Run Z

Run Z
Section 21. Kiyara dan Kegilaan Tanpa Akhir



Alena menghantamkan tongkatnya ke arah kepala zombie yang hendak menyerangnya. Kaira pun tak jauh beda dengannya. Entah kesialan bagaimana yang menghampiri keduanya, karena tiba-tiba saja mereka diserang oleh kumpulan zombie. Mau tak mau mereka berdua sedikit terlambat menyusul teman-temannya yang sampai terlebih dahulu di basement sekolah.


Nafas Alena rasanya mau habis, setelah dia berhasil mengalahkan satu zombie terakhir. Saat ini keadaan di sekitar mereka sudah bersih. Tapi, itu hanya berlaku sementara karena ada kumpulan zombie dari 2 arah yang berlawanan datang menyerang. Seperti tak ada habisnya. Alena mengerang kesal dibuatnya. "Kai, ini gimana ? Kita nggak mungkin ngelawan lagi ?" Alena bertanya panik.


Kaira mengedarkan pandangannya, kemudian dia terdiam kala melihat tali-tali lampion yang dilihatnya di hari festival diadakan. Sebuah ide gila muncul di kepalanya bak bohlam lampu yang berpijar. Tanpa aba-aba dia melepas roknya, aksinya itu membuat Alena berteriak kaget. Tak perlu berlama bagi Alena untuk melayangkan pukulan ke kepala Kaira. "Kamu ngapain buka rok Kaira sinting ?! Ya tuhan mata suciku" ujarnya kemudian mengusap wajah kasar karena tak sengaja melihat Kaira yang hanya bersisa celana pendek sebagai bawahannya.


Kaira mengacuhkan Alena dan memilih untuk naik ke pagar pembatas yang ada disana. Ia mengalungkan rok miliknya ke arah tali yang diikat di atas kepalanya. "Alena cepet naik ! Terus pegang pinggangku okay ?" titahnya.


Alena menatap Kaira kebingungan dengan mulut yang terbuka lebar. "Hah ? Ngapain Kai ?" tanyanya.


Kaira berdecak pelan. Dia langsung menarik tangan Alena agar naik dan menaruh kedua tangan gadis itu di pinggangnya. Mereka tak memiliki waktu lebih banyak. Para zombie itu sudah sangat dekat dengan mereka. "Pegangan dengan erat" dia memberi aba-aba.


"Ngapain kamu- KAIIIIIII !!!" belum sempat Alena menyelesaikan pertanyaannya, Kaira langsung membawa tubuh mereka berdua maju ke depan. Spontan Alena memeluk pinggang Kaira erat kala mereka meluncur turun melalui tali lampion yang terikat diagonal ke bawah. Ingatkan Alena untuk memukul kepala Kaira setelah ini. Sial, dia harus merasakan lampion-lampion yang ada dibawahnya menghantam dirinya. Kepala Alena terantuk dengan punggung Kaira kala mereka tiba dimana ujung tali itu terikat. Alena meringis pelan sembari mengusap dahinya yang terantuk.


Gadis Guinevere hendak memarahi temannya, namun dia membatalkan niatnya kala menyadari bahwa posisi mereka masih menggantung saat ini. Kembali dia memegang pinggang Kaira seerat mungkin. Entah kenapa dia merasakan bahwa posisi mereka semakin turun dan sudah mendekati pohon tepat di bawah mereka. Rasanya mereka akan jatuh dari atas.


"Alena cepet lepas pinggangku ! Langsung aja lompat ke bawah, ada pohon kok !" titah Kaira. Tali yang mereka gunakan untuk meluncur sudah teregang ke bawah akibat beban berat yang dipegang. Kaira bisa prediksi bahwa sebentar lagi tali ini akan putus. Dan pada akhirnya mereka akan jatuh ke pohon besar di bawah kaki yang menggantung bebas.


"Gila kamu ! Kalo jatuh ke tanah gimana ?! Mau kamu patah-patah hah ?!" Alena menyanggah tak terima.


"Aduh Ale, masalahnya ini talinya- aaaaa !!!"


Ctak !


Terlambat untuk mereka, tali yang mereka gunakan terlanjur putus terlebih dahulu. Jadilah dua sejoli itu meluncur turun dengan cepat ke bawah. Tubuh keduanya menghantam dahan besar yang menahan mereka agar tak jatuh ke tanah. Keduanya sama-sama meringis kesakitan. Alena memukul kepala Kaira yang berada di dekatnya. "Sialan kau Kai ! Sakit badanku aduh..." ringisnya.


"Ya maaf" Kaira meringis pelan, kemudian mencoba bangkit dan mendudukan dirinya di dahan tersebut bersamaan dengan Alena. "Alena ! Lompat ke bawah cepet ! Kita harus nyusul yang lainnya !" lagi dan lagi Kaira dengan segala aksi nekat dan berbahayanya. Lebih parahnya dia mengorbankan temannya terlebih dahulu.


"Kamu aja duluan !" Alena berseru, kemudian tanpa aba-aba mendorong tubuh Kaira sampai jatuh ke tanah. Setelah itu, dia melompat turun dan menjatuhkan diri diatas tubuh Kaira. Menjadikan tubuh si malang Helda sebagai tempat mendarat.


"Ya tuhan, **** Alena !" umpat Kaira karena merasakan beban berat di atas tubuhnya. Dia mengeluh sakit merasakan bagaimana hantaman berat yang tiba-tiba jatuh ke atas tubuhnya.


"Sorry Kai. Udah kita cepetan lari sekarang, zombienya udah pada ngincer kita tuh !" Alena menunjuk ke arah para zombie yang berlari ke arah mereka. Spontan mereka berdua bangun dan langsung memacu langkah menuju basement yang tak jauh dari sana. Menyusul dengan cepat teman-teman mereka yang tengah menunggu tanpa kepastian.


Sena menghantamkan tinjunya ke arah jendela mobil yang ditempeli oleh sesosok zombie. Tidak sampai memecahkan kaca, ia lakukan itu untuk menggertak saja. Awalnya keadaan terasa aman-aman saja, sampai tiba-tiba ada banyak zombie yang mengerubungi mobil mereka. Membuat Sena dan Cathleen yang berada di dalam terkejut sekaligus risau.


"Gimana nih Sena ? Aduh, kenapa bisa tiba-tiba banyak zombie gini sih ?!" keluh Cathleen kesal.


"Nggak tau Cathleen. Si Alena ama Kaira kemana lagi ? Lama banget mereka" Sena membalas.


Para zombie yang menyerbu mobil mereka makin mengganas dengan menghantamkan kepala mereka ke arah jendela kaca. Sena tak bisa menahan dirinya lagi. Harus ada yang mengambil tindakan cepat. "Cathleen, aku bakal keluar buat ngabisin mayat hidup ini dulu !" dia berkata.


Cathleen menahan tangannya, kemudian memberikan payung yang selama ini menjadi senjatanya bertahan hidup kepada Sena. "Pake ini juga Sena ! Biar gampangan !" Sena mengangguk dan menerima payung itu.


Belum sempat dia membuka pintu mobil, sosok zombie yang berada disana tumbang setelah mendapat hantaman sebuah tongkat. Tak lama setelah itu, Alena muncul dan menggedor-gedor jendela meminta masuk. Spontan Sena membuka kunci mobil dan segera menggeser posisi membiarkan Alena memasuki kursi belakang. Alena langsung naik ke dalam dan menutup pintu.


Alena yang masih berusaha mengatur nafasnya, menengok ke arah temannya tersebut. "Masih diluar. Diluar banyak banget zombienya ! Paling lagi bentar dia masuk" Alena menjawab.


Di luar sana, Kaira menusukkan tongkatnya ke arah kepala para zombie yang tersisa. Setelah dia menghabisi yang terakhir, dia langsung menuju ke mobil dimana para temannya menunggu. Tanpa aba-aba dia membuka pintu belakang dan memaksa masuk ke dalam sana. "Ey geser dong ! Cepet-cepet !" katanya buru-buru.


Cathleen yang berada di pojok terpaksa menggeser posisinya yang sudah sempit dan terjepit. Sena yang nyaris tak mendapatkan tempat untuk duduk, berakhir setengah berdiri di dalam sana. Alena terpaksa menahan dirinya yang terhimpit kala Kaira masuk dan mendudukkan diri disana. Kaira langsung menutup pintu dan berakhirlah empat sekawan itu dalam keadaan yang sempit duduk bersama di kursi yang sama.


"Ini kalian nggak ada yang mau nyetir apa ?" Kaira bertanya dengan alis terangkat keheranan.


"Aduh, aku mana pernah belajar naik mobil" Alena mengaduh pelan.


"Kamu tau sendiri Kai, aku cuman ada sim naik motor" Sena menjawab.


"Jangan tanya aku, kamu pun tau jawabannya" Cathleen terakhir memberikan jawaban.


Kaira meringis pelan mendengar semua itu. Dia langsung keluar dari sana dan membuka pintu tempat kemudi berada. Memberikan space kosong yang tersisa agar teman-temannya bisa duduk lebih nyaman."Kuncinya mana ?" Kaira bertanya dengan nada tergesa-gesa.


Cathleen dengan ragu-ragu memberikan Kaira kunci yang sedari tadi dia pegang. "Err Kai, emang kamu bisa naik mobil ?" tanyanya. Dia jadi teringat akan mimpi buruknya. Tidak lucu jika itu menjadi kenyataan.


Kaira memutar kunci mobil itu dan mulai menyalakan kendaraan roda empat tersebut. "Naik mobilnya bisa kok" Kaira menjawab dengan tenang. Teman-temannya berpikir itu benar, jadilah mereka mencoba untuk bernafas dengan lega. "Tapi, kalo ngendarainnya nggak bisa. Cuman inget-inget aja gimana orang-orang di film naik mobil. Gampang kan, cuman gas sama rem aja toh" tambahnya kemudian melajukan mobil itu.


Brak !


Belum juga mereka kabur dari sana, mobil yang dibawa Kaira sudah menabrak mobil di depannya. Teman-temannya spontan melotot ke arah gadis Helda dengan jantung yang berdebar kencang. "Ups, sorry kawan-kawanku. Masih percobaan aja tadi" ujarnya.


"Kai, mending kamu-"


Belum sempat Cathleen menyelesaikan perkataannya, Kaira langsung memundurkan, kemudian membelokkan tajam mobil tersebut. Dia melajukannya dengan kecepatan tinggi. Kaira tak peduli bagaimana mobil itu menabrak kerumunan zombie yang menghalangi di depannya. Yang pasti gadis itu sudah benar-benar kelewat gila. Dia bahkan tak mempedulikan bagaimana mobil itu terlonjak-lonjak karena melindas tubuh zombie yang sudah tertabrak.


Dengan pengetahuan yang begitu minim, mobil itu melaju dengan jalan yang masih goyah dan terkesan seperti ugal-ugalan. Terkadang bergerak ke kanan, lalu tak lama berubah menjadi ke kiri. Kaira masih berusaha membiasakan diri memegang kemudi agar mobil tersebut bisa berjalan dengan lurus. Dia terlalu fokus dengan kegiatan spontannya tersebut, sampai tak menyadari bagaimana teman-temannya yang berdebar kencang di kursi belakang. Raut wajah ketiganya bahkan sudah pucat pasi.


"Gila kau Kaira ! Setan ! Eh babinye" Alena mulai mengeluarkan sumpah serapahnya.


"Nggak waras kamu Kai ! Kalo kita mati, takkan ada maaf untukmu !" Cathleen spontan memaki temannya tersebut. Dia memegang erat sabuk pengaman di dekatnya.


"Ya tuhan, semoga kami masih hidup sehabis ini. Mohon maaf atas segala dosa-dosa yang telah kami perbuat selama ini. Terutama ampuni temanku, atas nama Kaira Helda ini. Dosanya sudah menumpuk seperti bukit" Sena menangkupkan tangannya tengah berdoa dengan khusyuk demi keselamatan jiwanya beserta teman-temannya.


Kaira tak mempedulikan bagaimana teman-temannya yang ribut di kursi belakang. Gadis itu terus melajukan mobil yang dikendarainya hingga melewati gerbang sekolah. Dia berdecak kagum pada dirinya sendiri, "gila kali lah. Kaira Helda hebat kali, bisa naik mobil sekali coba pula" gumamnya sangat pelan.


Mobil yang sudah lebih terkendali itu, melaju membelah jalanan yang sepi. Setidaknya mereka berhasil kabur dari sekolah mematikan disana. Dan kabar baiknya mereka masih bersama saat ini. Doakan saja bahwa selepas ini mereka masih bisa selamat dalam keadaan hidup dan masih dalam keadaan waras. Jujur berteman dengan Kaira, menguras kewarasan mereka secara perlahan.


-Kkeut