
Matahari bahkan sudah terbenam saat ini. Begitu banyak waktu berharga yang bisa digunakan beristirahat, namun harus terbuang sia-sia akibat ketidakpastian yang dicari.
"Yalord, kenapa sih nggak ada disini ?! Kalian udah bener-bener nyari kan ?" Kaira bertanya dengan nada jengkel.
"Iyalah. Lihat tuh dimana-mana berantakan gitu" Cathleen menunjuk ke arah ruangan yang isi dalamnya berantakan bukan main.
"Salah kayaknya kamu Kai. Nggak ada petunjuk apapun disini" Alena mendengus sebal.
Sena yang tengah menyender pada tembok dengan satu tangan sebagai tumpuan ikut bersuara, "hal gila yang terpikir olehku, rumah ini ada ruang rahasianya. Misalnya aja kalo aku neken tembok ini, tiba-tiba aja temboknya kegeser" dia menekan asal satu sisi di dinding itu.
Getaran pelan terasa di lantai membuat 4 sekawan D-CAISA menengok ke arah bawah. "Gila ! gempa kah ini ?" Alena bertanya risau.
Nyatanya itu bukan gempa. Seperti yang Sena katakan, tembok yang menjadi tempat sandarannya tadi mundur ke belakang, kemudian bergeser ke samping. Menampilkan sebuah ruang rahasia yang tadi asal ia bicarakan. Sena yang melihat itu speechless dibuatnya. "Demi neptunus, padahal aku ngaco aja tadi ngomong. Beneran ada, wow gila !" ujarnya penuh kekaguman.
Mereka berempat melangkah was-was memasuki ruangan yang cukup besar itu. Interiornya begitu simple. Hanya ada beberapa rak penuh akan map dokumen, sebuah sofa panjang, dan meja lengkap dengan pc yang berada di sudut sana. Cathleen dan Alena langsung melangkah ke arah pc tersebut dan langsung menyalakan benda itu. Sementara, dua temannya membuka map-map dokumen yang ada disana. Memindai dengan cepat isi dokumen itu, kemudian membuangnya sembarangan bila tak sesuai dengan apa yang mereka cari.
"Please tuhan memberkati kita, ketemu guys jawabannya !" Alena berseru senang. Setelah tadi ia dan Cathleen mencoba membuka berbagai file yang ada disana, dia berhasil menemukan file yang diinginkan. Sena dan Kaira yang tadi masih sibuk membaca map-map yang ada disana. langsung melangkah cepat menuju ke arah teman-temannya.
"Sialan ! Kekunci !" Cathleen memukul meja di hadapannya, sesaat setelah file itu mereka klik untuk dibuka.
"Aduh coba-coba ketik asal aja ! Hoki-hokian kita !" Kaira menyerobot dan mencoba mengetik dengan angka 1-8. Sayangnya, kode tersebut salah.
Geplak !
"Ya kali Kai, kodenya kek anak tk gitu !" Alena memarahi temannya itu.
"Ya kan namanya coba-coba. Apa salahnya coba" bela Kaira.
"Coba pake tanggal lahirnya Belva. Orang tuanya sayang banget kan sama dia, siapa tau itu kodenya" Sena memberi saran. Kemudian gadis Khalila mencoba mengetik tanggal lahir daripada Belva. Dan sekali lagi yang diketik salah. Itu bukan kata sandi yang dipakai.
"Udah sini-sini, aku aja yang ngetik, kalian ngawur semua !" Alena merebut keyboard itu, kemudian mencoba mengetik kode yang terpikir olehnya. Masih dengan hasil yang sama, kode tersebut salah.
"Nggak becus kalian ! Aku aja udah !" Cathleen menarik keyboard dan mencoba mengetik kodenya.
"Nggak-nggak aku aja ! Aku belum selesai !" Alena mencoba menghalangi dan ikut menekan angka-angka di keyboard itu.
"Eh, nggak bisa gitu dong ! Aku belum nyoba loh" Cathleen tak terima dan menarik kembali keyboard itu ke arahnya. Dia menekan tombol delete dan menghapus apa yang telah diketik Alena. Alena yang tak terima menarik sudut lain dari keyboard itu ke arahnya. Keduanya berakhir saling tarik menarik keyboard di hadapan mereka.
"Aduh, kalian kenapa jadi bertengkar sih ? Woy ! Jangan gitu astaga !" Sena mencoba melerai keduanya dengan mengambil paksa keyboard itu melalui sudut lain pada keyboard.
"Eh ! Eh aku ikutan juga dong ! Sini-sini keyboardnya kasih ke aku aja !" Kaira mencoba bergabung dalam perebutan keyboard itu. Tapi, karena tempat yang ada disana sudah terlanjur penuh, maka ia hanya bisa berpartisipasi dengan menekan angka 0 yang banyak. Entah apa motivasinya menekan angka itu.
Tarik-tarikkan keyboard yang dilakukan mereka, tanpa sengaja membuat jari seseorang menekan tombol enter. Dan hebatnya file di pc itu terbuka, membuat keempatnya total terdiam. "Tadi kodenya apa ?" Alena menoleh kepada teman-temannya dan bertanya penuh kebingungan.
"Nggak tau, nggak lihat. Kita kan tadi masih rebutan, nggak ada yang menekan tombol apapun rasanya" Sena menjawab seadanya.
Cathleen menggeleng tak setuju. "Nggak, tadi Kaira neken tombol 0" katanya sembari menengok ke atas dimana tangan Kaira yang melengkung di atas kepalanya.
"Jadi, kodenya 0 gitu ?" Alena bertanya tak percaya.
"Kalo Cathleen bilang gitu, berarti beneran kodenya 0 doang" Sena membalas.
Berbeda dengan ketiga temannya yang mengeluh tak terima dengan kode file itu, Kaira yang berada di belakang Cathleen menatap tangannya dengan pandangan kagum. "Wadestah, tanganku hebat kali. Ngan (tangan) kok kamu dari subuh tadi sampai sekarang berguna banget sih ? Tadi nyetir mobil dalam sekejap bisa. Sekarang mecahin kode dengan cepat juga berhasil. Wah, aku bangga pada tanganku" gumamnya. Kemudian dia memberikan kecupan sayang pada tangannya sendiri. Tolong diingat bahwasannya Kaira adalah gadis dengan sejuta tingkah ajaib.
Selepas keributan akibat kode file yang kelewat tak tertebak itu. Mereka mulai membuka satu persatu file yang ada disana. Dimulai dari file yang berisi latar belakang percobaan yang disponsori oleh keluarga Belva. "Super human ? Apaan tuh ?" Cathleen bertanya keheranan.
"Kalo nggak salah pas biologi miss Teresa pernah menyinggung ini deh. Nggak begitu ingat aku, intinya mereka tuh manusia biasa yang super" Alena menjawab.
"Ya kalo gitu mah kamu cuman nerjemahin arti sempitnya Alena. Maksudku emang apa spesialnya super human ini ?" Cathleen kembali bertanya.
"Aku lupa-lupa ingat. Pokoknya mereka punya imun tubuh yang lebih kuat dari manusia biasa" Sena membalas.
"Bener itu. Sayangnya, mereka udah nggak ada di dunia ini. Ya kurang lebih orang-orang taunya gitu" Kiyata bergumam di kalimat akhirnya.
"Oh, pantesan aja mereka ngelakuin percobaan ini. Make sense, kenapa mereka bisa segila itu sampe ngelakuin percobaan berbahaya ini" Cathleen berujar setelah membaca kelanjutan file yang ada disana.
"Tunggu-tunggu, ini artinya virus zombie yang ada diluar sana itu buatan pemerintah ? Mereka pengen ngebuat kita-kita ini jadi super human gitu ? Dan mereka lakuin ini semua dengan cover kalo ini perlombaan sains ?" Alena bertanya memastikan.
Sena mengangguk ke arah sahabatnya itu. "Kalo yang kutangkep gitu Alena. Tapi, menurutku itu mereka lakukan bukan untuk kita sih. Buat mereka pribadi pastinya."
"Gila mereka ! Bisa-bisa ya gara-gara keegoisan mereka, para bajingan itu nyaris ngebunuh seisi kota disini ! Bahkan bisa ngebunuh satu dunia !" Cathleen berseru kesal.
"Bener itu. Tapi, ya gimana ceritanya zombie pertama muncul di sekolah kita ? Eh, bener nggak sih dia muncul pertama di sekolah kita ?" Sena bertanya.
"Menurutku bener sih Sena. Soalnya pas sewaktu kita ngeliat keluar pake drone, yang diluar masih aman-aman aja kan. Masih manusia biasa. Tapi, setelah zombie-zombie yang disini kebebas, malah banyak banget ada diluar sana yang terinfeksi" Kaira memberikan pendapatnya.
"Untuk kenapa bisa sekolah pertama kita yang kena, aku baru ingat sesuatu. Dari info yang kudapat dari temanku yang ikut lomba, mereka ngelakuinnya dengan yang ikut lomba sebagai bahan percobaan. Dan mereka di bebasin gitu sebagai uji coba ketahanan imun yang didapat" Alena menjelaskan.
"Sumpah, aku nggak abis pikir sama kelakuan-kelakuan bajingan ini. Ini lagi perusahaan Belva bisa-bisanya ngasih dana sokongan yang besar buat percobaan berbahaya ini ?! Mereka benar-benar gila !" Cathleen menyuarakan kembali kekesalannya.
Kaira terkekeh pelan mendengar itu, "bahkan jauh sebelum kejadian ini. Mereka lebih gila dan egois lagi."
"Maksud kamu ?"
Belum sempat Kaira menjawab, sebuah notifikasi email masuk ke dalam pc itu. Dan secara otomatis yang email yang dimaksud terpampang jelas di layar pc. Pengirim email itu hanya tertulis anon yang tak jelas siapa dirinya. Tapi, isi yang tertuang di dalamnya jelas membuat keempat sekawan D-CAISA terkejut bukan main.
Yang terhormat tuan besar Carlise.
Setelah membaca pesan yang kami sampaikan berikut ini, segeralah berangkat menuju pinggir kota di arah barat. Dalam waktu kurang lebih 48 jam sejak email ini terkirim, pemerintah akan meledakkan bom-bom yang telah dipasang di titik tertentu untuk menghancurkan seisi kota. Kegagalan menyelamatkan penduduk kota dan rencana membawa semua zombie ke titik nol wabah, pada akhirnya mendorong pemerintah melaksanakan rencana terakhir ini. Pemerintah telah meluncurkan bom pertama di sekolah anak anda dan pinggir kota di timur. Jadi, dengan sangat kami harapkan demi keselamatan anda, segeralah berangkat ke pinggir kota di timur. Disana ada tim penyelamat dari pemerintah yang akan membawa anda ke kota seberang. Sekian pemberitahuan yang kami sampaikan. Semoga kita bisa lekas bertemu di pinggir kota di timur.
"Kurang ajar ! Mereka ingin membom kita disini ?!" Sena berseru kaget.
Alena tak banyak berbicara dia terlanjur terkejut dengan apa yang baru saja dibaca. Cathleen pun tak banyak mengeluarkan suara, dia langsung membuka navigasi di pc itu. Memasukkan keberadaan lokasi mansion keluarga Belva dan juga pinggir kota di timur. "Brengsek ! Itu bahkan nyaris 24 jam lamanya perlu kita tempuh untuk sampai kesana. Sementara, pemerintah bisa saja tiba-tiba meledakkan bom itu di kota ini sewaktu-waktu !"
"Ya tuhan, bagaimana ini ? Ini terlalu mendadak astaga. Kita tak mungkin tiba tepat waktu ! Aduh aku ketemu jodohku aja belum, masa udah mau mati sih" Alena mengeluh risau.
"Kita bisa ! Malam ini kita berangkat ! Sebaiknya sekarang kita bersiap-siap !" Kaira berkata penuh keyakinan.
Mereka berempat segera menyusun rencana dadakan pada malam itu. Menyiapkan pelarian mereka ke pinggir kota di timur. Berharap cemas agar mereka tiba tepat waktu sebelum bom-bom itu diledakkan. Ini harapan terakhir mereka agar bisa selamat dalam keadaan hidup-hidup. Dan semoga saja tak ada yang menghalangi setelah ini.
-Kkeut