Riviera

Riviera
Bab 6 - Ilmu Itu Penting



Ein hanya duduk diam menunggu kedua gadis itu selesai mandi, selagi menunggu ia bersiul hingga bibirnya kelelahan.


Kedua gadis itu sudah keluar dari kamar mandi, tubuh mereka sudah bersih dilapisi oleh pakaian mereka.


Ein merasa ucapannya tadi membuat kedua orang itu grogi. Masa bodo dengan itu semua bagi Ein yang penting ia tak menanggung beban hutang budi karena sudah menawarkan.


"Anu, Ein. Awalnya aku ingin menceritakan hal ini kepadamu, tetapi rasanya tak sopan meminta sesuatu dari orang yang baru sebulan kutemui." Ucap Lia bersungguh sungguh.


Ein jelas tahu rasanya seperti itu, bahkan ia kerkadang masih merasa canggung ketika bicara dengan mereka berdua.


Ein hanya terdiam, bibir yang digunakannya untuk bersiul seperti protes saat mengetahui ia menunggu begitu lama hanya untuk mendengar hal yang seperti itu.


"Kalau begitu, apa saja. Katakanlah, aku tak ingin berhutang budi." Ucap Ein tak sengaja. Ia sebenarnya hanya ingin mengatakan 'baiklah kalau begitu'.


Tetapi, sepertinya bibirnya benar benar kesal dengan itu sehingga merubah apa yang diucapkannya.


Lia tersenyum tipis, lantas Fina lebih memilih untuk menaiki tangga menuju atas, lagipula ia terlalu lelah dan ingin segera tidur.


"Kalau begitu, aku ingin melakukan Ekspedisi Rosalinda." Ucap Lia.


Ein mematung, bagaimana dia bisa melakukannya jika dia tak tahu apa itu. Wajah bodohnya terlihat begitu alami.


"Apa itu?."


Wajah Lia memerah malu, ia tak pernah seperti itu dalam sebulan ini. Lantas ia berkata. "Maaf, aku salah bicara, maksudku hanya ..."


Kata katanya berhenti sampai disitu, itu membuat Ein bingung. "Hanya ... ?."


"Kau bisa membayar hutang budimu dengan membayar 30 keping untuk setiap malam."


Ein mengalami dilema berat, terberat sepanjang hidupnya. Sebelumnya bahkan ia bisa memberikan seratus ribu keping jika dia mau.


Namun setiap harta bendanya ditinggalkannya di kotanya dahulu, sekarang ia tak tahu bagaimana cara ia untuk mendapatkan satu keping pun sekarang.


Tatapannya sekarang begitu kosong.


"30 keping satu malam?."


"itu cukup murah, bahkan di penginapan disini, harga permalamnya 35 keping."


Ein tetap mematung, tangannya diletakkan menopang dagunya. Ia sedang berpikir lebih jauh.


"Bagaimana kalau 25 keping?!.".


"Sepakat!." Lia tersenyum tipis. Senyum yang penuh kemenangan.


Ein merasa ditipu, nyatanya 25 keping adalah jumlah yang cukup besar.


Ein kemudian pergi keluar untuk mencari udara segar. Dia butuh rencana agar hutangnya tidak jadi lebih besar.


Lantas ia tertidur di atas kursi.


Esok paginya ia cepat cepat pergi ke hutan untuk mencari beberapa tanaman dan tumbuhan yang bisa dikenalinya untuk membuat beberapa racikan.


Hasilnya ia mendapat sebuah anggur liar, sebuah apel hutan, dan beberapa rerumputan basah.


Hari sudah siang ketika Ein selesai mengambil bahan bahan itu, syalnya dibentangkan untuk membawa semua benda yang ia dapat.


Ia datang ke rumah Lia, ia menemukan Lia sedang memegang estocnya, Lia mengarahkan estoc itu dengan cepat menusuk papan kayu yang sudah ia siapkan.


"Lia?." Panggil Ein, yang dipanggil sedikit bergidik terkejut, lantas setelah mengetahui bahwa Ein yang memanggilnya, ia menghentikan permainnan estocnya.


Lalu Ein menghampirinya. Lia sedikit bingung apa yang terjadi, setidaknya sebelumnya Ein tak pernah pergi keluar dari terbit matahari hingga puncak.


"Ada apa?."


"Aku hanya ingin bertanya, berapa hari tepatnya aku tinggal di rumahmu?."


Lia tampak bergumam "satu... dua... tiga... ...." jari jarinya menghitung terbuka dan menutup.


Lalu dia terlihat binggung. "Anu Ein, maksudmu sejak kau jatuh dari langit atau sejak kau sadar?."


"Sejak aku jatuh."


Lia kembali menghitung dan bergumam. "Satu... dua... tiga... ...." wajahnya terlihat seperti anak kecil yang baru bersekolah.


"Semuanya 43 hari." Ucapnya.


Ein mengangguk paham, "43 hari dikalikan dengan 25 keping, itu berarti... ... ...43 hari 1075 keping."


Lia terkejut, dia sama sekali tidak menyangka Ein akan melakukan hal seperti itu.


Ein hanya bergumam sendiri, "1075 keping, bagaimana aku bisa membayarnya?."


Lia terlihat berusaha membuatnya tidak khawatir dengan hal itu, dia masih bisa menahan untuk tidak membalas budi dengan itu.


Namun, Ein sudah pergi terlebih dahulu. Lia terdiam sambil memegang estoc miliknya.


Ein pergi kepemukiman, yang dipenuhi oleh orang orang yang berusaha mendapat keping keping uang itu, mereka berlomba lomba membuka toko, membuat penginapan, menjual kue, sampai toko perlengkapan.


'Orang orang di desa ini terlalu cerdas untuk disebut orang kampungan.' Ein menggaruk kepalanya, nyatanya mereka bahkan terlihat memanen hasil dari kerja keras mereka.


Seorang terlihat bangga setelah berhasil menjual beberapa benda, ada setidaknya tujuh puluh keping di tangannya sekarang.


"Aku harus mencari tempat untuk menjual minuman yang akan kuracik." Ein memandang sekelilingnya, selain toko, disana juga ada kios kios kecil yang memberi sejumlah makanan ringan hingga berat untuk makan siang.


Jadi dia menunggu hingga waktunya orang orang disana beristirahat makan siang, sejumlah orang datang, jumlahnya sekitar lima puluh orang.


Sebenarnya jumlah orang di Elendium terlalu banyak untuk disebut sebuah desa, setidaknya ini bisa di buat sebagai kota.


Masing masing kios menyiapkan makanan dengan cepat, beberapa orang itu makan dengan lahap.


Ein bisa menduga kalau mereka diberi waktu sedikit untuk kembali kerumah, setiap piring akan mereka bayar dengan lima keping, ternyata biaya penginapan begitu besar.


Seorang lewat di depan Ein, ia menyapanya. "Siang Ibu, aku pendatang, aku sedang mencari perpustakaan di desa ini, apa ada?." Tanya Ein dengan segera.


Ibu itu lantas menunjuk sebuah gua, gua yang berwarna sedikit biru dengan penerangan buatan dengan begitu banyak lentera terlihat bahkan dari luar.


Ein dengan segera mendatangi gua itu, ternyata di dalamnya ada banyak kunang kunang yang sedang tertidur, belum lagi sebuah lubang yang cukup besar diatas membuat penerangan cahaya matahari dapat masuk.


Sebuah meja dibuat dengan batu yang dipahat, begitu indah perpustakaan itu. Elendium adalah desa yang canggih dengan caranya sendiri.


Lemarinya bahkan menyatu dengan dinding gua, begitu banyak buku dan gulungan di dalamnya.


"Selamat datang!." Ucap seorang pria dengan kencang, ia menggunakan jubah yang religius dengan banyak simbol simbol magis.


Rambutnya yang sudah sedikit memutih membuatnya terlihat lebih berkharisma. Seorang yang sesat akan silau ketika melihatnya, tapi Ein tidak begitu.


"Bukankah dilarang berisik?." Sahut Ein berbisik.


"Tidak, lihatlah sama sekali tidak ada pengunjung disini, kau yang pertama sejak lima hari terakhir." Ucap pria tua itu.


Ein hanya mengangguk, ia sadar memang tak ada orang lain disana selain mereka berdua.


"Buku seperti apa yang kau ingin baca?." Tanya bapak itu ramah.


Ein terdiam, dia sungguh tak bisa menghabiskan waktunya begitu lama untuk membaca buku di perpustakaan besar itu, setidaknya ada lebih dari tiga sampai empat ratus buku disana, ditambah seratus gulungan gulungan kertas, ini membuktikan metode tradisional masih digunakan disini.


"Jadi?." Bapak itu tetap menunggu.


"Apa bapak yang membuka perpustakaan ini?."


"Ya."


"Apa ini gratis?."


"Tentu saja." Bapak itu tersenyum tulus. Ein menghela napasnya, bersyukur karena perpustakaannya gratis, bisa gawat jika dia harus membayar.


"Aku ingin mencari tentang sejarah Riviera." Ein akhirnya menjawab pertanyaan pertama bapak itu.


Bapak itu menjentikkan jarinya, lantas membawa Ein masuk dan menunggu. Puluhan buku datang tak lama, satu persatu Ein membaca judulnya.


'Ini gawat, kalau aku menyianyiakan hari ini besok akan terus bertambah, setidaknya aku butuh informasi tentang dunia ini.' Batin Ein.


Ein terburu buru, hanya untuk mempelajari sejarah Riviera dia butuh waktu sekitar satu minggu untuk menghabiskan buku buku itu.


Ein menghela napas berat, ia segera mengambil salah satu buku yang paling atas, ia mengamati halaman terakhirnya. Jumlah halamannya sekitar empat ratus lima puluhan.


"Siapa namamu?."


'Eh?.' Ein sedikit kikuk.


"Oh ya, namaku Ein, pendatang. Nama bapak?."


"Pil, panggil saja Pak Pil." Bapak itu kembali tersenyum, lantas dengan beberapa detik setelahnya ia mulai pergi lagi untuk mencari beberapa buku.


Dari buku pertamanya ia mendapati bahwa Riviera adalah benua yang damai dan tentram, beberapa kali terlibat perang, namun tidak seluruhnya seperti benua benua lainnya.


Lantas Riviera dibagi menjadi lima wilayah, bagian utara, selatan, timur, barat, dan tengah. Elendium berada di Riviera bagian timur.


Sebuah pemerintahan juga dilakukan di Riviera, beberapa seperti kerajaan dan kekaisaran. Kerajaan ini memimpin beberapa wilayah yang lebih kecil lagi.


Beberapa desa yang bebas dari wilayah kerajaan akan disebut sebagai desa lepas, sedangkan yang masuk dalam wilayah kerajaan disebut sebagai desa putih.


Di Riviera juga terdapat kota kota besar, total mereka ada sepuluh, berada dimasing masing tempat paling terkenal di Riviera. Tapi, itu tak terlalu penting.


Lalu Ein mendapat informasi penting, bahwa di Riviera pekerjaan yang paling diminati adalah pedagang, dimana mereka membawa barang dagangan mereka melewati berbagai halangan, biasanya hutan dan pegunungan, namun kadang juga bandit datang menyerang tiba tiba.


Sehingga lahirlah pekerjaan baru, pendekar, mereka membantu para pedagang dengan mengawasi apabila muncul sekelompok bandit.


Tentu saja pekerjaan sebagai pendekar ini memiliki taruhan nyawa dengan bayaran yang tidak seberapa.


Ein cukup yakin ia dapat menjadi pendekar ini untuk mendapat beberapa keping untuknya.


Mata Ein sedikit bersinar ketika lembar berikutnya.


"Hei, Pak Pil, bisa kau ceritakan beberapa bagian ini!."


Kepala Pak Pil muncul diantara bayangan di belakang, alisnya sedikit terangkat.


"Ah maaf, maksudku ambilkan buku terkait ini."


Pak Pil melangkah mendekati Ein yang tetap duduk tenang di bangkunya.


"Tak apa akan kuceritakan, omong omong hari sekarang sudah sore, sebentar lagi malam. Apa kau tinggal?."


Ein hanya mengangguk pelan.


[][][]