
"... jadi begitulah. Semuanya selesai." Pak Pil menutup kembali ceritanya, Ein terlihat begitu antusias.
Sebenarnya Ein sekarang tidak memiliki tujuan hidup sama sekali, namun dia masih ingin terus hidup dan membalas budinya, lebih tepatnya hutangnya.
"Apa ada lagi bagian yang kau tidak paham." Pak Pil menepuk pundak Ein.
"Tidak, besok aku akan kembali, terima kasih Pak Pil." Ein beranjak dari bangkunya, bulan terlihat tinggi terlihat dari lubang di atas gua.
Sebelumnya Ein memang sedikit heran bagaimana jika hujan turun, perpustakaan ini pasti akan basah. Namun itu terjawab setelah Pak Pil memasang sebuah papan disana setelah Ein berkata ingin pergi.
Buku buku yang telah dibacanya dengan gesit ditaruh kembali pada tempatnya, perpustakaan itu benar benar sepi. Ein bingung kenapa.
"Aku suka kau."
'Eh?.'
"Aku suka sikapmu yang haus ilmu seperti itu, anak muda yang berbakat menjadi ahli." Pak Pil mengacungkan jempolnya. Ein masih terdiam.
"Lima hari yang lalu ada seseorang yang selalu datang, pada akhirnya datang untuk terakhir kalinya. Kemudian dia tak datang lagi, namun aku senang akhirnya ada seseorang yang menggantikannya menemaniku disini." Pak Pil merapikan rambutnya yang sedikit beruban dengan tangannya.
"Bagaimana tidak, aku sudah berusia tujuh puluh tahun." Ein terkejut dengan ucapannya, namun Pak Pil terkekeh kecil.
"Bercanda, usiaku baru mencapai 53 tahun." Tetap saja itu mengejutkan Ein, wajahnya bahkan seperti seseorang berusia empat puluhan.
"Kalau begitu sampai jumpa esok, Pak Pil." Ucap Ein sedikit tersenyum. Pak Pil membalas senyumannya.
"Atau Kakek Pil?." Senyum Pak Pil terlipat, ia tersinggung.
"Bercanda, haha. Dah, Pak Pil." Ein melambaikan tangannya dan bergegas kembali ke rumah Lia.
Punggung Ein menghilang dari pintu gua, Pak Pil masih terkekeh kecil. Beberapa saat kemudian Ein benar benar menghilang dari pandangan Pak Pil.
"Kehehe, anak yang lucu. Wajahnya juga sedikit tampan, kurasa akan banyak perempuan suka dengannya." Gumam Pak Pil.
Ein kembali ke rumah Lia ketika pintu rumahnya hampir tertutup rapat, Lia berada disana untuk menutup pintu.
Ia terlihat terkejut melihat Ein kembali.
"Kukira kau kabur setelah mendengar 1075 keping yang harus kau bayar."
"Hehe, tadinya mungkin."
"Jadi.. ingin menambah 25 keping tembahan?."
"Tentu. 25 keping tambahan tak masalah untuk orang sepertiku." Ucapnya percaya diri, namun syal hitamnya sama sekali tidak mendukung hal itu, syal itu begitu saja jatuh dari leher pemililnya.
Lia membuka pintu lebar lebar, memang malam itu langit sedikit berawan sehingga tidak terlalu terang.
Ein berkata ingin tidur dibawah saja, supaya dapat mengurangi biaya, benar saja Lia mengurangi biayanya menjadi dua puluh keping.
"Sudah begitu lama aku tidak tidur di ranjangku ini." Ucapnya dengan tersenyum kecil.
Ein tidak terlalu memperdulikannya, lantas mencoba tidur di atas kursi dalam keadaan duduk.
Kali ini dia tak begitu heran, ia mendapat gambaran mengenai apa yang akan dilakukannya untuk beberapa hari kedepan, Pak Pil nyatanya memiliki pemahaman yang tinggi mengenai hampir seluruh buku dan gulungan yang ada di gua.
Esok harinya, sebelum matahari terbit bahkan Ein sudah pergi mencari tumbuhan herbal dan semacamnya, dia melakukannya sampai tengah hari seperti biasanya.
Sebungkus tanaman hijau dan merah sudah terkumpul. Jahe, anggur liar, dan beberapa lainnya.
Ein paham mengenai jumlah perbandingan untuk membuat sebuah racikan yang pas. Dia hanya bingung untuk membuat wadah gelas dan sebagainya, untuk berjualan minuman itu.
"Pak Pil !?." Seru Ein di depan gua. Tak lama bapak tua itu datang dengan kostumnya kemarin.
"Ahaha, kau ternyata. Ada apa?." Seperti biasa ia begitu ramah.
"Apa aku bisa meminjam cangkir yang kau punya?, aku ingin memulai perdaganganku dengan minuman hangat, akan kuberikan beberapa untukmu gratis." Ein bernegosiasi sebentar.
Pada akhirnya Ein dapat gelasnya, dan sebuah meja untuk kios. Walaupun begitu dia sama sekali tidak punya bangku untuk membiarkan orang orang menongkrong.
Ia menulis sebuah bingkai nama pada perban putih menggunakan arang yang ditemukannya di hutan. Ia menulis 'minuman hangat nikmat.'.
Ein cukup yakin untuk bersaing dengan beberapa kios di sebelah mereka, jumlahnya sekitar delapan. Memang cukup sulit untuk bersaing, tetapi yang menjual minuman hangat hanya dirinya.
Sementara itu kios Ein sepi pengunjung.
'Ini gawat, mereka bahkan tidak melihatku.' Batinnya.
Tetapi semua itu memang terjadi, tak ada satupun yang datang. Hanya seekor kucing yang kehilangan majikannya.
Ein lantas memutar otaknya, dia sama sekali tidak pernah gagal berdagang sebelumnya.
Seorang datang, melegakan hatinya.
"Kau berjual apa?, minuman hangat?, bisa kucoba dulu?." Pria itu berbicara pada Ein.
Dengan cepat Ein menuangkan bermacam macam cairan dengan berbagai atraksi, seperti bartender yang melempar lempar gelas dan mengocoknya dengan cepat.
Tetapi ada kelebihan dari yang dimiliki Ein, minuman itu tetap hangat ketika dikocok dan dicampur seperti itu.
"Wow, kau hebat. Kawan, aku akan beli satu gelas." Ucap pria lain yang tiba tiba datang.
"Aku juga ingin satu."
"Aku juga."
Begitu banyak orang yang tertarik dengan minuman hangat itu, dan rasanya juga tak buruk. Ditambah dengan atraksi atraksi yang dilakukan Ein membuatnya begitu terkenal pada hari pertamanya.
"Berapa harganya?." Tanya seorang lagi padanya.
"Hanya satu keping saja." Ein menjawab sambil membersihkan gelas gelas yang dipakai dengan syal hitamnya.
Tak lama kemudian kios kembali sepi, para pekerja kasar kembali bertugas di posisi masing masing, namun Ein mendapat banyak keuntungan dari sana.
Memang awalnya tak ada yang tertarik, tapi setelah satu tertarik maka yang lain akan ikut tertarik seperti sebuah magnet.
Ein kini menampilkan atraksi melempar keping keping itu keudara, jugling. Lantas beberapa saat kemudian menghitung jumlah yang ia dapatkan.
37 keping, itu cukup untuk membeli sebuah pisau, sepertinya. Ein menyadari ia harus memiliki pisau, atau pedang agar lebih mudah mengambil bahan bahan lain.
Lantas ia juga harus membeli gelas, meja, dan bangku untuk dirinya dan pelanggannya.
"Setidaknya hari ini aku akan beli sebuah kasur gantung, agar aku bisa tidur di hutan dan tidak menambah hutangku." Gumamnya sambil membersihkan meja yang ia pinjam.
Ia menengok wadah ia menempatkan berbagai cairan yang dicampurnya. Kosong. Itu gawat, ia belum memberikan bagian Pak Pil.
Dengan cepat ia mengangkat semua peralatan yang dipinjamnya dari Pak Pil, lantas dengan tergesa gesa mengantarnya ke rumah Pak Pil.
Nyatanya Pak Pil tidak tinggal di gua itu seharian. Ia memiliki rumahnya sendiri dengan istrinya dan dua anaknya.
Dua anaknya begitu kecil, usia sepuluh dan tujuh tahun, Pak Pil memanggil mereka Gil dan Van.
Mereka berdua ramah kepada Ein, tapi saat itu Ein sama sekali tak bisa menunggu. Janji adalah janji, ia harus membawakan racikan terbaiknya.
Ia pergi ke hutan, mencari di tengah silau jingga sore hari. Beruntung, ia bisa mengambil beberapa yang terlihat oleh matanya.
Ia dengan cepat membuat air rebus dan membuat semuanya, namun langit sudah gelap, dan ia sadar waktunya tidak terlalu baik.
Dengan cepat ia menghampiri gua perpustakaan, disana terlihat Pak Pil yang murung. Entah kenapa Ein merasa itu kesalahannya tidak menyisakan minuman hangatnya untuk Pak Pil.
"Sore, Pak Pil." Sahut Ein.
"Ah Ein, aku sudah lama menunggumu." Ucapnya. Ein tersenyum kecut, ia tak tahu bahwa janjinya dapat membuat Pak Pil menunggu.
"Kemarilah, sebutkan buku apa yang ingin kau baca." Di luar dugaan Pak Pil ternyata tidak memikirkan tentang minumannya.
"Apa?, minuman?. Aku lebih suka kau mampir menemani orang tua ini, dibanding membawakan aku segelas minuman hangat."
Ein sedikit kikuk, ia akhirnya tertawa bersama Pak Pil dengan ditemani sepasang gelas minuman hangat.
"Orang tua ini membutuhkan orang lain selain istri dan kedua anakku." Pak Pil kembali tertawa.
'Setidaknya 37 keping sudah di tanganku.'
[][][]