Reincarnation of the Emperor

Reincarnation of the Emperor
Kisah Marseille



Marseille sebuah kota di pesisir tenggara Prancis. Kota ini merupakan kota berpenduduk terbanyak kedua di Prancis setelah Paris dengan jumlah 852.395 jiwa.


Didirikan di pesisir Laut Tengah dengan nama Massalia oleh bangsa Yunani, Marseille kini merupakan pelabuhan komersial terbesar di Prancis dan keempat terbesar di Eropa.


Secara internasional, kota ini merupakan kota kedua di Prancis yang memiliki banyak perwakilan dari negara lain, yaitu lebih dari tujuh puluh konsulat. Marseille adalah ibu kota administratif préfecture de région région Provence-Alpes-Côte d'Azur dan sekaligus ibu kota administratif préfecture départementale département Bouches-du-Rhône.


Marseille, ketika kita berkhayal jalan-jalan ke Prancis, hal-hal yang pasti muncul di benak ini keindahan Menara Eiffel, cantiknya Istana Versailles, sembari mengudap baguette dan croissant diiringi musik akordeon yang dimainkan musisi jalanan di berbagai pelosok kota Paris. Akan tetapi, pernahkah kita terpikir untuk mengunjungi kota Marseille?


Anthony Bourdain, koki selebriti dunia, pernah menyatakan bahwa “The French don’t seem to want you to go to Marseille (orang Prancis tidak ingin kamu berkunjung ke Marseille).” Kunjungan Bourdain untuk syuting program Parts Unknown ke Marseille pada masa itu, disertai dengan tanda tanya dan kekecewaan, bahkan dari salah satu pejabat pemerintahan Prancis.


Itulah Marseille. Kota terbesar kedua di Prancis ini sarat dengan berbagai prasangka dan cap negatif, terutama dari penduduk Prancis sendiri. Kota ini dikenal sebagai kota dengan tingkat kriminalitas tinggi, sarang pengedar narkoba, mafia bersenjata, penuh imigran muslim dari Afrika utara, dan tidak mencerminkan Prancis seutuhnya.


Satu-satunya opini positif tentang Marseille mungkin hanya datang dari Zinedine Zidane, legenda sepakbola Prancis, yang menghabiskan masa kecil di kota ini.


Sebenarnya apa sih yang membuat Marseille begitu asing bagi turis dan bahkan dijauhi oleh orang Prancis.


Marseille, dahulu bernama Massilia, adalah kota tertua di Prancis dengan sejarah selama beribu tahun lamanya. Sejak dulu Marseille merupakan pelabuhan dan rute dagang utama di Prancis, dengan barang dan imigran berdatangan dari seluruh kawasan Mediterania. Saat Marseille telah menjadi kota yang hiruk pikuk, kota Paris pada saat itu masih berupa pedesaan.


Posisi sebagai salah satu pelabuhan terbesar di Mediterania menjadikan Marseille menjadi titik temu bagi berbagai kebangsaan. Meski Prancis tidak mengenal sensus penduduk berdasarkan ras, etnisitas, atau agama, namun rata-rata penduduk Marseille dapat merunut silsilah keluarga mereka yang datang dari Italia, Korsika, Yahudi, seluruh negara Maghribi di Afrika Utara, Komoros, Armenia, bahkan sampai ke Vietnam.


Jejak multinasionalisme terlihat jelas dari pilihan kuliner yang tersaji di kota ini. Di pusat kota, pizza dan kebab merupakan makanan pokok yang paling digemari les Marseillais atau penduduk Marseille. Tak jarang pula ditemukan berbagai penganan khas Maghribi seperti leblebi, tajine, dan falafel. Yang paling terkenal, tidak lain adalah bouillabaise, sup seafood khas kota Marseille dengan ikan yang didatangkan dari laut Mediterania dan bumbu-bumbu dari berbagai belahan dunia.


Sejarah yang panjang dan kaya menjadikan penduduk Marseille sarat akan kebanggaan dan harga diri. Penduduk Marseille tidak mengidentifikasi diri utamanya sebagai warga Prancis, melainkan warga Marseille. Sebagaimana pepatah penduduk setempat, “Yang pertama adalah laut, lalu kota Marseille, dan setelah itu adalah negara lainnya bernama Prancis”.


Marseille merupakan cerminan dari wajah Prancis sesungguhnya, yang masih bergelut dalam upaya mengintegrasikan kaum imigran dan penduduk turunan bekas jajahannya ke dalam masyarakat.


Dalam salah satu adegan serial televisi Marseille, tokoh utama Robert Taro yang diperankan aktor kawakan Gerard Depardieu merupakan sosok Wali Kota Marseille yang berjuang mengembangkan kawasan perekonomian baru di sisi utara kota Marseille.


Bagian utara Marseille lebih dikenal dengan Quartiers Nords merupakan gabungan beberapa distrik yang memiliki tingkat kemiskinan dan kriminalitas tertinggi di Prancis, sebanyak 28% penduduknya hidup dengan penghasilan di bawah 630 euro atau lebih kurang 10 Jutaan jika dirupiahkan.


Faktor kemiskinan inilah yang kemudian memunculkan berbagai sindikat kriminal di Marseille. Beberapa modus kriminal yang terkenal berasal dari Marseille merupakan the Marseille Snare modus pencurian kartu ATM dan French Connection mafia heroin dari Korsika.


Saat ini, Quartiers Nords masih terkenal dengan jaringan peredaran narkoba beserta mafianya. Meski mafia heroin asal Korsika sudah tidak merajalela seperti dahulu, namun saat ini justru anak-anak kaum imigran yang menjalankan jaringan mafia ganja dan kokain.


Euroméditerranée merupakan pembangunan, jiwa muda, dan ekonomi digital, citra ketimpangan, kemiskinan, dan kriminalitas yang terlanjur melekat telah dicoba dikikis oleh Pemerintah Kota Marseille. Semenjak momentum dipilihnya Marseille sebagai ibukota budaya Eropa, Marseille telah melakukan berbagai pembenahan.


Seiring dengan menurunnya perekonomian dari sektor pelabuhan konvensional, dan merebaknya ketimpangan dan kemiskinan, Marseille seakan telah menentukan arah transformasi yang diperlukan guna menghadapi perubahan.


Berbagai proyek pembangunan, perbaikan tata kota, dan transformasi perekonomian digital telah direalisasikan oleh Pemkot Marseille. Pusat dari seluruh perbaikan tersebut masih mega proyek bernama Euroméditerranée. Dalam mega proyek ini, Pemkot Marseille menargetkan untuk membangun 550.000 m2 lokasi perkantoran, menciptakan 37.000 lapangan pekerjaan baru, dan memperbaiki sekitar 7.000 rumah. Lokasi proyek Euroméditerranée berada pada area yang berbatasan langsung dengan Quartiers Nords, sebagai simbol upaya pemerataan kesenjangan yang ada.


Seiring dengan menurunnya perekonomian dari sektor pelabuhan konvensional, dan merebaknya ketimpangan dan kemiskinan, Marseille seakan telah menentukan arah transformasi yang diperlukan guna menghadapi perubahan.


Marseille juga menaruh perhatian besar kepada perekonomian berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi, riset, pengelolaan logistik pelabuhan berbasis digital, penguatan sektor jasa, pembinaan usaha start-up, dan pelaksanaan berbagai proyek inovasi yang mengedepankan kreativitas pemuda.


Transformasi Marseille yang sudah digulirkan selama kurang lebih satu dekade terakhir ini telah berhasil membuat Marseille menjadi kota yang nyaman ditinggali, lebih bersahabat, dan berorientasi masa depan.


Sepertinya imajinasi mengenai Prancis perlu untuk berubah. Selain menikmati pain au chocolat di Trocadero, kita juga bisa berkhayal menikmati hamparan laut dan langit biru khas Côte d’Azur sambil makan kebab galette sauce algérienne di Marseille, kota terbesar kedua di Prancis dengan budaya yang khas dan pemandangan yang menakjubkan.


Namun, karakteristik kota yang paling bertahan lama adalah kesiapannya untuk menyambut perubahan. Arsitekturnya mempertahankan sedikit sisa-sisa masa lalu. Beberapa landmark, seperti jembatan pengangkut yang melintasi Pelabuhan Lama Vieux-Port dan distrik Panier di utara pelabuhan, dihancurkan oleh pasukan pendudukan Jerman.


Namun kini banyak perubahan telah dilakukan oleh Marseillais sendiri. Terlepas dari legenda yang melekat pada mereka, mereka juga merupakan orang-orang yang tidak sentimental dan terbuka terhadap ide-ide baru.


_____


Note,


Author mengupas sedikit tentang Marseille Prancis, agar wawasan kita lebih luas. Terimakasih.