Run Z

Run Z
Section 25. Meninggalkan Semua



Malam tiba dengan begitu cepatnya. Bayang-bayang menakutkan bahwasannya bom yang telah dipasang di tiap sudut kota akan meledak sewaktu-waktu, total membayang-bayangi empat sekawan D-CAISA. Mereka cemas pun risau, merasa bila mereka terlambat semua perjuangan mereka kabur dari sekolah hanya akan berakhir dengan kesia-siaan. Tentu tak ada yang menginginkan hal itu, meski nyatanya mereka telah kehilangan segalanya. Teman, keluarga, bahkan rumah untuk berpulang.


Andai ini hanyalah mimpi buruk, tolong bangunkanlah mereka.


Lelah rasanya menghadapi tragedi buruk yang silih berganti hadir.


Rencana awal mereka adalah mencari persediaan senjata ataupun makanan yang tersisa di rumah keluarga Carlise. Seharusnya demikian, tapi tolong salahkan perut Kaira yang tak bisa diajak kompromi. Di tengah perencanaan yang tengah mereka bahas dengan serius itu, tiba-tiba saja bunyi perut tak tahu malu milik Kaira menginterupsi. Sukses membuat diskusi mereka berhenti sejenak untuk mengisi tenaga yang sempat terkuras sebelumnya. Dan disinilah mereka di dapur mansion mewah itu dengan segala bahan makanan di dalam kulkas yang tercecer di atas meja.


"Err siapa yang bisa memasak ? Aku mengundurkan diri saja. Dapur dan aku bermusuhan. Bisa-bisa kalian mati keracunan, jika aku melakukannya" ungkap Kaira.


"Jangan tunjuk aku plis. Selama ini aku lebih suka mendeliver makanan daripada memasak sendiri" Sena menyilangkan kedua tangannya di depan dada.


"Okay, hanya tersisa aku dan Kate. Aku bisa saja memasak, tapi aku tak tau harus memasak apa dengan bahan-bahan ini" Alena menggaruk kepala kebingungan.


"Kenapa aku mendadak bodoh ya, aku juga tidak tau harus membuat apa dengan bahan-bahan ini, padahal biasanya selalu ada ide" Cathleen mengerutkan dahi berpikir keras hendak membuat apa dengan bahan yang ada.


"Ya sudahlah, kita makan mie saja. Itu masih ada lagi beberapa" Kaira memberikan sarannya.


"Gila kau, lama-lama usus buntu aku makan mie terus Kai" Alena memprotes tak terima.


Kaira mengedikkan bahu acuh. "Jangan dimakan kalo gitu, kalian masak apa aja dah pake bahan-bahan disini. Aku udah keburu laper pengen makan, nggak masalah lah makan mie lagi" katanya sebelum melengos mengambil beberapa bungkus mie yang tersisa di dalam keranjang makanan.


"Terus ini kita masak apa Kate ?" Sena bertanya.


Cathleen yang sudah kelewat buntu mendengus sebal. "Udahlah kita masak nasi goreng aja, praktis biar nggak ribet mikir lagi. Ayo Alena" ajaknya.


1 jam mereka habiskan untuk makan malam terakhir di kota tempat mereka tinggal. Mereka berkumpul kembali di ruang tengah, setelah merasa tenaga sudah terisi kembali. "Jadi, habis ini kita ngapain ?" Alena bertanya.


"Kita nggak punya waktu banyak untuk leha-leha. Malam ini juga kita berangkat. Ambil apapun disini yang bisa kita pakai selama perjalanan. Entah itu senjata, makanan siap santap, atau apapun itu" Kaira berujar dengan nada serius.


"Tumben serius Kai ?" Sena bertanya terheran-heran.


"Setuju sih, biasanya kelakuanmu nggak pernah bener" Cathleen memberikan komentarnya.


"Aish, aku sinting kalian nggak suka. Aku lagi serius-seriusnya kalian pertanyakan. Terus aku harus gimana ? Kayang aja lah aku" Kaira mengacak surainya frustasi.


"Wah boleh tuh Kai, cepet lakuin biar nambah koleksiku" kata Alena sembari mengeluarkan ponselnya.


"Baku hantam aja yuk kita" kata Kaira sembari mengangkat kepalan tangannya.


"Udah-udah, jangan berantem kalian. Lagi serius ini" Sena melerai kedua orang yang sudah mengambil ancang-ancang untuk berkelahi.


"Aduh, kalian berdua ini. Udahlah baku hantamnya ditunda dulu. Kita harus cepet siap-siap sekarang !" titah Cathleen dengan nada tegas.


Setelahnya mereka berempat pun berpencar, Alena yang sedang mengcopy file rahasia keluarga Belva ke dalam Flashdisk. Sena dan Cathleen yang membongkar isi dapur untuk mencari makanan yang siap santap langsung tanpa perlu mereka masak lagi. Dan Kaira yang sibuk mengikat sebilah pisau tajam pada tongkatnya. Mereka menyelesaikan semua pekerjaan itu dengan cepat, kemudian segera keluar dari mansion mewah itu.


"Menyedihkan sekali, aku akan merindukan kenikmatan menjadi orang kaya. Selamat tinggal mansion mewah" pamit Kaira sambil melambaikan tangan ke arah mansion keluarga Belva. Pun dia mendramatisir keadaan dengan pura-pura mengusap bawah matanya bak tengah menjatuhkan air matanya.


Alena yang jengah melihat itu lantas menarik kerah belakang piyama tidur yang dikenakan Kaira. "Nggak usah ngedrama, nggak keburu Kai !" ucapnya. Kemudian tanpa hati menyeret sahabatnya itu menuju ke depan mobil mereka yang hancur lebur itu.


"Kita nggak mungkin pakai mobil ini lagi" Sena menggeleng pelan. "Udah penyok banget ini. Mana nggak ada tukang ketok magic disini."


"Ya iyalah nggak ada. Ini kawasan orang kaya. Mereka mah kalo mobil rusak pasti beli baru" masih dengan kejulidannya yang tak pernah hilang, Alena berujar demikian.


"Terus kita kudu otthoke ? Nggak mungkin naik mobil buruk rupa begini. Keburu is death duluan" Sena mengeluh frustasi.


Seakan menjawab keluhan frustasi Sena, tiba-tiba terdengar deru suara kendaraan dari garasi keluarga Belva. Tak lama setelah itu, sebuah mobil jeep melaju keluar dari sana. Tak lain tak bukan Kaira ada di balik kemudi. Lucu sekali melihat bagaimana dia yang berusaha terlihat sok keren dengan menaruh sebelah tangannya keluar jendela yang dibuka. Mengendarai dengan satu tangan bak seorang profesional. Tapi, dia masih menggunakan piyama tidur yang dia ambil dari mansion Belva.


Gadis itu menghentikkan jeepnya di depan teman-temannya. Kemudian si gila itu melompat turun dari sana. "Makanya gunakan fasilitas yang tersisa disini sebaik mungkin. Tuh di garasi mereka banyak mobil bagus. Salah satunya jeep kokoh ini. Eoh, kita akan terlihat keren saat menaiki ini" katanya penuh puja sembari memukul body samping jeep tersebut.


"Okay itu cukup keren. Tapi, kenapa kau masih memakai piyama tidur ?" Alena bertanya skeptis.


Kaira memandang penampilannya sejenak. "Memang apa salahnya memakai piyama ? Aku merasa lebih nyaman memakai ini."


"Aish, suka-sukamu saja lah. Daripada kita makin mengulur waktu segera angkat barang yang tersisa ke mobil. Jangan buang waktu atau kalian mau mati terpanggang karena bom itu" ketus Cathleen.


"Ya enggak lah. Belum kesampaian mimpiku jadi dokter. Ogah juga jadi hantu gentayangan" Sena bergidik ngeri membayangkan bila hal buruk itu terjadi.


"Heh mulutnya !" Alena melayangkan satu pukulan pada Sena.


"Buruan weh ! Keburu ngantuk akunya ini ! Lagian ini kenapa makin ngalor ngidul sih" Kaira bersungut kesal.


"Kelamaan hiatus penulisnya, lupa gimana nulis ini cerita"


"Brengsek !"


"Okay, karena aku tidak mau kejadian aneh-aneh terjadi seperti teriakan kesetanan, mual-mual, dan sebagainya, tolong pasang sabuk pengaman kalian. Oh jangan lupa berdoa ya, aku mau simulasi fast and furious" Kaira memperingati teman-temannya. Tak butuh waktu lama bagi mereka untuk menyiapkan diri. Toh waktu mereka tinggal sedikit lagi untuk selamat dari maut.


Cathleen, Alena, dan Sena buru-buru memasang sabuk pengaman. Ketiganya berpegangan tangan erat bersiap-siap merasakan kegilaan Kaira kembali setelah jeda sejenak kemarin malam. "Kai, inget loh ini bawa nyawa orang. Inget ya kalo mau mati jangan ajak-ajak kita" Alena berkata penuh penekanan. Gadis itu bahkan mengeluarkan senyum paksanya.


"Eits, kita kan sahabat sehidup semati Alena. Hahahaha. Udah jangan pucet gitu. Di tangan Kaira semua pasti aman dan selamat. Mending kalian berdoa biar kita nyampe sebelum waktunya tiba" Kaira mulai menyalakan mesin mobil. Suara gerungan pelan terdengar kala perlahan dia menginjak pedal gas siap beranjak dari rumah Belva.


"Ya tuhanku, semoga kami selamat dari aksi gila Kaira maupun dari bom sialan yang dipasang para keparat sinting itu" Sena memanjatkan doanya kembali. Entah bagaimana dia mendadak menjadi religius belakangan ini.


"Kai itu gerbangnya belum dibuka loh" Cathleen berujar ketus, saat dia menyadari bahwa gerbang mansion Belva belum dibuka.


"Nggak usah, kita tabrak aja langsung !" Kaira menjawab cepat dan langsung menginjak pedal gas dengan kencang. Mobil jeep itu langsung melaju dengan kencang membuat para penumpang di dalamnya terdorong ke belakang begitu saja akibat hukum Newton 1 yang berlaku. Kaira benar-benar melakukan apa yang ia katakan sebelumnya. Mobil semakin melaju mendekati gerbang besar rumah Belva.


"Kaira Syaiton ! Mobilnya bakalan rusak goblok !"


"Sinting kamu Kai ! Ampun aku masih pengen ketemu pacarku di Korea sana huwa."


"Ya tuhanku, kupanjatkan doaku kepadamu. Ampuni segala salah hambamu ini."


Tidak.


Kaira berbohong soal menabrak gerbang.


Dia membuka jendela mobil itu, kemudian melempar sebuah kerikil yang tidak terlalu kecil ukurannya ke arah mesin yang menjadi kunci gerbang. Batu itu tepat mengenai tombol untuk membuka gerbang. Gerbang perlahan bergeser membuka jalan untuk mobil jeep yang dikendarai Kaira dan juga teman-temannya.


Kaira tersenyum miring melihat sekelompok zombie yang berada di depan menghadang jalannya. "It's show time" gumamnya pelan. Dia menginjak gas lebih kencang, membuat kecepatan jeepnya bertambah dan kemudian dengan santai menabrak tubuh para zombie itu tanpa dosa.


-Kkeut