Run Z

Run Z
Section 20. Pertarungan Sengit



Alena yang berada diluar sana, sontak menoleh kaget ke arah ruang kerja sang kepala sekolah. Dia bertanya-tanya apa yang dilakukan temannya sampai memecahkan vas di dalam sana. Alena mengangkat bahu acuh, menyimpulkan bahwa temannya yang ceroboh pasti tak sengaja menyenggol vas. Jadilah dia kembali lagi melanjutkan mengotak atik mesin control yang sudah mulai menyala tersebut.


Total abai akan pertengkaran sengit dari 2 musuh bebuyutan di dalam sana.


"Nggak akan aku biarkan kalian bisa selamat dari sini ! Kalian harus mati sama seperti aku ! Biar kita sama-sama ngerasain ditinggal orang-orang egois itu !" Belva berseru marah. Dia mengarahkan side kicknya ke arah Kaira, yang spontan membuat si Helda menghindar dari tendangan tersebut.


"Sinting kamu ! Kalo mau sama-sama keluar ayo gabung sama kami ! Jangan gini !" Kaira berseru tak terima. Dia tak memberikan perlawanan, hanya sekedar menghindar dari serangan Belva.


"Kamu pikir, setelah berhasil keluar dari sini kalian bakal selamat hidup-hidup ? Nggak bakal ! Mereka sengaja biarin kita mati disini bodoh !" Belva kembali menyerang Kaira. Kali ini satu pukulan nyaris menghantam wajah Kaira, andai kata dia tidak sigap menangkis lengan Belva menggunakan tongkat andalannya. Di tengah perkelahian mereka berdua, sosok zombie dari kepala sekolah yang sedari tadi memberontak itu, telah berhasil melepas satu tangannya dari ikatan erat yang mengekang. Tersisalah satu tangan yang berusaha melepaskan diri, sementara tangan yang terbebas bergerak mencoba meraih kedua gadis itu.


Kaira membulatkan matanya terkejut mendengar pernyataan Belva. Kaira menahan lengan Belva yang hendak menyerangnya. Dia berusaha menahan dirinya agar tidak mundur lagi, sosok zombie kepala sekolah mereka berada tak jauh di belakangnya. Akan berbahaya bila dia melangkah mundur terlalu jauh. Dia tidak ingin menambah luka di tubuhnya. "Maksud kamu apa ?! Siapa yang ngelakuin ini ?!"


"Buat apa kamu tau ! Toh kamu juga bakal mati disini !" Belva langsung melayangkan tendangannya ke Kaira.


Kaira langsung mengelak mundur, namun kesialan terjadi padanya karena kakinya tersandung kaki kepala sekolahnya. Tubuh gadis itu oleng ke arah samping kepala sekolahnya. Sosok zombie yang ada disana semakin mengganas menyadari kehadirannya. Tangannya bergerak liar di udara.


"Argh !"


Duagh !


Kepala belakang dan punggung Kaira menghantam kursi kerja kepala sekolahnya. Kerasnya benturan sampai mendorong mundur kursi yang dilengkapi roda tersebut. Tangannya yang sempat menghantam tumpukan dokumen di atas meja berakhir menjatuhkan berbagai dokumen hingga berhamburan menjatuhi dirinya. Dia mengusap kepalanya yang berdenyut sakit. Maniknya mendadak terpaku pada sebuah kertas dengan logo perusahaan CLS company. Perusahaan milik keluarga Belva. Matanya memindai cepat judul yang tertulis di sana. "Penelitian kekebalan tubuh manusia terhadap virus buatan." Sekilas dia sempat membaca itu, sebelum kertas tersebut tertutup ditindih kertas lainnya. Rasa penasaran yang menggebu-gebu membuat Kaira hendak mengambil kertas itu. Sayangnya, tangannya terlebih dahulu diinjak Belva. Membuat gadis Helda meringis kesakitan.


Kaira tak kehabisan akal. Dia meraihnya tongkatnya yang tak jauh dari sana, kemudian berusaha menusukkan ke arah sepatu Belva. Spontan saja Belva menghindar mundur sebelum tongkat itu menusuk kakinya. Menggunakan kesempatan yang ada Kaira segera bangkit sembari mengelus telapak tangannya yang memerah karena diinjak.


Belva yang tak terima kakinya nyaris dilukai Kaira langsung mendorong tubuh gadis yang tak siap itu hingga menghantam jendela kaca. Jendela kaca tersebut pecah akibat dihantam tubuh Kaira. Kaira mencoba mempertahankan posisi tubuhnya yang sudah setengah terjulur keluar. Dia mencengkram erat pinggiran jendela yang telah pecah. Berusaha menahan diri dari Belva yang menggila karena terus mencoba mendorong tubuhnya agar jatuh keluar. Kembali lagi tubuhnya basah oleh air hujan yang masih turun deras. Matanya beberapa kali terpejam kala kilat menyambar tepat di atasnya.


Beberapa kali tangannya terpeleset akibat Belva yang mengerahkan semua tenaganya. Belva tertawa jahat melihat bagaimana orang yang begitu dia benci berada di situasi tidak menguntungkan. Di tengah suasana yang makin pelik, Kaira menangkap kepala sekolahnya yang bangkit karena terbebas dari ikatannya. Sosok zombie itu berlari hendak menyerang mereka. Maka dengan keadaan yang terus mendesaknya, Kaira menendang perut Belva mundur, kemudian menarik tubuhnya masuk kembali dan segera menunduk. Belva yang tak siap tak mengetahui bahwa sosok zombie dari kepala sekolahnya datang menyerang dirinya, dia tak siap kala tubuh yang berlipat-lipat lebih besar darinya menghantam tubuh gadis itu sampai terlempar keluar.


Diluar sana, Alena telah berhasil menghidupkan mesin control tersebut. Tersenyum bangga pada dirinya yang berhasil menghidupkan mesin itu, setelah bersusah payah sedari tadi. Alena menengok ke belakang melihat Kaira yang baru saja keluar dari ruang kerja kepala sekolah mereka. Dia menatap keheranan ke arah gadis itu yang makin berantakan penampilannya. "Kamu habis ngapain di dalem ? Kayak habis diterpa angin topan" tanyanya dengan alis terangkat keheranan.


Kaira meringis pelan mendengar itu. "Hanya habis melakukan pertarungan kecil di dalam" jawab Kaira seadanya.


Alena tak bertanya lebih lanjut. Dia langsung mengatur volume speaker melalui mesin control agar berada di volume maksimal. Kemudian tangannya langsung menghidupkan suara pada speaker-speaker yang berada diluar sana. Alena dan Kaira sama-sama was-was dengan apa yang mereka lakukan saat ini. Mereka berharap rencana mereka berhasil untuk kali ini.


Speaker-speaker yang tersambung mengeluarkan suara dengungan yang memekakkan telinga. Para zombie yang mendengar itu langsung berlarian ke arah speaker yang berbunyi nyaring. Derap langkah yang begitu ribut sukses membuat Sena langsung bangkit dan berjalan cepat ke arah jendela terdekat. Dia menyibak pelan dan melihat kumpulan zombie diluar sana yang berlari menuju arah aula, persis yang dikatakan oleh Teresa. Binar bahagia terlukis di wajahnya. "Siap-siap semuanya ! Alena dan Kaira sudah berhasil menghidupkan speaker-speaker diluar sana !" dia berseru bahagia.


Sena langsung menyambar sebuah kunci mobil dari tempat para guru menggantung kunci-kunci mereka. Teresa pun mengikuti hal yang sama. Sena menyerahkan kunci itu kepada Cathleen, kemudian dia beralih ke belakang untuk mendorong kursi roda temannya tersebut.


Teresa mengintip dari tirai melihat keadaan sekitar yang mulai sepi. Dia mengangguk memberi kode agar Erden dan Juno segera membukakan pintu ruang guru. Mereka berenam langsung berlari keluar menuju gedung seberang. Pintu basement tepat berada disana. Dengan keadaan yang was-was mereka berlari menyebrangi halaman sekolah yang tadinya dipenuhi oleh para zombie. Sedikit merasa lega karena zombie-zombie itu teralih ke aula dalam, tempat speaker yang masih berbunyi nyaring.


Mereka tiba di basement dengan selamat meski nafas mereka putus-putus. Cathleen dan Teresa langsung menyalakan alarm mobil dari masing-masing kunci yang mereka pegang. Mereka berdecak sebal menyadari bahwa mobil mereka letaknya terpisah jauh satu sama lain. Keenamnya mendadak terdiam, kala sesosok zombie keluar dari balik mobil dan berlari menuju ke arah mereka.


"Lari !" Teresa berteriak memerintahkan. Mereka berlari dengan arah yang berlawanan. Sena dan Cathleen yang berlari ke arah mobil dari kunci yang mereka pegang. Sementara Teresa, Naomi, Juno, dan Erden berlari ke arah sebaliknya.


Sena menghentikan langkahnya dengan jarak beberapa mobil dari mobil yang mereka tuju. Dari arah depan ada beberapa sosok zombie yang menyerang. Lebih menyebalkan lagi dari arah belakang pun tak jauh berbeda. Sena langsung memasang sarung tinjunya dan Cathleen memegang erat payung andalannya. Sena langsung menghantam wajah zombie yang menyerang dengan tinjuannya kemudian melempar zombie itu sampai kepalanya memecahkan kaca mobil.


Cathleen sendiri yang memiliki dendam terhadap para zombie itu, melampiaskan amarahnya begitu saja. Dia tanpa ampun memukul para zombie itu hingga menabrak mobil-mobil yang berada di sekitar sana. Tak butuh waktu lama bagi mereka menyelesaikan halangan yang menghadang. Ini tak sebanyak yang mereka hadapi sebelumnya.


Setelah menyelesaikan pertarungan singkat tersebut, mereka langsung bergerak cepat menuju mobil yang dituju. Sena membantu Cathleen untuk naik ke kursi belakang mobil dan segera membawa kursi roda Cathleen ke bagasi mobil. Dia terburu-buru melipat kursi roda itu, kemudian melempar asal masuk ke dalam bagasi. Setelahnya sesuai dengan pesan Alena, dia memecahkan salah satu lampu sein untuk memberi petunjuk kepada 2 temannya yang tak kunjung tiba. Sena buru-buru masuk ke kursi belakang menutup pintu dan menguncinya. Sekarang yang bisa dilakukan kedua sahabat itu hanyalah menunggu. Berharap dalam diam bahwa Alena dan Kaira bisa tiba dengan selamat disana.


-Kkeut