
Aku merasa asing dengan tempat ini padahal dari umurku 6 tahun aku sudah tinggal disini. Di rumah kakek dan nenek ku. Tapi belum pernah sekali pun aku ke ruangan ini. Aku memandangi ruangan ini lekat-lekat. Ruangan ini tidak terlalu besar dan tidak seseram yang ku bayangkan selama ini.
Tapi aku teringat sesuatu. Sudah berapa lama aku di ruangan ini. Dan pasti Rasya juga sudah mencari ku di luar. Jika kakek mengetahui aku masuk ke ruangan ini tanpa persetujuan dari nya aku pasti akan dimarahi kakek. Aku segera menundukkan tubuhku dan melihat ke arah lubang kunci itu untuk memastikan keadaan di luar benar-benar aman. Setelah aku melihat di luar aman, aku mencoba membuka pintu dengan hati-hati. Aku menutup pintu nya kembali tidak lupa juga mengunci nya kembali. Aku berjalan di lorong. Tetapi aku dikagetkan dengan Rasya yang tiba-tiba muncul di hadapanku dengan menyilangkan tangan nya.
"Kenapa menatap kakak seperti itu?" tanyaku setelah mendapatkan tatapan tajam dari Rasya.
"Kakak darimana? Kakak tau aku menunggu kakak sangat lama? Apa kakak lupa bahwa kakak sedang bermain denganku?" Pertanyaan yang dilontarkan Rasya benar-benar bertubi-tubi. Aku bingung harus menjawab pertanyaan yang mana.
"Kakak tadi habiss...." ucapku menggantung sambil berpikir jawaban apa yang akan membuat Rasya percaya. ".......habis dari toilet kakak makan terlalu banyak Rasya, jadi kakak ingin sekali ke toilet maaf kakak telah membuatmu menunggu" lanjutku.
Ekpresi wajah Rasya yang tadi nya tajam seperti ingin memakan mangsa berubah menjadi khawatir. "Kakak tidak apa-apa kan? Maaf Rasya kira kakak lupa bahwa kita sedang bermain" ujarnya.
Aku hanya tersenyum dan mengangguk. "Kita lanjutkan bermain nya besok saja yaa ini sudah malam Rasya harus beristirahat" ujarku sambil menundukkan badanku untuk menyesuaikan tinggi ku dengan Rasya.
Rasya tersenyum dan mengangguk. Aku membawa nya ke kamar.
👻
Keesokan harinya aku pergi lebih awal karena ada tugas kuliah yang mendadak dan harus diselesaikan sekarang juga. Aku berjalan ke meja makan dan melihat mama yang sedang menyiapkan sarapan.
"Ma aku akan pergi lebih awal hari ini" ujarku sambil menarik kursi makan untuk kududuki.
"Kenapa Brian? Apa ada masalah?" tanya Mama dengan wajah yang khawatir.
"Tidak usah khawatir Ma, aku tidak ada masalah apa-apa kok hanya ada tugas kuliah yang harus ku selesaikan dengan cepat" jawabku tenang.
"Tapi Rasya pasti mencarimu, kau pasti belum memberitahunya kan bahwa kau hari ini tidak bisa mengantarnya ke sekolah?" kata Mama yang membuatku tersadar akan hal itu. Aku lupa memberitahu Rasya bahwa hari ini aku tidak bisa mengantarnya ke sekolah seperti biasa.
"Tapi Rasya masih tidur biar Mama yang bilang pada nya nanti" kata Mama sambil melirik kamar Rasya yang tidak jauh dari meja makan.
"Siapa yang akan mengantar Rasya Ma?" tanyaku khawatir.
"Biar Mama saja,sebelum Mama ke kantor Mama akan menyempatkan waktu untuk mengantarnya ke sekolah" ujar Mama yang berhasil membuatku tenang.
Aku mengangguk mengerti.
"Papa sama kakek dimana?" tanyaku sambil meneguk segelas susu hangat.
"Ohh iya Brian kau mau membantu Mama kan?" tanya Mama dengan mata yang penuh harap.
"Apa yang bisa ku bantu Ma?" tanyaku penasaran.
"Bantu Mama untuk menyelesaikan proyek di perusahaan, kau bisa menggambar kan?" ujar Mama.
"Boleh jika nanti siang aku tidak ada urusan Mama boleh mengirimkan file nya padaku melalui email" ucapku sambil menunduk mengikatkan tali sepatuku yang terlepas.
Saat aku akan duduk kembali ada sesuatu yang membuatku terdiam sesaat. Aku melihat sebuah kaki wanita yang sangat putih dan mulus sedang duduk di kursi depan aku berada sekarang. Aku terkejut. Kaki siapa itu? Wanita di rumah ini hanya 2. Bukankah Mama berada di sebelahku dan kakakku belum pulang? Aku mencoba untuk mengecek nya dan duduk. Tapi saat aku melihat kursi di depanku. Tidak ada seorang pun disana. Aku membulatkan mataku dan mengedipkan mata ku berkali-kali. Apa aku salah melihat? Aku terdiam sesaat menatap kursi itu. Jelas-Jelas aku melihat kaki wanita yang sedang duduk disitu. Tapi kenapa sekarang menghilang?
"Brian? Ada apa?" ujar Mama yang melihat aku terlihat aneh.
Aku mengedipkan mata ku lagi barangkali itu hanya halusinasi. Tetapi itu terlihat sangat nyata.
"Aku pergi sekarang ya Ma" ujar ku pada Mama tanpa memperdulikan pertanyaan Mama. Aku mengecup punggung tangan Mama dan beranjak dari kursi. Saat aku berjalan dan melirik sedikit ke belakang ujung mataku melihat seorang wanita cantik sedang duduk dengan senyuman nya. Tapi aku melihat sepertinya Mama tidak menyadari keberadaan wanita itu. Mama hanya memainkan ponselnya dengan tenang. Aku tidak mau ambil pusing. Aku mengendarai mobilku keluar dari halaman rumah dan menuju kampus. Masih banyak yang harus kuselesaikan dan jauh lebih penting dari hal itu.
Aku akhirnya sampai di kampus. Aku memakirkan mobilku dan turun dari mobil dengan tas yang ada di pundakku.
Tapi sebentar! Aku melihat wanita itu lagi. Wanita itu berada di seberang jalan. Dia tersenyum menatapku dengan gaun putih yang membaluti tubuhnya. Rambut nya tergerai panjang hitam dan pekat. Wajah nya dan penampilan nya mengingatkanku pada..........Davina?. Aku lalu menggelengkan kepala ku cepat. Tersadar dengan apa yang tadi ada di pikiranku membuat dadaku sesak.
"Brian kau sedang apa?" ujar seseorang dengan lembut yang membuatku segera menoleh.
"Kirana?" panggilku terkejut.
Aku lalu segera menoleh lagi pada wanita itu. Tapi dia sudah menghilang. Aku mengerutkan dahiku dan mengedipkan mata ku berkali-kali. Tapi memang tidak ada. Mungkin hanya halusinasiku saja.
"Brian Kau kenapa? Bagaimana jika Kita ke perpustakaan hari ini ada tugas dan ujian kan?" ujar Kirana sambil tersenyum.
Aku segera menoleh dan melihatnya lalu menganggukkan kepala ku setuju. Kami berjalan menuju perpustakaan.
Setelah sampai aku dan Kirana menyimpan tas kami di salah satu meja paling pojok di perpustakaan lalu berjalan mencari buku yang akan kami pelajari. Aku berjalan sendirian memegangi buku-buku itu dan membaca nya satu persatu. Lalu aku menemukan buku yang kucari dan mengambilnya. Aku terkejut dan mundur beberapa langkah saat aku melihat sesosok wanita di balik buku itu. Aku mengedipkan mataku berkali-kali memastikan. Ternyata itu temanku.
"Kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Ia aneh melihat sikapku. Aku hanya menggelengkan kepalaku lalu berlalu pergi. Aku rasa bukan ia yang aku lihat saat pertama kali. Sebenarnya hari ini ada apa denganku? Kenapa aku berhalusinasi?. Aku terkejut saat seseorang menepuk pundakku pelan.
"Brian kau sudah menemukan buku yang kau cari?" tanya Kirana sambil memegang beberapa buku di tangan nya.
Aku mengangguk dan tersenyum padanya. Tetapi, senyumanku itu pudar saat aku melihat seorang wanita berada di belakangnya. Mungkinkah wanita yang sama dengan yang tadi? Tetapi aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas. Tetapi penampilan nya sama dengan wanita tadi. Wanita yang aku lihat di meja makan rumahku dan di seberang jalan saat di parkiran. Sekarang ia berada di belakang Kirana dengan senyuman manisnya. Aku tertegun beberapa saat karena ia terlihat nyata dan benar-benar mirip......Davina?
Mungkinkah itu Davina?