
Persis sama seperti hari pertama mereka berhasil kabur, berbagai lonjakan dirasakan oleh mereka yang berada di dalam jeep. Tentu saja itu semua akibat tubuh para mayat hidup yang dilindas Kaira. Tak elak bila roda jeep itu pasti berlumur darah yang banyak (dan sisa-sisa bagian yang lengket). Tapi apa peduli diperlukan saat ini, yang terpenting mereka bisa selamat dari maut. Tidak perlu mengasihani para mayat hidup yang seharusnya sudah mati itu. Mereka tidak memiliki masa depan lagi. Berbeda dengan Cathleen, Kaira, Sena, dan Alena. Mereka masih memiliki masa depan cerah yang menunggu di depan sana. Dan ini saatnya untuk meraih masa depan itu. Pertama mereka harus selamat dari ancaman bom yang akan diledakkan.
Tapi, sebelum itu ada yang perlu Kaira urus dulu.
Seperti menenangkan aura para singa yang akan mengamuk di kursi penumpang.
"Hahahaha, sorry guys tadi cuman bercanda kok. Ya kali aku nabrak gerbang, mati duluan kita. Tenang-tenang, aku cuman mau nabrak zombie yang ngehalangin jalan aja kok" Kaira berusaha tertawa jenaka. Meski nyatanya dia bisa merasakan aura-aura negatif nan suram dari kawan-kawannya. Dalam diam, si gadis Helda menelan ludah gugup.
Alena yang maju lebih duluan, kemudian menarik rambut Kaira kasar dan penuh dendam. "Kurang asem ya bikin anak orang jantungan !!! Seneng kamu hah ?! Liat kita-kita pada ketakutan !!! Kurang ajar kamu !" Terlanjur kesal Alena bahkan tak mempedulikan bagaimana Kaira yang mulai kehilangan keseimbangannya dalam menyetir. Oleh karenanya, jeep yang dikendarai oleng kesana kemari. Melaju dalam keadaan tak terkendalikan.
"ARGH ! Sakit Ale ! Ya maafin guys. Abis asyik banget ngerjain kalian bertigaaa. Aduh mau copot rasanya kepalaku Ale !" Kaira berteriak kesakitan. Dia bisa merasakan beberapa helai rambutnya yang tercabut dari kepalanya.
"Bercandamu kurang ajar Kai ! Dasar manusia nggak tau diri" Cathleen melayangkan satu geplakan ke kepala Kaira yang masih dalam posisi ditarik Alena tersebut.
"Nyebut Kai, ya tuhan. Main-main kamu sama kuasa tuhan namanya. Tobat Kai, tobat kamu. Cukup para zombie diluar sana yang kena azab, kamunya jangan" Sena bersabda.
"AAAA ALENAAA !!! AKU BELUM MAU BOTAK !!!"
"BODO AMAT KAIIII ! SEKALIAN AJA JOIN PLONTOS CLUB BARENG GURU-GURU KITA"
Demikianlah keributan yang terjadi di antara mereka. Mari doakan saja keributan ini cepat selesai atau mereka akan terlambat untuk menyelamatkan diri.
Beberapa jam terlewati begitu saja. Senja terganti oleh sang malam. Waktu begitu cepat berlalu, maka semakin banyak keresahan yang membalut. Jalan panjang bak tanpa akhir masih jauh terpandang di depan. Gelisah, gundah gulana, juga risau bercampur aduk menjadi satu. Bayang-bayang kelam akan bom yang bisa meledakkan mereka, menghantui terus menerus. Sayangnya harapan seakan menjauh kala mereka ingin gapai. Lantas apa yang bisa mereka lakukan selain berpangku tangan pada yang kuasa agar memberikan mereka kesempatan terakhir.
"Sumpah, ini kenapa belum sampe-sampe juga sih" Alena mengeluh resah. Dia mulai bergerak gelisah di tempat duduknya.
"Demi tuhan Kai, ini kamu nyetir udah bener kan ?" Cathleen melayangkan pertanyaan skeptis pada kawannya itu.
"Menurut ngana ? Ya tuhan Cathleen, aku udah ikuti arahan GPS, nggak mungkin kita tersesat. Please, kalian tetap tenang ya di belakang" Kaira mencoba berucap menenangkan kawan-kawannya.
"Gimana bisa tenang Kai ?! Bomnya bisa meledak sewaktu-waktu !!!" Cathleen tanpa sengaja berujar dengan nada tinggi.
"Cathleen tenang ya. Kita doa aja ya semoga bentar lagi nyampe dan masih sempet nyelamatin diri" Sena yang tak ingin memperkeruh suasana itu mencoba menenangkan keadaan.
"Ini mobilnya kenapa lambat baaaaaaa-"
Terlanjur kesal dengan segala ocehan kawan-kawannya, Kaira menancap gas dengan kencang. Spontan membuat mobil melaju kencang, membuat Alena tak bisa melanjutkan kalimatnya sampai selesai. Penanda kecepatan menunjuk pada kecepatan maksimal jeep itu. Bukti nyata bahwa Kaira ingin menunjukkan bahwa dia pun berusaha sekuat tenaga agar mereka berempat bisa selamat. "Ini kan yang kalian mau ? Mending kalian diam daripada bikin suasana makin keruh. Masih protes silahkan lajukan jeep ini sendiri sesuai keinginan kalian, aku bakal lepas tangan soal itu" ancamnya yang membuat suasana hening langsung memenuhi jeep itu.
Tak berani mengelak mereka. Perlahan menyadari bahwa mau bagaimanapun mereka berkoar-koar takkan menyelesaikan masalah. Malah mengundang masalah baru, jadi memang lebih baik diam adalah yang terbaik.
Perkiraan tidak jauh melesat. Beberapa meter dari tempatnya berada bisa ia lihat 1 helikopter yang tersisa bersama beberapa tentara di sekitarnya yang mulai menaiki helikopter itu. Sial, sepertinya itu adalah helikopter terakhir yang akan menyelamatkan mereka. Kaira segara membuka jendela samping, kemudian berteriak keras, "TUNGGU !!! JANGAN TINGGALKAN KAMI !"
Demi mendengar teriakan Kaira, teman-temannya ikut panik menyadari bahwa mereka akan ditinggal pergi. Sena dan Cathleen yang sama-sama duduk di pinggir segera membuka jendela dan ikut berteriak. Sementara Alena yang duduk di tengah, menjulurkan tubuhnya ke depan untuk menekan klakson jeep sebagai tanda peringatan.
"YAK ! KAMI MASIH HIDUP ! JANGAN PERGI DULU !"
"PAK TENTARA TUNGGU KAMI ! KAMI JUGA INGIN NAIK !"
Tin ! Tin ! Tiiinnnn !!!
Tapi, para tentara itu tidak mendengarkan.
Atau terkesan sengaja mengabaikan mereka.
"BAJINGAN BRENGSEK !" Kaira tak dapat menahan kata-kata kasar yang meluncur dari bibirnya.
"Kai ! Buruan ! Mereka udah mau pergi itu !" teman-temannya berucap penuh kepanikan. Kaira tak kalah panik, dia sekuat tenaga menginjak pedal gas tak peduli bagaimana kakinya yang terasa sakit karena seharian penuh menginjak pedal tanpa henti. Sialnya, jeep ini telah mencapai batas maksimal kecepatannya. Dia tidak bisa melaju lebih kencang daripada itu.
Tak cukup kesialan mereka, bunyi ledakkan yang begitu kuat mulai terdengar. Suaranya memang terdengar dari kejauhan, tapi telinga mereka masih bisa menangkap suara-suara ledakkan itu. Mereka telah memulai pengebomannya. Dan hebatnya para tentara sialan itu meninggalkan empat sekawan D-CAISA begitu saja. Mereka langsung pergi meninggalkan kota selepas tentara terakhir telah naik. Mengabaikan jeep yang baru saja tiba disana.
"Bangsat ! Ini gimana ?" Cathleen berucap penuh getar. Sialan, apakah mimpinya yang dulu akan benar-benar terjadi. Mereka akan mati begitu saja ? Setelah pengorbanan penuh darah, air mata, dan keringat ? Semua menjadi sia-sia begitu saja ? Sialan sekali.
Suara ledakan semakin sahut menyahut di belakang sana. Ketakutan bercampur risau makin memenuhi suasana di dalam mobil. Alena dan Sena dengan spontan membalikkan badan kala merasakan getaran pada tempat duduk jeep mereka. Tak kuasa mereka menahan mata yang membelalak melihat ledakan silih berganti yang semakin mendekat. Tanpa melihat ke belakang, Cathleen tahu bahwa ledakan itu tak jauh dari mereka. Tangannya gemetaran bukan main meremas pinggir kursi jok.
Kaira memandang marah pada helikopter yang telah meninggalkan mereka. Rahangnya mengeras mengingat sudah 3x mendapat perlakuan jahat oknum dibawah pemerintahan tersebut. Dia tidak ingin masa-masa kelam itu kembali, tak peduli meski harus melakukan hal gila lainnya, Kaira hanya ingin selamat kembali. Cukup dengan semua penderitaan yang dia rasakan selama ini. Kakinya menginjak penuh pedal gas, jeep langsung melesat dengan kecepatan tinggi melewati pos yang seharusnya menjadi tempat pemberhentian mereka.
"Kalian pikir aku akan menyerah ?! Tidak ! Akan kukejar kalian sampai kota seberang ! Tidak peduli setelah ini aku akan dicap gila atau hilang waras sekalipun ! Akan kubuktikan pada kalian bahwa kami yang kalian buang begitu saja, akan selamat dari maut yang kalian ciptakan !" geramnya.
Getaran bercampur guncangan terasa begitu kuat. Menandakan bagaimana ledakan yang semakin mendekat ke arah mereka. Tak kuasa ketiga sahabat Kaira berteriak ketakutan melihat bagaimana pos tadi telah meledak. Tinggal beberapa meter lagi, sebelum ledakan itu datang ke arah mereka. Kaira menggenggam erat setirnya. Dia baru saja melihat peledak terakhir, hanya tinggal beberapa meter lagi untuk mencapai tempat yang terhindar dari kawasan ledakan.
Sayangnya,
"Kaira !!!!" jeritan Alena, Sena, dan Cathleen itu mengisi seluruh mobil jeep yang berusaha menyelamatkan diri tersebut. Dan setelahnya ledakan terakhir terjadi. Asap putih membumbung tinggi memenuhi seisi kota yang telah dilenyapkan pemerintah itu. Semua hancur dan melebur bersama kenangan-kenangan yang pernah ada disana.
-Kkeut