
Jika setiap orang menjadi sesuatu yang gelap dan hitam, itu tak akan mengubah sesuatu, namun jika ada satu orang berubah menjadi abu abu sekalipun dalam sebuah kelompok besar hitam maka suatu perubahan besar akan terjadi.
Antara si abu abu diserang dan dibantai oleh kelompok hitam. Atau menjadi penyelamat dan membuat kelompok hitam menjadi putih kembali.
Namun, itu tak semudah mencuci pakaian kotor di air sungai. Karena sungai akan mengalir, sejauh mana dia mengalir.
Apakah sampai lepas ke muara laut. Atau hanya bertahan hingga hilir sungai itu sendiri, lantas terbawa arah tak menentu yang membuatnya menjadi sesuatu yang labil.
Namun, 'sesuatu' itu bahkan lebih mudah dari membuat kobaran api di malam yang gelap.
Intinya semua itu hanyalah omong kosong belaka. Di hutan liar bahkan ada yang dinamakan dengan rantai makanan, simbiosis dan hukum rimba. Maka disini ada 'sesuatu' yang lebih hebat dari itu semua.
"Perasaan."
Ucap Lia, matanya terarahkan lurus kearah matahari yang terbenam.
"Perasaan itu pasti akan datang padamu, itu bukanlah firasat." Ucapnya lagi. Disampingnya Ein dengan wajahnya yang diatas rata rata mengangguk paham.
Ein hanya terdiam dan memandangi langit sore itu, sebuah pemikiran aneh yang datang segera dijawab dengan kepala berrambut panjang di sebelahnya.
Ein sudah sembuh, bahkan tiga hari sebelumnya, dimana hampir seluruh tempat di Elendium dikunjunginya satu persatu.
Ia jadi tahu bahwa, di Elendium terdapat pabrik roti, yang kecil kecil, lalu tempat keamanan, lalu peternakan dan kebun, serta balai desa.
Alam disekitar Elendium sendiri sangat terjaga, membuatnya memiliki pemandangan yang begitu indah. Sebuah pegunungan tinggi dapat dilihat begitu indah menjulang.
"Itu pegunung Podhal, pegunung tertinggi dan terpanjang di Riviera, desa kami beruntung bisa mendapatkan tempat yang dekat dengan gunung itu." Ucap Lia ketika mereka berkeliling.
Fina tak kalah senang, dia melompat lompat girang. Lantas dengan semangat mulai mencoba menjatuhkan kesabaran Ein dengan kata kata dan tingkah yang aneh.
Hutannya masih terlihat begitu asri, namun setelah berkeliling sekitar hutan, Ein begitu yakin di dalam hutan tersebut ada beberapa mahluk yang aneh.
Lantas di dalam hutan yang sama terlihat sebuah sungai yang mengalir deras, Ein terpikirkan caranya untuk berhenti mandi bersama dua orang itu. Sebelumnya dia hanya akan bilang kalau dirinya sudah mandi. Namun, terkadang mata Fina begitu teliti dan menemukan keringat Ein yang mulai membanjir.
Dalam sungai itu juga terkadang seekor ikan muncul, dan terlihat. Namun Lia mengatakan bahwa ikan itu sedang pergi ke danau. Yang berarti di hutan itu juga ada sebuah danau.
Sebuah surga untuk mata, itulah kalimat yang cocok untuk Elendium dan alam disekitarnya.
Bahkan tak sedikit pelancong yang datang ke sekitar Elendium.
Kini mereka berdua tengah duduk santai di depan rumah Lia. Sesuai kebiasaan mereka, Lia yang setiap hari bermain di hutan atau di perpustakaan, dan Fina yang bermain dengan anak anak kecil Desa Elendium.
"Perasaan ... apa yang kau maksud." Ein kembali bertanya, rambut hitamnya melambai lambai ditiup angin.
"Sesuatu yang akan menghiasai hatimu, menghadirkan tujuanmu, namun itu juga bisa membutakan hatimu." Lia memegang erat estoc di pangkuannya.
" ... "
"Perasaan adalah senjata yang terkuat, yang bisa mengubah jati diri seseorang."
Burung burung tampak berterbangan dengan sayap sayap mereka. Melintasi Elendium dengan santai.
"Temukanlah jati dirimu dengan perasaan itu, kemana dia akan membawamu."
" ... "
"Itu kalimat yang kudengar dari tetua." Ujar Lia tersenyum.
"Tetua?." Ein bertanya.
"Maksudku kepala desa, dia seorang orang tua yang bijak."
Ein memandangi wajahnya sendiri dari secangkir minuman dihadapannya.
'Perasaan ya?.'
"Lia!." Teriakkan itu mengejutkan mereka berdua.
Disana, jauh dari mereka seorang dengan rambut diikat dua berlari mendekat, wajahnya sedikit tegang.
Itu Fina, dengan wajah tegangnya. Ia terus berteriak memanggil Lia. Tentu saja Lia akan menjadi panik dan dengan cepat berangkat dari tempatnya duduk di samping Ein.
"Ada apa Fina?." Tanyanya panik.
"Tetua ... menghentikannya ..." napasnya begitu tersenggal, begitu terlihat kalau dia sudah berlari sejak lama.
"Apanya?."
Wajah Fina sedikit memerah karena kesal, dirinya mengambil napas panjang dan membuangnya lagi. Lantas terus bicara.
"Tetua menghentikan perjanjian Rosalinda!." Ucapnya panik, wajahnya yang biasanya cerah berubah menjadi pucat.
Lia pun yang memang sedari awal wajahnya terlalu putih mulus sehingga terlihat pucat, kini lebih pucat dari sebelumnya, seakan tak ada darah yang mengalir di dalamnya.
"Kau serius!?." Ucapnya panik.
"Aku mendengar dari Ladia, kurasa ini memang benar!."
Mereka berdua terlalu panik hingga menghiraukan Ein yang sama sekali belum mengerti situasinya.
Lantas mereka berdua pergi begitu saja meninggalkan Ein di kursinya.
Namun lontaran itu bahkan terlalu kuat baginya, batu itu terbang melintasi rumah rumah warga. Dan mendarat diatas air sungai.
"I ... itu terlalu kuat." Wajahnya sedikit terkejut.
Langit dengan cepat berganti menjadi gelap, malam telah tiba dan kedua orang itu belum kembali. Ein terlalu bosan menunggu kedua orang itu, dan keringatnya telah membanjir, Ein memutuskan untuk pergi ke sungai untuk mandi karena sudah malam.
Di sungai ikan ikan sedikit berterbangan, Ein membuka pakaiannya dan menceburkan diri ke sungai itu, tak terasa sejak satu bulan ia berada di Elendium semua itu terasa cepat berlalu.
Ein mengambil kain yang telah disiapkannya lantas mengusap badannya dengan kain itu, dirinya sudah bersih. Ia kembali mengenakan pakaiannya dan pergi ke rumah Lia.
Sesampainya ke rumah Lia, ia tak menemukan adanya Lia ataupun Fina. Seorang kebetulan lewat di depan rumahnya.
"Anu, permisi pak, bapak lihat Lia atau Fina?." Tanyanya pada bapak itu, sejak dua hari yang lalu ia tahu tak ada yang tidak mengenal Lia dan Fina di Elendium, mereka sangat terkenal.
Bapak yang ditanya hanya menggelengkan kepalanya pelan, lantas kembali pergi menjauh.
Ein menjadi sedikit khawatir, akhirnya dia pergi ke balai desa. Langkah kakinya terus menerus menjadi semakin cepat.
Akhirnya dia sampai di balai desa, di dalam, sesosok perempuan berambut pendek dengan tatapan tegas terlihat berdiri tegak sambil memegang tombaknya.
Disebelahnya ada seorang kakek tua dengan jubah hitam yang menutupi hampir seluruh tubuhnya dan kepalanya kecuali hidungnya yang menonjol, tangannya memegang tongkat kayu yang membantunya untuk berdiri.
"Aku tidak percaya!, jangan hentikan perjanjian itu hanya karena hal seperti itu!!." Teriakan itu tidak asing oleh Eins,, itu Fina.
"Fina jangan beriak di balai desa!." Tegas perempuan berambut pendek itu, lalu kakek itu mengayunkan tangannya menyuruh perempuan itu untuk diam.
"Bagaimana pun, aku sudah memimpin Elendium selama sepuluh tahun ini, aku tahu apa yang harus dilakukan." Ujar kakek tua itu, suaranya serak mengganggu pendengaran Ein.
Perempuan berambut pendek melihat Ein di depan pintu, Ein lantas berpura pura hanya lewat dengan berjalan santai seolah tak perduli.
Pintu balai desa tertutup, Ein tak bisa mengintip, jadi dia menguping dari belakang balai.
"Tapi ada banyak sekali teman kita disana, lagi pula bukankah penghasilan di Elendium dapat dibantu dengan adanya mereka?." Itu suara Lia, nada cemas dan paniknya masih dapat di dengar.
"Terlalu berbahaya, Pulau Rosalinda adalah pulau yang bahkan kita tak mengenal tata letak dan wilayahnya." Suara serak itu kembali terdengar.
"Kalau begitu kirimkan bala bantuan!, kurasa kita bisa melakukannya." Fina kembali berteriak.
"Sudah tiga jam kalian berdebat disini, kembali lah pulang." Ucap kakek itu, lantas perempuan berambut pendek mengetukkan tombaknya di lantai dan mendorong Fina dan Lia keluar dengan paksa.
Lia dan Fina terlihat dari luar, Ein keluar dari tempat persembunyiannya lantas mendekati mereka.
"Puh.. wee..." Fina meludahi pintu kayu yang sudah tertutup itu, lalu menjulurkan lidahnya mengolok. Ein akhirnya datang.
"Ein?. Sedang apa kau diluar seperti ini?." Tanya Lia, Ein sedikit kikuk saat mendengarnya.
"Hanya berjalan jalan saja, apa yang terjadi?, kalian tak biasa keluar malam." Ein berakting, otot wajahnya yang rileks membuatnya terlihat begitu alami.
"Tak apa, hanya saja ..." wajah kedua orang itu terlihat begitu sedih. Tak tahu harus bagaimana Ein lantas mengatakan sesuatu yang tidak diduganya.
"Kalau ada masalah katakan saja, aku harus membalas kebaikan kalian selama ini."
Kedua orang itu kini membeku, mereka sama sekali tidak menduga Ein akan berkata seperti itu.
"Ba, baiklah. Bagaimana jika kita pulang dulu, aku ingin mandi dulu." Ujar Fina ia langsung membalik badan dan berjalan dengan santai.
"Ya, Fina benar. Kau ikut?." Ajak Lia, Ein mengangguk lantas pergi berjalan bersama mereka berdua.
[][][]
Kedua wanita itu baru saja duduk bersama seekor burung besar. Mereka saling berpandangan, sudah lama kakaknya itu tidak memanggil keruangannya.
"Ada apa, Kak Aqua." Tanya wanita itu.
Aqua memandang wajah adiknya, lantas dengan suara yang lembut ia bertanya. "Apa kau melihat Ursula?, dia sudah tidak terlihat selama kurang lebih satu bulan ini."
Adiknya sedikit terkejut, sebenarnya ia juga ingin bertanya hal yang sama, Ursula, adiknya itu bahkan sama sekali tidak terlihat selama itu.
"Aku tak tahu, kak. Aku awalnya juga ingin bertanya hal yang sama. Ternyata kakak tidak tahu."
Wajah Aqua sedikit tegang, namun ada sedikit kesenangan ketika Ursula, adik termudanya, menghilang. Setidaknya satu masalah hilang.
"Iria, aku tak terlalu memerdulikannya. Lagipula apa kau sedang kosong besok?."
Iria menatap wajah kakaknya dalam dalam, sudah lama kakaknya tidak menyuruhnya sesuatu. Lantas ia mengangguk pelan.
"Baguslah, aku akan pergi untuk sementara, kau ambil urusanku sebagai tetua batari abadi. Sudah lama aku tak berkunjung ke negeri Riviera." Aqua beranjak dari kursinya, mantelnya jatuh mengenai tanah.
"Baik, Kak Aqua."
Aqua lantas meninggalkan tempat pertemuan, ia memalingkan wajahnya. Di depannya sebuah dataran luas terlihat. Benua Alf.
'Ursula tak kunjung kembali, seseorang bernama Ein telah diperebutkan. Jika ramalannya benar maka ...,' batinnya
'Ini bahkan terlalu gawat.'
[][][]