. Aku menoleh dengan pelan dan ternyata itu adalah Mama. "Mama?".


"Sedang apa kau? Belum tidur?" tanya Mama.


"Sudah tapi tadi aku terbangun karena haus" ujarku. "Mama bukankah hari ini tidak akan pulang?" tanyaku sambil mengikuti Mama.


"Pekerjaan Mama sudah selesai jadi mama pulang saja" kata Mama.


"Yasudah kau tidur" titah Mama. Aku tersenyum mengangguk dan menaiki tangga menuju kamar.