
(Ei..) Dirinya merasa sedikit aneh, dan terus tertidur dengan nyenyak.
(Ein!, sadarlah.) Suara misterius itu menggema di kepala Ein.
Dirinya merasa sakit di tulang tulang sekitar kaki dan tangannya, juga rusuknya.
Matanya terbuka perlahan, beberapa peri sebesar dua kali kepalan tangan muncul di hadapannya.
"Woah!, ada apa ini?." Ucapnya tiba tiba, mengagetkan peri peri di depannya.
"Tak sopan." Sahut salah satu peri, tampilan mereka terlihat sama saja, namun mata dan liontin mereka berbeda.
"Siapa kalian?."
(Ein, nasib Riviera ada di tanganmu sekarang.) Suara itu kembali menggema di otaknya. Namun kesadaran Ein masih belum cukup untuk menerima hal yang aneh seperti itu.
"Apa maksudnya?."
(Waktumu tidak banyak, beberapa rahasia alam tak akan menghadangmu.) Suara itu semakin menggema dan semakin kencang.
Ein tiba tiba merasakan rasa sakit yang lebih parah dari sebelumnya.
[][][]
"Hei!, dia bangun!." Suara itu muncul ketika Ein baru saja membuka matanya.
"Kau benar, dia bangun." Suara lain hadir sedikit mengganggu telinganya.
Ein membuka matanya dengan sempurna, kesadarannya terkumpul seluruhnya.
Dia tengah berada dalam posisi terbaring lemah, tangannya hanya bisa bergerak sedikit. Kepalanya terasa pusing dan perutnya lapar.
"Siapa kalian?." Disamping Ein dua orang terlihat. Salah seorang setinggi seratus enam puluhan, dan seorang lagi seratus lima puluhan.
"Namaku Lia." Ucap gadis yang setinggi seratus enam puluhan itu, rambutnya panjang digerai begitu saja. Matanya berwarna zamrut dengan wajah sedikit pucat.
"Aku Fina." Seorang gadis lainnya menjawab, rambutnya diikat dua di belakang kepalanya, terjatuh hingga kebahunya. Matanya sedikit lebih besar berwarna coklat kekuningan seperti mata kucing, wajahnya begitu ceria.
Ein memerhatikan kedua gadis itu, sifatnya yang memang sedikit pemalu membuatnya gelisah.
"Dimana ..."...Aku, itulah yang ingin dikatakannya, namun Fina memotongnya dengan membahas sesuatu yang lain.
"Kami begitu khawatir, kau tiba tiba jatuh dari langit kemari. Ada apa sebenarnya."
"Apa ada cedera?." Ucap Lia menutup mulutnya, sepertinya dia orang yang pemalu.
"Pastinya tidak!." Ujar Fina. "Aku membasuh tubuhnya dengan beberapa obat obatan."
"... ah, tubuhku ? ..." Nada ambigu itu terlalu pelan hingga menukik tinggi.
"Kami mencuci pakaianmu, mereka sangat kotor saat itu." Fina lagi lagi membahas sesuatu. Sifat polosnya terlalu aneh untuk seseorang sepertinya.
"... pakaianku ? ..." Ein lagi lagi mengeluarkan nada ambigu.
"Ka.. kami tidak mengintip, aku tak lihat apa pun!." Seru Lia, dia menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
'Kurasa itu tak mungkin.' Batin Ein.
Suasana berubah canggung untuk sejenak, lantas Ein teringat dengan beberapa masalah yang ingin ditanyakannya.
"Anu, dimana ini sebenarnya?." Tanyanya. Bahkan kepalanya masih sedikit pusing.
"Siapa namamu?." Fina membahas hal lain.
"Ein... jadi, dimana ini?." Ein terus berusaha untuk sabar dengan Fina.
"Kau di rumah kami!." Sahut Fina semangat.
"Bukan itu maksudku..." Ein tersenyum kecut, kesabarannya sudah hampir habis. Lia yang menjawab.
"Elendium, desa kecil di timur Riviera."
"Riviera!!." Tanpa sengaja teriakan itu keluar dari mulut Ein. Lia menjadi panik, sedangkan Fina terkejut bukan main.
"Ada apa?."
Ein sendiri merasa aneh ketika dia meneriakkan kata Riviera barusan. Suasana menjadi hening sejenak.
"Apa ada yang aneh dengan Riviera?." Lia yang panik berusaha menanyakan lebih lanjut.
"Tidak..." Ein mencoba mengingat sesuatu. "Aku tidak ingat."
"Mungkin semacam amnesia?."
"Entahlah, ini buruk. Aku rasa ada sesuatu yang penting tentang Riviera." Ein menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Seharusnya aku mengajakmu jalan jalan di desa kami, tapi sepertinya kau masih sangat lemah." Ucap Lia, Ein mengangguk, dia bahkan tidak dapat memposisikan dirinya untuk duduk.
Ein lantas memandang setiap sudut ruangan, ruangan itu terbuat dari kayu terhubung dengan pohon yang bahkan masih hidup dengan subur.
Ruangan, tidak, rumah ini dibuat di dalam sebuah pohon yang masih hidup dan terus tumbuh. Bahkan kambiumnya masih dapat dilihat di langit langit.
Tiba tiba sebuah suara mengagetkan Lia, Fina dan Ein. Ein sampai tak bisa bersuara lagi dan wajahnya memerah.
"A.. aku akan ambilkan makanan.." Lia membuat Ein semakin terdiam, wajahnya lebih memerah.
Ein merasa sedikit aneh dengan tubuhnya, seperti ada yang janggal pada tangannya. Namun ia menghiraukannya karena makanan akhirnya tiba.
Elendium adalah desa hebat yang memiliki keuangan yang bahkan melebihi kota kecil. Tempatnya di timur Riviera membuat hutan di area ini begitu lebat dan memiliki banyak buah buah subtropis.
Hutan disekitar Elendium masih dihuni oleh kaum asli hutan, para mahluk itu bersembunyi di balik rimba.
Penduduk di Elendium adalah manusia yang masih sedikit terisolasi dari kota.
Riviera sendiri adalah sebuah benua yang rata rata ditinggali dan manusia. Iblis atau batari dan batara hampir tak terlihat sama sekali disini, dan sekali mereka terlihat mereka akan dianggap sebagai tuhan.
"Terima kasih rotinya." Ucap Ein setelah selesai menghabiskan sepotong besar roti manis itu. Ia pikir akan memakan semacam bubur gandum atau semacamnya karena ia sedang tidak sehat.
Namun, ia sadar kalau ia hanya berbicara pada angin. Lia dan Fina tak ada di rumah, mereka pergi ke luar.
Ein lantas melihat lihat isi rumah, yang sebagian besar terbuat dari kayu, ada meja, kursi, tungku api, sampai kasur yang ia tiduri itu terbuat dari kayu. Untung saja kasur itu dilapisi dengan berlapis lapis kain halus.
Disisi belakang terlihat sebuah ruangan dengan banyak air di dalamnya, mungkin itu kamar mandi atau toiletnya. Disisi lain bagian belakang rumah terlihat tangga miring yang mengarah keatas.
Ein menyimpulkan sesuatu di otaknya, ternyata orang Elendium memiliki kemahiran tinggi untuk melubangi pohon. Bahkan perabotan sampai jumlah ruangannya diperhitungkan dengan detail.
Yang Ein ketahui selama ini adalah, rumah Lia dan Fina memiliki tiga ruangan, yaitu ruang utama yang sekaligus ruangan dapur dan tempat tidur Lia. Lalu ruangan berair yang belum jelas apakah itu toilet atau kamar mandi, yang jelas tempat itu terlihat luas bahkan cukup untuk empat hingga lima orang. Dan ruangan atas yang belum diketahui untuk apa.
Seorang anak kecil datang masuk, ia melihat Ein yang terbaring di kamar Lia. Anak kecil sebesar empat kaki itu memiliki mata hijau dan liontin perak kecil.
"Hei, siapa kau?." Tanya anak itu dengan wajah tersenyum, suaranya juga tenang.
"Emm, aku Ein." Ucapnya, ia berusaha membuat suara dan wajah yang ramah, bahkan memaksakan untuk tersenyum tulus.
"Aku LaLa, apa kau lihat Fina?." Tanyanya.
"Maaf, aku yakin dia tadi pergi. Tapi aku tak yakin ia pergi kemana."
"Terima kasih informasinya!."
Melihat anak itu pergi membuat Ein menghela napas panjang, ia sama sekali tak tahu apa yang dipikirkan anak itu kalau ada seorang laki laki yang tidur di kasur seorang perempuan.
Namum, tetap saja. Kewaspadaan Ein terlalu berlebih, LaLa tinggal di tempat yang damai.
"Tempat ini selalu mengagetkanku."
Sayup sayup terdengar suara Lia dan Fina diluar, lantas mereka masuk ke dalam dengan tergesa gesa.
Ein melihat ke luar rumah, kini langit terlihat sudah jingga. Ia cukup yakin ketika ia bangun situasinya sama jingganya dengan sekarang, bedanya sebelumnya lebih gelap.
Ein terbangun pagi buta dan sekarang sudah sore, dia bahkan sama sekali tidak sadar waktu berputar begitu cepat.
"Ah Ein, maaf rumah ini memang panas, tak ada jendela seperti rumah lain. Kau jadi berkeringat." Ucap Lia.
"Ah tidak, seharusnya aku yang minta maaf sudah mengambil tempat tidurmu dan tinggal dirumah ini selama ini." Ein berkata merendahkan dirinya.
"Tak apa, kau boleh tinggal disini sampai kau mendapat rumah untukmu!." Fina merapatkan tangannya di depan dada.
"Maafkan aku." Ucap Ein, wajahnya mengisyaratkan penyesalan.
Emosi Ein sedikit tidak terkendali, dirinya merasa ada perubahan pada hatinya. Ketenangan yang belum pernah dia rasakan sejak perang.
"Daripada mengatakan 'maaf', lebih baik jika kau mengatakan 'terima kasih' itu akan membuat lawan bicaramu merasa dihargai dan membuatnya senang." Ucap Lia dengan senyumnya yang tulus.
'Senang?.' Batin Ein, dia bahkan tidak pernah merasa seperti itu.
Fina terlihat melepaskan kedua ikat rambutnya, rambutnya yang pirang tergerai jatuh ke bawah.
Lia mulai meraih alas kakinya dan menaruhnya di tempatnya, Fina mengikutinya.
"Walau disini panas, namun lantai kayu ini akan terasa dingin ketika malam tiba." Jelas Lia.
Ein tampak tidak terlalu perduli, lantas ia menarik selimut yang dipakaikan Lia padanya, benar saja semilir angin sejuk mulai menembus kain yang membungkus tubub Ein.
Lia menjauh dan pergi, Fina menghampiri Ein, dan berkata.
"Tubuhmu berkeringat Ein, bagaimana kalau kita mandi bersama?."
"Eh!?." Teriak Ein. "Tidak perlu, aku yakin ingin bermandikan keringat seperti ini saja." Wajahnya sedikit memerah.
'Apaan?, mandi?, bersama?, dia gila?.' Batinnya.
"Eeh...?." Senyum Fina sedikit terlipat.
"Tapi tubuh berkeringat seperti itu akan sangat mengganggu, lagi pula aku tak ingin mencium bau keringat malam ini." Fina terus membujuk.
"Tak usah."
"Tempatnya bahkan cukup untuk lima orang. Aku sama sekali tidak keberatan untuk berbagi tempat disana." Tingkah Fina terlalu polos untuknya. Namun itu membuat Ein kesal.
"Gak."
"Bawel ah, aku hanya ingin mandi setelah berkeringat hari ini, kau ikut dengan kami." Fina mengangkat tubuh Ein dengan paksa, tentu saja Ein tidak mengira gadis itu dapat melakukannya dengan mudah.
Airnya sudah cukup, kepulan asap terlihat dari sana. Lia membuka pakaiannya satu persatu dengan perlahan, begitu pula dengan Fina.
Kini Ein terlihat suram, bahkan tak berani untuk melihat wajah kedua gadis yang merawatnya.
'Ini mengerikan.'
[][][]