
Cuaca musim semi di Bordeaux, menjadi saksi terpahit bagi dua putri kerajaan. Solenne dan Gabriel masih dalam penahanan Siclandus. Betapa sulitnya bagi mereka berdua untuk bertemu dengan Sang Mama. Sudah hampir dua ratus empat puluh hari, dua putri kesayangan Siclandus dan Luisa berada dalam salah satu ruangan di istana yang terletak dilantai dua.
Petrus dan Joshua masih berada diruang makan bersama Pangeran Siclandus. Tak pelak pelayan yang sudah melakukan sesuai perintah Gabriel, membantu Solenne dan Gabriel untuk keluar dari istana, menuju tempat yang diminta oleh Gabriel kepada Leonal. Tentu tidak menunggu waktu lama bagi pria Marseille mewujudkan permintaan wanita kerajaan itu.
Tanpa sepengetahuan Thustan dia berangkat menuju Bordeaux, demi menyelamatkan kedua putri Siclandus.
"Ooogh Tuhan, jika ini diketahui pangeran, mereka akan menghabisi nyawaku, membawa putri mereka meninggalkan Prancis. Itu pasti akan menjadi peperangan yang teramat dahsyat."
Leonal telah tiba ditempat yang dijanjikan oleh pelayan padanya, melalui sambungan telepon.
Kedua wanita Kerajaan Bordeaux dibawa menggunakan pakaian biasa, dengan kereta perkebunan anggur yang telah disediakan oleh para pelayan. Tentu ini menjadi ancaman bagi siapa saja yang ikut dalam pelarian putri kesayangan Siclandus.
"Aku akan dihabisi, bahkan dimiskinkan oleh Pangeran, jika mereka mengetahui putri kesayangannya kita bantu untuk meninggalkan Bordeaux," salah satu pekerja bernama Tiodor berbicara dalam hati.
Saat tiba di persimpangan yang dijanjikan, kedua putri Siclandus turun dari kereta. Mereka memberikan beberapa uang untuk menutup mulut Tiodor.
Gabriel menatap lekat wajah pria paruh baya, yang selalu baik padanya, "ingat Tuan, jangan pernah mengatakan apapun pada Papi. Apapun itu, bagaimanapun ancaman yang engkau terima dari mereka. Aku mohon padamu."
Tiodor mengusap lembut kepala kedua gadis yang sangat mirip dengan almarhum putri kecilnya, "jaga diri kalian, jika ada apa apa denganmu, beritahu aku. Aku akan selalu ada untuk kalian. Pergilah cepat...!"
Leonal membawa masuk Gabriel dan Solenne meninggalkan Bordeaux dengan perasaan campur aduk. Ada kecemasan, ketakutan dan khawatir karena Thustan tidak mengetahui tentang rencana mereka.
Lebih dari dua jam mereka tersesat, karena melewati jalan yang tidak biasa, untuk meninggalkan Bordeaux. Jalan yang berputar-putar bahkan masih kembali ke persimpangan jalan tempat awal mereka bertemu.
"Bagaimana ini Gabriel....? Aku tidak ingin mereka mengetahui bahwa kita melarikan diri. Ini akan menjadi ancaman terbesar untuk kita," Solenne semakin ketakutan.
Gabriel menatap layar handphone miliknya, mencari jalan keluar, melalui GPS yang tertera seperti biasa, "tenanglah... Mereka tidak akan menemukan kita."
Solenne bertatapan dengan Leonel.
"Bukankah, kamu kesini melalui jalan yang pertama?" Gabriel bertanya penuh selidik.
Leonal mengangguk, dia mencoba mengingat persimpangan awal saat dari Marseille.
"Hmm, aku ragu. Karena tadi ada pohon yang tumbang. Jangan sampai kita keluar dari sini saat hari semakin gelap."
Leonal kembali menginjak pedal gas, menambah kecepatan agar dapat segera meninggalkan Bordeaux.
Benar saja, mereka berhasil meninggalkan Bordeaux menuju Marseille. Tidak menunggu waktu lama, mereka tiba di kediaman Thustan, yang terletak tidak jauh dari kediaman Keluarga Boulanger yang hangus terbakar, beberapa waktu lalu.
Solenne dan Gabriel akhirnya bisa bernafas lega, saat berhasil keluar dari kediaman mereka. Ini merupakan pelarian kedua bagi putri kesayangan Siclandus.
Hari mulai gelap, ketiga insan yang berada di kediaman Thustan tampak kelelahan. Menjalani perjalanan sangat melelahkan, bahkan ketakutan membuat kedua wanita itu tertidur pulas lebih dahulu.
Setelah delapan bulan mereka berpisah akhirnya bisa bertemu kembali, dengan cara yang sangat menegangkan.
Thustan kembali setelah dini hari. Betapa terkejutnya dia melihat kedua putri Siclandus ada dikediamannya.
Sontak Thustan menarik tangan Leonal, agar tidak menggangu kedua wanita itu, karena suara baritonnya.
"Apa yang kamu lakukan? Ini akan mengancam keselamatan kita," Thustan sedikit berbisik pada Leonal.
Leonal tampak kebingungan, dia justru ingin menyelamatkan cinta sahabat sekaligus orang yang telah mengajarkannya tentang kehidupan selama di Marseille.
"Aku tidak memberitahumu, karena pelayan istana yang menghubungiku. Jadi lebih baik aku mengambil tindakan cepat dengan bantuan Tiodor, pria yang bekerja diperkebunan anggur Kerajaan Bordeaux," Leonal menjelaskan pada Thustan.
Sementara Gabriel masih berada disofa, ditemani Leonal.
Setelah meletakkan tubuh pujaan hatinya diatas ranjang, Thustan kembali keluar dari kamar.
"Besok pagi pagi sekali kita akan meninggalkan Marseille. Kebetulan besok aku tidak ada kegiatan. Mungkin kita akan ke Italia, lebih tepatnya ke Santo Stefano yang terletak di bagian barat. Mungkin disana kita akan mendapatkan tempat tinggal lebih aman, dan tidak seorangpun yang bisa menemukan kita," Thustan menepuk pundak Leonal.
Leonal mengangguk setuju, sementara dia bingung. Hubungannya dengan Gabriel bukanlah sepasang kekasih.
"Bagaimana aku akan tinggal bersama dengan wanita yang tidak mencintaiku?" Leonal menegaskan pada Thustan.
Thustan menaikkan kedua alisnya, "apakah kamu mencintai Gabriel?"
Leonal menggelengkan kepalanya, kemudian mengangguk, "aku ragu, namun aku simpatik pada wanita yang memiliki keberanian seperti dia. Hanya saja aku takut, akan lebih menyakitkan jika memaksakan kehendak sepertimu."
Thustan dan Leonal hanya terdiam, mereka masuk dalam pikirannya masing-masing.
Bagaimana mungkin menjalin hubungan dengan wanita yang kekuasaan dan memiliki segalanya, namun hati tidak bisa berdusta. Berbulan bulan mereka berpisah dengan cara yang sangat menyayat hati, kini dipertemukan dengan keadaan semakin menegangkan.
Malam di Marseille semakin larut, suasana tampak sepi, bahkan sangat mencekam karena perasaan takut.
Thustan tertidur dilantai, sementara Leonal terlelap didepan Gabriel yang terbaring diatas sofa.
Inikah rasanya jika ingin membalas dendam pada sebuah pemilik kekuatan dan kekuasaan? Jika memang benar harus melewati semua dengan jalan yang sangat mengerikan, harus dihadapi dengan keberanian.
Pagi menjelang, Thustan yang masih terlelap, seketika dikejutkan dengan kedatangan Herald Tribune dikediamannya.
"Thustan... buka pintunya...!" Teriak Herald bersama para ajudannya.
Tentu menjadi satu kejutan bagi mereka yang berada didalam rumah kecil itu.
Leonal membawa Gabriel yang terlonjak kaget karena gedoran mendadak dari arah luar.
"Jangan pernah keluar, kunci kamarnya!" Tegas Thustan pada Leonal.
Leonal mengangguk mengerti.
Pelan Thustan membuka pintu, menatap kearah pemimpinnya, berdiri tegap dihadapannya.
"Izin komandan!" Hormat Thustan.
Herald sedikit penasaran melihat keadaan dalam rumah yang tampak sepi.
"Pagi...! Saya kesini pagi pagi, karena mendengar seseorang telah membantu dalam pelarian putri kerajaan Bordeaux Solenne dan Gabriel. Saya rasa kamu tidak terlibat, karena kita belum menyelesaikan visi dan misi kita untuk negara. Jangan ceroboh!" Herald menegaskan pada Thustan.
Thustan mengangguk, "saya tidak melihatnya, saya akan membantu dalam pencarian mereka, karena saya benar benar belum mendapat kabar."
Herald menepuk pipi Thustan, "jika cinta itu memang ada. Saya yakin, cintamu adalah cinta yang tidak mungkin untuk bersatu. Kamu mengerti? Ingat, saya bisa melacak dimanapun kamu berada."
Deg,
Thustan terdiam.
______________