
Deras air hujan terus membasahi syal yang ia kenakan, sebuah syal hitam yang selalu berada di sekeliling lehernya. Bekas dari pertumpahan darah yang mematikan, yang seharusnya masih bisa ia ingat sampai saat ini.
Badannya yang tidak terlalu besar dan tidak terlalu kurus itu terus mengendarai kuda bersama seseorang di sisinya dengan seekor kudanya.
"Loren, bagaimana ini?." Tanyanya berusaha memecah suara berisik hujan.
Yang ditanya hanya terus berlari, mengikuti alur dari hutan yang begitu besar itu, reruntuhan bangunan terlihat di depannya. Sebuah simbol yang besar menghadang mereka.
Itu markas musuh mereka.
"Tenang saja Ein, kita lewat bawah reruntuhan itu." Loren membuka sedikit jubahnya, mengambil sebuah kubus berkilat yang aneh. Lantas turun dari kudanya dan berbisik pelan kearah tanah itu.
Tiba tiba tanah itu perlahan terbuka dengan sendirinya, di dalamnya seekor siluman yang sudah terlatih terlihat sambil tersenyum kearahnya.
"Kerja bagus Felis." Ucap Loren yang memimpin ekspedisi mereka, Loren berlari begitu saja tanpa mengatakan apapun lagi. Jubahnya terlihat mengkilat saat sebuah sumber cahaya meneranginya.
Felis menundukkan badannya, dengan cepat segera menaiki kuda yang ditunggangi Ein.
Dengan tanah kering yang mereka lalui sekarang kuda kuda mereka sama sekali tidak kesulitan bergerak, tanah diatas kembali tertutup.
Lorong ini sengaja dibuat oleh pendahulu kaum mereka, untuk tempat tinggal sekaligus tempat berlindung dari perang semesta sebelumnya.
Mata mata mereka dapat melihat dalam gelap, karena sudah terbiasa di tempat kelahirannya. Namun kuda mereka tak yang tak bisa melihat hanya dapat berlari sesuai arah yang di perintahkan penunggangnya.
Loren menemukan dan mengikuti lorong yang benar benar keren itu.
Ein hanya bisa berlari dengan cepat menyusul Loren yang memimpin, tangannya sedikit bergemetar saat melihat lorong yang bisa jadi kapanpun rubuh.
Sesekali Ein melirik Felis yang juga berada di belakangnya, lantas terus berjalan tanpa mengahawatirkan yang lainnya.
Tubuh Loren sedikit lebih besar dari Ein, jubahnya yang sedikit besar didapatkannya dari kulit seekor beruang, lebih tepatnya disebut mantel.
Felis sendiri adalah seekor kucing hitam dengan mata hijau menyala, bel dikalungnya tidak pernah berbunyi ketika dirinya tidak menginginkannya.
Perasaan sedikit takut menghantui Ein, jiwanya telah sedikit terkoyak selepas perang. Hawa dingin kembali menusuk tulang, akar kayu yang tebal kadang menghalangi langkahnya.
Loren tiba tiba saja berhenti, lantas Ein dan Felis juga berhenti. Di depan mereka sebuah gerbang yang sangat besar menghadang, dengan sebuah simbol sumbol yang sedikit aneh.
"Kita sampai." Loren membuka gerbang tersebut dengan sedikit ketukan pada jarinya.
Pemandangan yang tidak terbayangkan menghiasi mata mereka, dunia bawah tanah ini nyatanya tidak seburuk yang mereka kira.
Di dalam gerbang itu, air bersih mengalir menuju sebuah telaga yang telah dipenuhi oleh lumut lumut hijau dan batu kristal hijau yang membentuk seperti sebuah permata.
Belum lagi sebuah lubang yang terlihat sengaja dibuat untuk menyimpan sesuatu, lumut lumut itu tidak memenuhi tempat itu. Beberapa kristal memberikan pencahayaan yang luas disana.
Batu batu berukiran simbol yang penuh wibawa memenuhi lantainya.
"Tempat apa ini." Ujar Ein, tubuhnya berputar putar menengok segala isi tempat itu.
"Ini rumah sementara kita." Loren yang menjawab, namun Ein tidak memperdulikannya, ia masih sibuk dengan semua kejutan yang ada di tempat itu.
Ein memperhatikannya lebih jauh, tempat itu ternyata adalah ruangan berukuran lebih dari seratus meter persegi. Sebuah tempat yang begitu luas untuk tiga mahluk itu.
"Felis, terangi ruangan ini." Perintah Loren, kucing hitam itu segera menggeram memberi penerangan dari tangannya untuk memberikan secarik cahaya yang terus dipantulkan oleh kristal kristal itu.
Dalam ruangan sebesar ini, tentunya mereka akan bebas melakukan apa saja di dalamnya, tetapi itu hanya perkiraan mereka.
"Sebenarnya kemana tujuan kita?." Tanya Ein, syalnya sedikit melonggar ketika ia berputar.
"Riviera, benua itu adalah tujuan kita. Beberapa hari lagi mereka sudah menutup gerbang, kita harus melangkah lebih cepat."
Sebuah pertanyaan melintas di otak Ein. "Lalu untuk apa kita berdiam disini?."
"Tempat ini dibuat oleh para pendahulu kita. Musuh kita berada di atas, kau tentunya dapat melihat simbol besar itu, reruntuhan tadi adalah jebakan mereka.
Kita menunggu hingga esok sore, kita akan melanjutkan perjalanan ketika malam tiba. Itu lebih aman.
Untuk sementara keringkan pakaianmu terlebih dahulu, mata air itu terlihat begitu jernih, aku yakin para pendahulu kita tidak datang kemari selama lebih dari sepuluh tahun."
Ein mengikutinya, ia melepaskan syal hitamnya, dan bajunya. Lantas dengan sedikit gemetar karena kedinginan, ia menaruhnya di dekat salah satu kristal disana.
Mereka harus menunggu beberapa waktu sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan yang jauh.
Felis akhirnya membuka mulutnya, kucing kecil itu adalah seekor siluman yang bisa berbicara dalam bahasa manusia.
"Hujannya telah berhenti, akan lebih baik jika seekor kucing sepertiku di dekat perapian."
Ein mengangguk setuju, seekor kucing tak akan nyaman ketika bulu bulunya basah terkena air. Namun sayangnya tak dapat ditemukan sebatang ranting pun untuk membuat perapian.
Bebatuan yang tampak begitu religius dengan simbol simbol itu bertebaran dimana mana, Ein mengambil salah satunya dan menumpuknya dengan beberapa yang lainnya. Lantas dengan santainya menaruh kepalanya disana.
"Aku terlalu lelah dengan semua ini, aku ingin tidur sejenak." Ucapnya.
Loren tidak merespon selain hanya mengangguk pelan, tidak aneh baginya karena mereka sudah pergi selama empat hari tanpa berhenti untuk beristrirahat.
Tubuh Loren tak kalah lelahnya dengan Ein, ia memilih untuk duduk bersandar pada dinding ruangan itu. Lantas memikirkan cara untuk keluar dari ruangan besar itu.
Namun, tak lebih dari sepuluh menit ia tertidur karena lelah. Felis yang masih terjaga memilih untuk menghangatkan bulu bulunya yang basah.
Hari dengan cepat berlalu, membuat ketika mahkuk itu terbangun dari tidurnya. Loren yang baru terbangun dengan cepat meraih jubahnya, dan mengenakannya.
Ein dan Felis sudah siap untuk kembali berlari dengan cepat meninggalkan tempat bersantainya itu begitu pula kudanya.
Loren mengambil kembali sebuah kubus keluar. Dengan sebuah tuas, Felis menariknya dan membuat lubang terbuka, itu hanya muat untuk seekor kuda saja, mereka berlari dengan cepat meninggalkan kesejukan dan kedamaian di dalam ruangan itu.
Hutan lebat kembali terlihat di hadapan mereka, lubang itu telah selesai. Dan beberapa pohon terlihat tak begitu asing bagi ketiganya.
Ein terus melangkah tanpa memerdulikan gelapnya malam kala itu, bulan kembali terlihat bulat. Dan cerah. Ia menggeram.
Hutan itu terlihat mengerikan dengan suara suara hujan yang deras, angin berhembus kencang kembali membuat ketiganya bergemetar dingin.
Mata air sungai terlihat dipenuhi oleh darah dan debu. Ikan ikan yang ada disana bahkan mengapung keracunan.
Ein kembali teringat dengan kenangan kenangan selama berperang, beberapa temannya tak dapat diselamatkan. Ia semakin meragukan langkahnya ke Riviera, tempat yang sama sekali ia tak kenal.
Beberapa anjing hutan menghalangi langah ketiganya, tanpa basa basi Loren melemparkan beberapa paku kecil disakunya. Kepala anjing hutan itu terkena paku itu dan sedikit terhempas.
"Jangan berhenti, terus lari saja." Air hujan terus membasahi mereka, Ein, Loren dan Felis sangat yakin dengan stamina mereka.
Namun beberapa akar kayu kembali membuat ketiganya tergelincir dan membuat kegaduhan. Mengingat mereka berada di dekat markas musuh mereka saat ini, mereka seharusnya tidak membuat kegaduhan.
Mereka terus saja melangkah. Satu hari, dua hari, tiga hari terus mereka jalani dengan berlari dengan kencang.
Loren yang memimpin berhenti tiba tiba, Ein dan Felis seketika berhenti kerenanya. Tangan Loren terlihat mengepal, bersiap menarik pedangnya.
"Ursula..." Ucapnya, di depannya seorang wanita dengan lilitan perban di tubuhnya terlihat. Wanita itu mengenakan jubah yang kebesaran, rambutnya terjuntai jatuh sampai ke pinggangnya.
"Loren..." Balas Ursula, namun suaranya sangat aneh dengan logat yang tak kalah anehnya.
"Jangan menyuruhku untuk memakai cara keras, enyah kau." Loren menarik pedang merahnya, darah musuhnya bahkan masih terlihat mengering di bilah pedangnya.
Ursula lalu bersiul memanggil bala bantuan.
Ein dengan segera menarik sebilah pedang miliknya, hitam legam tanpa ada cahaya sedikitpun. Felis membuka sayapnya, kucing satu itu memang memiliki sepasang sayap kelelawar, sedikit aneh melihatnya.
Tak lama datang seekor burung yang bahkan lebih besar dari Loren, berwarna putih, penuh dengan bermacam simbol simbol rune.
"Kau salah satu dari tujuh Grim Reaper semesta, Loren. Dimana sabitmu." Ursula memandang Loren dengan penuh kebencian.
"Kau sendiri salah satu dari tiga batari abadi, dimana pasukanmu." Sahut Loren tak kalah, pedang besarnya bahkan lebih banyak memakan nyawa dibanding sabitnya.
"Hari ini kau tak akan selamat, aku akan menjadi dewi pencabut nyawa untukmu Grim Reaper!." Seru Ursula.
Burung besar itu berteriak kencang, lantas dengan cepat menyerang Loren dengan kesiagaan penuh. Loren membalas serangannya dengan cepat.
---