Run Z

Run Z
Section 23. Emosi Terpendam



Jauh di dalam basement sana, tepat beberapa menit setelah tragedi bom yang dijatuhkan ke arah mereka. Reruntuhan menimpa mobil yang dibawa Kaira. Sang pengemudi mengangkat kepalanya yang sempat terbentur pada setir. Ini akibat dirinya yang tanpa sengaja menabrakkan mobil tersebut ke arah salah satu pilar yang berada disana. Terlalu terburu-buru memasukkan mobil tersebut ke dalam basement, pandangannya tidak fokus dan berakhirlah kecelakaan kecil itu. Dia memegang kepalanya yang mungkin sekarang memar karena terasa berdenyut nyeri. Kepalanya menoleh ke belakang melihat bagaimana kacau keadaan teman-temannya.


Tak jauh beda dengan Kaira, 3 sekawan yang duduk di belakang terantuk ke depan kala Kaira menabrakkan mobilnya pada salah satu pilar. Isi mie dan kuah dari cup mereka tumpah dan mengotori bawah mobil beserta pakaian mereka. Mereka meringis pelan merasakan denyut sakit di kepala dan panas dari kuah mie yang mengenai kulit mereka. Kaira yang melihat itu meringis pelan, "maaf, aku tak punya pilihan lain. Helikopter sialan itu akan menjatuhkan bom ke arah kita" katanya penuh penyesalan.


Cathleen memukul kursi di hadapannya dengan tangan yang terkepal erat. "Bangsat ! Gila apa ya mereka ?!" Cathleen mengumpat kasar.


Sena yang tengah mengusap kakinya yang tersiram kuah panas, menatap ke arah Kaira dengan pandangan khawatir. "T-tadi aku sempat ngeliat mobil miss Teresa di belakang kita. A-aku nggak salah liat kan Kai ?" tanyanya terbata-bata.


Kaira menggeleng penuh penyesalan. "Nggak, kamu bener. Tadi mobilnya miss Teresa."


Sekarang Alena yang melemparkan tatapan risau. "Terus nasib mereka gimana ? Selamat kayak kita kan ?"


"Aku nggak tau. Kita harus cek keluar sekarang" Kaira berujar tegas. Dia mencoba menghidupkan mobil yang dikendarainya. Dia sebenarnya tak yakin, karena kondisi mobil mereka yang mana mesin depannya remuk akibat tertimpa reruntuhan. Beberapa kali percobaan mobil itu tidak mau menyala. "Cepet hidup mobil sialan !" Kaira memukul kemudi mobil, kemudian mencoba kembali menghidupkan mobil tersebut.


Pada percobaan kedelapan mobil itu berhasil dihidupkan. Kaira melajukan mobil tersebut mundur, membuat reruntuhan pada kap mobil berjatuhan ke depan. Setelahnya dia melajukan mobil itu ke depan mencari pintu keluar lain dari basement tersebut. Dia tidak bisa menggunakan pintu masuk sebelumnya, pintu tersebut telah tertutup reruntuhan.


Dan disinilah mereka setelah berhasil keluar dari basement penyelamat hidup mereka, di tempat kejadian dimana bom itu dijatuhkan. Hujan kembali turun dengan begitu deras, memadamkan api-api yang berkobar membakar beberapa benda disana dan juga tubuh zombie-zombie yang terbunuh. Kaira menghentikan mobilnya tepat di hadapan sebuah mobil yang berdiam di tengah jalan dalam keadaan hangus. Segera dia melompat keluar dan berlari menembus hujan menuju mobil tersebut. Dia bisa memastikan dari body mobil yang hangus, bahwasannya itu adalah mobil yang dikendarai oleh Teresa, Juno, Erden, dan Naomi.


Harap-harap cemas dia memeriksa keadaan di dalam mobil. Sudut hatinya mengirimkan doa agar teman-teman survivalnya sempat menyelamatkan diri dari mobil tersebut. Namun, kenyataan pahit menampar dirinya. Tak ada yang selamat. Yang ia dapati hanya 4 mayat yang gosong terlalap api. Kaira jatuh bersimpuh di hadapan mobil itu, kakinya mendadak lemas mendapati duka kembali menyerang mereka. Rasanya ingin menyalahkan dirinya, tapi siapa yang bisa memprediksi bahwa helikopter itu datang untuk membunuh mereka ? Tak ada.


Ck, lagi-lagi helikopter merenggut orang-orang yang tak berdosa. Ingatkan Kaira untuk mencari sesuatu yang bisa gunakan untuk menembak helikopter lainnya.


Alena, Sena, dan Cathleen tiba belakangan. Mereka tak bisa menutup bahwa mereka terkejut melihat bagaimana keadaan mobil tersebut. Sena menendang udara kosong di hadapannya dengan kesal. "Bajingan sialan ! Mereka harus mempertanggung jawabkan perbuatan mereka ! Setan nggak punya hati nurani !"


"Apa sih yang mereka pikirin pas ngejatuhin bom ? Nggak liat apa kita ada disana ?!" Alena berseru kesal. "Lihat saja kalau ketemu, nggak bakal kukasik ampun !"


Cathleen tak banyak berbicara, dia mengarahkan kursi rodanya ke arah Kaira. Menarik lengan sahabatnya itu agar bangun. "Ayo, katamu kita harus ke rumah Belva buat nyari tau wabah itu. Cepet kita lakuin dan hukum para manusia yang nggak punya hati nurani itu !" Cathleen berkata penuh penegasan dan amarah yang terpendam. Kaira mengangguk menyetujui.


Mereka berempat segera masuk kembali ke dalam mobil. Menyimpan baik-baik dalam kepala untuk membalas siapapun dalang dibalik kejadian ini. Kaira melajukan mobilnya melewati kawasan yang luluh lantak akibat bom yang dijatuhkan disana. Dia harap-harap cemas, apakah rumah Belva masih dalam keadaan utuh atau tidak. Karena kunci utama wabah ini, Kaira yakini pasti berada disana.


Sepertinya dewi fortuna masih merestui mereka untuk memecahkan kasus wabah zombie ini. Nyatanya setelah 15 menit berkendara, mereka sampai di hadapan mansion mewah milik keluarga Belva yang masih utuh. Syukurlah bahwa rumah si mendiang gadis sombong itu terletak di luar kawasan peledakkan bom tadi. Gerbang besar yang berada di sana, salah satu daunnya terbuka, menyisakan celah yang cukup bagi Kaira untuk memasukkan mobilnya. Seperti yang Kaira duga, terdapat beberapa zombie yang mengelilingi rumah tersebut.


Dia menghentikan laju mobilnya yang remuk di tengah jalan setapak mansion tersebut. Mematikan mobil itu dan menatap ke arah Alena juga Sena. "Kalian bisa kan menghabisi zombie diluar ? Aku akan membantu Cathleen untuk turun."


Alena dan Sena mengangguk. Mereka berdua turun terlebih dahulu dan langsung menghabisi para zombie yang menyerbu. Kaira turun setelahnya, dia dengan santai menurunkan kursi roda Cathleen, kemudian membantu sahabatnya untuk keluar dari mobil tersebut. Maniknya memandang datar pada kumpulan zombie yang telah dihabisi Sena serta Alena. Untuk berjaga-jaga agar jumlah zombie tak bertambah masuk ke dalam mansion, gadis itu melangkah dan segera menutup gerbang besar mansion keluarga Belva.


Kala dia berbalik bisa dia lihat Alena dan Sena yang bertos ria karena telah menghabisi para zombie yang menyerang mereka. Kaira tersenyum tipis melihat itu. 4 sekawan D-CAISA itu langsung melangkah memasuki mansion megah di sana. Tak hentinya mereka mengagumi interior mewah yang berada disana.


"Belva hidup terlalu makmur. Pantas saja dia begitu sombong" Alena berkomentar.


"Bukankah kebanyakan orang kaya begitu ? Terlalu terlena dengan harta yang mereka miliki" Cathleen menimpali.


"Aku tak peduli lagi dengan si brengsek Belva. Yang pasti aku ingin segera mandi" Kaira bersuara. Dia habis mengambil keranjang belanjaan mereka. Tangannya mengambil sepaket alat mandi kemudian dengan santai melangkah ke kamar mandi yang dekat disana.


Sena tersenyum canggung melihat tingkah sahabatnya itu. "Bukankah dia terlalu kurang ajar. Seakan ini rumahnya sendiri saja."


"Dia memang begitu. Lebih baik kalian juga membersihkan diri. Uh, bau sekali setelah 4 hari tertawan di sekolah mengerikan itu" Cathleen bergidik ngeri mengingat berapa hari mereka harus bertahan dengan badan yang lengket bukan main.


"Lalu, kita memakai baju apa ? Kan kita tidak bawa baju ganti" Alena bertanya.


"Aduh, pakai saja baju yang ada disini. Toh pemiliknya nggak ada disini. Palingan sudah kabur duluan" itu Kaira yang menjawab. Pun sebenarnya, gadis itu menganggap semua ini kompensasi yang seharusnya mereka dapatkan. Katakanlah ini bentuk pertanggungjawaban atas semua peristiwa buruk yang terjadi belakangan.


Selepas membersihkan diri, yang mereka lakukan adalah beristirahat penuh di mansion itu. Memanfaatkan fasilitas yang ada dengan berehat sejenak mengisi tenaga yang terkuras habis-habisan belakangan ini. Keempatnya tengah berada di ruang tengah, menonton series zombie yang pernah mereka tonton beberapa hari lalu, sebelum tragedi mengerikan ini terjadi.


Alena duduk di sofa single berseberangan dengan sofa yang ditempati Cathleen. Lalu, di tengah mereka tepat pada sofa panjang ada Sena yang posisinya setengah tertidur sembari memeluk bantal sofa. Dan di bawah sofa Sena, tepat pada ambal tebal di mansion itu ada Kaira tengah tidur dengan posisi miring sembari memakan snack yang mereka ambil tadi.


"Ey, yang di series berbeda sekali dengan di kenyataan. Kita bahkan harus berulang kali bertaruh nyawa" Kaira mengeluarkan pendapatnya.


"Itu sih kamunya aja yang nekat" Alena melempar snack yang ia makan ke arah Kaira.


"Alena jangan lempar-lempar ! Aku baru keramas tadi !" Kaira berujar kesal sembari mengibas-ngibaskan rambutnya yang terkena lemparan snack.


Kaira yang mendengar itu spontan terbangun dari posisinya kemudian menepuk jidatnya. "Aish kelupaan aku. Keenakan nikmati fasilitas mansionnya Belva."


"Beneran dia ngerasa ini rumahnya sendiri ckckckck" Sena berdecak tak percaya.


"Jadi singkatnya begini. Aku tadi pas ke ruang kepala sekolah sama Alena, ngeliat di ruang kerja ada sugdad* kita yang sudah jadi zombie. Nah, niat awalku cuman mau memusnahkan dia biar nggak nambah korban, eh tau-tau ada si rese Belva. Dia seenaknya lagi marah-marah terus nyerang aku. Mana dia segala bilang kalo semua ini direncanain. Terus-terus aku-"


(*Sugdad \= Sugar Daddy)


"Hah ? Direncanain ? Maksud kamu apaan ?!" Sena berseru terkejut.


"Aduh dengerin dulu ! Jangan dipotong-potong makanya !" Kaira menghentak-hentakkan tubuhnya kesal.


"Cepetin cerita kau ! Jangan ngambek dulu, bikin kepo aja" Cathleen nyaris melayangkan jitakannya ke kepala Kaira.


"Gini-gini, awalnya aku juga bingung gimana maksudnya. Sampe pas Belva dorong aku ke meja kepsek kita, aku nggak sengaja kesandung terus numpahin berkas-berkas disana. Terus-"


"Nggak ilang-ilang cerobohmu Kai" Alena menginterupsi cerita Kiyara.


"INI KAPAN AKU SELESAI CERITANYA KALO DIPOTONG MELULU. DAHLAH AKU NGAMBEK AJA, MALES BANGET AMA KALIAN !" Kaira berseru penuh emosi.


"Yeh ngambekkan kamu."


"Kayak anak kecil."


Cathleen yang terdiam, mengernyitkan dahi kesal akibat ulah 3 temannya. Dia memukul keras pinggiran sofa yang didudukinya membuat suara hantaman keras langsung memenuhi ruangan. "Bisa diem nggak kalian berdua" ujarnya penuh penekanan pada Alena dan Sena. "Dan kamu Kaira, lebih baik cepet cerita, sebelum aku lempar sandal ini ke kepalamu" ancam Cathleen sembari mengangkat sandal rumahan yang tengah dipakai.


Kaira bergidik ngeri melihat itu. "Okay. Okay. Turunin dulu ya sandalnya, aku lanjut cerita kok" ujarnya gugup. Cathleen menurunkan sandal yang dia pegang sembari tersenyum penuh arti ke arah Kaira.


Kaira menelan ludah pelan sebelum kembali melanjutkan ceritanya. "Nah, tadi sampe mana ya ? Oh iya dokumen ! Dokumen-dokumennya itu berserakan kan. Aku malah salfok ke salah satu berkas yang ada logo perusahaan Belva. Isi yang sempet kubaca cuman tentang percobaan imunitas tubuh terhadap virus buatan. Tapi, pas aku mau baca lengkapnya si Belva malah mau bunuh aku. Nggak sempet aku baca, makanya aku mau cari tau kesini" tutur Kaira.


"Wah pantesan aja abis keluar dari sana kamu berantakan. Ternyata abis jambak-jambakkan ama Belva toh" Alena mengangguk paham.


Kaira meringis pelan, "jambak-jambakkan darimana. Aku hampir dilempar keluar dari jendela sialan. Untung sugdad menyerang dia, selamat akunya" dumal Kaira.


"Kenapa jadi penasaran ya isi lengkapnya. Eh bentar deh, Alena bukannya waktu festival kamu bilang temanmu ikut lomba, apa ya namanya aduh lupa" Sena menggaruk kepalanya pelan berusaha mengingat apa yang pernah dikatakan Alena.


Alena menjentikkan jarinya. Dengan raut wajah terkejut dia mengatakan, "sama kayak yang Kaira bilang ! Berarti semua ini disengaja ?!"


"Nah itu dia ! Makanya aku pengen cari tau buktinya. Menurutku sih pasti ada di suatu tempat di mansion gede ini !" Kaira berkata penuh keyakinan.


"Ya terus ngapain kita duduk doang ? Cepet cari penjelasan lengkapnya !" Cathleen bertitah.


Mereka semua berpencar, kemudian mencari di berbagai tempat yang sekiranya bisa menjadi tempat persembunyian. Mereka habiskan waktu nyaris 1 jam lamanya mengacak-acak seisi ruangan di lantai 1. Namun, kesia-siaan yang mereka dapatkan. Berakhirlah mereka berkumpul di depan tangga melingkar menuju lantai 2.


"Kalo tangganya gini, aku nggak bisa naik" Cathleen mengeluh pelan.


"Ish, tangga orang kaya emang beda" Alena berdecak kagum.


"Sialan, udah capek keliling ngacak-ngacak lantai 1, masa ia harus capek lagi naik tangga sebanyak ini. Tepar aku" tidak usah dipertanyakan, ini Kaira yang dasarnya memang malas bergerak.


Sena tak banyak berkomentar. Matanya mengincar mencari sesuatu yang ia yakini orang kaya seperti keluarga Belva pasti memilikinya. Senyum terbit di wajahnya menemukan benda yang ia cari berada di sudut lain mansion itu. Dia berjalan ke arah sana dan berdiri di depan benda itu. Sena berdehem sejenak, membuat teman-temannya menoleh ke arah sumber suara berada. "Kalian ini bodoh atau gimana sih ? Ini lo ada liftnya. Nggak kepikiran orang sekaya Belva pasti punya lift di rumahnya hah ?"


"Bener juga..." gumam ketiganya serempak.


Keempat sekawan itu berhasil tiba di lantai 2 mansion keluarga Carlise dengan bantuan lift. Sama seperti yang dilakukan di lantai 1, mereka berpencar ke setiap ruangan yang ada disana. Mengacak-ngacak seisi rumah. Sayangnya, sekali lagi mereka dikecewakan dengan fakta bahwa tak satupun petunjuk yang diinginkan berhasil ditemukan. Sia-sia sudah waktu mereka berjam-jam dengan hasil tangan kosong.


-Kkeut