
Hujan telah berhenti menumpahkan beban yang dipegangnya. Hanya tersisa angin sejuk dan juga gelapnya langit pada dini hari. Mobil yang dikendarai Kaira masih melaju membelah jalanan. Keajaiban bagaimana gadis itu bisa menguasainya dengan cepat. Meski teman-temannya bisa melihat terkadang tangannya kelewat tegang memegang kemudi mobil.
Tak ada pembicaraan yang mereka lakukan. Kebanyakan karena didasari rasa mengantuk. Apalagi mereka tak tertidur semalaman. Alena dan Sena berakhir tumbang dan beristirahat sejenak (kembali dengan dua kepala yang terantuk satu sama lain). Mereka telah banyak menguras tenaga selama pelarian yang dilakukan. Tersisa Kaira yang berusaha keras mempertahankan sisa kesadarannya (ini hal sulit baginya yang merupakan orang *****).
Cathleen pun belum merasa kantuk. Si bungsu Joselyn memilih melihat pemandangan di luar melalui jendela yang sedikit berembun. Bilamana kata hancur tidak lebih dari cukup untuk menggambarkan keadaan diluar sekolah mereka, Cathleen tak bisa mendeskripsikannya lebih daripada itu. Mobil-mobil yang terparkir berserakan di jalanan. Genangan darah yang bercampur dengan air hujan malam tadi berceceran menghias jalanan. Dan kumpulan zombie yang berjalan gontai entah di pinggir jalan ataupun di tengah jalan.
Cathleen menutup matanya secara refleks kala mobil yang ia naiki terlonjak-lonjak. Sebagaimana akibat Kaira yang tanpa basa basi menabrak para zombie itu dan melindasnya tanpa ampun. Cathleen hanya bisa memaklumi bagaimana sahabatnya itu yang langsung memusnahkan halangan yang mengganggu perjalanan mereka. Nyaris 20 menit telah terlewati dengan mobil itu melaju tanpa Cathleen ketahui tujuan yang ingin dicapai. Dengan rasa penasaran yang ada, ia memecah keheningan di antara mereka dengan pertanyaan yang membayangi kepala, "kau sebenarnya ingin kemana sih ?" tanyanya.
Kaira mengerjapkan beberapa kali matanya, sebelum kembali memaksa membuka lebar manik hazel itu. Terlihat seakan gadis itu tengah memelototi jalan di hadapannya. "Tujuan utamaku adalah pusat ibu kota. Tapi, untuk saat ini ada tempat yang ingin kutuju dulu" jawabnya.
Cathleen mengernyit keheranan, "emang mau kemana sih ?"
Kaira menatap garang ke arah depan, tepat ke zombie yang menghadang jalannya. Dia menginjak pedal gas dengan kencang membiarkan mobil tersebut menabrak sadis si sosok zombie. Yang tertidur di belakang tersentak kaget karena tubuh mereka terdorong ke depan secara tiba-tiba. "Ya tuhan Kai, pelan-pelan bisa kali !" Alena berkeluh kesal. Dia sedang enak-enak bermimpi malah jidatnya terantuk pada kursi depan.
"Sorry guys" ujarnya sembari mengeluarkan 2 jari simbolis peace.
Dia memelankan laju mobil saat dirasa jalanan lebih lenggang daripada sebelumnya. "Ke rumah Belva. Aku mau ngecheck sesuatu dulu" barulah dia memberikan jawaban pasti untuk pertanyaan Cathleen.
Sena yang tidak mengetahui apa maksud Kaira, memandang keheranan kearah temannya itu. "Ngapain kita ke rumah Belvaaaaa" pertanyaannya berubah menjadi seruan, kala Kaira membelok tajam mobil yang dia kendarai ke arah sisi trotoar secara tiba-tiba. Dia melajukan mobil itu sampai menaiki trotoar, kemudian berhenti di destinasi yang mencuri pandangannya.
"Nanti kalian juga tahu maksudku. Pokoknya ini tentang wabah zombie" katanya sembari mengambil tongkat senjatanya. Dia menengok ke arah teman-temannya yang masih memasang raut wajah terkejut. "Siapa yang mau ikut turun buat 'belanja' ?" tanyanya dengan cengiran lebar.
Alena memandang ke arah samping tepat dimana Kaira memarkirkan mobilnya. Dia baru menyadari bahwa Kaira menghentikan mobilnya tepat di samping minimarket. Alena mendengus pelan kemudian mengambil tongkat softballnya yang kotor oleh darah. "Aku aja yang turun biar gampangan" dia mengajukan dirinya.
"Okay, kalo gitu" balas Kaira. Dia segera membuka pintu mobil yang begitu mepet dengan pintu masuk minimarket tersebut. Sengaja dilakukannya agar tak kesusahan saat masuk ke mobil bila ada zombie yang menyerang.
Keduanya memasuki minimarket yang remang-remang dengan perasaan was-was. Suara hentak-hentakkan dibalik meja kasir spontan menarik perhatian mereka. Dua sejoli sahabat rasa musuh itu melangkah pelan kesana dan mengintip ke sumber suara. Manik mereka menangkap sosok kasir minimarket yang telah terinfeksi. Tangannya terikat pada meja kasir, mungkin dia bermaksud agar tidak menginfeksi orang lain. Nasib yang begitu malang sekali. Kaira tanpa basa basi langsung menghabisi kasir tersebut. Sementara, Alena langsung beralih untuk mengecek keadaan sekeliling sekiranya apakah sudah kondusif atau tidak.
"Bersih Kai. Tidak ada zombie lagi, selain kasir tadi" lapornya. Kaira mengangguk senang, kemudian dia mengambil sebuah keranjang dan berjalan dengan santai menuju lemari pendingin. Tangannya meraup banyak sekali minuman isotonik. Terlihat dia seperti akan menghabisi isi minuman isotonik yang berada disana.
Alena meringis pelan melihat itu, "ini nggak papa kita mengambil sebanyak ini ? Bayarnya gimana ? Aku nggak ada uang Kai ! Lagi bokek nih."
Kaira memutar matanya malas mendengar itu, "ya nggak papalah. Lagian udah penuh zombie gini, siapa juga yang mau menerima uang bayaran kita. Santai aja Ale, ambil aja sebanyak dan yang memang kita perlu-perlu banget" tuturnya yang dibalas gumaman "benar juga" dari Alena. Sekarang Kaira beralih ke rak kebutuhan sehari-hari, mengambil acak sikat gigi, pasta gigi, parfum, body lotion, shampoo, dan sabun yang berada disana.
Alena memandang heran ke keranjang Kaira yang sekarang penuh dengan alat-alat bebersih diri itu. "Kamu mengambil benda itu, kapan bisa makenya hah ? Dimana coba kita bisa mandi ?" tanyanya dengan nada sinis. Alena saat ini tengah memenuhi keranjangnya dengan berbagai macam snack, roti, bermacam jenis minuman, dan juga mie instan.
"Udah biarin aja. Disana ada air panas ambil aja 4 biji buat kita sarapan. Sisanya bisa kita masak pas di rumah Belva" Kaira memberitahu.
"Wah gila kau, masa seharian kita makan mie instan aja ?!" Alena berujar tak terima.
"Ya terus kamu mau makan apa hah ? Duh setidaknya bisa makan enak gini syukurin, kita mana sempet mesen makanan di restoran. Sini kalo udah keranjangnya, kamu masak dulu mienya. Aku udah laper banget" Kaira mengulurkan tangannya meminta keranjang Alena yang telah penuh diisi makanan.
Alena menyerahkan keranjang itu sembari berdumal pelan. "Kesal lah aku ini, jatah makan mie sebulanku langsung habis gegara ada zombie. Duh keinget sound 'kapan kamu terakhir kali dapat tertidur dengan tenang' sialan" Kaira tertawa pelan mendengar itu.
Kaira melangkah keluar menuju mobil mereka yang menunggu. Sesampainya di luar dia menatap datar ke arah beberapa zombie yang mengerubungi sisi lain mobilnya. Inilah alasan utama kenapa Kaira memilih memarkirkan mobilnya sampai naik ke atas trotoar. Meski pada akhirnya dia jadi repot harus 'bersih-bersih' kembali.
"Aduh, ini zombienya nggak bisa apa kasik aku tenang bentar aja. Nambah beban aja kalian nih" Kaira mengeluh kesal. Dia membuka pintu tempat kemudi berada, menaruh keranjang yang berisi minuman isotoniknya di kursi samping kemudi. Sementara, keranjang satu lagi ia berikan ke Sena. Mengabaikan bagaimana Cathleen dan Sena yang memandang keheranan dengan banyaknya barang yang diambil Alena dan Kaira, si Helda lebih memilih berjalan memutar lewat belakang mobil. Dengan segera dia menghabisi para zombie yang mengotori mobilnya dengan darah-darah mereka.
Bertepatan dengan zombie yang terakhir ia bunuh, Alena keluar dari minimarket dengan kesusahan memegang 2 cup mie yang mengepul panas. "Kaira, tuli kau ya ! Aku panggil-panggil dari tadi nggak dijawab !" Alena mengomel kesal.
"Ya maaf, ini habis bunuh zombie dulu. Sini aku bukain dulu pintunya" Kaira segera berlari ke arah Alena dan membukakan pintu belakang. Alena menyerahkan cup mie itu masing-masing satu kepada Cathleen dan Sena.
"Sarapan buat pagi ini" ujarnya singkat. Sena dan Cathleen sama-sama berdecak kesal karena mereka harus sarapan dengan makanan tak sehat pagi ini.
Dia dan Kaira kembali memasuki minimarket untuk mengambil cup yang tersisa disana. Tak berselang lama, keempatnya telah berkumpul kembali dalam mobil dengan masing-masing memegang cup mie instan yang masih panas. Kaira tak bisa menunggu lebih lama agar suhu mienya lebih dingin. Dengan cepat dia menghabisi cup mie itu meski uap panasnya masih mengepul. Tak peduli bagaimana lidahnya yang terbakar saat itu juga dan perlahan terasa seperti mati rasa. Dia terlanjur lapar setelah kemarin tak sempat memakan apapun. Hanya butuh 10 menit baginya untuk menghabiskan isi cup mienya, kemudian dia pergi keluar hendak membuang bekas cup mienya.
Langkahnya terpaku kala suara yang begitu ia kenal memanggil namanya. Reflek dia menoleh ke arah sumber suara dan mendapati Teresa yang berada beberapa meter darinya melambaikan tangan. Kaira hendak membalas lambaian tersebut, namun tangannya terhenti di udara kala suara ribut helikopter menyerbu gendang telinga nya. Dari kejauhan dia bisa melihat sebuah helikopter terbang menuju ke arahnya dan Teresa. Namun, sesuatu mencuri seluruh fokusnya. Benda hitam yang entah apa itu yang dijatuhkan dari atas sana. Tak lama ledakan yang cukup besar terjadi dan menghanguskan gedung-gedung dan beserta isinya yang tepat berada di arah depan. Teresa pun melihat hal yang sama dengan yang Kaira lihat.
"Lari !!!!" Kaira berseru dengan sangat kencang, dia tak mempedulikan suaranya yang memancing para zombie buru-buru mendatanginya. Dengan tergesa-gesa Kaira memasuki mobilnya dan langsung menghidupkan mobil tersebut.
"Kenapa Kai ?" tanya mereka panik, kala melihat temannya yang buru-buru memundurkan mobil menuruni trotoar yang sempat dinaiki tadi.
Kaira tak menjawab dia tanpa aba-aba langsung membelokkan mobilnya ke belakang, membuat kuah cup mie yang dipegang teman-temannya oleng, kemudian tumpah mengenai diri mereka. Kaira menulikan pendengarannya mendengar protes tak terima yang dilayangkan para sahabatnya. Melalui spion dia bisa melihat mobil Teresa yang juga melaju mengikutinya. Dan tak jauh di belakang mereka helikopter itu juga terbang mengarah ke mereka.
Kaira hilang akal saat melihat helikopter itu menjatuhkan benda hitam yang merupakan bom tak jauh dari mobil Teresa yang melaju kencang. Tanpa basa basi dia langsung membelokkan mobilnya ke arah gedung yang berada di dekat sana. Kaira memacu dengan cepat mobilnya masuk ke dalam basement, tepat saat bom yang dibuang ke arah mereka mengenai tanah dan meledakkan segala hal yang berada di sekitarnya. Suara ledakkan begitu nyaring hingga memecahkan kaca-kaca gedung yang berada disana. Tanah bergetar akibat ledakkan besar yang tak terelakkan.
Mobil Teresa yang berada tak jauh dengan kawasan ledakkan tak bisa mengelak. Nasib malang mendatanginya membuat mobil itu terpelanting beberapa meter dan berakhir hancur lebur di tengah jalanan yang dikelilingi kepulan api yang berkobar. Kobaran api yang tersulut total membumihanguskan para zombie yang berada disana dengan segera. Dan juga mobil yang habis terlalap api, tanpa sempat memberikan penumpangnya untuk menyelamatkan diri.
-Kkeut