
"Kau...!" Solenne berteriak, menutup tubuhnya dari tatapan mata Petrus.
Thustan yang tidak memiliki perasaan takut, justru dengan sangat berani memukul Petrus dan Joshua dengan sangat keras.
Bhuuuug,
Bhuuuug,
Bhuuuug,
Tak pelak Petrus dan Joshua mengalami babak belur oleh tangan kekar Thustan.
Mereka bergegas meninggalkan rumah tua yang berada ditengah kebun anggur nan terhampar luas. Namun dapat ditangkap oleh Siclandus, yang berada tidak jauh dari tempat tersebut.
Siclandus sedikit tertawa, melihat dua putrinya tengah berada dikediaman Duffon.
"Ternyata ada maling masuk ke wilayah kerajaan Pangeran Siclandus," tepuk tangannya sangat meriah saat melihat Thustan menggandeng tangan putri keduanya Solenne.
Sementara Gabriel bersembunyi dibelakang tubuh Leonal.
"Apa kalian sudah mengetahui, tentang perjodohan kedua putriku?" Siclandus mendekati putri kesayangannya, kemudian menarik kasar lengan Gabriel dan Solenne.
Thustan yang tidak mampu berbuat banyak, dia hanya menahan rasa sakit hati, melihat kekasihnya diperlakukan tidak baik oleh Pangeran Siclandus.
"Hentikan Pangeran. Saya akan menerima apapun, asal jangan kalian menyakiti Solenne," Thustan memohon pada Siclandus.
Siclandus semakin besar kepala, "baik, jika kamu menginginkan putriku Solenne, ada syarat yang harus kamu lakukan."
Thustan tentu tidak tinggal diam mendengar syarat, "apa anda akan menjual putri kesayangan pada saya, Tuan?"
Siclandus tertawa, saat ini dia mesti dihadapkan dengan pria yang sangat menyebalkan. Orang yang pernah masuk kedalam Kerajaan Bordeaux kala itu.
"Jangan jangan, benar dia adalah reinkarnasi dari sang kaisar muda Thustan pada masa kerajaan Canbrai. Aaagh, ini hanya cerita dongeng. Tidak mungkin dia seseorang yang terlahir dari keturunan kerajaan. Pierre saja bukan bangsawan, ooogh... ini tidak mungkin. Solenne tidak boleh mencintai pria ini," Siclandus berbicara sendiri, menarik lengan kedua putrinya.
"Dengar anak muda, lebih baik kamu pergi meninggalkan Bordeaux, agar tidak terjadi sesuatu padamu dan temanmu. Secepatnya aku akan menikahkan Solenne dengan Daniel. Karena hanya pria bangsawan yang bisa masuk kekeluargaku. Kau mengerti...!"
Sontak pernyataan Siclandus membuat Thustan semakin terbakar emosi.
"Jangan lakukan itu pada Solenne, Pangeran. Dia kekasihku, aku akan melakukan apapun untuk mendapatkannya. Katakan apa yang menjadi syarat mu," Thustan menatap lekat wajah Siclandus dan Solenne.
Siclandus tertawa terbahak-bahak, "baiklah, silahkan kau beli kebun anggur dan seluruh kerajaan Bordeaux untuk memiliki putriku. Hanya itu, apa kamu sanggup anak muda?"
Thustan terdiam, "baik, aku akan memenuhi semua persyaratan yang Pangeran katakan, tapi jangan biarkan Daniel menyentuh Solenne. Aku akan melakukannya, beri aku waktu satu tahun. Namun jika anda yang tidak menepati janji, saya nyatakan kita akan berperang membuka siapa yang terkuat."
Siclandus semakin merasa tertantang, "baik.. setahun terlalu lama anak muda. Aku kasih kamu waktu enam bulan. Jika kamu tidak kembali, tentu sudah tahu tindakan apa yang akan kamu terima."
Seluruh pengawal kerajaan meninggalkan Thustan dan Leonal di area rumah tua tersebut, membawa Solenne dan Gabriel bersama mereka.
"Aaaaagh... Aku telah kehilangan keluarga, kini harus menelan pil pahit kehilangan Solenne," tunduk Thustan dengan menutup wajahnya dengan kedua tangan.
.
Didalam istana Solenne dan Gabriel dikurung dalam satu kamar yang berada dilantai dua, tanpa perlawanan dari kedua putri Siclandus.
Keduanya tampak kesal, atas perbuatan sang pangeran sekaligus ayah mereka, karena merasa menjadi bahan untuk diperjual belikan.
"Ini tidak adil..." Solenne membanting perkakas yang ada didalam kamar.
Gabriel menatap wajah adiknya, "tenanglah, jika cintamu memang tidak mendapatkan restu dari Papi dan Mami, kamu harus memikirkan sesuatu, untuk bisa kabur bersamanya. Aku akan menolongmu, untuk keluar dari sini."
Solenne merebahkan tubuhnya diatas ranjang, menarik nafas dalam, merindukan sosok seorang Thustan. Pria yang pertama kali menyentuhnya dengan sangat baik dan romantis.
"Aku merindukanmu baby," Solenne menangis sendiri.
Gabriel hanya berfikir sendiri, "bagaimana jika aku menghubungi Leonal, agar menunggu kami di salah satu persimpangan jalan dekat jembatan yang tidak begitu jauh dari sini. Aku rasa dia akan membantu. Bagaimana dengan Petrus dan Joshua?"
Mereka terlelap, masuk ke dalam mimpi mereka hingga pagi menjelang. Entah apa yang akan terjadi esok ataupun dimasa yang akan datang. Saat ini mereka hanya ingin menjadi kuat menghadapi tantangan untuk keluar dari perjodohan yang memaksakan kehendak dari Pangeran Siclandus, tanpa memikirkan perasaan kedua putrinya.
.
Musim semi di Bordeaux membuat seluruh pekerja di kebun anggur milik orang nomor satu di Bordeaux kembali melakukan aktivitas seperti biasa. Beberapa dari mereka adalah orang kepercayaan Siclandus, agar memberikan informasi kepadanya, tentang penyelundup yang masuk tanpa izin.
Mereka memasang beberapa ranjau, untuk menjebak orang yang tidak dikenal dan masuk kedalam area perkebunan. Apalagi semenjak Thustan menyatakan meninggalkan Bordeaux, dan akan kembali enam bulan lagi, tentu Siclandus tidak mempercayai begitu saja. Baginya, maling tetaplah maling.
Cahaya sangat cerah, namun walau matahari bersinar terang, namun negara Eropa masih terasa sangat sejuk. Namun tidak seperti musim dingin.
Kedua tuan putri muda nan cantik rupawan, tengah menikmati makanan yang terhidang di meja kamar mereka. Sesekali menatap layar ponsel, berharap akan mendapat kabar dari sang pujaan hati.
"Kenapa Thustan tidak pernah mengirim pesan untuk ku? Sudah hampir dua minggu kami kembali berpisah, kali ini aku sangat merindukannya. Aku mohon lakukan sesuatu, Sis," Solenne merengek pada Gabriel.
Gabriel tersenyum sumringah, "apakah kamu merindukannya saja? Atau bahkan benar benar merindukan Thustan yang memiliki tubuh yang kuat, bahkan aku mendengar dessahanmu malam itu. Leonal memandangku, bahkan menatap penuh damba kearah ku. Aku takut, karena aku belum pernah melakukannya dengan siapapun."
Solenne memeluk Gabriel, "hmm, aku bersedia menjadi pelaacur untuk Thustan, karena dia mampu membawaku terbang melayang menuju angkasa. Bahkan itu sangat indah, Sis. Jika kamu melakukannya dengan cinta. Aku yakin, kamu tidak akan mendapatkannya saat menikah dengan Daniel, karena dia tidak mencintaimu. Dia itu hanya pria yang menjijikan."
Gabriel mengangguk mengerti, "baik, jika kita berhasil keluar dari sini. Aku akan meminta pada Leonal untuk melakukannya, tanpa harus menunggu dia yang meminta lebih dulu. Daripada aku harus menyerahkan tubuhku pada Daniel, lebih baik aku melakukan dengan Leonal, agar pria bajingan itu meninggalkanku."
Solenne mengacungkan jempol kearah wajah Gabriel, "aku setuju dengan idemu. Setidaknya, kamu harus berani membahagiakan dirimu sendiri, tanpa harus memikirkan Papi. Papi itu hanya pria egois. Buktinya kita satu istana, namun tidak bisa bertemu Mami. Apa itu adil untuk kita?"
Gabriel membenarkan ucapan Solenne, kedua gadis itu saling bercerita. Bagi mereka hidup diistana yang megah, hanya memberikan kelukaan yang teramat perih dan mengiris hati. Mereka harus diatur dengan sebuah peraturan, dan ketentuan yang telah ditetapkan Pangeran Siclandus.
__________