
Tubuh Ein kini tampak lebih bersih dari sebelumnya, namun wajahnya memerah seperti tomat.
Bulan sekarang bersinar lebih terang, untungnya Ein bisa merubah posisinya menjadi duduk. Namun tetap saja tubuh terasa sedikit kaku.
Seorang anak kecil membawa sepotong roti manis dari ruangan atas, Ein kenal dengan anak itu.
"Oh Ein, ini makanan untukmu." Ucapnya dengan senyum kecilnya.
"Maaf merepo.." ucapannya terhenti sejenak, dia baru saja mengingat sesuatu.
"Ah tidak, terima kasih makanannya." Ein sedikit tersenyum walau masih kaku, ia ingat dengan pesan Lia tadi sore untuk menghanti kata maaf.
LaLa tersenyum tipis, kemudian pergi keatas.
Suasana malam di Elendium terasa seperti berada di tempat yang paling tenang, suara jangkrik bersayup sayup.
Lantai kayu terasa lebih dingin, bahkan dengan kaki Ein yang dibalutnya dengan perban.
Yang bisa dilakukannya sekarang hanyalah memakan roti manis di tangannya, Lia dan Fina sedang menghadapi masalahnya sendiri.
Jujur saja Ein merasa sedikit bersalah telah menggunakan tempat tidur Lia di ruang utama. Namun dia juga tak akan tahan bila tidur di lantai kayu dingin seperti itu.
Tubuhnya sedikit pegal hanya untuk berbaring dan sedikit duduk, udara segar menenangkan hidungnya.
Akhirnya ia tertidur di atas ranjang itu.
Beberapa hari kemudian, Ein sudah dapat berdiri, namun masih tertatih untuk berjalan sendiri. Udaranya sedikit lembab karena cuaca sedang berawan, kemungkinan beberapa saat lagi akan turun hujan.
Ein hanya bisa mengehela napas panjang, dia berajak dari ranjang dan pergi keluar rumah. Sebuah pemandangan indah terlihat oleh matanya.
Pepohonan yang begitu rindang tersusun, rumah rumah warga yang dibuat dari kayu pohon dan beratap. Ternyata hanya rumah Lia dan Fina yang dibuat dari pohon yang hidup.
Lain dengan itu semua, peternakan yang unik ada di lain sisi, sapi yang sedikit lebih kekar terlihat sedang diperah oleh pemiliknya.
Rambut Ein tertiup angin sepoi, anak rambutnya menari dengan lincah. Beberapa anak kecil berjalan di depannya melambaikan tangan.
Mereka sudah tahu dengan kedatangan Ein di rumah Lia dan Fina, orang yang jatuh tiba tiba dari langit tentu saja membuat warga heboh dan menjadi pusat perhatian.
Sang pemilik sapi itu melambaikan tangannya, di balas Ein dengan senyum tipis dan lambaian balik darinya.
Beberapa anak kecil juga terlihat bermain main di luar sana, penampilan pemandangan seperti ini mungkin hanya bisa dilihatnya di dunia buatan.
Disampingnya dua bangku terlihat sedang menganggur, langsung saja Ein mendudukinya dengan nikmat.
Kebun warga juga dapat dilihat dengan mata kepala sendiri, beberapa buah seperti apel dan anggur terlihat menggantung dipohonnya.
Lia datang dengan membawa beberapa tumbuhan hijau dan merah. Dia menggunakan sarung tangan putihnya untuk mengambil tumbuhan itu.
"Ah Ein, kau sudah bisa berjalan?." Tanya Lia dengan nada cemas.
"Masih tertatih, tapi tak apa."
"Aku akan membuat racikan obat alami, aku baru saja mengambil tumbuhannya di hutan." Ucapnya.
Ein mengangkat tubuhnya berusaha untuk membantu Lia. Tubuhnya yang tadinya lebih rendah dari Lia menjadi lebih tinggi sepuluh sentimeter darinya.
"Ah!, tak usah dibantu, kau istirahat saja." Ucapnya panik, ia memasuki rumah dan menuju tungku perapian, sebuah rongga udara di buat diatasnya untuk memastikan asapnya keluar.
Tungku itu digunakannya untuk memanaskan air, Ein mendekatinya dan duduk di dekatnya.
Tangan kasar Ein meraih sebuah tumbuhan dan memperhatikannya dengan seksama, Lia tersenyum memperhatikan lelaki itu.
Ein dengan cepat bosan dengan itu, dirinya memang sering melakukan hal serupa ketika masa sebelum peperangan terjadi. Banyak sekali rerempahan, obat obatan dan racikan yang berkhasiat dari tempatnya, maka dari itu dia membuat sebuah toko khusus minuman.
Nostalgia membuat Ein sangat bersemangat untuk mencari rempah rempah yang sama seperti dulu ketika ia di Raghentav, sisi barat benua Atlanta.
Namun, dia sadar bahkan kakinya tak kuat untuk berjalan lebih dari tiga puluh meter sehari. Sedangkan jarak antara rumah Lia dan hutan terdekat adalah seratus meter.
Ein hanya bisa duduk dengan tenang menunggu kakinya dapat berjalan kembali.
Lalu dia teringat dengan masa masa ketika ia melatih fisiknya dengan banyak push up, dan latihan ringan lainnya. Setelahnya ia dapat mengayunkan pedang dengan mudah.
Lia kembali dengan membawa secangkir cairan berwarna merah gelap.
'Rasanya sedikit asam dan dingin. Campuran antara daun mint, daun teh kering, dan sedikit jahe. Sedikit kontras namun menyegarkan.' Batin Ein.
Tubuhnya terasa lebih hangat dan segar.
"Itu racikan favoritku." Ucap Lia, senyumnya mengembang, lantas ia mengambil sebuah kotak di bawah ranjangnya.
Kotak itu terlihat begitu tua, dengan beberapa ukiran sederhana yang indah.
Lia membuka kotak itu dan mengambil sesuatu di dalamnya, sebuah rapier, yang begitu tajam. Mirip dengan estoc.
Ein sedikit terganggu dengan kehadiran estoc yang begitu mengkilat itu, bahkan pegangannya masih terlihat hitam tanpa ada yang terkelupas.
Pembatas pegangan dan bilah besinya terbentuk dengan begitu anggun dan berbentuk cros. Itu dapat membuat Ein merasa sedikit ketakutan.
[][][]
"Bagaimana situasinya disana." Ucap seorang dalam jubah hitamnya, pedangnya bahkan masih terlihat dipenuhi oleh darah.
"Sepertinya tak ada disini." Ucap seorang lainnya yang bertubuh lebih kecil.
Seekor kucing mengeong di dekat mereka, pita hijau di ekornya sangat persis dengan Felis.
Mereka bertiga, Felis, Loren dan Hector sedang berada di Karang Setan dekat pulau yang berada di sisi paling jauh barat laut Riviera.
Sejak kehilangannya Ein, mereka bertiga diberikan tanggung jawab dari ketua, posisi paling terkuat grim reaper dunia, untuk mencari hilangnya Ein.
Tentu saja bukan karena keahliannya dalam bertempur yang membuat dua grim reaper dunia ini mencarinya, namun bakat tersendiri yang dimilikinya.
"Kurasa Aqua benar benar sudah menyadari bakat Ein." Hector bicara masih dengan begitu tenang.
"Kalau begitu berarti ini sudah gawat."
Loren dengan begitu terpaksanya membawa tas yang ia bawa untuk menyimpan pakaian Ursula, pertanyaan yang paling besar di otak Loren kali ini hanyalah bagaimana Ein bisa menghilang.
Loren pergi mengajak Felis untuk pergi bersamanya ke tepi barat Riviera untuk datang ke tempat rahasia iblis. Disana pakaian Ursula dan bekas sihirnya masih bisa diteliti.
"Barang bukti seperti ini sebaiknya kita amankan." Ucapnya. Lantas sebuah firasat memasuki otaknya.
"Hector, bagaimana jika Ein sudah mati!?." Tukasnya cepat. Hector terdiam sejenak.
"Kurasa tak mungkin, karena jika dia bisa membunuh Ein dengan cara yang seperti itu. Kenapa dia tak menghilangkan seorang grim reaper dunia yang berada tepat didepannya.
Kurasa memang Aqua, Iria dan Ursula sudah mengetahui tentang Ein, dan alasan syal hitam dilehernya." Hector kembali beranggapan.
Gelap malam tidak membuat mata mereka kesulitan melihat dan bergerak dalam diam. Mengingat kebanyakan penduduk Riviera adalah golongan netral, membuat iblis seperti mereka hanya dapat terus bersembunyi.
Iblis yang berani terang terangan masuk ke dalam Riviera hanyalah mereka yang kehilangan akalnya.
Bahkan sosok paling kuat di golongan iblis tak mau terang terangan masuk ke Riviera. Hanya ada satu pulau kecil yang memiliki resiko begitu kecil untuk dimasuki.
Mereka seharusnya disana, Pulau Pala, sisi barat laut Riviera. Namun tanggung jawab atas Ein membawa mereka menuju salah satu pedesaan disana.
Sedikit aneh namun kota besar di Riviera hanya ada sepuluh, untuk ukuran benua sebesar Riviera jumlah itu terbilang begitu kecil.
Di Riviera juga terdapat beberapa kerajaan, mereka membangun kastil mereka sendiri dengan mudahnya.
Dan hanya ada satu kerajaan yang cukup luas untuk disebut Ibukota Riviera, memang tempatnya berada di tengah Riviera, kerajaan itu disebut Samanta.
Dengan jubah yang menutupi wajah kedua iblis itu, mereka memasuki wilayah sebuah desa. Lantas mencari sebuah bar.
Hector yang memiliki tubuh kecil menarik lengannya, lantas bersama dengan Loren mereka menaiki tangga dan menemui barista dan pemilik bar.
Namun yang tidak diketahui keduanya adalah perbedaan budaya dantara kedua benua yang mereka tinggali sebelumnya dan yang mereka tempati sekarang.
Di Atlanta mereka dapat mencari informasi penting dari bar, dan menawarkan sesuatu tugas berbahaya dari bar juga. Itu karena populasi setan dan mahluk buas lebih besar disana.
Namun di Riviera yang terkena imbas peperangan hanya di bagian selatan membuat benua itu masih terlihat aman dan damai. Terlebih hampir seluruhnya merupakan wilayah damai membuat benua ini tidak melayani pembelian informasi.
"Ini bahkan jauh lebih sulit dari yang kita kira." Ucap Loren.
[][][]