Saved

Saved
6. Bintang



Aku masuk ke dalam kamarku dan duduk di tepi ranjangku. Tiba-tiba Mama masuk membuatku terkejut. "Ada apa Ma?".


"Tidak,Mama hanya mau memberikan ini" ujar Mama sambil memberikan sebuah Kalung berliontin Bintang.


"Mama membelikan ini untukku?" tanyaku heran sambil meraih kalung itu.


"Tidak, itu pemberian dari Kakek" ujar Mama sambil tersenyum hangat.


"Untuk apa Kakek memberikan ini untukku?" tanyaku.


"Mama tidak tau, kakek hanya memberikan saja tanpa mengatakan apa-apa lagi" ujar Mama. Kemudian Mama berlalu pergi keluar dari kamarku. Aku memperhatikan kalung yang berada di tanganku ini secara teliti. Apa maksud Kakek memberikan kalung ini padaku? Apa kakek tau sesuatu?


 


👻


 


Keesokan harinya aku sudah sampai di kampus. Karena hari ini jadwal kuliahku siang jadi aku memutuskan untuk berdiam diri di taman kampus. Setidaknya ini lebih baik daripada harus di rumah dan mengalami kejadian semalam. Aku mendaratkan tubuhku di rumput hijau ini. Suasana taman yang tidak terlalu ramai membuatku lebih tenang. Aku tidak terlalu suka keramaian. Aku mengeluarkan kertas dan pensil untuk kupakai melukis. Tetapi aku bingung apa yang akan ku lukis. Aku memandangi sekeliling taman berharap ada sesuatu yang indah yang bisa ku lukis. Aku terkejut saat mendengar suara perempuan dan ternyata itu Deolina yang sudah berada di sampingku.


"Sedang apa kau?" tanyanya yang membuatku terkejut.


"Bisakah kau tidak membuatku terkejut sekali saja?" tanyaku memasang wajah malas.


"Tidak" jawabnya singkat.


"Kalung apa itu?" tanyanya sambil menatap kalung yang berada di leherku. Padahal aku telah menyembunyikan nya di balik hoodie hitam ku tapi Deolina masih bisa melihatnya.


"Ini kalung pemberian kakekku bagus bukan? tapi aku tidak tau apa maksud kakek memberikan kalung ini" kataku sambil mengeluarkan kalung ini dan menunjukannya pada Deolina.


"Jauhkan kalung itu dariku!" ujar Deolina terlihat seperti ketakutan dan menjauh dariku.


"Kenapa apa ada yang salah dengan kalung ini?" tanyaku dengan tatapan menyelidik.


"Tidak" jawabnya singkat.


"Aku tidak bisa menceritakannya padamu" ujarnya sambil menatap rumput hijau yang berada di hadapannya.


Aku hanya mengangguk. Deolina tersenyum sambil menatap taman yang ada di hadapannya. Aku tersenyum melihat wajahnya dari samping. Wajah yang indah. Akhirnya aku melukis wajah Deolina di kertasku tanpa sepengatahuan Deolina. Tak bisa ku bohongi Wajahnya dari samping sangat cantik. Tak lama Deolina menarik tanganku.


"Mau kemana?" tanyaku.


"Ayo ikut aku ingin kesana" katanya.


"Sebentar" kataku sambil memasukkan kertas dan pensilku pada tas. Untung saja gambarnya sudah selesai tinggal dirapihkan.


Aku berjalan dengan Deolina melihat taman yang cukup luas ini.


"Brian? Kau dengan siapa?" tanya teman ku.


Aku langsung terkejut dan menatap Deolina. Deolina hanya tersenyum. "Dia temanku".


"Namaku Deolina" kata Deolina sambil menjulurkan tangan nya.


"Namaku Alvian" jawab temanku yang bernama Alvian membalas juluran tangan Deolina.


"Kenapa kau tidak memberitahukanku jika mempunyai teman secantik ini"kata Alvian. Aku hanya tersenyum kepadanya.


"Aku mau ke perpustakaan, kau mau ikut?" tanya Alvian.


"Tidak terimakasih" jawabku.


"Baik aku duluan" katanya sambil melambaikan tangan. Aku membalasnya.


Aku menatap Deolina lekat-lekat. Sepertinya anggapanku selama ini tentang Deolina yang tidak bisa dilihat oleh orang lain selain diriku itu salah. Buktinya Alvian temanku bisa melihat Deolina. Mereka juga bisa berjabat tangan. Jika Deolina bukan manusia bagaimana bisa Alvian melihat Deolina dan berjabat tangan dengannya?