Run Z

Run Z
Section 27. Kehidupan Baru



Kau tahu terkadang sang maha kuasa terlalu baik kepada ciptaannya. Meski telah dikecewakan berkali-kali, beliau masih memberikan kesempatan lain bagi mereka yang tulus berharap kepadanya. Mau bagaimanapun kita akan berserah kepadanya. Toh semua takdir beliau yang mengatur. Pun tiada yang tahu bagaimana kejutan-kejutan itu dilimpahkan dalam hidup kita. Memangnya manusia bisa tahu hal itu ?


Tidak.


Tapi sebagian memiliki hal spesial dalam diri mereka hingga mendapatkan prakiranya.


Hanya sekedar prakira, bukan suatu hal yang valid.


Sekali lagi kehidupan ini adalah rahasia sang maha kuasa.


Bahkan selamat dari maut sebanyak 3x tak pernah terpikir oleh keempat sekawan itu. Mau bagaimana lagi, tak ada yang namanya kesempatan ketiga. Hebatnya, tuhan begitu bermurah hati pada mereka. Memberikan kesempatan terakhir dengan membiarkan jeep berhasil menjauh dari kawasan ledakan terakhir.


Ya, jeep itu selamat hanya tertutupi asap putih yang membumbung. Hebatnya tak ada kerusakan, hanya bersisa guncangan dan ketegangan yang terasa. Dengan para penumpang yang shock juga beradu padu trauma, karena nyaris bertemu ajal. Pun setelahnya mereka berhasil menuju kota tempat pengungsian.


Bukankah mereka terlalu beruntung ?


Sangat tepatnya.


Kedatangan mereka sontak membuat geger warga penghuni kota pengungsian. Berita menyebar dimana-mana tentang kisah 4 anak remaja sma yang berhasil selamat dari kota penuh zombie. Banyak rumor menyebar, terlalu banyak bumbu yang ditambahkan di dalamnya. Bagaimana tidak Cathleen, Kaira, Sena, dan Alena hanya menggunakan senjata sederhana yang terkesan seadanya. Tanpa senjata canggih, keempatnya selamat dari maut yang menantang. Bahkan mereka selamat dari peledak yang disiapkan pemerintah. Tak memungkiri bagaimana banyak pertanyaan yang menghujani mereka.


Pemerintah yang turun tangan menghalau para wartawan yang menyerang rumah sakit, tempat mereka dikarantina. Memberikan pernyataan bahwasannya tak ada satupun media yang diperbolehkan meliput mereka atas dasar kesehatan mental yang terganggu. Meski pada akhirnya, pemerintah tetap memberikan penjagaan ketat pada mereka yang berhasil selamat, setelah 6 hari menjalani perjalanan panjang menuju kota pengungsian.


Satu minggu mereka menghadapi karantina yang begitu membosankan. Tak boleh bertemu satu sama lain. Dan hanya bisa memandang keluar melalui jendela kamar inap masing-masing. Setidaknya, mereka mendapatkan perawatan terbaik juga intensif. Bukan sekedar pada fisik yang lelah bukan main, setelah berhari-hari bertarung dengan mayat hidup. Tapi juga, perawatan terhadap mental yang nyaris rusak terkikis oleh wabah yang menggila.


Kala dokter menyatakan mereka telah sehat secara fisik maupun mental, mereka datang menghadap untuk mendapatkan keadilan. Menuntut mereka yang menjadi dalang wabah mematikan tersebut. Tak lupa juga meminta para jahanam yang membahayakan nyawa mereka, agar mendapatkan hukuman yang sepadan. 1 bulan yang begitu alot bagi mereka. Tak bukan karena yang mereka lawan merupakan orang penuh kuasa. Tapi dengan asa yang begitu kuat juga bukti-bukti yang mereka miliki, keadilan bisa mereka capai. Dan keempat sekawan itu, Cathleen, Kaira, Sena, serta Alena bisa bernafas dengan lega.


Kabar baiknya, sebagai bentuk permintaan maaf, pemerintah bersedia menanggung biaya kehidupan mereka, hingga mereka bisa menghasilkan uang sendiri. Anggap saja sebagai hadiah, juga kompensasi pertanggungjawaban atas oknum-oknum yang mendekam di balik jeruji besi. Tak sepadan, jika boleh dikata. Bukan bermaksud tak tahu diri. Hanya saja tak ada yang bisa membayar seluruh penderitaan yang mereka dapatkan. Kehilangan teman juga sanak keluarga, mental yang terkikis abis, pun harus menghadapi maut demi bertahan hidup. Hanya bersisa mereka berempat. Benar-benar definisi sahabat sehidup semati. Guyonan gelap, Kaira berkomentar.


Waktu berlalu dengan cepat, 6 bulan telah lewat selepas kejadian penuh mimpi buruk itu. Cathleen, Kaira, Sena, serta Alena telah menyelesaikan pendidikan mereka yang tertunda. Saat ini keempatnya sedang menikmati waktu yang tersisa sebelum diberangkatkan menuju negeri seberang. Tempat mereka menempa ilmu berikutnya untuk mendapatkan gelar sarjana yang diinginkan. Tinggal seminggu, kurang lebih waktu yang mereka punya untuk habiskan di kota pengungsian itu.


Hari ini mereka datang berkunjung ke tugu Gloomy Day. Sebuah tugu yang dibangun untuk memperingati ratusan ribu nyawa yang melayang akibat wabah zombie di kota seberang. Banyak orang datang menaruh buket bunga kemudian mendoakan mereka yang telah pergi ke alam sana. D-CAISA datang di penghujung hari selepas menyelesaikan berkas-berkas kepindahan mereka nantinya. Buket bunga tulip putih dan azalea dipegang masing-masing dari mereka. Total ada 5 buket yang mereka taruh diatas buket-buket lain. 5 orang yang pernah hadir dan menjadi bagian dari misi bertahan hidup yang mereka hadapi.


(Note : Bunga azalea memiliki arti keikhlasan. Dan tulip putih memiliki arti permintaan maaf.)


"Sedih bila mengingat kalian tidak bisa ikut bersama kami" Sena berkata dengan nada lirih. "Halo, kami datang untuk menyampaikan salam pamit sebelum pergi ke negeri seberang. Kuharap kalian tenang di alam sana."


"Aku yakin mereka sudah tenang di alam sana, toh keadilan atas nyawa mereka yang berakhir sia-sia sudah ditegakkan. Terima kasih pada kalian yang telah berjuang saat itu" Alena berucap dengan senyum teduh. Perasaan penuh syukur menyelimuti mereka berempat.


"Kita semua layak mendapatkan apresiasi" Cathleen ikut buka suara. "Kita hebat bahkan bisa bertahan dari wabah menyeramkan itu. Tidak ada pengalaman hanya bermodalkan kenekatan dan kegilaan Kaira" sontak sang empunya nama berteriak tak terima yang dibalas kekehan geli teman-temannya. "Bukan hal mudah pula melawan para bajingan itu. Kita tak memiliki kuasa juga bukan orang yang paham tentang hukum. Bermodalkan kejujuran juga bukti-bukti yang ada, ditambah semangat dan niat kita, kurasa memang pantas jika tuhan berpihak pada kita. Sayang sekali, meski kita telah melakukan hal itu, tak ada yang bisa kembali. Terasa sia-sia, tapi tak sepenuhnya benar."


"Hey, kita harus berhenti bersedih-sedih begini. Semua sudah berlalu. Yang telah pergi takkan kembali. Namun, bukan berarti kita harus ngestuck di titik sama. Lebih baik habis ini kita jalan-jalan, keburu homesick nanti kalo udah berangkat terbang ke luar negara. Anyway aku juga lapar sekali saat ini" Kaira mengelus-ngelus bakpao miliknya yang sedari tadi protes minta diisi. "Mengurus banyak dokumen itu menyebalkan. Padahal kan aku pengen hunting makanan, huft" keluhnya kesal.


Alena reflek melayangkan pukulan pelan pada pundak Kaira. "Kamu mah makanan aja isi pikiranmu. Pikirin noh, bentar lagi mau kuliah loh."


"Duh, kuliah urusan belakangan. Perut urusan pertama pokoknya" katanya penuh semangat membara.


"Bukan Kaira namanya kalo nggak ngerusuh, mageran, sama ngebabi"Cathleen berkata dengan nada mengejek.


Kaira melipat tangan di depan dada, "daripada stress-stress kayak 6 bulan lalu. Kesel banget aku dibilang 'sinting' ama perawat disana. Padahal aku waras gitu loh."


"Bilangnya waras, tapi siapa ya itu tiba-tiba nekat mau keluar dengan lompat lewat jendela, karena bosan di karantina" Alena berpose bak sedang berpikir keras.


"Atau siapa itu yang diem-diem keluar dari kamar ngendap-ngendap, cuman buat nakut-nakutin penjaga disana karena pengen liat mereka teriak ketakutan" Cathleen ikut bergabung mengejek Kaira.


"Kate inget nggak, yang Kaira tiba-tiba nyeritain detail dia ngebunuh para zombie sampe perawat yang mengurus dia langsung pucat pasi dengernya" siapa lagi kalau bukan teman rasa musuhnya Kaira.


"Kok dokternya Kaira kuat ya ngadepin dia ?" Sena yang sedari tadi setia menjadi pendengar, mengernyit keheranan. Kalo dia jadi dokternya, mungkin sudah resign duluan. Jadi teman Kaira itu cukup membuat tensi darah naik, jujur saja.


"Belum tahu aja kamu Sena, yang nanganin Kaira sampe bikin paguyuban biar kalo satu nggak kuat yang lain bisa gantiin hahahaha. Nggak ngarang nih aku, rekor yang terlama itu cuman 30 menit. Denger-denger sih katanya nggak kuat denger Kaira teriak-teriak kek tarzan minta pulang" Cathleen membeberkan fakta yang dia sempat dengar dari para perawat di kamarnya.


"Sumpah Kai, nggak abis pikir deh ama kelakuanmu" Sena menggeleng-geleng tak percaya.


"Masih bilang diri waras ? Kelakuan aja bikin darah tinggi orang gitu, wlek" Alena menjulurkan lidah mengejek.


Kaira tak bisa menahan dirinya, dia langsung mengambil ancang-ancang, "Kesini kamu !" katanya kemudian mengejar Alena yang sudah berlari menghindar.


Tenang, Kaira tidak benar-benar marah. Perlu diingatkan dia tidak akan mempermasalahkan jika teman-temannya mempertanyakan kewarasannya. Toh, Kaira sendiri mengakuinya.


Dia memang gila.


Hidupnya pun sama gilanya.


Kau pikir ceritanya tamat begitu saja ? Tidak masih ada satu hal lagi yang perlu dibahas. Ini menyangkut apa yang membuat semua mimpi buruk itu terjadi. Toh, jawabannya simple. Ini berkaitan dengan salah satu tokoh utama cerita ini.


Tentang sebuah masa lalu yang tersembunyi.


Tentang identitas dia yang tak jelas asal usulnya.


Itu bukan sekedar kata candaan.


Karena nyatanya memang Kaira menutup identitas dirinya. Mengubur dalam-dalam kehidupan yang tak pernah terkuak. Masa lalu tragis miliknya yang merenggut keluarganya. Dia tak punya pilihan selain bersembunyi dibalik sosok Kaira yang "gila". Bilamana identitasnya bocor, nyawanya akan menjadi taruhan. Karena hanya dia yang tersisa.


Seperti yang pernah ditanyakan Naomi.


"Bagaimana rasanya diselamatkan 3 kali dari maut yang menghadang ?"


1x saat dia dan teman-temannya berhasil selamat menuju lab komputer.


1x saat mereka mendapatkan kesempatan memutar balik waktu, kembali ke waktu sebelum wabah menyerang.


Dan 1x, saat perburuan superhuman terjadi.


Alasan utama kenapa ayah Belva dan orang-orang jahanam itu melakukan percobaan gila ini.


Kaira menatap dirinya di hadapan cermin satu badan. Kemeja yang dia gunakan tadi untuk berziarah telah ditanggalkan. Menyisakan kaos tanpa lengan yang membalut tubuhnya. Dia menatap datar ke arah cermin. Atau lebih tepatnya pada luka goresan yang melintang pada lengannya.


Luka yang diberikan kepala sekolahnya yang telah berubah menjadi zombie. Nyatanya ada alasan kenapa Kaira menyerang dokter yang ingin menyingkap lengan bajunya hari itu. Dia hanya tidak ingin orang tahu rahasia besar yang dirinya pendam.


Gadis Helda memainkan lidahnya dalam pipi, sebelum tersenyum miring. Mengangkat lengannya yang masih memiliki bekas itu, meski 6 bulan telah berlalu. Dia terkekeh pelan, "kamu benar Belva" Kaira mengelus pelan bekas luka itu. "Yang kuat akan bertahan sementara yang lemah akan tersingkirkan, sayangnya itu bukan seperti harapanmu. Karena nyatanya, akulah yang kuat dan akan bertahan itu. Sementara, kamu yang lemah dan tersingkirkan."


"Bagaimana rasanya menikmati karma yang dilakukan ayahmu huh ? Tragis sekali ayahmu yang berbuat, tapi kamu yang harus menanggung hasil perbuatan kejamnya" Kaira bermonolog. "Dia merenggut seluruh keluargaku hanya karena obsesinya pada superhuman. Kecewa dengan kegagalannya yang kehilangan seluruh superhuman sebagai kelinci percobaan. Dia malah makin menggila dengan mencoba membuat wabah mematikan ini."


"Sayangnya, kehidupan berputar bak sebuah roda. Apa yang kau tuai itu yang akan kau petik. Sekarang dia kehilangan dirimu bahkan seluruh kuasanya. Rasakan ! Rasakan perbuatanmu itu jahanam bajingan ! Sekarang kau tahukan bagaimana perasaanku saat harus melihat hal yang berharga dalam hidupku direnggut paksa ! Sekarang rasakan bagaimana semua yang kau miliki direnggut darimu !" Kaira berteriak penuh emosi kemudian tertawa dengan nada menyakitkan.


Kaira menatap kembali kepada cermin yang berisi bayangan dirinya. "Belva malang nasibmu. Kamu berusaha membunuh superhuman terakhir ini dengan menumbalkannya pada seorang zombie. Bodoh sekali ya dirimu. Meskipun zombie itu menyerangku, aku tidak akan tertular virus itu. Karena aku adalah alasan yang diincar ayahmu. Aku, Kaira Helda, satu-satunya manusia terakhir yang memiliki kelebihan superhuman itu. Nikmati hidupmu di neraka sana. Dan aku akan menikmati kehidupan baruku setelah ini" dia mengungkapkan rahasia terbesar di hidupnya.


-The End