Riviera

Riviera
Bab 8 - Melunasi Hutang



Sudah lebih dari lima hari berturut turut, Ein pergi dari rumah Lia dan Fina untuk mencari lebih banyak rerumputan kering, herbal herbal dan bahan lainnya yang bisa ia gunakan untuk mencari lebih banyak uang.


ada lebih dari tiga macam minuman yang ia taruh di dalam menu, Desert Essence, Tropical Icy, dan Misty Lake. itu semua adalah nama dari minuman yang ia jual, beberapa orang langsung bereaksi setelah meminum beberapa cangkir minuman itu. Desert Essence adalah yang paling disukai oleh pelanggan, mereka membeli dan membicarakan hal ini kepada orang lain.


Sontak pembeli yang mendatangi kios kecil Ein bertambah, mereka rela mengantri bahkan duduk di pinggir jalan karena tak ada lursi yang tersedia di kios kecil itu. Uang yang di keluarkan Ein juga tak kalah besarnya, ia membeli banyak gelas dan cangkir, pisau dan tempat tidur gantung untuk dirinya sendiri serta kebutuhan kiosnya.


Dalam lima hari ia sudah menghasilkan lebih dari lima ratus keping dengan cepat, kiosnya tutup lebih awal karena hal ini. Ein sekarang pergi menuju rumah Lia dan Fina untuk melunasi utangnya.


Fina berada di depan rumahnya menikmati minuman apapun yang diletakkannya di atas meja, di samping kursinya. matanya menatap lurus ke arah langit seakan sedang mengharapkan doa doa yang ia minta dikabulkan oleh Dewa. Tetapi tetap saja, di dunia ini Dewa sama sekali tidak bisa mengabulkan permohonan, hanya melihat dan mendengar permohonan itu sendiri, pengendali semesta lah yang mengabulkan permohonan.


"Fina." Sapa Ein di depan rumahnya. Fina tersenyum tipis membalas sapaan itu.


Dengan sedikit menoleh ke kanan dan ke kiri, Ein langsung membuka mulutnya. "Di mana Lia?"


Fina tidak langsung menjawab, ia meneguk minumannya terlebih dulu, lalu menepuk kursi di sebelahnya dua kali dengan lembut.


"Lia tadi pergi ke hutan, sebentar lagi mungkin akan kembali. Duduklah, temani aku bicara selagi menunggunya."


Ein menurut, ia melangkah masuk dan duduk dengan nyaman. Seekor jangkrik kecil berbunyi, memperdamai suasana sore itu.


"Ein, apa kau pernah merasa begitu putus asa?" Di tengah deringan suara jangkrik, Fina memecah keheningan.


"Tentu pernah." Jawab Ein pelan, ia bahkan bisa melihat kepala Fina yang selalunya terangkat dengan percaya diri, kini terjatuh melihat lantai dan semut.


Angin berhembus lebih kencang, memainkan anak rambut kedua orang yang sedang duduk bersama itu. Wajah Fina kembali terangkat, kini memandang Ein yang duduk santai, melihat dan menyapa orang orang yang berlewatan di depan rumah itu.


"Apa yang akan kau lakukan?" Tanya Fina lebih lanjut.


"Kalau aku putus asa?, mungkin aku akan membicarakannya dengan teman temanku, mencoba mencari bantuan hingga harapan kembali muncul." Ein menjawab dengan mantap.


Ia kembali teringat dengan Hector, Loren, Felist dan Pak Pil.


"Kalau kau gelisah?"


"Bicarakan dengan orang terdekatmu, coba sudut terangnya ..."


Apa kau punya kegelisahan?, itulah yang ingin di tanyakan Fina. Tetapi bahkan hatinya terlalu berat untuk menanyakan masalah seseorang, untuk mencampuri urusan seseorang.


"... entahlah, mungkin perang semesta masih akan berlangsung entah kapan. mahluk mahluk aneh dan mengerikan mulai bermunculan lagi setelah beberapa ratus tahun tidak muncul." Ucap Ein.


Fina terdiam setelah mendengarkan sedikit dari yang di ucapkan Ein, wajahnya juga kaku dan menatap lurus ke arah Ein.


"Mungkin aku akan mengasah kembali kekuatanku, bermain pedang, dan membasmi beberapa monster yang muncul kembali. Aku sempat mendengar banyak tempat diambil alih oleh banyak monster monster itu, aku akan membebaskannya."


Ia bahkan sama sekali tidak mengetahui kalau Ein memiliki kemampuan berpedang dan jiwa penjelajah. Ia merasa sedikit kagum pada sosok seorang Ein, tetapi disisi lain ia juga tidak perduli pada orang itu.


Dari kejauhan, Lia datang dengan keranjang di tangannya berisi berbagai macam tumbuhan dan lainnya. Dengan pakaiannya yang lebih tertutup, ia masuk ke dalam rumah.


"Ah Ein?, sekarang kau jarang terlihat ya." Goda Lia sejenak, ia segera meletakkan sarung tangan dan keranjangnya, juga topi pantai yang ia gunakan.


Ein hanya bisa tersenyum kecil, lantas memindahkan topik pembicaraan lebih cepat.


"Aku ingin melunasi hutangku."


Lia tersenyum dan memiringkan kepalanya sedikit.


"Jadi Ein, setelah ini kemana tujuanmu selanjutnya?" Tanya Lia dengan pelan.


Bibirnya yang tipis tersenyum mengisyaratkan kesenangan dan matanya yang melirik pada kantung koin itu mengisyaratkan kesenangannya itu terhadap uang.


Ein sendiri sedikit kebingungan, sebenarnya sampai saat itu, ia masih tak memikirkan hal yang harus ia lakukan untuk kedepannya.


"Rahasia." Jawab Ein, ia menjawab dengan seyakin mungkin.


Tetapi, Lia bisa melihat keraguan yang jelas dari wajah Ein. Ia menunjukkan senyum nakalnya untuk menggoda Ein.


Tapi Fina sudah terlebih dulu menarik tangan Lia dan mulai berlari meninggalkan Ein. "Lia kita tak punya waktu lebih banyak. Dadah Ein!"


Di antara batu batu yang tersusun menjadi jalanan, dimana tempat banyak orang dan kereta kuda berlalu lalang, dan rumah rumah kecil serta toko toko yangasih buka melayani orang orang, dua orang gadis dengan tergesa gesa berlari mengikuti arah jalan itu.


Ein mulai berpikir, mengapa Fina menunggu Lia selesai bicara dengannya baru mengajak Lia pergi, mengapa Lia senang sekali saat utang Ein lunas, mengapa mereka begitu tergesa gesa?


Mata Ein terasa sedikit panas, ia hanya merasakan hal itu ketika masih di barak iblis dengan para iblis liar untuk berperang.


Dengan cepat Ein pergi mengikuti keduanya, walau terpisah lumayan jauh. Ein bisa bertanya dengan orang, mengingat hanya mereka berdua yang tergesa gesa hari itu.


Akhirnya Ein berhasil mengetahui kemana kedua gadis itu berlari. Sekarang Ein berada di depan sebuah rumah yang pernah ia datangi sebelumnya, balai desa.


Entah hanya menurut Ein saja atau memang balai desa itu terlihat lebih terang dari sebelumnya. Pendengarannya yang tajam dimanfaatkannya untuk mendengar menembus dinding balai desa.


"Baiklah, sudah cukup basa basinya!" Itu suara Fina, cocok sekali dengan sifatnya itu.


Ein berpikir sejenak, apa maksudnya basa basi, dan kenapa mereka berada di dalam balai desa?


Bisa langsung di tebak, ini ada kaitannya dengan beberapa hari yang lalu, saat mereka berdua mendatangi balai desa karena masalah Elendium atau apapun namanya.


"Kami punya uang cukup banyak, izinkan kami pergi untuk semua ini." Suara lembut Lia perlahan semakin kencang.


"Maaf, aku tidak menganggap nyawa sebagai uang. Kalian adalah anak pendiri desa ini, ayah kalian menyuruhku untuk menjaga kalian." Suara serak yang khas itu terdengar, kakek tua itu adalah Elder Gnome dia memiliki sihir yang bagus.


"Kalau begitu kami akan memaksa! Ayah kami tak pernah menyuruhmu untuk melarang apa yang anaknya inginkan bukan!?" Bentak Fina.


Perlahan suara suara itu semakin menghilang. Ein pernah merasakan hal yang serupa, itu adalah sihir peredam suara.


Elder Gnome itu bisa melakukannya karena khawatir suara bentakan Fina terdengar oleh orang di luar, jadi ia menggunakannya. Sihir peredam suara juga merupakan sihir tingkat menengah.


Setelah mengetahui uang yang dikumpulkannya digunakan untuk menyogok tetua, Ein paham benar jika urusan ini bukanlah hal yang ringan. Ini masalah besar, setidaknya bagi Lia dan Fina.


Yang Ein tahu dari masalah ini adalah, nama tempat yang dalam kritis itu adalah Rosalinda, tempat itu di serang oleh sekumpulan demon demon yang entah datang dari mana, lalu masalah ini mengancam desa Elendium sendiri.


Ia tak bisa lagi mendengar percakapan di dalam balai, itu artinya ia masih memiliki cara untuk mengetahui lebih lanjut tentang masalah ini.


Benar, di mana lagi kalau bukan di pusatnya informasi, perpustakaan dan lumbung malam adalah tempat yang cocok untuk mencari informasi lebih lanjut.


Setelah mengencangkan sepatunya, Ein berlari menuju lumbung malam yang paling terkenal di Elendium. "Lumbung Bulan Hitam"


[][][]